PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Perebutan Patung Garuda Emas 2


__ADS_3

Suasana di hutan Angkrong semakin mencekam, gesekan antar para pendekar semakin kerap terjadi, hampir setiap hari ada nyawa yang mati sia sia, jasad jasad para pendekar berserakan di mana mana tanpa ada seorang pun yang mengurus, hal ini menjadi pesta bagi para hewan buas yang ada di hutan Angkrong, mereka memangsa jasad jasad yang semakin lama semakin banyak.


Sardi pamit kepada Cakra untuk mencari hewan buruan sambil melihat situasi para pendekar yang memburu patung garuda emas, entah dari siapa kabar yang merebak di dunia persilatan jika patung garuda emas saat ini berada di hutan Angkrong sehingga para pendekar berbondong bondong masuk ke hutan Angkrong, Cakra dan Sardi yakin jika ada orang orang yang memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat perpecahan di antara para pendekar di dunia persilatan.


Dengan berhati hati Sardi melangkahkan kakinya, dia sengaja melewati tempat tempat yang jarang di lewati orang sehingga pergerakannya menjadi leluasa.


Di tengah perjalanannya, Sardi mendengar adanya pertarungan yang terjadi tidak jauh dari tempatnya berada, dengan mengendap endap Sardi mendekat ingin tahu siapa yang saat ini sedang bertarung.


Sebuah pertarungan terjadi antara seorang pendekar bersenjata clurit di dua tangannya yang lebih di kenal dengan pendekar celurit kembar melawan seorang pendekar yang bersenjata keris ber luk tiga memancarkan cahaya biru tua yang berjuluk pendekar gua sanca.


Sardi merasa heran dengan pertarungan itu, karena keduanya di kenal sebagai pendekar golongan putih yang berada di jalan kebenaran, namun kenapa saat ini justru saling bermusuhan.


Sardi hanya mengintai pertarungan itu sambil mencerna apa sebenarnya yang menyebabkan mereka bertarung seperti itu.


Semakin lama pertarungan itu semakin seru, jurus jurus andalan yang jarang mereka gunakan sekarang sudah mereka keluarkan, luka luka di tubuh mereka pun juga sudah banyak sehingga tubuh mereka semakin lemah, gerakan mereka mulai melambat dan nafas mereka sudah tersengal.


Saat mereka berhadap hadapan mengambil nafas mengumpulkan tenaga, suara tawa terdengar keras dari arah timur mereka, serentak ke dua pendekar yang tadi bertarung itu langsung menoleh ke arah datangnya suara tawa tadi.


" Luar biasa, luar biasa, dua pendekar sedang adu kejantanan merebutkan pepesan kosong, " ucap kakek yang membawa tongkat berkepala naga berwarna merah, di sampingnya juga ada kakek yang di pinggangnya terdapat sabuk baja dan di kawal oleh beberapa prajurit pilihan kerajaan Selo Cemeng.


" Tidak perlu mengurusi urusan kami kakek tua, kau hanya mengganggu saja,, " ucap pendekar gua sanca.


" Ha ha ha ha, lanjutkan saja, silahkan, kami akan menonton kematian kalian di sini dan menjadi saksi berkurangnya kekuatan pendekar golongan putih di sini. "


" Dasar kalian semua bodoh, dengan matinya banyak pendekar golongan putih di sini, maka akan dengan mudah bagi kami untuk menguasai dunia persilatan ini, " ujar kakek sabuk baja.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, terperanjat lah kedua pendekar yang awalnya berselisih itu, termasuk Sardi yang juga mendengar juga kaget, saat ini dia mulai memahami tentang apa yang terjadi di dunia persilatan saat ini.


Ada orang orang yang mengadu domba untuk melemahkan golongan putih, jika rencana ini berhasil maka tidak hanya dunia persilatan yang akan terjadi bencana, namun masyarakat awam lah nantinya yang akan menjadi korban terparahnya.


Di tengah tengah keterkejutan dan pemikirannya, tidak di sadari di belakang Sardi sudah berdiri salah satu dari pengawal dua kakek tadi, pengawal tadi langsung melabrak ke arah Sardi sehingga punggung Sardi dengan telak terkena tendangan kaki pengawal tadi.


Duuuuuuuk.


Tubuh Sardi terjengkang ke depan keluar dari tempat persembunyiannya.


" Maaf tuan ada tikus yang sedang mengintai kita,, " lapor pengawal tadi.


" Bagus pengawal, saat ini tambah lagi satu orang bodoh yang bersiap untuk menjemput ajal. "


Ketiga orang yang saat ini berhadapan dengan kakek tongkat naga merah bersama kelompoknya telah waspada, mereka segera bergabung untuk menghadapi bersama kemungkinan paling buruk.


***


Di sisi lain dari hutan Angkrong, Cakra merasa khawatir dengan keadaan Sardi yang sudah cukup lama perginya, Cakra memutuskan untuk pergi mencari Sardi karena firasatnya tidak enak.


Cakra segera melesat ke arah utara sesuai arah kepergian Sardi tadi, dengan langkah kilat menapak angin membuat dirinya mampu melesat cepat, meski lebatnya pepohonan namun tidak menyulitkan baginya untuk terus melaju.


Sudah cukup jauh Cakra mencari keberadaan Sardi, namun belum ada tanda tanda keberadaannya, namun lamat lamat Cakra mendengar dentingan suara benturan senjata menandakan di sekitar situ telah terjadi pertarungan.


Dari suara yang berbeda beda maka Cakra bisa memastikan jika yang bertarung saat itu lebih dari satu orang bahkan bisa lebih dari dua puluh orang.

__ADS_1


Cakra segera melesat ke arah sumber suara pertarungan itu, dari kejauhan Cakra melihat tiga orang termasuk Sardi di keroyok oleh lima belas orang berseragam prajurit Selo Cemeng, di sudut lain dua kakek dan lima pengawal masih melihat jalannya pertarungan.


Cakra segera melibatkan diri ke dalam pertarungan yang tidak berimbang itu, selain kalah jumlah juga karena tenaga dua pendekar celurit kembar dan pendekar gua sanca sudah terkuras di pertarungan sebelumnya.


Serangan hebat langsung di kerahkan oleh Cakra, dengan jurus Cakar garuda membelah badai dua orang pengawal kerajaan Selo Cemeng sudah bergelimpangan di tanah dengan urat di lehernya putus seperti di gorok.


Munculnya seorang lawan membuat para pengawal lain yang sebelumnya masih mengamati pertarungan kini sudah ikut menyerang Cakra.


Melihat sepak terjang Cakra yang dengan mudah menumbangkan musuhnya, membuat kelima orang itu tidak segan menarik senjata mereka masing masing untuk menyerang Cakra.


Desingan desingan senjata berkelebatan di sekitar tubuh Cakra, namun dengan jurus sayap seribu dan langkah kilat menapak angin, kilatan senjata itu bisa di hindari Cakra, jurus sayap seribu yang di padukan dengan pedang garuda di tangan kanannya membuat jurus itu semakin berbahaya.


Traaaang.


Traaaaaaang.


Dua pedang yang berbenturan dengan pedang garuda langsung terpotong menjadi dua, kemudian Cakra menyelipkan pedang di antara dua lawan yang pedangnya telah buntung, dengan dua kali sabetan pedang itu meninggalkan luka cukup dalam di perut lawannya sehingga dua orang itu langsung ambruk ke tanah.


Melihat kawannya sudah bertumbangan membuat yang lain semakin waspada dan merapatkan barisan untuk menyerang bersama sama.


Namun bukannya takut justru Cakra semakin bersemangat untuk segera menghabisi lawan lawannya.


Sedangkan Sardi, pendekar celurit kembar dan pendekar gua sanca kini juga bergabung untuk menyerang bersama sama.


Dengan serangan berpasangan seperti itu membuat mereka lebih mudah menghabisi lawan lawannya.

__ADS_1


" Berhenti,,,,,,,!. "


Saat penyerang Cakra hanya tinggal seorang saja, kakek tongkat naga merah berteriak menghentikan pertarungan itu.


__ADS_2