
Enam purnama sudah Cakra meninggalkan dasar jurang hutan Pancer, eyang Bagaskara merasa kesepian atas perginya Cakra murid satu satunya, namun perasaan itu tidak boleh dia simpan dalam hati, bagaimana pun juga, Cakra harus mengabdikan dirinya pada masyarakat luas.
"Bagaimana keadaan Cakra sekarang, sudahkah dia memguasai setiap ilmu yang ada di kitab garuda ? " gumam eyang Bagaskara memikirkan muridnya.
Wuuuushh...
Thaaaaph.....
Sesosok bertopeng garuda mendarat dengan tepat di depan eyang Bagaskara, sesaat eyang Bagaskara terkejut, namun setelah itu seulas senyum terukir di bibirnya, dia tahu bahwa sosok di depannya pasti Cakra yang telah menyempurnakan ilmunya.
Sedikit demi sedikit, aura zirah merah dan topeng garuda mulai memudar, kini tinggal sosok Cakra yang terlihat berdiri dengan gagah, kemudian Cakra bersujud kepada gurunya.
"Terimalah sembah saya guru" ucap Cakra.
"Cukup Cakra, tak perlu kau melakukan itu, dengan kembalinya kamu di sini membawa ilmu dari kitab garuda sudah membuat aku bahagia"
" Bangunlah Cakra ! " perintah eyang Bagaskara.
"Terima kasih eyang, ini semua karena doa restu eyang"
__ADS_1
"Apa yang ada di punggungmu itu Cakra? " tanya eyang Bagaskara.
"Ini adalah pedang garuda eyang, pasangan dari kitab garuda" jawab Cakra sambil memegang pedang itu menghaturkan kepada gurunya.
Eyang Bagaskara menimang pedang itu, eyang Bagaskara mengagumi pedang itu.
"Pedang yang indah dan bagus Cakra, anugrah yang besar yang kau dapatkan dari Sang Hyang Widi, ini semua patut di syukuri" jelas eyang Bagaskara sambil menyerahkan kembali pedang garuda kepada Cakra.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Cakra? " tanya Eyang Bagaskara.
"Justru saya kesini karena ingin meminta petunjuk kepada eyang guru apa yang harus saya lakukan setelah ini, jalan mana yang harus saya tempuh guru ? selain juga karena rindu kepada eyang guru" jelas Cakra.
"Baiklah eyang jika itu yang terbaik, akan saya laksanakan" ucap Cakra.
"Tapi sebelum itu, beristirahatlah disini, aku ingin mendengar cerita perjalananmu Cakra"
Akhirnya Cakra beristirahat di pondok yang sudah di tinggalnya selama enam purnama.
Mereka bercerita sambil membakar kelinci hutan yang di dapatkan Cakra tadi sore.
__ADS_1
* * *
Pagi sekali Cakra sudah terbangun, dia bersiap siap melanjutkan perjalanannya untuk mencari orang tuanya, Cakra berpamitan dan meminta doa restu dari eyang Bagaskara.
Eyang Bagaskara banyak sekali memberi nasehat kepada Cakra, sebagai bekal perjalanannya nanti.
Tetap matahari sepenggalah, Cakra melangkah dengan mantap keluar dari jurang hutan Pancer, dia sengaja tidak terbang karena dia ingin menyusuri jalan dimana para pengungsi dulu lewati.
Tepat menjelang dia keluar dari hutan Pancer, Cakra melihat beberapa orang telah bertempur, Cakra mengenali seragam prajurit yang di kenakan oleh salah satu kelompok orang itu, seragam itu adalah seragam prajurit kerajaan Selo Cemeng.
Cakra segera melibatkan diri di pertempuran itu, dia segera menggempur pasukan Selo Cemeng yang tadi berada di atas angin.
Gerakan cepat Cakra menumbangkan banyak sekali pasukan Selo Cemeng, mereka bertumbangan karena terkena tamparan tangan Cakra.
Cakra berkekebat mencari lawan yang sepadan, hingga akhirnya dia berhadapan dengan pemimpin pasukan yang dulu pernah di kalahkan.
"Ada urusan apa kau ikut campur urusan kami ? " bentak pemimpin itu.
"Apa kamu sudah melupakan aku, enam purnama lalu kau bertarung dengan aku, ingatkah ? " jawab Cakra.
__ADS_1
Pemimpin itu segera ingat siapa sosok pemuda di depannya, dia sadar tidak mungkin menang dari pemuda itu, maka dia memutuskan menarik semua pasukannya yang masih hidup, mereka kembali ke kerajaan Selo Cemeng dengan tangan kosong.