PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Perjalanan Yang Tertunda


__ADS_3

Para warga di bantu oleh Sardi dan Kenanga berkumpul di pendopo desa itu, di tengah tengah mereka terdapat seorang yang sudah cukup tua berdiri dengan di bantu tongkat di tangannya, di wajahnya tergambar kekhawatiran terhadap nasib desa yang di pimpinnya.


Mengetahui musuh yang tadi membakar desa itu telah tiada, sebagian orang di pendopo menghambur keluar berusaha memadamkan api yang berkobar agar tidak menjalar ke rumah rumah lainnya.


Yang tertinggal di pendopo saat ini hanya para orang tua yang hanya bisa meratapi nasibnya, tangis menggema di setiap sudut pendopo itu.


Cakra memasuki gerbang pendopo desa itu sambil memanggul seorang lawan yang masih pingsan, sedangkan Kelana dan kakek dewa tongkat rotan masih membantu warga memadamkan api.


Kakek yang tadi berdiri di topang tongkat, melihat Cakra masuk segera menghampiri Cakra walau langkahnya tertatih.


" Terima kasih nak mas, kalau tidak ada nak mas beserta teman teman nak mas, desa ini pasti sudah rata dengan tanah,, " ucap kakek itu.


" Tidak apa apa kek, siapa pemimpin desa ini kek,,? " tanya Cakra.


" Saya sendiri yang menjadi lurah di sini, orang orang memanggil saya kakek lunar,," ucap kakek itu.


" Ohhh, kalau begitu saya minta di sediakan tali tambang kek,, " pinta Cakra.


Kakek lunar meminta salah satu warganya mengambil tambang, tidak lama tali itu sudah di serahkan kepada Cakra.


Cakra menerima tali tambang itu, kemudian mengikat orang yang di tangkapnya tadi ke sebuah pohon yang besar di samping pendopo itu.


Saat Cakra telah selesai mengikat orang itu, para warga yang tadi memadamkan api telah terlihat masuk ke gerbang pendopo, di ikuti oleh Kelana dan kakek dewa tongkat rotan mereka menghampiri Cakra.


" Maafkan kelakuan kami pendekar, yang tadi sore telah mengusir kalian dari desa ini,, " ucap seorang pemuda yang tadi ikut menghadang rombongan Cakra.


" Aah, tidak apa apa, itu bagian dari tanggung jawab kalian menjaga keamanan desa ini, " ucap Cakra.


" Saya minta air satu timba di bawa ke sini,,! " pinta Cakra.

__ADS_1


Sambil menunggu seorang warga mengambil air, kakek dewa tongkat rotan yang kurang sabar langsung menarik topeng burung gagak dari wajah orang itu.


Hampir semua warga yang berkerumun di situ menjadi terkejut melihat sosok di balik topeng gagak yang di tarik oleh kakek dewa tongkat rotan.


" Jantur,,,, " seru beberapa orang yang mengenali wajah itu.


Sekejap kemudian kasak kusuk warga membicarakan sosok penyerang yang kini terikat di pohon.


" Apakah dia orang desa ini ,,, " tanya Cakra.


Warga desa hanya saling melemparkan pandangan tidak berani menjawab.


" Ehmm, ehhmm,, " terdengar deheman dari belakang kerumunan langsung memberi jalan kepada kakek Lunar yang tadi berdehem.


" Benar nak mas, dia memang orang desa ini, dia adalah anak dari lurah dahulu sebelum aku, namun lurah itu memimpin dengan tidak adil, banyak sawah warga yang di ambil karena tercekik hutang yang terus beranak pinak, warga warga yang tidak berhutang kepada dia, dia tekan dan dia takut takuti, dia tidak segan mengganggu usaha orang lain agar dia tidak memiliki saingan, karena sifat tamak seperti itulah akhirnya rakyat banyak yang tidak suka, puncaknya, para warga yang ditindas menjadi murka hingga menyerang kediaman lurah itu, warga yang kalap membunuh lurah itu beserta keluarganya, namun Jantur yang saat itu masih remaja mampu melarikan diri, tidak ada satu warga pun yang tahu perginya dia hingga saat ini dia muncul lagi menghancurkan desa yang dulu di pimpin ayahnya. "


Dari cerita itu, Cakra dan yang lainnya mulai paham dengan akar masalah yang terjadi di desa itu.


Byuuuuuur.


Air itu di siramkan ke arah Jantur.


Sebelum air itu mengenai wajah Jantur, seorang kakek yang mengenakan jubah warna merah sudah berdiri di depan Jantur, tangannya dikibaskan secara pelan ke depan seperti mengusir lalat, namun hanya dengan kibasan itu, air yang di siramkan Kelana berbalik arah dengan kencang.


Cakra mengetahui jika air yang berbalik arah itu disertai oleh tenaga dalam tinggi, dia membuat perisai angin mengitari berbentuk bulat menghadang lajunya air itu, namun ada percikan air yang melesat ke arah lain sehingga mengenai batang pohon hingga batang pohon itu berlubang.


Lega lah semua warga yang ada di situ karena mereka selamat dari maut, namun saat mereka melihat di pohon tempat Jantur di ikat, mereka heran karena Jantur sudah tidak berada di situ.


" Siapa pun orang yang membuat murid ku seperti ini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, temui aku besok siang di bukit Menjangan, aku tunggu kalian,, " seru sebuah suara.

__ADS_1


Mendengar seruan suara dengan tenaga dalam tinggi itu, membuat seruan suara itu di iringi angin yang menderu menerbangkan daun kering, sedangkan para warga yang tidak memiliki tenaga dalam, mendengar suara itu menjadi sangat tersiksa, telinganya sangat sakit, walau kedua telinganya itu sudah di tutup dengan tangan, tapi semua itu tidak ada artinya, suara itu tetap terdengar dan menyiksa mereka bahkan sebagian warga yang sebagian besar orang tua itu tubuhnya langsung ambruk karena pingsan.


Saat suara itu telah berhenti, keadaan kembali seperti biasa, kakek Lunar segera memerintahkan kepada para pemuda untuk menolong warga lain yang pingsan, sedangkan Cakra dan yang lainnya di ajak oleh ki Lunar untuk masuk ke rumahnya.


" Sekali lagi saya sampaikan terima kasih kepada kalian yang menolong desa Glagah Sari ini, aku tidak bisa membayangkan jika besok seluruh warga Glagah Sari mati jika kalian tidak menolong kami,, " ucap ki Lunar setelah semua duduk di atas tikar pandan di dalam rumah ki Lunar.


" Ahh. tidak apa apa ki, saya kira ini atas kehendak Yang Maha Kuasa, sehingga kami hanya mengikuti Titah Nya. " jawab Cakra.


" Tapi sebenarnya apa yang terjadi dengan desa ini kek,,? " tanya Kenanga yang sangat ingin tahu.


" Seperti yang aku ceritakan tadi, mungkin kejadian ini masih ada sangkut pautnya dengan kejadian masa lalu, sehingga beberapa hari yang lalu selalu ada teror di desa ini, banyak perempuan yang di tangkap juga hewan ternak mereka rampas, karena kami tidak mampu melawan akhirnya kita mengungsikan para perempuan muda dan hewan ternak kita ke desa lain, tapi malam ini mungkin karena mereka tidak menemui apa yang mereka cari, akhirnya mereka membakar rumah rumah di sini. "


" Tapi apa hubungan mereka dengan Jantur dan gurunya,, " tanya Sardi.


" Tidak tau, mungkin Jantur adalah anggota kelompok gagak wesi, " jawab ki Lunar.


" Sebaiknya besok pagi kalian meninggalkan desa ini, tidak perlu menanggapi tantangan guru dari Jantur tadi,, " lanjut ki Lunar.


" Maaf ki, untuk yang itu kami tidak bisa mengikuti saran anda, bagaimana pun kami sudah terlibat jadi kami harus menyelesaikannya,, " jawab Cakra tegas.


" Tapi ini tidak ada kaitannya dengan kalian, aku khawatir jika kalian akan celaka, lebih baik biarkan aku saja yang ke sana,," ucap ki Lunar.


" Anda jangan khawatir ki, biarkan kami mendatangi bukit itu besok,, " ucap kakek dewa tongkat rotan.


" Kalau begitu, saya mengucapkan terima kasih, kami tidak akan mampu membalas kebaikan kalian,, " ucap ki Lunar.


" Saya berharap besok jangan sampai ada warga desa ini yang mendekat di pertarungan kami ki, karena saya merasa tenaga dalam gurunya Jantur sangat besar, sehingga akan sangat berbahaya jika ada yang mendekati pertarungan kita. " ucap Cakra.


" Baiklah,, " jawab Ki Lunar.

__ADS_1


Setelah mereka selesai berbincang, mereka segera beristirahat untuk menyongsong pertarungan hari esok.


__ADS_2