
Bulan menggantung di angkasa di kelilingi bintang yang tersebar untuk memberi hias pada kanvas hitam malam.
Di bawah cahaya rembulan sesosok pemuda sudah berdiri di tengah sebuah bukit yang oleh orang orang di beri nama bukit singa mengaum, hal ini bukan tanpa sebab, karena pada malam malam tertentu orang orang yang lewat di hutan dekat dengan bukit itu sering mendengarkan auman singa yang menggetarkan jiwa, bagi mereka yang penakut, auman itu layaknya suara malaikat pencabut nyawa yang memberi peringatan kedatangannya untuk mengambil nyawa.
Angin semilir menggerak gerakkan ujung baju dan rambutnya yang panjang sebahu.
Ha ha ha ha ha ha,,,,
Terdengar suara tawa yang memenuhi seluruh penjuru, suara tawa di sertai tenaga dalam tinggi itu mampu membuat pendengarnya akan tertekan, bahkan jika pendengarnya hanya memiliki tenaga dalam yang rendah akan membuatnya pingsan atau langsung kehilangan nyawa.
Namun kali ini yang di serang bukanlah pemuda biasa, Cakra yang sudah menerima banyak gemblengan juga pengalaman bertarung tidak membuat dia khawatir, dia hanya mengalirkan tenaga dalam di kedua telinganya.
Melihat serangan suara itu tidak berakibat apa apa, si penyerang yang masih belum menampakkan dirinya itu meningkatkan tenaga dalamnya lagi.
Akibatnya daun daun di pepohonan di sekitar bukit itu bergetar dengan hebat, bahkan banyak yang langsung berguguran akibat kuatnya tenaga dalam yang terkandung di dalam tawa panjang itu.
" Cukup, suaramu yang cempreng mengganggu hewan hewan yang sedang beristirahat,,! " gumam Cakra pelan namun di telinga penyerangnya terasa keras di dengar.
Seketika suara tawa itu langsung berhenti di gantikan dengan kesunyian.
" Sebegini pengecutnya kah penantang ku, memberi undangan sembunyi sembunyi sekarang menyambut pun dengan sembunyi,, sungguh mengecewakan sekali,,"
" Sudah lah, sebaiknya aku pergi saja dari sini,,, " ujar Cakra.
" Tunggu,, aku kira aku mengundang raja yang sakti, ternyata aku menguji tidak bisa apa apa, mencari keberadaan ku saja tidak bisa,, "
Mendengar suara itu, Cakra tersenyum, dia mengangkat kakinya, kemudian dia hentakkan ke tanah.
Akibat hentakan kaki itu bergetarlah tanah di perbukitan itu, tiba tiba dari dalam tanah melesat sosok laki laki dewasa berpakaian serba putih, kemudian sosok itu melayang di udara sebentar kemudian turun dengan ringan.
" Aku kira kau masih betah berada di dalam tanah menemani cacing di sana,,, " ucap Cakra tenang.
" Kurang ajar kau,,, biar ku remukkan tubuhmu biar bisa menjadi santapan cacing tanah,, "
" Aku kira para cacing lebih suka menikmati tubuh tua mu dari pada tubuhku yang agak keras ini, jangankan cacing tanah senjata pusaka pun tidak bisa melukai tubuhku,, "
__ADS_1
" Biar ku coba apakah benar tubuhmu tidak mempan senjata. "
Wuuuuuuuuuus.
Sebuah serangan jarak jauh sudah di lancarkan oleh sosok paruh baya berpakaian serba putih yang ternyata raja siluman Rubah Putih.
Tanpa bergerak sedikitpun Cakra menerima pukulan itu.
Deeeees.
Pukulan itu seakan lenyap tanpa bekas setelah menerpa tubuh Cakra.
Raja siluman Rubah Putih menjadi terkejut, pukulan yang dia andalkan seakan tidak berarti apa apa terhadap tubuh Cakra.
Sangking terkejutnya hingga tanpa sadar raja siluman Rubah Putih bergerak mundur dua langkah.
Cakra yang melihat itu menjadi tersenyum, apakah perlu kita lanjutkan atau aku harus pergi saja,,? " tanya Cakra.
" Apakah kau kira dengan kemampuanmu saat ini bisa pergi dari sini dengan selamat,,? " ucap raja siluman Rubah Putih.
" Baiklah, apa yang perlu aku lakukan agar bisa pergi dari sini,, apakah harus membunuhmu,,? jika iya akan aku lakukan saat ini juga,,"
Raja siluman Rubah Putih langsung melesat ke arah Cakra, sebuah serangan cepat mengarah ke dada Cakra, namun kecepatan serangan itu tidak menjadikan Cakra kewalahan, hanya dengan gerakan sederhana serangan itu bisa di elakkan.
Gerakan sederhana yang di terapkan oleh Cakra sebenarnya adalah salah satu jurus dari sayap seribu, namun karena sudah menyatu dan di landasi dengan tenaga dalam tinggi membuat gerakan itu mampu melayani serangan musuh yang dahsyat dan cepat.
Agak lama serangan raja siluman Rubah putih di lakukan, tapi serangan serangannya bisa di redam oleh Cakra,
Raja Rubah Putih menjadi geram, dia merasa terhina karena bisa di permainkan oleh pemuda yang dia anggap masih bau kencur itu.
Raja Rubah Putih meningkatkan kecepatannya, mau tidak mau Cakra pun harus mulai menghadapi dengan serius jika tidak ingin kalah di pertarungan ini.
Serangan cakar lawan berkali kali menyambar mengancam bagian tubuh Cakra yang mematikan, hal ini membuat Cakra harus lebih cepat melindungi bagian bagian tubuh nya.
Cakra pun mulai keluar menyerang tidak bertahan seperti awal dia bertarung.
__ADS_1
Serangan cakar lawan di balas dengan jurus Cakar garuda membelah badai miliknya, angin berkesiutan menghiasi tempat mereka bertarung malam itu,
Akibat angin hasil dari serangan itu beberapa pohon telah tumbang, batu batu terpotong kecil, beberapa lubang juga tercipta di tanah tempat mereka berpijak.
Hiyaaat..
Hiyaaaat.
Dua bayangan dengan cepat bergerak saling berbenturan dan saling menyerang, ternyata pertarungan itu juga di tonton oleh dua orang yang bersembunyi di kejauhan, mencari kesempatan untuk bisa mengambil keuntungan dari pertarungan di bukit itu.
Cakra yang walau bertarung namun tidak meninggalkan kewaspadaannya terhadap ancaman di sekitarnya.
Cakra merasa ada ancaman yang berada di sekitarnya, Cakra paham jika ada dua sosok yang memperhatikan pertarungan itu, dari gerak geriknya dua sosok itu berniat jahat.
Cakra harus segera mengakhiri pertarungan, untuk itu dia mulai serius, berbagai serangan lawan yang mengincar tubuhnya langsung dia balas, saat raja Rubah Putih menyambarkan cakarnya ke leher, dengan cepat dia menghindar kemudian dia menangkap pergelangan tangan lawan, raja Rubah Putih berusaha menarik tangannya, namun pegangan di tangannya sangat kuat sehingga dia kesulitan membebaskan tangannya.
Saat lawannya masih berusaha melepaskan tangannya, Cakra langsung menendang dada lawannya.
Buuuuuukh.
Aaaaakkkk.
Sebuah tendangan telak mengenai dada raja Rubah Putih, tidak hanya sekali, beberapa kali kaki Cakra menendang dada raja Rubah Putih, membuat raja Rubah Putih muntah darah.
Raja Rubah Putih menahan sakit memutar tubuhnya berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Cakra.
Walau menahan sakit, tapi usahanya membuahkan hasil, pegangan tangan itu terlepas juga, dia segera mundur menjauh dari Cakra untuk mengambil napas.
Sedangkan Cakra sendiri setelah melepaskan pegangannya juga tidak berniat menyerang lagi, dia menunggu lawannya siap, hal itu di manfaatkan oleh Cakra untuk mendeteksi dua orang yang menonton pertarungannya, dia menemukan tempat persembunyian mereka.
" Sebaiknya kita hentikan pertarungan ini, karena ini tidak ada gunanya, sebaiknya kita bergabung untuk membentuk kerjasama yang bisa memajukan kerajaan kita masing masing. "
" Aku tidak sudi bekerja sama dengan siluman kera yang sudah dari dulu bersikap tamak dan rakus, lebih baik aku urus sendiri kerajaan ku,, "
" Baiklah, kalau begitu kematian mu jalan terbaik untuk menyelesaikan pertarungan ini, "
__ADS_1
Hiyaaaaat.
Duaar..