PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Penyerangan Awal


__ADS_3

Sepasukan yang berjumlah lima puluh lima orang terdiri dari prajurit Selo Cemeng dan para pendekar golongan hitam di pimpin oleh senopati Awar awar sedang berada di sebuah kedai, mereka mampir di kedai desa Donan setelah menempuh jarak cukup jauh berpatroli sambil meminta upeti dari rakyat, sebenarnya kegiatan mereka lebih tepat di sebut memeras rakyat dari pada menarik upeti, mereka membawa hampir semua hasil sawah rakyat, rakyat hanya di kasih sisa untuk menanam kembali tahun depan.


" Siapkan makanan untuk kami semua, , " bentak Baron, seorang pendekar golongan hitam yang menjadi tangan kanan senopati Awar awar.


"Baik tuan, siapkan makanannya cepat,,,! " ucap pemilik kedai tergopoh gopoh sambil menuangkan tuak di dalam gelas bambu di hadapan Baron dan senopati Awar awar.


"Silahkan di minum tuan,,! "


" Bagus, aku suka pelayananmu, " jawab Baron.


Semua yang ada di situ menikmati semua hidangan yang di berikan oleh pemilik kedai itu, karena kedai itu tidak mampu menampung banyaknya prajurit di sana, sebagian duduk duduk di bawah pohon mangga di luar kedai.


Suasana di kedai itu sangat ramai, kadang muncul kata kata kotor dan mesum di antara candaan mereka, apalagi saat datang pelayan yang membawa makanan di hadapan mereka, tangan tangan jahil mulai meraba anggota badan pelayan itu, pelayan itu sebenarnya risih terhadap perlakuan itu, namun untuk menghindar maupun melawan dia tidak mampu, karena banyak tangan tangan nakal yang mencekal tangannya, hingga akhirnya pelayan itu menumpahkan tuak yang dia pegang dan berlari masuk sambil menangis sesenggukan, sungguh pemandangan yang mencerminkan ketidak berdayaan manusia menahan hawa nafsu hewaninya, mereka berwujud manusia namun berkelakuan binatang buas, bahkan lebih buas dari pada binatang itu sendiri.


Setelah semua selesai makan, para prajurit itu bersiap meninggalkan kedai tanpa membayar.


"Maaf tuan, anda belum membayar makanan yang anda makan ,, " ucap pemilik kedai sambil mengiba.


" Apa,,,? aku harus membayar makan di kedai ini,, ? "


" Apa aku tidak salah dengar haaah ,,? "


" Tidak tuan, ampun kami dari pagi belum dapat pelanggan, hingga anda datang, kalau anda tidak membayar bagaimana kami bisa belanja keperluan kedai agar besok kita bisa buka kedai kembali, "" ucap pemilik kedai.


Duuukhh....

__ADS_1


Sebuah tendangan kaki mengenai pemilik kuda itu, dia di tendang oleh salah seorang prajurit yang belum naik kuda.


" Ini bayaran untukmu,, " ucap prajurit itu.


" Beruntung kedai ini tidak aku robohkan, sekarang kau malah minta bayaran,,, apa kau ingin kedai ini aku robohkan ,,,? " ucap senopati Awar awar sinis.


Mendengar itu nyali pemilik kedai ciut, dia merutuki nasib buruknya hari ini sambil beringsut ke tepi jalan.


Pasukan itu melanjutkan perjalanan secara jumawa, mereka tidak tahu kalau mereka telah di nanti di luar desa.


Saat Cakra mendengar dari salah seorang yang di suruhnya masuk ke kota mencari bekal makanan kalau di kota itu ada pasukan yang sedang mengacau di sebuah kedai, dia memutuskan untuk mencegatnya di luar kota, dia tidak ingin mengorbankan para penduduk di kota itu.


Di sebuah bukit kecil itu, mereka menyembunyikan diri menunggu pasukan yang akan melewati jalan itu.


Tepat saat pasukan itu melintasi bukit itu, terdengar teriakan untuk menyerang, serempak empat belas orang telah melesat membawa senjata mereka masing masing menggempur pasukan yang jumlahnya tiga kali lipat dari mereka.


Triiing triiing triiing.


Suara senjata saling beradu, terjadi pertempuran yang seru, walau penyerang itu kalah jumlah, namun mereka bertempur dengan berkelompok menggunakan formasi perang yang sulit di tembus pertahanannya namun sangat mematikan serangannya, mereka bertempur dengan saling melindungi dan saling mengisi kekosongan yang di tinggal kawannya untuk menyerang.


Sedangkan Cakra telah menyerang senopati Awar awar dan Baron bersamaan, tidak ingin berlarut dia sudah mengeluarkan tombak Bayu Angkasa.


Dengan Tombak di tangannya dan sayap di punggungnya, ia terlihat layaknya malaikat pencabut nyawa yang siap mencabut nyawa kapan pun saja.


Gerakannya yang gesit dan lincah menyulitkan lawannya untuk menyerangnya.

__ADS_1


sambaran pedang dari senopati Awar Awar dan dari Baron seakan tembus tidak mengenai sasaran.


Saat kedua orang lawannya menyerang bersamaan mengarah kepada area vital dari tubuh Cakra, Cakra menghindari dengan melesat keatas dan menukik kearah lawannya yang tidak menyangka dia akan menghindar.


Traaaang.


Bunyi benturan tombak Bayu Angkasa dengan pedang senopati Awar awar, terpental lah pedang itu dan tombak Bayu Angkasa tetap meluruk kearah leher senopati Awar awar.


Craaaassh..


Sebuah kepala menggelinding di tanah di ikuti suara gedebuk tubuh yang jatuh.


Baron memanfaatkan keadaan itu dengan melarikan diri menghindari Cakra.


Wuuuushh.


Aaaakkhhhhh...


Tombak Bayu Angkasa yang di lemparkan Cakra menembus ke tubuh Baron, hingga terhenti langkah Baron yang ingin melarikan diri menyelamatkan selembar nyawanya.


Cakra segera menerjunkan diri ke dalam pertempuran para prajurit dan para pendekar yang dia pimpin, sebelumnya dia menyampaikan kalau pimpinan mereka telah binasa agar mereka menyerah saja, namun merasa mereka menang jumlah, mereka tetap menyerang rombongan Cakra.


Hingga akhirnya Cakra dan para pendekar yang di pimpinnya membantai pasukan itu tanpa tersisa, mereka mati karena kesombongannya.


Cakra memerintahkan mengumpulkan kuda, harta dan senjata yang di tinggalkan lawannya, mereka meninggalkan area pertempuran itu membawa hasil yang gemilang.

__ADS_1


__ADS_2