
Paman Jolo Wojo memasuki sebuah pondok yang di jaga ketat oleh prajurit, dengan di temani Nyai Selasih yang menenteng nampan berisi makanan dan minuman untuk Murdo yang menjadi tawanan mereka.
Murdo masih terbaring di sebuah kamar, tubuhnya lemah dan luka dalam yang di derita masih cukup parah, meski sedikit berkurang setelah mendapat pengobatan dari paman Jolo Wojo.
Awalnya, pangeran Jati Kusuma ingin menaruh Murdo di pondok khusus tahanan dan ingin memaksa Murdo memberi informasi yang mereka butuhkan, namun paman Jolo meyakinkan untuk melakukan itu secara perlahan tanpa penyiksaan.
"Bagaimana keadaanmu pagi ini Murdo,,,? " sapa paman Jolo Wojo kepada Murdo.
" Kenapa kalian tidak bunuh saja aku,,? kenapa kalian bersusah payah merawatku,,? " tanya Murdo sinis.
" Membunuhmu itu mudah Murdo ,, namun membunuh sifat ke angkara murkaan di dalam hati itu yang sulit, jika kami membabi buta membunuh semua yang tidak cocok dengan kita, apakah menjamin ke angkara murkaan benar benar musnah dari muka bumi ini, atau justru malah menambah tumbuh suburnya angkara murka di hati orang orang yang merasa tersakiti,,, ? " jawab paman Jolo.
" Chuuuh,,, kalau memang kalian berprinsip seperti itu, kenapa kalian membunuh kedua saudara ku ,,?, apa kalian cuma berkedok pada memberantas ke angkara murkaan dengan pembunuhan itu sendiri,,? " cecar Murdo.
__ADS_1
" Kami punya tanggung jawab untuk membela diri dan menjaga kehormatan kami Murdo, semua yang terjadi kemaren karena kami melindungi apa yang ada di sini, mungkin jika kalian tidak menyerang kami, kami pun tidak akan menurunkan tangan kepada kalian, perjuangan ini pun juga seperti itu, kami punya tanggung jawab membebaskan masyarakat kami yang selama ini di tindas oleh kerajaan Selo Cemeng, untuk itulah selama ini kita berjuang namun berusaha mungkin mengurangi jumlah korban yang besar di kedua belah pihak,, " jelas paman Jolo.
Mendengar penjelasan paman Jolo, terbukalah hati dari Murdo, dia membenarkan bahwa selama ini mereka telah dengan semena mena merampas hak warga Gading Padas, dia menyesali semua yang telah di lakukan dulu saat masih berada di bawah perintah Sangga Bhumi.
Murdo berusaha bangkit dan merangkul paman Jolo, dia mengungkapkan semua isi hatinya, dia sangat menyesal dan berjanji untuk membayar semua yang telah terjadi dengan bergabung dengan pasukan itu, mendengar itu, bahagialah paman Jolo dan Nyai Selasih, mereka sangat terharu terhadap kesungguhan Murdo yang ingin berubah.
***
Pangeran Jati mengumpulkan semua orang pimpinan yang ada di pondok itu, termasuk Dirga dan Ranto pimpinan pasukan untuk membicarakan langkah selanjutnya.
" Saat ini, kita sudah mulai dekat dengan cita cita kita, kita sudah mulai mempunyai kekuatan sehingga tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bergerak lebih berani lagi dan secepatnya kita bisa merebut Gading Padas dari kekuasaan Selo Cemeng,, " lanjut pangeran Jati bersemangat.
" Bagai mana menurut kalian semua,,? " tanya pangeran Jati.
__ADS_1
" Maaf pangeran, memang kita sudah memiliki kekuatan, prajurit kita juga sudah mahir dalam peperangan, namun jika di bandingkan dengan kekuatan Selo Cemeng yang ada di Gading Padas kita kalah jauh, jika kita perang terbuka dengan mereka, kita akan mudah di bumi hanguskan oleh mereka,, " ucap ki Sarjo yang mengetahui kekuatan lawan.
" Memang benar apa yang anda katakan ki, namun kita tidak dapat menunda lagi serangan ini, kita tidak dapat membiarkan rakyat tersiksa lebih lama lagi,, " ucap pangeran Jati.
" Ampun pangeran dan para sepuh yang hadir di sini,, " Cakra memulai membuka suara.
" Memang dari kekuatan kita masih kalah jauh, namun dari kemampuan dan daya juang kita masih mampu mengimbangi, akan lebih baik jika kita membuat kelompok yang terdiri dari para pendekar pendekar yang ada di sini untuk menyerang pos pos penjagaan mereka di berbagai tempat untuk memecah kekuatan mereka, kita juga berusaha melemahkan kekuatan mereka dengan menyerang prajurit prajurit yang berpatroli, karena saya mendapat laporan bahwa saat ini mereka memperketat penjagaan dan melakukan patroli yang di lakukan oleh prajurit Selo Cemeng di bantu pendekar golongan hitam, saat kekuatan mereka terpecah, nanti pangeran dan para prajurit bisa menyerang langsung di jantung kota untuk merebut istana Gading Padas yang selama ini di kuasai mereka,, " ucap Cakra memberi usul.
Semua yang ada di situ terdiam merenungi usulan itu, mereka menimbang untung ruginya rencana itu, hingga pada akhirnya mereka sepakat atas rencana tadi.
" Baiklah kalau begitu, aku ambil keputusan untuk melaksanakan rencana yang di sampaikan Cakra, untuk itu kita harus membentuk kelompok kelompok kecil yang terdiri dari lima belas pendekar setiap kelompoknya,, " putus pangeran Jati.
Dengan keputusan itu, maka di bentuklah kelompok kecil yang di pimpin oleh ki Sarjo yang di temani paman suro, putri Kencana Sari di temani paman paman Rejo, Cakra, ki Harjo dari padepokan naga hijau dan ki Adirojo dari padepokan lutung emas, sedangkan paman Jolo Wojo dan Nyai Selasih bertugas membantu pangeran Jati menyerbu di kota raja bersama dengan prajurit yang sudah tidak sabar untuk menyerang.
__ADS_1
Hari itu juga kelompok kelompok kecil yang telah terbentuk berangkat menuju lokasi lokasi yang telah mereka tentukan, mereka akan melaksanakan kewajiban sebagai seorang warga negara sambil mencegah keserakahan yang meraja lela di Gading Padas.