
Matahari kembali ke peraduan menyisakan sinar keemasan di ufuk barat, semburat cahaya nya terlukis di mega mega yang terhampar luas layaknya kanvas.
Suasana petang yang mempesona itu tidak dapat di rasakan oleh para warga desa Randu Alas yang baru selesai melaksanakan upacara pembakaran mayat saudara mereka yang meninggal penyakit aneh, selain kesedihan yang mendera mereka juga rasa ketakutan jika diri mereka juga ikut tertular juga.
Di sepanjang jalan yang di lewati oleh dua orang muda mudi yang menuntun kudanya yang terlihat hanya wajah wajah putus asa dan ketakutan, seakan akan mereka semua hanya mengantri menjadi korban selanjutnya dari penyakit yang saat ini mewabah di desa mereka, mereka tidak tahu lagi apa yang perlu di lakukan untuk menyembuhkan penyakit aneh itu, karena sudah banyak tabib yg di undang untuk ikut membantu menyembuhkan para warga justru tidak ada yang selamat karena ikut tertular sehingga tidak ada satupun tabib yang berani masuk ke desa itu.
Cakra dan Kenanga yang saat itu menuntun kuda menuju kediaman lurah desa itu merasa tersentuh hatinya untuk membantu warga desa Randu Alas keluar dari kesulitannya.
" Permisi, apakah benar ini rumah dari lurah desa ini ,,,? " tanya Cakra sopan.
" Benar pemuda, ada perlu apa,,? " tanya penjaga itu waspada.
" Oh, kami hanya ingin bertemu dengan ki lurah, apakah beliau ada di rumah,,? "
" Siapa kalian dan apa keperluannya sehingga ingin berjumpa dengan ki lurah,,? "
" Saya Cakra, sedangkan ini adik saya Kenanga, kami hanya pengembara yang ingin minta ijin tinggal sebentar di desa ini,, "
" Kalau cuma karena itu tidak perlu kau menemui ki lurah, pergilah dan tinggal lah sesuka hatimu di sini,,! " ucap penjaga terdengar kurang sopan.
" Tapi biarkan kami berjumpa dulu dengan ki lurah,,,! " ujar Cakra masih dengan sopan.
" Tidak bisa, akhir akhir ini ki lurah tidak menerima tamu sebaiknya kalian pergi saja dari sini,, " ucap penjaga itu yang mulai terpancing emosinya.
Kenanga mulai terpancing emosinya, dia sempat melangkahkan kaki maju untuk menghajar penjaga itu, namun tangan Cakra sudah menghadang agar Kenanga tidak melanjutkan niatnya.
" Baiklah,,, kami mohon maaf telah mengganggu, saya pamit dulu,, " ucap Cakra setelah itu dia membalikan badan sambil menggandeng tangan Kenanga untuk meninggalkan tempat itu.
" Kisanak tunggu jangan pergi dulu,, "
Cakra dan Kenanga yang baru sepuluh langkah meninggalkan tempat itu mau tidak mau menghentikan langkahnya dan berbalik mencari sosok yang memanggil mereka.
Dari dalam rumah ki lurah muncul seorang pemuda yang berpakaian rapi, dari pencahayaan obor di halaman rumah ki lurah terlihat wajah seorang pemuda tampan dengan senyum ramah berdiri di depan rumah.
" Parjo, persilahkan tamu itu masuk ke rumah,,! " perintah pemuda itu kepada penjaga yang tadi menolak kedatangan Cakra.
__ADS_1
" Baik den,, " jawab Paijo yang langsung berlari menghampiri Cakra dan Kenanga.
" Silahkan masuk kisanak, mari saya antarkan,,! " ajak Paijo.
" Terima kasih,, ayo dinda,,! "
Mengekor kepada Paijo, Cakra dan Kenanga menghampiri pemuda yang dari tadi berdiri di depan pintu rumah itu.
" Silahkan kisanak, maafkan penjaga rumah ini yang telah berlaku kurang sopan,, " ucap pemuda itu.
" Tidak apa apa, ini semua karena tanggung jawab tugas yang di embannya,, "
" Sungguh sikap yang kesatria,, eh apakah benar kalian tadi yang berada di barisan belakang di lapangan tadi,,? "
" Benar kami kebetulan lewat di desa ini, melihat banyaknya orang yang berkumpul kami jadi tertarik sehingga kami berniat singgah dulu di desa ini jika di ijinkan,, "
" Ah beruntungnya desa ini jika ada sepasang pendekar seperti kalian hendak singgah di sini,, silahkan masuk, namaku Arya Marga putra dari lurah di sini,,! " ajak pemuda itu sambil merangkul Cakra untuk di ajak masuk ke rumah.
Ketiganya masuk kemudian di persilahkan duduk di ruang tamu.
" Siapa nama pendekar ,,? "
" Oh nama yang cantik secantik orangnya, mudah mudahan kita bisa mengenal lebih dekat,, " ucap Arya Marga sambil menggerakkan alisnya.
Kenanga yang di pandangi seperti itu justru menjadi risih, dia jengah terhadap pandangan laki laki itu membuat dirinya ingin pergi dari sana.
" Kakang, aku ingin keluar sebentar mencari udara segar,, " ucap Kenanga yang di angguki oleh Cakra.
Kenanga langsung berniat bangkit untuk keluar rumah, namun Arya Marga mencegah.
" Hidangan sebentar lagi akan datang, sebaiknya kalian berada di sini saja,,! "
" Tidak apa apa, biarkan kenanga mencari udara segar setelah seharian melihat banyak mayat di bakar di lapangan,, " ujar Cakra yang memang paham alasan Kenanga ingin keluar dari ruangan itu.
Tanpa bisa mencegah, Arya Marga membiarkan Kenanga pergi keluar.
__ADS_1
" Kemana ki lurah, dari tadi aku tidak melihatnya.,? " tanya Cakra.
" Semua yang ada di rumah ini mengalami sakit sama seperti yang di alami oleh para warga yang ada di desa ini jadi romo tidak bisa menemui kalian,, " ucap Arya Marga.
" Dimana sekarang, bolehkah aku memeriksanya,,? " tanya Cakra.
" Ah, santai saja dulu, kita nikmati dulu makanannya setelah itu baru kau periksa keadaan romo, bukankah kalian baru melakukan perjalanan jauh, pastinya kalian butuh makan,, "
Tidak lama semua makanan di hidangkan, seorang pelayan perempuan dengan tangan dan dahi penuh keringat menata makanan di atas meja, setelah semua sudah siap Kenanga pun masuk ke ruangan itu, Cakra yang hendak menegur Kenanga itu mengurungkan niatnya karena di situ ada Arya Marga.
" Silahkan semua menikmati, apalagi masih hangat jadi lebih nikmat..! "
Cakra dengan perlahan mengambil makanan itu, dia memakan apa yang di hidangkan dengan lahap, namun berbeda dengan Kenanga yang tidak menyentuh sedikit pun makanan di meja itu, hal ini membuat Arya Marga berusaha membujuk gadis itu untuk ikut makan.
" Aku masih kenyang karena tadi sore aku sudah makan,, " jawab gadis itu.
" Tapi minumlah wedang jahe ini, biar tubuhmu hangat sehingga nyenyak tidurnya.,,! "
Kenanga mengambil cangkir tanah berisi wedang jahe kemudian dia sruput wedang itu dengan perlahan.
" Enak banget minuman ini, tubuhku terasa hangat,,, " ucap Kenanga.
Tidak lama makanan di piring Cakra dan Arya Marga telah habis, mereka mengakhiri acara makan malam itu.
"Sebaiknya kalian istirahat di kamar dulu, baru besok memeriksa Romo karena saat ini romo baru saja tidur" ujar Arya Marga sambil tersenyum.
Cakra dan Kenanga di antar ke kamar masing masing, sesaat setelah Cakra masuk kamar, dia merasa tubuhnya terasa panas, keringat mengucur deras dan perasaannya menjadi gelisah, ada sebuah dorongan yang menuntut untuk di lampiaskan dari dalam tubuhnya.
Dengan segera dia bersemedi mengerahkan tenaga dalam roh garuda agni untuk membakar racun perangsang gairah yang ada di dalam tubuhnya.
Perlahan racun yang ada di tubuhnya menguap menjadi asap yang kemudian keluar dari pori pori tubuhnya dan dari kepalanya.
Seluruh racun di dalam tubuhnya sudah sirna, kini tubuhnya benar benar terlepas dari pengaruh racun itu, namun pikirannya justru kalut karena mengkhawatirkan Kenanga, dia berniat pergi ke kamar Kenanga, namun di dengarnya beberapa orang dengan langkah yang ringan datang, dari ringannya langkah kaki menunjukan bahwa yang datang memiliki tenaga dalam yang tinggi.
Cakra mengurungkan niat menghampiri Kenanga, dia lebih memilih menunggu siapa yang datang.
__ADS_1
Braaaaak.
Terdengar suara dinding ambrol dari kamar Kenanga membuat Cakra melesat keluar.