
Menyenangkan sekali datang ke tempat ini di hari sabtu siang menjelang sore. Walaupun ini tidak tergolong restaurant mewah, bahkan Nania-nya mengajaknya untuk duduk di bagian luar. Alasannya sih biar bisa lebih menikmati suasana yang mulai berangin dingin. Haidar tertawa-tawa melihat gigi gadis itu mulai bergeutuk karena dingin. Tapi masih tetap keukuh untuk duduk di bangku luar restaurant. Hingga akhirnya Haidar dengan paksa menariknya dengan mesra, bertepataan dengan keluarnya nomor pesenan mereka di layar monitor.
El Reda Restaurant, menyajikan aneka hidangan Pakistan, Lebanon, Persia dan Juga Iran bersanding dengan aneka hidangan Mediterania lainnya. Mengusung konsep kantin, sehingga para pelanggan bisa dengan bebas memesan dan kemudian mengambil makannya sendiri, Setelah nomor antrian pesanan mereka muncul dengan diiringi nada khas dari layar monitor yang juga terpasang di bagian luar restourant.
" Kami pindah ke dalam ya ". Kata Haidar dengan tawa yang masih menghiasi wajahnya, saat mereka mengambil makanan pesanan yang sudah selesai disiapkan.
" Oh baik tuan ", pelayan itu tersenyum ramah. " Silahkan dua nasi dengan daging sapi panggang youghurt, sepiring sayuran dan yang spesial hari ini ... Abgoosht ".
Haidar terbelalak tak percaya saat melihat makanan yang datang pada mereka. Kali ini Hanin yang giliran tertawa. sambil bergerak lincah mendahului Haidar yang masih terlongo. Gadis itu hanya menyambar sepiring sayuran dan sepiring nasi dengan porsi yang lebih kecil. Sengaja membiarkan Haidar membawa sisanya.
" Aku sebenarnya tidak lapar ... tapi ada mas, yang pasti bisa menghabiskan semua porsi besar di sini ", kata Hanin begitu mereka menempatkan diri di kursi tepat di samping jendela.
" Heeem..... kau memaksaku untuk lari lima kilimeter nanti malam ". Nampak Haidar sedikit bersungut-sungut, tapi kilatan mata dengan decih penuh kenikmatan saat memandangi hidangan itu, sepertinya tak seirama. Pemuda itu bahkan telah terlihat berkali-kali menelan ludah karena tergiur akan kelezetan yang menantinya.
" Eh ... apa ini ? ... seperti sup merah ", tanya Haidar lagi,
" Oh ini.... abgoosht, sup tradisonal Iran yang dibuat dengan domba, buncis, kacang putih, bawang, kentang, tomat...... enaaaak sekali dimakan dengan roti ".
" Waaah.... ayo makan ". Haidar kegirangan.
Dan Haidar tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan lahap pemuda itu langsung menyendok abgoosht bergantian dengan nasi daging sapi dengan aroma rempah yang menyenangkan. Sementara Hanin masih dengan senyuman manisnya, memilih terlebih dahulu menikmati seposi sayuran hijau segar dengan dressing salad light menyegarkan.
" Suka ke pusat kebugaran ? ", tanya Haidar di sela suapannya yang dijawab dengan gelengan kepala perlahan.
" Dulu... pernah beberapa kali datang ke tempat seperti itu. Diajak ......... teman ".
Haidar jelas mendengar nada yang sedikit sumbang pada kata terakhir. Sepasang matanya pun menangkap perubahan emosi yang terbias di wajah seputih mutiara itu. Nania-nya kini terlihat sedang menyembunyikan gelisah.
" Ada kenangan buruk dengan tempat itu ?, atau dengan teman... ", sengaja Haidar memberi penekanan. ".... teman yang mengajakmu ke fitness itu ".
Hanin tersenyum kecil dan tetap mengunyah gurihnya nasi beras basmanti dengan irisan daging sapi beraroma youghurt dan rempah sedap dari piringnya. Sesekali menyelingi dengan daun rocket hijau yang renyah. Tapi kemudian ia menatap Haidar.
" Sedikit... ada kenangan buruk. Tempat itu membuatku ... teringat semua kebohongan yang sudah dilakukan pada ku ... ", akhirnya Hanin bertutur.
Gadis itu memutuskun untuk mencoba, seperti apa yang disaranakan oleh dokter psikiater nya. ' Cobalah berdamai dengan berani menghadapi langsung, dan juga bercerita pada orang yang kau percaya '. Dan ia dengan sangat impusif memutuskan untuk mencoba bercerita pada Haidar. dengan resiko apapun, tapi setidaknya ... ia akan biasa lebih leluasa bercerita pada pria ini sesuai dengan sudut pandangnya. Tanpa tatapan penghakiman atau belas kasihan seperti yang sudah-sudah diterima selama ini. Ya.... Hanin sudah mengambil satu langkah berani. Now or never !!!!!!.
" Ditempat itu ... aku yang bodoh, tidak mengtahui jika sedang menjadi bahan tertawaan dari para pria penyuka pria. Ternyata di tempat itu ... aku... sedang dinilai ... apakah pantas untuk menjadi seorang betina ".
Haidar tercekat, kerongkongan yang tadi dipenuhi oleh rasa nikmat, tiba-tiba saja menjadi seperti lorong gelap yang panjang dan sempit. Ia pun buru-buru mengambil segelas air putih dan meminumnya perlahan. Lalu kembali menatap Nania -nya yang menatap jauh, seolah sedang menulusuri sebuah jalan masa lalu.
" Dave.... dan temannya itu .... yang sayangnya adalah ayah Leisel ... yang sayangnya adalah orang yang membuat Selma menjadi seperti sekarang ini. Mereka .... ".
" Sudah... sudah ! ". Buru-buru Haidar menyentuh jemari Hanin dan menghentikan semua kenangan menyedihkan itu terluncur dari bibir yang semerah sakura mekar yang kini terlihat mulai sedikit bergetar.
" Mas ... apakah aku ... harus memaafkannya ? ... mereka ? ".
" Tentu tidak. Tapi ..... ".
Hanin mengangkat kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam mata Haidar sambil menanti pria itu melanjutkan kalimatnya yang terjeda.
" Kau punya hak untuk tidak memaafkan mereka, tapi .... kau juga sangat berhak memaafkan mereka. Kata seorang wanita cantik dalam hiduku .... memaafkan adalah obat yang paling mujarab untuk luka. Mungkin kau tidak bisa melupakan... tapi dengan memaafkan, setidaknya kau bisa berdamai dengan dendam di hatimu. Tapi ... jika itu aku, mungkin juga tidak biasa memaafkan ".
Haidar, begitu ia selesai berkata panjang lebar, langsung kembali menikmati hidangan yang ada di hadapannya. Membuat Hanin terkekeh, tapi kemudian juga melakukan hal yang sama kembali.
" Aku akan mencoba untuk memaafkannya .. ", kata gadis itu kemudian.
" Lakukan itu untuk menolong dirimu sendiri.... bukan karena dirinya. Kau yang butuh berdamai dengan masa lalu mu. Begitu kata ... ".
" Wanita cantik dalam hidup mu ?. Ha..ha..ha...... dia bakal marah dan salah paham nggak ya kalau lihat kita yang sering bersama seperti ini ". Kini Hanin yang tertawa dengan wajah sedikit ceria namun justru membuat Haidar terhenti mengunyah.
" Hem .... kenapa ? ". Tanya Haidar. " Wanita cantik itu mamah koq ..... salah paham juga biarin, Paling disuruh buruan ngelamar kamu ".
" Uhuk.. uhuk... uhuk... ", membuat Hanin terbatuk-batuk. " Oh .... tante - eh .. bu Orlin. Kirain .... pacarnya mas ". Hanin tertawa, terdengar garing dan sedikit salah tingkah.
" Gimana ? .... mau aku lamar ? ".
" Ngaco ah ... ".
__ADS_1
" Serius Na' ... mau ya ... ku lamar, trus kita nikah ". Wink .. wink... dan Haidar pun membuat kedipan mau terkonyol yang pernah ada. " Pasti mamah seneng banget. Aiih.... anak mama, dari Jerman langsung dapet istri ... so lovely ... ".
" Pfffffft... hi.. hi..hi.. ngaco ah pak dokter nih ". Hanin pun tidak dapat menahan tawanya. " Jangan bikin komedi cinta di hadapan seorang gadis ... apa lagi di sabtu sore ".
" Memang kenapa ? ".
" Gariiiiing .... abaaang... bercandanya ".
" Ha... ha..ha.. ha... ". Tawa Haidar pun pecah bersambung dengan kekehan ceria Hanin yang menghiasi wajah seputih mutiara itu.
Tertawalah seperti itu, kau terlihat sangat cantik dengan semua itu dan aku bersungguh-sungguh. Pasti kau tidak mendengan degup jantungku yang mulai beratalu berpacu. Kau pasti tidak melihat keringat dingin yang mulai membasahi telapak tanganku. Tapi paling tidak, kau tidak bersedih lagi Nania -ku.
" Mba Sa' sudah memintamu menginap bukan ? ".
" Ya, dan aku juga sudah menyetujuinya. Mas ikut pulang ? ".
" Hem... iya. Bisa dicincang pasangan ter-hot itu kalau aku tidak datang. Oh ya, kau ingat Raka ? ".
Hanin terlihat berfikir sejenak. " Adiknya mba Cinta ? ".
" Yups ".
" Kenapa dia ? ", tanya Hanin lagi
" Dia juga sebentar lagi menikah ".
" Oh ... hah.. heiii... apakah acara pernikahan besok double ? ".
" Tidak lah..... Raka dan Delia akan menikah stelah mba Cinta dan kak Namu. Tapi mungkin aku nggak bisa hadir diacaranaya Raka ".
" Kenapa tidak di double sekalian ya ? . Acara pernikahan itu .... ".
" Kau harusnya paham bagaimana para ibu yang memiliki anak gadis ... terutama yang sudah nyaris terlambat menikah .... apakah rela .. jika didahului oleh adik lelakinya ?. Walaupun mungkin .... mba Cinta tidak seperti itu. Tapi tante Hana jelas ...... ". Haidar memilih menggantungkan ucapannya. Tapi Hanin cukup memahami, terbukti ia mengangguk-angguk mengerti.
" Titip dua keponakanku ya..... sayangi dia seperti aku menyayangimu ... he..he..he.. ".
" Baik-baik disini ... tunggu abang pulang ya sayang.... kau ingin bulan atau bintang untuk oleh-oleh nanti ? ".
" Hua.. ha..ha..ha.... haluuuuuu..... efek kelamaan jomblo mesti ini ". Membuat Hanin terbahak. jangan mengambil properti dunia yang diperuntukan untuk seluruh umat ..... bisa dikutuk jadi pangeran kodok loh nanti ".
" Santai... ada putri anggrek bulan ini.. yang bisa menghancurkan kutukan ".
" Oh ya...... ", Hanin memutar kedua bola mutanya dengan ekspresi manis yang sangat menggemaskan. " siapa ? .. kenalin dong .... ".
Tentu itu kamu, seoarang gadis seperti peri cantik yang membuat anggrek bulan bermekran ... bersemi indah. Putri yang menghilang, dan akhirnya ku temukan kembali ... sedang menangis, apakah kau bena-benar tidak tahu ?.
" Ha..ha..ha..ha..ha....... keppo ah si mba 'nceff... ". Tapi Haidar berkilah, ia membuat semua itu seperti sebuah canda yang menyegarakan. Walaupun di dasar hatinya ada yang meronta, menggeliat , mendesak ingin keluar..... tapi ingtan tajam akan bagaimana sikap perempuan muda di hadapannya ini.... kemabli menekan rasa itu.
Hanin Hannia masih tertawa -tawa kecil sambil terus menggoda Haidar, ketika telepon genggamnya meminta perhatian. Dengan sisa senyuman gadis itu melihat sebuah pesan masuk. Tapi kemudian keningnya berkerut, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat serius.
" Ada apa ? ", Haidar tak kalah penasarannya.
" Dari rumah sakit tempat Selma dirawat .... notifikasi, pembayaran ..... tapi aku baru akan mentransfernya. Hei.... apakah ... mungkin orang tua Selma yang sudah melakukannya. Padahal aku sudah bilang, biar aku saja ".
Haidar memperhatikan betapa manisnya gadis itu saat berbicara pada dirinya sendiri. Perlahan, mungkin hanya perasaanny saja ... Nania-nya ini terlihat semakin ceria hari demi hari. Itu semakin baik tentunya, setelah semua kepedihan yang dialami gadis ini. Sudah saatnya kecerian yang dulu melekat dalam ingatnnya tentang Hanin Hanania harus kembali dengan semestinya. Semoga ini semua dalah awal yang baik untu si cantik ini, dan tentu saja untuk sebuah hubungan yang perlahan sedang dibangunnya ... dalam senyap.
" Bagaimana kalau kita ke rumah sakit setelah ini.?. Sekalian memastikan .. ". Satu kedipan mata diberikan Haidar dengan maksud meyakinkan Hanin.
" Eh... mas, tidak sedang mencarikan aku musuh kan ? ". Tapi ... yang disampaikan Hanin justru hal yang mebuat Haidar mengerutkan dahi, berlipat-lipat, bingung.
" Ini malam minggu mas ... malam minggu kemarin 'kan sudah mengantarku pulang. Bisa-bisa orang-orang pada salah sangka loh ... bisa-bisa segera terbentuk barisan penghadang Nania .. ".
" Hah ? apa itu ? ".
" Salah satu.... eh.. salah tiga ding' calon anggotanya.... sedang menuju kemari ". Kali ini Hanin berbisik kecil sambil mengerling ke satu arah. " Eeeitts... jangan menoleh ... tunggu saja ...hitung mundur... ".
" Apaan sih ", Haidarr berdecih.
__ADS_1
" Hai .. boleh bergabung ? ".
" Dari Asia Tenggara 'kan ?... kami dari Indonesia ".
" Kalian dari sana juga 'kan ?. Philipine' .. atau Thailand ? ".
Hanin menahan senyum seolah sedang menyerukan kesenangannya. tapi tidak degan Haidar yang sedikit banyak merasa jengah dengan situasi itu. Pemuda itu jelas merasa terganggu. Namun Hanin tampak begitu girang.
" Kami juga dari Indo ", jawab Hanin dengan riang. Tentu saja langsung berbalas keriaan dari tiga orang gadis yang datang menghampiri tadi.
" Waah... sudah berapa lama kau disini ? ".
" Oh ya... ini kakakmu ? ".
" Perkenalkan .... ". Tiba-tiba Haidar mengambil alih peran utama. Ia mengulurkan tangan dengan sopan dan sedikit membalut wajahnya yang menawan dengan senyuman maut mematikan. Membuat tiga orang gadis muda yang menghampiri itu langsung meleleh seperti butter diatar wajan yang terkena panas kompor.
" Ah .. ya... aku Diva ".
" Sarah.. "
" Lana ... kami dari HUB ". HUB adalah Humboldt University Of Berlin, salah satu universitas tertua di Jerman yang memiliki prosentase jumlah mahasiswa asing sekitar sepuluh sepersen, merupakan jumlah yang cukup tinggi.
" Haidar ... dan dia Nania... pacarku, perkenalkan ".
' What ?!!!!'. Hanin mendelik, namun kemudian buru-buru tersenyum setelah mendapatakan tatapn sengit dari Haidar. Pria itu mengeluarkan jurus andalannya, mengintimidasi dengan mengangkat satu alis yang lebat seperti elang melayang di angkasa.
" Oh ... maaf.. ku kira kalian berdua kakak beradik ".
" Kami memang baru saja jadian kok... dia teman adikku, dan aku jatuh cinta. Oha ya .. senang berkenalan dengan kalian nona-nona.
Satu bahaya baru saja tersingkirkan, dan Haidar tersenyum cukup puas. Memang benar apa yang dikatakan Keanu, terkadang wanita adalah pelindung yang paling kuat untuk efek pesona yang tumpah ruah. Haidar kembali tersenyum simpul, tapi tidak dengan Hanin yang cemberut.
" Sejak kapan kita pacaran ? ", gadis itu bersungut-sungut sambil mengenakan helm yang baru saja diberikan Hiadar.
" Sejak sekarang ? ... mau ? ". Hiadar tersenyum usil sambil menoleh sesaat memastikan jika gadis cantik itu sudah siap di boncengan.
" Ish !! ... delusi dan obsesi yang mencapai tingkat kronis ". Hanin masih cemberut ketika ia selesai menempatakan diri dengan manis di boncengan. " Ayo ".
" Tuan putri mau diantar kemana ?. Jadi ke rumah sakit ? ", Haidar tidak peduli dengan mengerucutnya bibir Hanin, ia malah keasyikan mengooda gadis itu.
" Keujung pelangi ".
" Siaaap !!!!!!! eh ... dimana itu ? ", Haidar berpura-pura terkejut, tapi ia tersenyum simpul.
" Rumah pak Dubes, aku mau ketemu bu Arya ".
" Oh ... apakah itu ibu peri kelinci pengumpul pot emas ? ", sahut Haidar masih dalam mode dongeng.
" Ihh.. udah deh becandanya' keburu malam nih ".
" He.. he... he.. siaaap... kita meluncur nona ".
Tak ada sepasang lengan mungil yang melingkari pingang, seperti yang diimpikan Haidar. Gadis dibelakangnya ini hanya memegangi bagian samping baju yang dipakainya. Tapi pemuda itu tidak kurang akal, sebuah manuver cantik dilakukannya, membuat gadis itu tersurug pada punggungnya. Dan memberikan satu pada nya untuk meraih jemari itu perlahan.
" Pegangan yang erat ... ', pinta Haidar dengan suara datar saat ia meraih tangan Hanin. Membuat tangan mungil itu saling terkait dan melingkari pinggangnya. Yes !!!... sorak pemuda itu dalam hati.
Sulur-sulur tak kasat mata tiba-tiba saja merayapi pipi Hanin, membuat semburat hangat di wajah putih yang nampak mulai memucat karean terpaan angin senja yang dingin. Punggung ini begitu lebar dan kokoh, berbeda dengan yang belasan tahun lalu. tapi sikap hangat pria ini... sama seperti dahulu. Tidak berubah sama sekali.
.....................
" Kalau kau mau ... ambil saja kak Hiadar. dia itu nakal.. suka menganggu ku. Aku cukup kak Namu saja ".
" Benarkah Rana ?... tapi kak Haidar itu... baik sekali kalau sama aku ".
" Iya ... mungkin kau lebih cocok jadi adiknya. Aku kak Namu saja ... kak Raka dan kak Haidar.. untuk mu saja ".
......................
__ADS_1
Dia selalu baik seperti dulu, tidak berubah. Tetap jadi kakak manis dan hangat yang selalu suka menggoda adik kecilnya. Tidak berubah sama sekali .... tidak akan berubah. Pria ini .... hanya seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi adik kecilnya. Lihat dirimu Nania .... kau adalah adik manisnya. perasaan hangat di hatimu ini, bukankah sama dengan yang bertahun-tahun lalu ?, saat ia selalu meraih jemarimu dan membimbing langkahmu.