PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Cinta Buta


__ADS_3

Sorak sorak kegembiraan terdengar memenuhi setiap sudut arena perang, tidak sedikit dari mereka yang menangis haru sambil memeluk teman sesama prajurit di dekatnya, tangis itu sebagai bentuk syukur mereka karena di dalam perang yang dahsyat itu mereka masih bisa bernapas untuk kembali bisa berkumpul dengan keluarga mereka walau luka luka menghiasi badan mereka, bahkan ada yang harus di papah karena kehilangan salah satu kakinya, atau ada yang buntung tangannya, ada yang di tubuhnya masih menancap anak panah.


Namun tidak ada satu pun prajurit yang mengeluh atau pun menyesal ikut di perang tersebut, mereka merasa bangga karena bisa menjadi bagian dari pasukan yang mampu mempertahankan kedaulatan kerajaan Tirta Kencana, mereka sudah mengikhlaskan hidupnya untuk melindungi semua warga dan pemimpin di kerajaan Tirta Kencana.


Lebih bangga lagi mereka saat ini bisa berjuang bersama dengan pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari yang mereka hormati sehingga daya juang mereka saat berperang bertambah berlipat lipat.


Para prajurit itu kembali ke benteng dengan berbondong bondong, sebagian prajurit yang masih kuat menyisir bekas arena perang untuk mencari teman mereka yang masih hidup namun tidak mampu untuk kembali sehingga mereka harus di tandu untuk kembali.


Selain menyisir tempat perang untuk mencari kawan mereka yang masih hidup mereka juga mencari harta rampasan perang yang tertinggal lari maupun di tinggal tewas.


Tiga ratusan kuda milik lawan yang tertinggal yang masih hidup mereka kumpulkan, tameng dan senjata senjata juga mereka dapatkan bahkan ada yang beruntung mendapatkan keris pusaka atau pedang pusaka yang bagus, semua di kumpulkan untuk di bagi bagikan secara adil nantinya.


Senopati Mega Reksi memimpin empat ratusan prajurit untuk membuat lubang kuburan masal untuk para prajurit yang tewas, mereka menggali lubang yang besar dan panjang karena nantinya mereka akan menguburkan prajurit lawan dan prajurit Tirta Kencana dalam satu lubang, walau di dunia mereka berselisih paling tidak di kubur mereka bisa berkumpul menjadi satu.


***


Di dalam benteng putri Kencana Sari yang pingsan kini mulai siuman, saat dia berusaha bangkit namun di cegah oleh tabib yang merawatnya.


" Ampun putri, sebaiknya putri jangan duduk dulu, berbaringlah dulu karena luka dalam putri masih belum sembuh,,,! " ucap tabib perempuan yang memang khusus datang untuk merawat putri Kencana Sari yang terluka.


" Bagaimana keadaan perang kita ,,? " tanya putri Kencana Sari.


" Syukur kepada Sang Hyang Widi karena kita telah memenangkan perang dan menjaga kedaulatan kerajaan ini gusti putri,, " jawab tabib itu.

__ADS_1


Mendapat jawaban seperti itu putri Kencana Sari merasa lega, dia bisa beristirahat dan bersemedi untuk memulihkan lukanya.


Saat putri Kencana Sari terbaring di ranjangnya, tatapan matanya menerawang di kejadian detik detik akhir pertarungannya, dia merasa bahagia karena pujaan hatinya telah menolong dia di saat saat dia memang membutuhkan pertolongan, dia membayangkan nyamannya di gendongan Cakra sehingga membuat dia senyum senyum sendiri, hal ini tidak luput dari perhatian tabib perempuan itu namun dia tidak berani lancang untuk menanyakan kenapa putri Kencana Sari senyum senyum sendiri padahal kondisi tubuhnya masih sakit.


***


Di kamar lain, Cakra masih menunggui senopati Bajra yang baru saja menyelesaikan semedinya, kini wajah senopati Bajra sudah mulai cerah tidak sepucat sebelumnya, namun saat dia mau bangkit untuk keluar, dia di cegah oleh Cakra.


" Aku ingin melihat keadaan pangeran Ranu Mulya dan panglima Restu Aji Cakra, tolong bantu aku untuk kesana,,! " ucap senopati Bajra.


" Maaf romo, sebaiknya tidak usah, karena pangeran Ranu Mulya dan panglima Restu Aji dalam keadaan baik baik saja, beliau sekarang masih beristirahat di kamarnya, akan lebih baik jika romo tidak mengganggu pangeran dan panglima Ranu Mulya, lebih baik romo juga istirahat memulihkan tenaga,, " jawab Cakra.


Awalnya senopati Bajra bersikeras ingin menemui pangeran Ranu Mulya, karena bagaimana pun dia yang harus bertanggung jawab atas keselamatan pangeran Ranu Mulya, namun setelah mendapat penjelasan dari Cakra akhirnya senopati Bajra menerimanya.


***


Di belakang kereta kencana tersebut ada senopati Bajra dan senopati Mega Reksi dan Cakra yang menaiki kuda di ikuti oleh pasukan berkuda dan pedati pedati yang berisi bahan pokok dan harta rampasan perang dan di belakangnya mengekor ribuan pasukan yang masih hidup, sebagian di tandu dan naik pedati khusus prajurit.


Dua hari mereka berjalan dengan perlahan karena para prajurit pejalan kaki sedikit lambat jalannya.


Tepat sore itu mereka mulai memasuki kotaraja Tirta Kencana.


Ternyata saat mereka masuk di kotaraja itu, semua warga kota telah menyambut mereka di pinggir jalan, hiasan hiasan janur mereka pasang, umbul umbul juga mereka letakkan di pinggir jalan untuk menyambut pahlawan perang mereka yang baru datang.

__ADS_1


Tua muda semua berkumpul dengan sorak sorak mengelu elukan pasukan yang melintas itu.


Bunga bunga mereka tabur taburkan ke atas pasukan itu, sedangkan pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari melambai lambaikan tangan menyapa warga yang menyambut mereka.


Selain pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari, Cakra juga menjadi pusat perhatian mereka, apalagi bagi para gadis remaja, mereka mengagumi ketampanan dan kegagahan pemuda yang naik kuda di samping Romo nya itu, setiap dia melewati sekumpulan gadis remaja, pasti mereka semua berteriak histeris karena gembira dan berusaha menarik perhatian Cakra.


Cakra hanya bisa diam dan membalas teriakan para gadis itu dengan tersenyum, kadang jika ada yang berteriak menyebut namanya dia hanya akan menganggukkan kepala sebagai rasa hormat kepada orang itu.


Memang banyak terjadi kehebohan saat Cakra melewati mereka, ada yang berandai andai juga jika semisal Cakra mau menjadi suami atau menantu mereka sehingga suasana penyambutan itu menjadi lebih meriah.


Namun ada seorang yang wajahnya kurang suka dengan tindakan para orang tua yang berandai menjadikan menantu Cakra dan kepada para gadis yang genit menarik perhatian Cakra, dia selalu bersungut sungut jika ada yang memanggil Cakra dengan genit, rasa itu karena cemburu di dalam hatinya, ingin sekali dia memarahi para gadis gadis itu namun keadaan yang seperti itu tidak bisa di rusak hanya karena masalah sepele saja akhirnya dia menyimpan jengkelnya di dalam hati.


Setelah beberapa saat mereka telah sampai di alun alun kerajaan, di sini sudah di hias dengan lebih meriah lagi, berbagai hiasan di pasang untuk menyambut prajurit yang datang, di alun alun juga sudah di hidangkan banyak makanan untuk para prajurit yang baru datang.


Raja Rangga Jaya sendiri yang menyambut mereka dengan senang hati, awalnya pangeran Ranu Mulya menghatur kepada raja, kemudian raja memeluk pangeran Ranu Mulya.


Begitu juga dengan putri, dia memeluk raja Rangga kemudian memeluk ibundanya sambil menangis, kemudian lari ke kamarnya menangis karena jengkel kepada para gadis remaja di jalan yang menggoda Cakra tadi.


Di kamar itulah dia bisa mengeluarkan kejengkelan hatinya.


Ibunda putri Kencana Sari merasa bingung dengan apa yang terjadi pada putrinya, dia ingin mengejar putrinya namun karena dia harus menemani baginda raja menyambut para pahlawan perang.


Sedangkan karena gembiranya hati raja Rangga sehingga tidak menyadari keadaan putrinya yang menangis itu.

__ADS_1


Begitu besar pengaruh cinta sehingga membutakan seseorang walau dia seorang putri yang digdaya, tetap hatinya lemah jika harus berurusan dengan cinta.


__ADS_2