PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Envolved & Entangled (5)


__ADS_3

Terbangun karena merasakan dingin dan kosong. Padahal semalam tadi ia begitu merasa hangat dan nyaman. Walaupun sisa kantuk itu masih berat bergelayut di kelopak mata, namun insting siaganya mendobrak kesadaran. Raka pun terlonjak bangun lalu melesat menuruni ranjang.


' Gbrugh '. Suara lutut yang membentur lantai berkarpet empuk, menopang raga yang terhuyung dan akhirnya terjatuh. Pemuda itu meringis. Ia menyentak selimut yang membuat langkahnya tersendat dan menjadi nyaris tersungkur.


' Cklek '. Suara sebuah pintu dibuka.


" Kenapa ? ", seraut wajah yang cantik dan segar itu muncul mengintip.


" He... he... limbung ... jatuh ".


Ardelia kembali menarik wajahnya, dalam sekejap menghilang dibalik pintu kamar mandi yang menutup kembali. Sementara Raka terlihat begitu tolol dengan seringai konyol.


Tapi setidaknya ia kini merasa lega. Kenapa ?, tentu saja karena si cantik itu tidak pergi meninggalkannya. Tadi ia sangat takut dan khawatir, jika Ardelia akan nekat pergi tanpa menunggu dirinya. Karena sebelumnya gadis itu telah sangat keterlaluan nekatnya. Nyaris melakukan hal yang sangat tidak mungkin diperbuat oleh si cantik itu. Mengumpankan dirinya sendiri pada pria brengsek macam dirinya, yang terlalu sibuk menelan ludah menikmati kemolekan tubuh itu.


Selama ini, Ardelia adalah sosok yang tenang dan mampu berpikir cepat dengan precognitif tajam. Ia tidak akan bertindak impulsif hanya karena emosi atau rasa tertekan. Tapi semalam .... glegh!, Raka kembali menelan ludahnya sendiri.


Bodoh!!!!.... dia memukul kepalanya sendiri. Dasar otak mesum !, umpatnya lagi. Tapi gadis cantik itu memang memiliki tubuh yang sangat molek, dengan lekukan sempurna. Glegh...., bocah mesum tak ada akhlak. Dan kembali Raka menghardik si kecilnya yang mulai menggeliat menantang dunia. Calon dokter urusan sambung menyambung tulang itupun menjitak kepalanya sendiri.


" Betah amat ... ".


" Eh ", Raka tersipu malu. Ia pun buru-buru bangkit dan melempar selimut penjegalnya sebagai dalih rasa malunya.


" He... he... he... selimut nya nakal ".


Ardelia menatap pria itu dengan tatapan .... aneeeh. Tapi sosok yang semalaman tadi telah memberinya rasa hangat dan nyaman luar biasa itu telah menghilang cepat. Tentu saja dibalik pintu kamar mandi yang baru saja dilewatinya tadi.


Tunggu !!!... rasa hangat, nyaman luar biasa. Aah.... betul juga, dekapan kawan yang lembut. Bahkan nafasnya yang hangat menerpa ubun-ubun, seperti lantunan kidung pengantar tidur yang sangat indah.


Tapi .... sesaat sebelum semua kedamaian itu tercipta, ia telah sempat melempar dirinya dalam strata terhina sebagai seorang wanita. Menyerahkan diri dengan putus asa, membiarkan pria itu melihat utuh seluruh dirinya.... tanpa penghalang sedikit pun. Dan bermaksud menghancurkan mahkotanya sendiri.


' Arrrgghhh... ', Ardelia menutup mukanya. Maluuuu.... dan hina sekali rasanya. Walaupun orang itu adalah Raka, satu-satunya pria yang bertahta di singgasana jiwa, walaupun selalu dengan keras ia mengingkari perasaannya sendiri. Hingga pada akhirnya, sampai pada titik ia tak mampu lagi bertahan. Meskipun itu didahului dengan lecutan peristiwa kelam.


" Sakala sudah setuju menikah dengan mu dan Keanu.... dia tidak akan bisa menolak ".


Ardelia menatap lurus tanpa menghiraukan langkah Dracio yang menjajarinya. Ia sekuat tenaga menahan keinginan dan amarah dalam hatinya untuk tidak melesat keluar dan berubah menjadi energi yang mematikan. Terutama untuk pria brengsek yang sayangnya adalah kakak laki-laki seayahnya. Padahal belum satu Minggu luka sayatan melintang di leher pria ini dibuatnya karena sudah tidak mampu lagi menahan rasa marah. Tapi rupanya pria yang terus nyerocos menyebalkan ini tidak pernah belajar dari pengalaman.


" Sekali ini lagi saja... setelahnya kau dan ibumu bebas. Kami tidak akan meminta bantuan mu lagi ".


Ardelia menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Dracio pun melakukan hal yang sama . Bahkan pria itu nyaris saja kehilangan keseimbangan karena saking terkejutnya.


" Kau pikir kau siapa?. Bahkan sejak dua puluh tahun yang lalu, kalianlah benalu itu... parasit! ".


" Well.... well.... seperti itu ya ?! dasar gadis sombong. Kau harusnya berterima kasih pada papi yang masih memberi nafkah... padahal kau bukan anaknya ".


' Plak!'


" Fitnah busuk ".


Tamparan keras itu mendarat dengan telak di pipi Dracio dan membuat pria itu terhuyung. Sementara Ardelia dengan sepasang matanya yang membara, merangsek mendekat dan menarik lengan baju pria di hadapannya.


" Perbuatan mu ini bisa kulaporkan sebagai tindak penganiayaan... " Dracio menyeringai dengan liciknya. " Lihat sekeliling mu.... ".


Ardelia yang tak sempat memperhatikan sebelumnya, kini merasa semakin geram. Rupanya kakak dari neraka ini telah mempersiapkan semuanya. Para pria bertubuh besar yang diantaranya memegang gadget dan sedang memvideokan yang telah terjadi.


" Seperti yang punya dunia saja lagakmu. Kau pikir aku takut dengan semua ancaman rendahanmu ?!!!! ".


" Kita lihat saja.... setelah ini... apakah kau masih bisa berlagak dan jual mahal begini ? ".


Dracio memberi tanda dengan menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya. Seorang pria berkulit gelap dengan badan tinggi besar mendekat, memberikan sebuah amplop coklat yang diterima Dracio dengan tawa yang sangat kentara nada mengejeknya.


" Coba kau lihat foto-foto indah ini ". Masih dengan posisi terjepit karena cekakan Ardelia yang memang memiliki tinggi diatas rata-rata perempuan Asia, Dracio mengibas-ngibaskan amplop cokelat itu dengan nada mengejek. " Kalau belum cukup, videonya juga ada kok.... lihat lah ".


" Kau !!! ... orang paling hina yang ada di dunia. Aku mengutuk mu ". Hentakan keras itu membuat Dracio sedikit terhuyung, tapi tawanya lepas seperti telah mendapatkan kemenangan.


" Aku pergi dulu .... ingat! pikirkan baik-baik. Jangan sampai kau menyesal .... anak paman .... ha.. ha.. ha.. ".


Dan amplop cokelat itu dilemparkan Dracio. Terjatuh tepat didekat kaki Ardelia yang masih berdiri dengan kokoh, tapi hatinya limbung terhantam rasa sakit dan amarah. Ia tahu pasti apa yang berada didalam amplop cokelat itu. Semua mimpi buruknya, semua kepahitan hidupnya, semua rasa sakit yang dideritanya selama ini. Tapi ia harus mengambil amplop cokelat itu dan menyimpan dengan rapat, seperti ia menyimpan deritanya.


" Mami .... aku sudah membuat keputusan. Aku menerima tawaran dari papi... untuk bertunangan dengan Sakala .... ".


Hingga akhirnya ia pun memutuskan sepihak, tanpa meminta pendapat dari ibunya terlebih dahulu. Sepasang mata wanita yang sangat disayanginya itu membelalak tidak percaya. Tidak ada senyuman lembut seperti biasanya. Begitu kentara jika wajah ayu itupun sangat terluka.

__ADS_1


" Cici' tidak seharusnya menanggung beban seberat ini. Jangan pernah mengorbankan dirimu ... cukup mami saja yang mengalami sakitnya. Kau harus memperjuangkan hidup dan cinta mu sendiri ".


Tidak ada jawaban, hanya sebuah pelukan hangat yang kemudian diberikan oleh Ardelia. Merangkum dengan lembut raga wanita tersayang yang pasti sangat mencintainya. Ibu yang baginya adalah malaikat tanpa cela, walaupun keburukan tentangnya selalu didengungkan hati dan telinganya. Tapi semua itu tak akan mengubah pandangannya tentang wanita ini.


" Aku akan baik-baik saja kok mami' .... mungkin ini akan jadi akhir dari penderitaan kita ".


" Maafkan mami sudah buat cici' menderita selama ini .... ", sesal ibunya.


" Bukan itu maksudku ....", tapi dirinya tak kuasa menyampaikan maksud sesungguhnya, mengungkapkan semua rasa bangganya juga rasa sayangnya. Ia hanya bisa merengkuh bahu dari wanita termulia yang sangat dicintainya. Wanita yang telah melahirkan, merawat dan membesarkannya dengan darah dan air mata. Namun tanpa keluh walaupun bersimbah peluh, penuh senyuman meski hidupnya seperti menjalani sebuah hukuman.


" Jangan pernah mengorbankan dirimu ci' .... raihlah mimpimu, cinta mu dan bahagia mu. Karena cinta yang sesungguhnya pasti yang akan menyelamatkan mu, menjaga mu .... bukan yang menuntut pengorbanan mu ".


Ironis sekali mendengar semua penuturan sang ibu. Karena wanita berdarah campuran Palembang dan China ini sesungguhnya adalah pelaku dari semua hal yang dinasehatkan untuk tidak dilakukan, pada putrinya. Seperti sebuah luka dan dendam yang mengakar dalam hati wanita jelita dengan kulit seputih lobak ini.


" Seandainya mami' dapat memutar waktu kembali .... pasti akan lebih memilih sebagai seorang yang egois saja ".


Terjeda sementara, dan membuat Ardelia lebih mengeratkan pelukannya. Betapa inginnya dia menyudahi pembicaraan yang menyakitkan ini, tapi ia tak kuasa. Biarlah hanya rengkuhan yang erat ini yang menyesap semua luka itu. Tapi sesungguhnya aku pun sangat tak kuasa menghadapi semua ini, desis Ardelia dalam diamnya.


" Mami pasti akan bertahan mencintai ... bukan berkorban untuk bisa dicintai. Ci' .... kamu tidak perlu melakukan apapun yang mereka minta. Cukup jadi dirimu yang merdeka .... hanya kamu dan mami' .... mereka, hanya parasit yang harus kau hindari. Jangan pernah terbebani oleh tanggungjawab ..... itu hanya omong kosong. Cintai dirimu sendiri ..... setidaknya .... jangan pernah menyesal karena berpaling dari cinta yang kau inginkan ".


Tapi cinta yang ku inginkan..... telah menolakku. Dan Ardelia termenung panjang, hingga ia tak menyadari jika Raka telah keluar dari pintu kamar mandi. Lekat menatap air mata yang meleleh perlahan, membuat jejak di pipi yang halus.


Dan pemuda itu perlahan melangkah, menghampiri gadis tercantik yang paling diinginkannya. Namun sekaligus gadis yang paling bisa membuatnya menjadi manusia yang baik. Menyentuh pundak itu perlahan, dan tak memberi kesempatan padanya untuk menghindar dengan gerak refleks menjauhnya. Karena kini, Raka yang sudah berdiri tepat dibelakang Ardelia, tak memberi celah pada gadis itu untuk terlepas dari dekapannya.


" Bukankah aku sudah berjanji akan selalu bersamamu, menjagamu dan mencintai mu..... kau tak akan kemana-mana.... kau hanya akan jadi ratu hatiku. Jangan pernah putus asa ... ".


" Kau apakan jadwal penerbangan ku ? ". Nada itu terdengar ketus, tapi Raka tahu betul jika itu hanya pengalihan dari seorang Ardelia.


" Karena sudah tidak ada satu kursi tersisa, ya ....kubatalkan. Ganti jam setengah empat sore, dan aku akan bersamamu nona ".


" Kau ...... gila ya ?. Bagaimana residensial mu .... hanya kurang beberapa hari saja....kau... ".


" Karena aku sungguh-sungguh tidak mau menjadi orang yang paling bodoh. Kita hadapi semua ini bersama ...... seperti dulu ". Suara Raka serupa bisikan, begitu lembut namun terdengar jelas.


Batas nalar kita mencoba tetap menjauh


Bukan karena rasa takut


Dulu kita, tersudut bersama dalam kelam yang menenggelamkan


Mencoba tetap tersenyum dan melupakan


Mengabaikan rasa sakit yang perlahan berubah menjadi dendam


Kita tidak pernah baik-baik saja


Mungkin kini sudah saatnya untuk kita melawan


Bukankah sudah kukatakan padamu...


Kau tetap ku genggam


Lalu apa yang membuat mu risau ?


Aku memang pernah menjadi seorang pengecut dan bodoh


Tapi saat melihat mu seperti ini .....


Aku pasti akan jadi orang paling pemberani, paling licik dan juga liat


Masa lalu itu telah mengajariku untuk menjadi pelindung mu


Selama ini kita berjalan beriringan dalam diam


Mencoba menunjukkan jika semua baik-baik saja


Tapi kita saling memahami, jika kita punya luka yang sama


Meski kita tak pernah menturkannya.....


Tapi aku mengerti, engkau juga memahami ku dengan luar biasa

__ADS_1


Aku bukan yang terhebat yang pernah ada


Aku bukan yang terbaik yang engkau kenal


Tapi aku berjanji..... bahwa aku akan menjadi yang paling memahami mu


Yang tak akan pernah meninggalkan mu


Ini adalah janji seorang pria


Pada Ratu hatinya


...(Janji Raka pada ratunya )...


..................


" Dari siapa ? ". Hana melirik pada handphone yang tengah mendapatkan perhatian penuh dari suaminya.


Arjuna tidak segera menjawab pertanyaan istrinya. Ia terlihat mengernyitkan kening dan berfikir sedikit lebih keras.


" Siapa yang sayang ? ". Suara Hana terdengar lebih tegas berbumbu rasa ingin tahu yang kuat.


" Raka.. ".


" Tumben.... biasanya sepuluh kali dihubungi baru niat menjawab ".


Bukan tanpa alasan jika Hana berkata demikian, karena memang demikianlah sang putra bungsu. Seolah tidak pernah peduli dengan keluarganya.


" Ngomong apa dia ? ", cecar Hana yang mulai dihinggapi rasa ingin tahu.


" Heeeem.... ", Arjuna menarik nafas panjang dan kembali menyesap segarnya air kelapa muda yang terhidang berikut daging buah dengan tambahan es batu dan gula Jawa berwadah kelapa muda utuh. " Sepertinya...... Raka yang akan menikah terlebih dahulu ".


" Apa ?!!!!! ". Lengkingan penuh keterkejutan itu memenuhi gazebo nan asri. Membuat beberapa orang yang berada ditempat itu sedikit menoleh.


Arjuna menyentuh jemari istrinya lalu sedikit meremas nya lembut. Berusaha menenangkan sang istri yang memang punya watak keras dan berapi-api. Sifat khas keluarga besar Arsenio.


" Kita tidak pernah tahu takdir jodoh seseorang bukan ? " , kata Arjuna kemudian.


" Tapi..... apa yang terjadi ? ". Hana justru terlihat mulai panik. " Kakak perempuannya belum lagi menikah ..... aaah.... apa kata orang nanti .... ".


" Ada apa Mba ? ". Tiba-tiba sebuah suara yang berat dan dalam membelah kepanikan di meja Hana dan Arjuna duduk dari arah belakang mereka. Mandala dan Orlin baru saja datang dan langsung memasang wajah bingung serta penasaran saat melihat kedua kakak mereka.


" Raka bikin masalah lagi .... ", jawab Hana dengan rasa kesal yang begitu kentara.


" Kenapa memangnya ? ", tanya Mandala lagi. Kali ini pria itu menatap Arjuna kakak iparnya, berharap mendapatkan informasi yang lebih jelas.


" Raka memintaku melamar seorang gadis ... dan akan menikah secepatnya ".


" Wah berita bagus dong, siapa gadis itu ? ", Orlin terlihat ceria menanggapi berita itu.


" Apanya yang bagus ?! ", sentak Hana. " Apa dia nggak berfikir bagaimana dengan perasaan kakaknya..... kakak perempuannya ... ".


" Mba... ", Orlin menyentuh pundak kakak iparnya dengan penuh rasa penyesalan. " Maaf ... bukan.... maksudku demikian ".


" Kenapa harus buru-buru ?", tanya Mandala kemudian.


" Gadis itu sudah hamil ".


" Apa ?!!!!!!!". Hanya Hana yang terpekik karena sangat terkejut oleh jawaban Arjuna, lalu dengan lemas bersandar di kursi dan mulai terlihat menangis.


Orlin buru-buru duduk menyebelahi kakak iparnya dan merengkuh bahu wanita itu, berusaha menenangkan. Sementara Mandala yang tak kalah terkejutnya menatap dalam-dalam pada Arjuna. Tapi ia tidak mendapatkan apapun selain rasa kalut di wajah pria itu.


" Kalau begitu .... jangan tunda lagi. Lamar gadis itu untuk Raka.... percepat rencana menjodohkan Cinta dengan Syailendra ".


Bukankah itu solusi yang paling tepat saat ini. Demikian pemikiran taktis seorang Mandala, yang bertindak sebagai problem solver hanya dalam hitungan detik.


" Mumpung Raihan dan Nilam belum pulang .... kita bicarakan sekalian masalah ini. Mereka orang baik... pasti memahami ". Kata Mandala lagi.


" Bang Juna.... siapa gadis itu,? .... yang hamil cucu kalian ", tanya Orlin perlahan.


" Oh .... itu... Ardelia ... Ardelia Asmara Sani ", jawab Arjuna yang masih kelihatan linglung.

__ADS_1


" Delia ", Hana terperanjat sesaat, namun sesungging senyuman terlihat samar disudut bibirnya kemudian. " Setidaknya .... Raka bersama orang yang tepat ".


__ADS_2