PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Tugas Baru


__ADS_3

Pagi menyingsing di padepokan gunung Semeru membawa energi kehidupan dari Sang Hyang Widi untuk semua makhluk di bumi yang di berikan secara cuma cuma tanpa membayar, udara yang sejuk dan bersih melimpah tanpa khawatir kehabisan sehingga seyogyanya manusia bisa mensyukuri nikmat yang tanpa batas itu.


Namun banyak manusia yang merasa jika nikmat itu tiada artinya di bandingkan tumpukan harta, kemolekan wanita dan rasa hormat orang lain padanya karena memiliki derajat yang di anggap di atas tuhan itu sendiri, mereka lupa jika hal hal seperti itu hanyalah salah satu dari sedikit nikmat yang di berikan Yang Maha Kuasa sehingga manusia harus bisa menggunakan dengan bijak kenikmatan itu.


Cakra menikmati anugrah Sang Hyang Widi itu dengan bersemedi di bawah limpahan cahaya mentari yang nyaman, dari samping seorang gadis cantik dengan riang berlari menghampirinya.


Plaaak.


" Kakang,,, sudahi semedimu, kakang sudah di tunggu oleh kakek dan yang lainnya untuk sarapan,, " teriak Kenanga sambil menepuk pundak Cakra.


Cakra yang di tepuk pundaknya bukannya terganggu malah tetap asyik di semedinya.


Karena tidak mendapatkan tanggapan sama sekali, Kenanga mencoba mengguncang tubuh Cakra agak keras.


Cakra yang sebenarnya sudah menyelesaikan semedinya namun ingin menggoda gadis itu langsung memegang tangan yang mengguncang tubuhnya kemudian menarik tangan itu membuat tubuh gadis itu ikut tertarik dan jatuh di pangkuan Cakra.


Sejenak mereka saling pandang, namun dengan menggemaskan Kenanga menutup hidung nya sambil berkata " Kakang bau, sana mandi dulu,,,! " sambil bangkit dari pangkuan pemuda itu berlari pergi dari situ.


Melihat tingkah laku gadis itu akhirnya Cakra hanya mampu memandang larinya gadis tadi sambil menggelengkan kepala.


Cakra langsung bangkit berjalan menuju sungai di belakang padepokan untuk membersihkan diri, agak lama dia membersihkan diri sambil bercermin di permukaan air yang jernih, setelah terlihat pantas dia segera menuju ruang makan, dia tidak sadar dari tadi dia sudah di tunggu oleh empu Songgo Langit dan yang lainnya.


" Maaf aku terlambat, tadi aku membersihkan diri dulu,, " ucap Cakra merasa tidak enak dengan yang telah menunggunya.


" Ah tidak apa apa, kamu kan harus tampil ganteng di depan gadismu,, " seloroh Sardi menyerang Cakra dengan kata kata.


Sontak dua orang yang di maksud Sardi langsung menundukkan kepala karena malu.

__ADS_1


" Sudah sudah silahkan duduk di sini,,! " perintah Empu Songgo Langit kepada Cakra sambil menunjuk satu tempat yang sengaja di kosongkan untuk Cakra di samping kanannya.


Cakra langsung menempati tempat itu tanpa protes lagi.


Semuanya langsung menikmati hidangan yang telah tersaji, walau hanya menu sederhana berupa sambal di temani dengan lalapan sayur kangkung dan bayam rebus di tambah dengan telur ayam rebus namun mampu memberi kenikmatan bagi yang memakannya, apalagi setelah mereka terkuras tenaganya karena bertarung semalam.


Acara makan itu selesai dengan cepat, kemudian di teruskan dengan berbincang mengenai kejadian tadi malam dan rencana selanjutnya.


" Bagaimana keadaan murid murid yang tadi malam terkena racun, apakah keadaannya sudah membaik,,? " tanya empu Songgo Langit kepada Surya.


" Berkat penawar racun dari Benggala, keadaan mereka sudah membaik guru,, namun saat ini mereka masih dalam keadaan lemah,,, " jawab Surya.


" Syukurlah kalau begitu, terus bagaimana dengan mayat para penyerang tadi malam,,? "


" Untuk mayat para penyerang sudah kami kuburkan secara layak di dekat hutan sana guru, untungnya kami di bantu oleh Cakra dan yang lainnya sehingga proses penguburan cepat selesainya,, " lanjut Surya.


" Terima kasih atas bantuannya semua, saya yang tua dan lemah ini hanya bisa menyusahkan kalian saja,, " ucap empu Songgo Langit tulus kepada para tamunya.


" Ha ha ha, sungguh luar biasa, baru kali ini aku berjumpa dengan orang orang yang berkemampuan setinggi langit namun bersifat serendah bumi, sunggu beruntung bagiku yang berusia tua ini mendapatkan pelajaran berharga dari para tamuku ini. "


Semuanya hanya diam mendengarkan ucapan empu Songgo langit karena mereka merasa terharu terhadap suasana ini, hal ini baru di rasakan oleh kakek dewa tongkat rotan setelah dia keluar dari dunia hitam, di sini dia merasa sekecil apapun yang di perbuat untuk membantu yang lain mendapatkan sebuah timbal balik penghormatan yang luar biasa dari yang di tolongnya, hal ini berbeda jauh dengan dulu saat dia berada di golongan hitam, apa yang di lakukan adalah untuk kesenangan diri sendiri, seandainya dia membantu orang itu karena memiliki tujuan tertentu sehingga setelah membantu seseorang, yang di bantu pun tidak merasa perlu membalas budi.


" Oh ya, untuk angger Cakra, saya akan meminta pertolongan lagi kepadamu,, " ucap empu Songgo Langit.


" Mohon maaf eyang, sekiranya tidak perlu meminta tolong, jika saya bisa membantu saya akan langsung membantu eyang walau nyawa saya menjadi taruhannya karena eyang adalah kakak seperguruan dari guru saya, jadi sepantasnya saya melakukan yang terbaik untuk eyang tanpa harus di minta,, " ucap Cakra.


" Ha ha ha, kamu sama saja dengan kakek dewa tongkat rotan, aku tidak akan meminta nyawamu, aku hanya ingin selama kau menunggu pedang mu di perbaiki, latihlah Kenanga ilmu silat agar dia bertambah kuat,, "

__ADS_1


Cakra sebenarnya sedikit terkejut, namun dengan pasti dia menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan itu.


Kenanga yang tahu jawaban Cakra hatinya sangat gembira, karena sebenarnya dia lah yang mendesak kakeknya untuk meminta Cakra melatih ilmu silat, awalnya kakeknya menolak karena tidak mau merepotkan Cakra, namun karena desakan cucu tercintanya, akhirnya dia menyerah terpaksa meminta tolong kepada Cakra.


" Ehmm,, berhubung tugas saya mengembalikan patung garuda emas telah selesai, saya mohon pamit untuk kembali ke perguruan saya,, " ucap Sardi.


" Eehh. Kenapa terburu buru,,? " tanya empu Songgo Langit.


" Maaf empu, sudah lama saya meninggalkan parguruan, saya khawatir jika guru mencari saya,, " ucap Sardi.


" Baiklah kalau begitu, titip salam untuk gurumu ki Rangkah Sedayu dan untuk jasamu aku akan memberimu sebilah pedang berkarat ini semoga cocok dengan mu,, " sambung empu Songgo Langit menyerahkan sebuah pedang yang sangat indah dan memiliki kualitas yang cukup baik.


Dengan sumringah Sardi menerima pedang itu, dia tidak menyangka akan di beri hadiah sebuah pedang yang luar biasa itu.


" Kami juga mohon pamit kepada empu untuk kembali ke kerajaan Gading Padas, karena sudah lama juga kami meninggalkan tugas yang ada di sana,, " ucap Kelana ikut pamit.


" Ndoh,, kenapa kalian juga ikut pamit juga, bukankah Cakra masih di sini untuk beberapa hari,, ? "


" Maaf empu, kami mengkhawatirkan kerajaan Gading Padas, kami khawatir jika ada yang menyerang kerajaan itu karena keadaan kami masih lemah,, " gantian kakek dewa tongkat rotan yang menjawab.


" Kalau begitu, tidak ada alasan lagi bagiku untuk menahan kalian, jadi aku hanya mampu mengucapkan terima kasih kepada kalian dan titip salam kepada raja Jati Kusuma,, "


" Untuk oleh oleh aku akan memberikan pisau kecil ini yang bisa di kaitkan di ujung cambukmu,, " ucap empu Songgo Langit sambil menyerahkan mata pisau yang cukup tajam untuk di pasang di ujung cambuk milik Kelana.


" Juga pisau karatan ini bisa kakek simpan untuk memotong buah di hutan saat perjalanan,, " lanjut empu memberikan pisau yang berwarna kuning emas bilah dan gagangnya, memang pisau itu terbuat dari emas sehingga terlihat berkilau indah apalagi di gagangnya tertanam batu mulya berwarna biru dan merah.


" Tidak ada alasan bagiku untuk menolak pemberian yang berharga ini,, " ucap kakek dewa tongkat rotan yang setelah menerima kemudian menyelipkannya di pinggang kemudian di tutupi dengan jubah panjangnya.

__ADS_1


Akhirnya hari itu mereka langsung melanjutkan perjalanan dengan berkuda, sedangkan Cakra masih harus berada di tempat itu untuk melaksanakan tugas barunya.


Yang paling senang saat itu adalah Kenanga yang bisa selalu berdekatan dengan Cakra.


__ADS_2