
Braaaaaak.
Wuuuuuuushh
Claaaaaaph.
Cakra melesat meraih kerah baju Permana yang belum bangkit dari jatuhnya kemudian membanting tubuh itu di halaman padepokan.
Sekejap Bayangan bayangan lainnya menyusul keluar dari ruang makan menuju halaman.
Kelompok laron beracun tidak menyangka jika mereka di jebak oleh lawannya, Benggala sampai mengumpat kesal karena aksinya kali ini tidak berjalan dengan lancar.
" Jangan sekali kali kau sentuhkan tangan kotor mu kepada Kenanga,! " seru Cakra geram karena merasa perlakuan Permana kepada perempuan sangat tidak bermoral.
Permana berusaha bangkit sambil meringis menahan sakit, dia seka darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan lengan bajunya.
" Kurang ajar, tidak ku sangka jika kalian masih sadar terkena racun yang di sebar oleh laron,,," desis Permana.
" Jangan kau kira hanya dengan cara licikmu itu bisa membunuhku,, " timpal empu Songgo Langit.
" Aku rasa, murid durhaka seperti mu sudah waktunya mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah kau lakukan,, " imbuh empu Songgo Langit.
Permana hanya tersenyum sinis, dia sebenarnya sadar tidak akan selamat dari tempat itu, namun dia berharap mendapatkan celah untuk melarikan diri dari sana.
Benggala juga melihat situasi saat itu sulit bagi dirinya untuk kabur, sehingga dia membuat siasat di saat yang lain tengah fokus terhadap Permana.
Perlahan Benggala mulai mengambil kesempatan itu, dengan cepat dia membalikkan badan ingin lari walau harus meninggalkan anak buahnya yang masih di sana.
Buuuuuk.
Tanpa di sadari oleh Benggala, saat dia membalikkan badan hendak lari, di depannya sudah berdiri kakek dewa tongkat rotan yang langsung menyapukan kakinya ke arah perut Benggala hingga dia terpental ke belakang.
Walau Benggala mampu menguasai tubuhnya untuk tidak jatuh, namun sakit di perutnya juga tidak tertahankan sehingga dia harus memegangi perut itu.
" Sudah menyerang dengan licik, sekarang diam diam ingin lari, kamu harus bertanggung jawab atas kejadian di padepokan ini, berikan penawar racunnya,,! " bentak kakek dewa tongkat rotan kepada Benggala.
Benggala yang perutnya masih mual itu hanya meringis sambil memandang penuh amarah kepada penyerangnya tadi.
" He he he, sebenarnya urusan kalian hanyalah dengan Permana karena kami cuma di bayar, jadi akan kami berikan penawar racun itu namun lepaskan kami,, " ucap Benggala bernegosiasi.
" Memang kamu punya hak apa mau menawar nyawamu dengan penawar racun, kau telah ikut andil dalam kejadian ini, makanya kau harus mempertanggung jawabkan nya,, ! "
" He he he, kalau begitu kalian tidak akan bisa mendapatkan penawar racun itu,, " ejek Benggala.
Kakek dewa tongkat rotan justru tersenyum mendapat jawaban seperti itu.
" Kau kira aku tidak bisa membunuhmu kemudian mengambil penawar itu darimu,, " jawab kakek itu.
" Apa boleh buat, agar bisa keluar dari sini aku akan membunuh kalian dulu,, "
" Seraaaang.....! "
Semua anak buah laron beracun langsung menyerbu ke arah jalan keluar agar bisa segera selamat,
Kelana, Surya, empu Songgo Langit dan Kenanga tidak membiarkan mereka leluasa keluar masuk padepokan itu, mereka segera menyerang lawan mereka.
Mereka tanpa ragu lagi sudah mengamuk di tengah tengah lawannya, bahkan Kelana telah menggunakan cambuk naganya untuk menghabisi lawannya.
Ctaaaaar.
__ADS_1
Ctaaaaar.
Ctaaaaaaar.
Sambaran sambaran cambuk Kelana mematuk matuk tubuh lawan, sungguh sebuah pemandangan yang mengerikan, sambaran cambuk itu mampu memotong bagian tubuh lawan yang terkena, meski cambuk itu lemas namun karena di aliri tenaga dalam sehingga tajamnya seperti pedang.
Jerit jerit kesakitan terdengar menyayat hati, hanya lawan dari empu Songgo Langit yang bernasib baik karena beliau tidak menurunkan tangan kejam kepada mereka, sebagian besar hanya di buat cedera ringan maupun tidak sadarkan diri.
Di tempat lain, Cakra sedang meladeni Permana dan kakek dewa tongkat rotan melawan Benggala.
Serangan cepat Permana menggunakan senjata seruling meraung raung mengurung ruang gerak Cakra, namun dengan jurus sayap seribu dia dengan mudah menghindari serangan lawannya.
Setelah sesaat Cakra hanya menghindari serangan Permana sambil mencari kelemahan dari jurus yang di gunakan oleh lawannya, Cakra mulai membalas serangan lawan, dengan gerakan tangan yang terlihat lemah dan lambat namun memiliki daya rusak yang kuat, apalagi di setiap gerak tangan itu selalu di ikuti oleh sambaran angin yang berkesiutan sehingga membuat lawan sulit untuk bertahan terhadap serangan itu.
Sebuah pukulan Permana mengarah ke perut Cakra mampu di belokkan dengan lembut sehingga melenceng dari arah serangan sebenarnya, saat membelokkan serangan tadi, Cakra juga menangkap pergelangan tangan lawan, kemudian menepuk dengan sedikit tenaga yang mengakibatkan terlepasnya seruling andalan dari genggaman tangan Permana.
Cakra menarik tangan yang sudah tidak memegang senjata itu kemudian dengan cepat mengirim pukulan telapak tangan di dua dada kanan kiri lawan.
Permana yang menerima dua serangan beruntun itu terdorong lima langkah sambil memegangi dadanya yang sesak.
Belum sempat hilang rasa sakit yang di derita di dada Permana, Cakra sudah meloncat mengirimkan tendangan ke perut Permana.
Buuuuuuugh.
Hasilnya dengan telak perut itu menerima kaki kanan Cakra hingga pemiliknya harus terpental berjumpalitan sejauh tiga tombak.
Cakra masih berbaik hati membatasi kekuatannya sehingga Permana masih bisa menghirup udara, jika tidak sudah dari tadi dia kehilangan nyawa, di lihat kini Permana sedang pingsan.
Cakra melihat keadaan tempat pertarungan yang lain, dia melihat Kenanga terdesak oleh lima lawannya, beberapa sambaran senjata lawan telah menggores pakaian Kenanga, bahkan di bagian dada Kenanga telah terbuka membuat para penyerangnya menjadi semangat seperti serigala yang hendak menerkam mangsanya, Cakra segera mensejajari Kenanga untuk bisa bertarung bersamaan.
Kenanga yang awalnya wajahnya pucat karena terdesak, kini kembali cerah karena Cakra membantunya, apalagi walau dalam bertarung wajah Cakra masih terulas senyum sehingga Kenanga melihat lebih menawan lelaki pujaan hatinya, setiap serangan serangan yang mengarah kepada Kenanga tidak di biarkan, dia selalu menghalau serangan lawan sehingga Kenanga merasa terlindungi oleh Cakra.
" Tidak kakang, aku ingin bertarung dengan mu,, "
" lihat itu gumpalan dadamu terlihat, tutuplah sebelum mereka semakin liar menerkamnya, aku tidak ingin milik ku itu di makan orang lain,, " imbuh Cakra.
Kenanga yang mendengar itu baru sadar dan segera menutup dadanya dengan tangan kemudian meninggalkan tempat pertarungan itu.
Lawan lawan Kenanga hendak mengejar namun dengan sigap Cakra menghadang.
" Mau kemana kalian, karena kalian telah melihat apa yang harusnya tidak kau lihat dari wanita itu maka aku akan membunuh kalian,, " ucap Cakra.
Segera mereka menyerang Cakra.
Merasa marah, Cakra langsung menggunakan jurus sayap seribunya.
Plaaak
plaaak
praaaaak
Dengan cepat tamparan telapak tangan Cakra mengenai kepala lawan lawannya yang langsung ambruk berjatuhan karena sudah tidak bernyawa.
Sebentar saja anak buah laron beracun telah tumbang semua.
Duuuuuuarr.
Ledakan keras terdengar dari tempat pertarungan kakek dewa tongkat rotan dan Benggala, ledakan tadi akibat benturan dua kekuatan yang ternyata masih terlihat imbang.
__ADS_1
Setelah keduanya terdorong ke belakang setelah efek benturan hilang segera mereka terlibat pertarungan lagi, pertarungan itu terlihat seru, karena kecepatan mereka dalam bertarung sehingga hanya terlihat bayangan yang saling loncat dan bertabrakan, kadang dari dua bayangan yang bertarung itu melesat pukulan yang menyasar sehingga menjadikan halaman padepokan itu berantakan.
Semua yang ada di sekitar arena itu tidak ingin ikut campur di pertarungan itu, karena ini adalah pertarungan yang adil antara satu lawan satu.
Kakek dewa tongkat rotan yang tahu jika pertarungan lainnya sudah selesai mencoba meningkatkan tenaga dalamnya untuk menyelesaikan pertarungan itu dengan cepat.
Setelah kakek dewa tongkat rotan telah meningkatkan tenaga dalamnya, kini terlihat perbedaan kekuatan, kakek dewa tongkat rotan mampu mendesak Benggala hingga memaksa dia berjumpalitan menghindari serangan kakek itu.
Semakin lama Benggala semakin tersudut hingga saat dia telah kehabisan tenaga, tongkat rotan di tangan kakek itu dengan telak menyamplok kepala nya.
Duaaaaar.
Kepala itu meledak tidak berbentuk lagi, sedangkan tubuhnya yang tanpa kepala langsung ambruk seketika di tanah.
Seketika berhentilah pertarungan itu, kemudian semua berkumpul untuk memeriksa tubuh Benggala mencari penawar racun.
Agak lama memeriksa akhirnya mereka menemukan penawar racun juga.
Kegembiraan terpancar dari wajah mereka karena awalnya mereka khawatir terhadap keadaan para murid padepokan yang terkena racun.
Dari dalam Kenanga yang telah selesai mengenakan baju baru berlari ke arah kerumunan itu, saat dia melewati tubuh Permana yang tergeletak, tiba tiba kakinya di tangkap oleh Permana sehingga dia jatuh, dengan cepat Permana mengalungkan golok ke leher Kenanga.
" Berikan patung garuda emas atau Kenanga akan mati di tanganku,,! " ucap Permana yang ternyata sudah siuman dari pingsannya sejak tadi namun dia berpura pura pingsan.
Empu Songgo Langit sangat terkejut melihat cucu satu satunya dalam keadaan berbahaya seperti itu, semua yang ada di situ di minta untuk memjaga jarak dari sana.
Terlihat raut wajah ketakutan dari Kenanga, apalagi bilah golok yang menempel di kulit lehernya terasa dingin, namun saat dia melihat Cakra, dia mulai menenangkan diri, memang Cakra mencoba menenangkan Kenanga agar tidak panik.
Permana berbicara hingga berteriak teriak meminta segera di bawakan patung garuda emas.
" Empu sebaiknya kita turuti saja dia,,! " usul Cakra.
Surya yang mendengar itu langsung protes, namun empu Songgo Langit memerintahkan dia mengambil patung itu di suatu tempat rahasia.
Tidak lama, patung itu sudah di bawa ke halaman padepokan dan di serahkan kepada empu Songgo Langit.
" Serahkan patung itu guru,,! " teriak Permana.
" Manusia tamak seperti mu tidak pantas memanggilku guru, ini ambil..! " teriak empu Songgo Langit sambil melempar patung garuda emas.
Saat Permana menangkap patung itu, tempelan golok di leher Kenanga melonggar, hal itu di manfaatkan oleh Kenanga untuk meloloskan diri.
Sesaat setelah Kenanga meloloskan diri, segera Cakra melesat mengayunkan cakar garuda membelah badai.
Sriiiingg.
Traaaang
Aaaaaakkh.
Mengetahui serangan Cakra Permana menggunakan patung garuda emas sebagai perisai, niat hati Cakra mengurungkan serangannya namun ternyata justru Cakra membabat patung itu kemudian menyasar pada dada Permana hingga tembus ke jantungnya kemudian Cakra membetot jantung itu keluar sehingga pemiliknya langsung tumbang ke tanah.
Surya yang tahu patung garuda emas telah terpotong menjadi tegang wajahnya kemudian dia memungut potongan patung itu.
" Tidak perlu kau sesali Surya, sebenarnya patung garuda emas itu sudah menjadi patung biasa karena roh garuda agni yang ada di dalamnya telah menyatu dengan Cakra,, " ucap empu Songgo Langit kepada Surya.
Surya kemudian paham kenapa gurunya mau memberikan patung itu kepada Permana.
Kenanga yang baru lolos dari bahaya pun langsung memeluk Cakra dengan erat menyingkirkan rasa malu kepada kakeknya dan semua yang ada di situ.
__ADS_1