
Sebuah kepala tanpa tubuh di lemparkan oleh Cakra dari atas, seketika ratusan prajurit yang ada di situ segera melemparkan senjata mereka tanda menyerah, mereka merasa sudah kehilangan kekuatan karena pemimpin tertinggi mereka telah tewas.
Para prajurit segera mengumpulkan mereka dan menempatkan mereka di penjara, sedang yang mati pada malam itu segera di kumpulkan untuk di kubur bersama.
Cakra pagi itu memasuki pendopo, di sana telah berkumpul pangeran Jati Kusuma, paman Jolo Wojo, Nyai Selasih, ki Sarjo dan Dirga.
" Selamat datang Cakra, silahkan duduk,,,! " ucap pangeran Jati.
Cakra segera mengambil duduk di kursi yang telah tersedia.
" Hari ini kami semua akan mencoba membuka gudang perbendaharaan harta kerajaan Gading Padas, semoga Sangga Bhumi belum bisa menemukan gudang itu dan kebetulan kunci gudang itu telah di titipkan kepada paman Jolo Wojo sesaat sebelum kita melarikan diri,, "
" Baguslah kalau begitu, semoga dengan adanya harta itu mampu membawa kejayaan kerajaan ini, sehingga rakyat menjadi makmur. " ucap ki Sarjo.
Setelah siang beranjak, mereka berjalan bersama menuju ke samping bangunan istana, paman Jolo yang sudah paham letak bangunan tempat menyimpan harta kerajaan itu memimpin di depan, saat mereka sampai di tanah agak lapang, paman Jolo berhenti, dia segera mencari tumpukan batu yang di tata rapi di sekitar situ, namun karena sudah lama tempat itu tidak di bersihkan maka, tempat itu tertutup oleh semak belukar, Paman Jolo segera mencari cari di sekitar itu, dia menyingkirkan semak semak yang ada di situ, yang lainnya pun membantu menyibak nyibak semak semak itu.
__ADS_1
" Apakah ini yang kita cari,,,? " teriak Ki Sarjo yang juga ikut mencari.
Mereka semua segera menghampiri ki Sarjo.
" Benar, ini yang aku Cari,, "
Paman Jolo Wojo segera menggeser geser tumpukan batu itu sehingga terlihat lubang kecil di situ, Paman Jolo mengeluarkan kunci yang dulu di kasih oleh raja Rangga Jaya.
Paman Jolo memasukan kunci itu, kemudian di memutar kunci itu.
Terdengar suara besi yang bergeser, kemudian Paman Jolo mengajak Cakra membantu mengangkat sebuah benda, ternya benda itu adalah plat besi yang cukup tebal di tutupi tanah dan rumput yang agak tebal, dengan susah payah mereka mengangkat plat itu.
Braaakk.
Akhirnya plat itu bisa di angkat dan di singkirkan, setelah plat besi itu terangkat, terlihatlah anak tangga yang cukup tinggi sampai tidak terlihat dasarnya karena gelap.
__ADS_1
Nyai Selasih mengambil dua buah obor, menyalakan dan membawa ke arah pintu rahasia itu.
Dengan menggunakan penerangan obor, mereka turun bersama sama, sesaat mereka memasuki ruangan itu, mata mereka berbinar, di hadapan mereka terpampang sebuah ruangan yang cukup luas dan penuh dengan harta benda berupa uang logam dan perhiasan, jumlah harta ini sangat besar sehingga cukup untuk membangun kembali kerajaan Gading Padas dengan megah bahkan dua kali lipat dari yang dulu.
Di tengah ruangan itu juga ada sebuah mahkota yang dulu di pakai oleh raja, sebuah mahkota emas di hiasi batu batu mulia yang indah dan mutiara yang mewah, di tambah ukiran ukiran halus menambah indah mahkota itu, di sampingnya tersimpan dengan rapi sebuah keris pusaka sebagai bukti siapa pun yang memegang keris itu dia lah raja yang sah di kerajaan Gading Padas.
" Ambil lah keris itu pangeran, keris itu adalah hak mu,,! " perintah paman Jolo Wojo.
Pangeran segera meraih keris itu, dia mengangkat dengan kedua tangannya, kemudian pangeran Jati menaruh keris itu di keningnya dengan posisi gagang di genggam tangan di bawah dan bilahnya menghadap ke atas, perlahan pangeran Jati menarik gagang itu sehingga bilah keris itu keluar dari warangkanya, terlihat keris berluk tujuh mengeluarkan sinar kuning ke emasan yang cukup terang, pangeran Jati mengacungkan keris itu ke atas.
" Aku bersumpah akan menjadi pemimpin yang bisa mengayomi rakyat, tidak membiarkan rakyat sengsara dan kelaparan, jika ada yang kelaparan maka akulah orang pertama yang akan menerima hukuman,,, ".
Dhuuuuuar.
Suara gemuruh menggelegar menjadi saksi akan sumpah yang di ucapkan oleh pangeran Jati Kusuma, semua yang ada di situ pun juga menjadi saksi atas sumpah itu, mereka semua juga ikut bersumpah untuk ikut membantu mewujudkan sumpah pangeran Jati.
__ADS_1