PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
If The Time Has Come


__ADS_3

Memutuskan untuk ikut pulang bersama sang paman, dan kini berada dalam satu kendaraan berdua. Namu merasa sangat bersyukur mempunyai seorang ayah yang totalitas membantu. Jika bukan karena skenario dari Mandala ayahnya, semua hal yang terjadi sekarang pasti tidak selancar ini. Seolah-olah keberuntungan tidak sedikitpun berpaling darinya, semuanya menjadi begitu mulus berjalan. Seratus delapan puluh derajat berseberangan dari ketakutannya.


" Boocaaaah.... rupanya kelamaan menjomblo karena udah punya inceran gede nih ".


" Karma bukan sih namanya ... kalau seperti ini. Kisah cinta elo' banget ini Juna. Eh Namu ... gede juga nyali lo' ... anak serigala tuh ". Walaupun tanpa mengacaukan rambut Namu seperti yang dilakukan Brams, Ardanu pun tak kalah semangatnya mericuhkan suasana.


Walaupun Mandala sudah mengajak kedua sahabatnya itu menyingkir, tapi eratnya persahabatan mereka tak mampu menghadang rasa penasaran yang sepertinya telah saling terhubung. Hingga akhirnya Mandala tak bisa lagi mengekang mulutnya sendiri, untuk tidak bercerita tentang semua hal.


Ekspresi para mantan playboy itu ?. Tentu saja tak jauh beda dengan ekspresi Arjuna sesaat setelah mengetahui rahasia hati dari keponakan dan juga anak gadisnya. Melongo.... terdiam... tapi kemudian membuahkan sebuah ledakan tawa, tentu saja menjadi bertambah umpatan panjang pendek tak tertahan dari dua mulut para paman itu.


Beberapa saat menunggu lengkap dengan saling mengemukakan opininya masing-masing, mereka akhirnya menggelinjang bersemangat saat Arjuna dan Namu datang mendekat dengan air muka yang ceria. Bahkan saling ber- high five, selayaknya pemuda yang meraih keberhasilan cinta. Ah... pasti karena teringat kisah cinta mereka yang tentunya tak kalah hectic.


Yang kemudian terjadi tentu saja bisa ditebak. Sang pemuda pencinta menjadi sasaran bully para bapak veteran cinta. Tapi Namu memilih senyum-senyum saja, daripada salah ngomong ... malah tambah dalam dikuliti. Bukan nyerinya euuyy.... tapi tengsinnya yang tak tertahankan.


" Ngincernya pasti udah dari jaman piyik dulu ya Namu ". Goda Ardanu yang masih saja menggeleng-gelengkan kepalanya penuh rasa tidak percaya.


" Sebenarnya selama ini .... yang paling kau takutkan ... bapak mu atau bapaknya Cinta ? ".


" Waaah .... om Brams nih. Pertanyaan jebakan... Up deh, terlalu beresiko untuk dijawab ". Namu menyeringai sambil sesekali tersipu tentunya.


" Tapi tetep yang paling menderita aku. Dapat besan dia.. ", seloroh Arjuna dengan wajah yang dibuat seolah-olah penuh penderitaan.


" Masa kejayaan mu sudah berakhir kakak... besok kau harus lebih takluk pada ku ". Merasa diatas angin, Mandala tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggoda kakak iparnya itu.


Namu hanya tersenyum-senyum saja, sementara dua orang sahabat papanya itu tertawa terbahak-bahak. Bahan candaan baru yang masih hot dan fresh. Bersiaplah untuk selalu digoda habis-habisan bro', begitu ia berbisik pada dirinya sendiri.


Beruntung Arjuna adalah sosok yang sedikit kalem, tidak terlalu heboh seperti dua orang sahabat papanya. Tapi dengan kondisi saat ini, tentu saja telah membuatnya merasa menjadi sedikit kaku untuk memulai pembicaraan. Padahal biasanya ia begitu ringan membahas apapun dengan om nya ini. Dan sepertinya Arjuna pun mengalami hal yang sama seperti Namu. Hingga suasana di dalam mobil itu menjadi lebih hening.


" Om ... ", akhirnya Namu membuka suara. " Malam ini juga... aku akan bilang tentang semuanya dengan Tante Hana ".


" Sepertinya tidak bisa Namu. Mamanya Cinta berangkat ke Manado siang tadi, besok dia jadi Narasumber untuk seminar kesehatan anak. Hal serumit ini...... bukan cara yang tepat jika berbicara lewat telepon. Aku akan membantu mu bicara langsung nanti. Bersabarlah sedikit ".


" Maaf Om ".


" He.. he.. bukan salah mu. Dan ... kenapa kita jadi kaku seperti ini ya ? ".


Namu pun ikut tertawa, walaupun terdengar sedikit sumbang. Ternyata apa yang sering didengar dari teman-teman yang sudah menikah itu sangat benar. Bahwa yang paling berat bukanlah sang mantan dari calon istri mu, tapi ayah mereka. Dan kini ia benar-benar harus mengakui kebenaran hal itu.


" Seandainya kalian bisa saling jujur lebih awal, lalu segera berterus-terang pada kami..... pasti perang dingin antara Cinta dan mamanya tidak akan sering terjadi ... ".


" Iya Om .... maaf.... ".


" Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti. Kita.... ", sesaat Arjuna menghela nafas panjang sambil menatap jauh temaram jalan yang berhias lampu kendaraan. " Kita adalah pria dari luar, yang kebetulan sangat beruntung... bisa bersanding dengan keluarga Arsenio. Lalu dengan bodohnya kita mencintai anak gadis mereka. Bukan begitu Namu ?.. ha..ha..ha ".


Arjuna seolah-olah sedang melihat dirinya sendiri di masa lalu. Yang bertahun-tahun berdebat dengan hati kecilnya sendiri. Melakukan hal tergila sepanjang sejarah mudanya, yaitu mencium tuan putri yang sebenarnya harus ia jaga. Kemudian dengan pasrah bersiap menerima apapun akibat perbuatannya, termasuk mungkin lenyap dari dunia ini. Ya ampun.... serem amat ya Jun.


" Hal tergila yang pernah aku lakukan ... ternyata itu menjadi kunci pembuka hati kami. Rasanya menyesaaaal sekali .... kenapa tidak dulu-dulu aku melakukannya. Ha.. ha.. ha.. ".


" Memang apa yang Om lakukan ? ".


" Menciumnya ".


Seperti dikomando, kedua pria beda generasi itu menoleh dan saling berpandangan. Hingga kemudian Namu menyunggingkan sebuah senyum yang sebenarnya lebih mirip dengan cengiran menggoda. Karena pemuda ini sepertinya merasa telah mendapatkan teman untuk hal menyatukan hati dengan bibir. Trik lama yang sudah pasti teruji kemampuannya.


" Heiiii.... ", Arjuna menonjok lengan Namu sedikit keras. " Jangan bilang kau sudah melakukan trik ini pada Cinta ! ".


" He ... he... he... maaf Om, sudah terlanjur " . Dan wajah Namu pun bersemu merah, walaupun kini ia bisa tertawa dengan lebih santai

__ADS_1


" Sudah.... sudah ... cium saja, yang lain nunggu resmi dulu. Jangan kebablasan seperti Raka. Haiiissh.... anak itu. Apaaaaa lagi ini yang diperbuatnya ?. Aku sebenarnya sangat kecewa dengan tindakannya ... dia 'kan paham betul apa itu kontrasepsi, kalau tidak bisa menahan diri seharusnya bisalah pake tameng dulu ... haduuuuh.... salah ku juga sih terlalu lunak padanya ".


Glegh .... Namu menelan ludahnya sendiri.


" Tapi seandainya dia tidak kebobolan begitu, kau juga pasti belum gercep' ya Namu. Setidaknya tetap ada hikmahnya ".


" Iya Om ... ", dan Namu membalasnya dengan sebuah senyuman kecut. Beneran menyiksa jika menyembunyikan sebuah kebohongan memang.


" Tante Hana bagaimana ?... emmh maksud ku untuk Raka ".


" Awalnya dia tentu saja menangis, marah dan tertawa bersamaan. Tapi kemudian ..... dia menangis panjang. Kau tahu.... dia merasa sangat bersalah dengan Ardelia ".


" Pada Ardelia Om ? ", Namu terlihat kebingungan. " Tidak marah besar sama Raka ? ".


" Hana ... lebih mengkhawatirkan Ardelia. Ku katakan padanya, untuk tidak perlu terlalu khawatir. Tapi tetap saja.... ia tak bisa berhenti mencecar Raka dengan pertanyaan seputar kehamilan Ardelia. Sudah berapa Minggu? sudah USG? sudah berapa kali ke dokter? Mual tidak? Doyan makan? ..... rasa marahnya terkalahkan oleh rasa sayang pada calon cucu nya. Tapi ..... aku tahu dia sangat kecewa pada Raka. Aku juga sedikit heran ... kupikir dia akan langsung mengamuk pada Raka. Ternyata tidak sama sekali. Raka sampai terbengong-bengong ". Arjuna seperti tengah membuka bendungan perasaannya, membiarkannya tertumpah ruah dan menyisakan kelegaan yang lapang.


Tapi sayangnya semua kelegaan yang dirasakan Arjuna berbanding terbalik dengan rasa gelisah yang justru mencengkeram Namu. Ia bergulat dengan perasaannya sendiri untuk tetap memegang teguh janji atau segera mengungkapkan kebenaran.


" Kapan rencananya ?. Pernikahan Raka ".


" Heeeemm... tunggu dua Minggu lagi, gitu katanya. Baru butuh konsentrasi di minggu terakhir masa residen. Biarlah .... kita selesaikan urusan mu dengan Cinta dulu. Mungkin sebaiknya .... kalian menikah diwaktu yang sama ".


" Maksudnya Om ? ... Pernikahan dua pasang ? . Lalu bagaimana dengan Tante Hana ?. Aku berniat meminta restu langsung dulu dengan beliau.... sebelum lamaran secara resmi ".


" Biar aku yang memberitahunya ".


" Maaf .... apa tidak sebaiknya saya sendiri saja Om ". Namu terlihat ragu sesaat. " Mengingat bagaimana Tante Hana .... sebaiknya... ".


" Ya... ya... kamu memang sudah sangat paham bagaimana Tante mu itu. Terserah kamulah. Tapi tidak by phone ya..... ".


Namu tidak bersuara, hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat bersemangat. Sementara Arjuna menepuk-nepuk lengan pemuda di sampingnya ini. Dia adalah pemuda yang sama, yang dulu masih seorang bocah, yang sering datang menghampirinya. Duduk menyebelahinya dan mulai bercerita apapun, terutama saat ia sedang bersedih.


Arjuna mengerti betul bagaimana pria muda ini tumbuh dengan berkiblat seorang pria yang selalu dikenaknya sebagai seorang ayah. Semakin ia mengerti jika sesungguhnya ia dan pria itu tanpa hubungan darah, pemuda itu justru semakin mantap berkiblat pada sang ayah.


Terkadang dia bersedih saat tidak bisa meraih pencapaian yang distandarisasinya sendiri. Dengan lirih ia akan bertanya .... ' Om, apakah aku pantas menjadi putra keluarga Mandala Arsenio ? '.


Biasanya Arjuna akan tersenyum sambil menepuk-nepuk punggungnya, atau akan merengkuhnya perlahan. Karena dia merasa melihat duplikat dirinya sendiri dulu. Keinginan yang kemudian bermetamorfosis menjadi sebuah obsesi yang sama dengannya dulu, tentang bagaimana menjadi pria sejati yang layak sebagai keluarga Arsenio.


Lalu Tuhan membuatkan jalan cerita yang hampir serupa, ya..... jatuh cinta pada sang tuan putri. Itu benar-benar suatu hal di luar kendali. Tapi memang para putri keluarga Arsenio memiliki daya pikat yang luar biasa Tidak hanya dari raga dan rupa yang begitu rupawan, namun hati dan kepribadian mereka yang sangat mengagumkan. Pria manapun akan sangat dengan mudah menjadi ...... jatuh cinta.


" Kita sudah sampai Om ".


" Ah ... ya ", Arjuna tergeragap, sambil mencoba menegakkan kesadarannya kembali dari lamunan panjang masa lalunya. " Ayo, mampir .... temui pujaan hatimu dulu ".


Dan wajah Namu menjadi tersipu serta bersemu merah. Padahal hal tersebut sangatlah biasa dilakukan selama ini. Berkunjung ke kediaman om dan tantenya, menyapa sepupunya. Bahkan tanpa sungkan-sungkan langsung menerobos masuk ke dalam kamar gadis cantik itu. Atau duduk mendekat dan langsung menyerobot seporsi hidangan dari piring sepupu cantik itu.


" Kenapa ?, rasanya jadi beda ya setelah ketahuan ? ", kalimat yang dilontarkan Arjuna itu sangat kental dengan nuansa menggoda dan semakin membuat Namu nyaris tenggelam oleh rasa malu.


" Ayo lah .... temani Om makan malam ".


Akhirnya Namu tidak kuasa menolak, ia lantas mengangguk sambil tersenyum.


" Sekalian ngapel ... ", Arjuna kembali menggoda.


" Om Juna .. ".


Pada akhirnya Namu mengekori Om nya. Berjalan melintasi ruang tamu, tapi Namu memilih untuk duduk saja ketika Om nya itu melangkah naik ke lantai dua.

__ADS_1


" Om mandi dulu. Tunggu saja di ruang makan ".


" Ya Om .... di sini juga nggak apa-apa ".


Arjuna tersenyum lagi melihat bagaimana kakinya sikap Namu. Pemuda itu kini telah berubah dari seorang keponakan menjadi seorang pria yang sedang jatuh cinta.


Tok... tok... tok... Arjun mengetuk pintu kamar putrinya.


" Cinta, ada Namu di bawah ".


Ketika ia berniat mengetuk kembali pintu kamar itu, terlihat engselnya bergerak. Dari daun pintu yang mulai membuka nampaklah seraut wajah cantik putrinya. Mengenakan rok terusan denim casual dengan lengan pendek serta kacamata minus yang bertengger manis di atas hidungnya. Sejumput anak rambut yang nakal keluar dari untaian kuncir ekor kudanya, ternyata semakin menambah manis wajah itu .


" Ada Namu di bawah. Oh ya ... ajak makan malam sekalian. Papa mandi dulu ".


Semua dijawab dengan satu anggukkan saja oleh putrinya itu. Arjuna bergegas menuju kamarnya, untuk segera membersihkan diri. Tapi yang lebih penting, agar dia bisa segera menenangkan keroncongan di perutnya.


Sementara itu Cinta yang turun dari lantai dua, tidak langsung menuju ruang tamu menemui Namu. Ia menghampiri kamar bu Sari untuk meminta wanita itu membuatkan minuman dan juga menyiapkan makan malam. Kemudian ia segera melangkah menuju ruang tamu.


" Hai ... ".


" Hai ... ".


Saling sapa dan berbalas, tapi seperti sepasang orang tolol, hanya ber 'hai saja. Padahal biasanya mereka akan langsung saling melempar canda. Kini hanya bisa saling tatap sambil tersenyum.


Namu sangat bisa melihat dengan jelas bagaimana kegelisahan itu menggelayut dan menyelimuti wajah cantik di hadapannya. Tapi ia sendiripun merasakan sedikit kecanggungan, yang akhirnya juga menerbitkan kegelisahan.


Manakala Cinta memilin jari jemarinya, Ia juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Saling diam beberapa saat. Hingga akhirnya ia memutuskan mengucapkan satu kalimat yang melintas begitu saja dari benaknya.


" I love you ".


Tentu saja membuat Cinta langsung menatapnya, tepat ke dalam sepasang telaga bening jendela jiwanya. Dan hatinya diliputi perasaan hangat. Membuat seulas senyumnya terukir indah begitu saja.


" I know ... ", lirih Cinta membalasnya.


" Raka ? belum pulang ? ".


" Banyak urusan yang harus diselesaikannya. Katanya dari rumah Ardelia nanti, dia akan langsung ketemuan sama Om Brams ".


" Tadi ketemu Om Brams di lapangan. Nggak bilang apa-apa tuh beliau ".


Ah ... Namu lantas teringat satu hal. Tentu saja Bramastya tidak akan sempat mengatakan apapun tentang Raka, karena mereka semua tadi sangat sibuk menggodanya. Mengingat hal itu membuat Namu mengulum senyum.


" Kenapa senyum-senyum ? ".


" They .... already know ", masih dengan menyunggingkan sebuah senyuman tipis.


" They ?!!! ", Cinta memekik tertahan. Sepasang matanya membulat dengan cepat, mencitrakan keterkejutannya. Masih dengan ekspresi tidak percaya, ia lalu menutup mulutnya yang ternganga.


" How could that be ???... Oh ya ampun ". Gadis itu menghempaskan tubuhnya bersandar di sofa.


" More than your expectation ? ", Namu masih tetap mengulum senyumnya.


" Bagaimana .... aaaah.... mama... masih belum tahu. Bagaimana mengatakannya ? ".


" Kenapa ? ". Tiba-tiba suara yang berat itu terdengar menghampiri. Arjuna yang sudah terlihat segar setelah mandi, segera turun berjalan menghampiri putrinya yang tercekat gelisah.


" Urusan dengan mama mu .... serahkan pada ahlinya. Sekarang... ajak calon suami mu makan bersama kita ".

__ADS_1


Tiba-tiba saja Cinta merasakan kedua matanya menghangat, bersamaan dengan kelegaan luar biasa yang melingkupi jiwanya. Tapi derai-derai air mata itu tak bisa ditahannya. Sementara itu pria paruh baya itu mendekat sambil tetap tersenyum, membuat dirinya tidak bisa menahan diri.


" Papa.... ". Ia pun melompat dan hinggap pada pelukan hangat sang ayah. Pria pertama yang sangat dicintainya.


__ADS_2