PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Than You Look At Me (6)


__ADS_3

Terbiasa berpikir cepat dalam mengambil keputusan, karena setiap detik adalah seharga nyawa dan keselamatan manusia. Ditambah dengan kemampuan menganalisa berbagai kemungkinan baik beserta menentukan jalan keluar yang harus diambilnya dulu saat menghadapi pasien-pasiennya, membuat Haidar begitu cepat membaca kemungkinan mata rantai yang hilang dari sebuah peristiwa. Dan serangkaian kelihaian tersebut sangat berguna pada situasi seperti ini.


' Iya, so.... nggak apa-apa'kan kalau aku nolak tawaran buat ketemuan di Swiss. Lagian, biar bang Key dapat lebih longgar waktunya dengan Sellma dan Leil. Trus, mas juga bisa konsentrasi dengan semua pekerjaan. Toh nanti kita juga ketemu di Indo 'kan ? .


Pasti ada yang terlewat, begitu pikir Haidar selepas membaca pesan cukup panjang yang dikirim oleh Hanin. Iapun segera menghubungi Keanu. Berharap panggilannya segera dijawab, justru nada stasis yang terdengar di telinganya menandakan jika Keanu tengah berbicara dengan orang lain di seberang sana.


Mencoba bersabar sejenak, pria itu menghempaskan dirinya dan bersandar di kursi. Tapi gerakan-gerakan pada buku-buku jarinya yang saling bertatut benar-benar memperlihatkan jika ia sedang sangat gelisah. Detik berdetak terasa begitu lambat, membuat Haidar dengan tak sabar kemabali meraih telepon selulernya.


" Nyaris gila aku menunggumu bisa menyahut ". Begitulah yang meluncur dengan deras ketika pada akhirnya dari seberang sana terdengar sahutan dari Keanu.


" Lebih gila lagi yang mengahadapi impact sejoli gendeng macaam kalian. Hadeeeeeh .... lo' nggak tahu sih bagaimana jungkir-baliknya aku... ".


" Tunggu ! ", sela Haidar dengan cepat. " Sellma dan ananknya kau ikutkan juga ? ".


" Kalau nggak bawa-bawa mereka... kau pikir diajeng Hanin bakal mau ?. Dan kau tahu, aku baru saja dengan sukses membujuk Sellam agar bisa ikut, setelah membohongi Hanin terlebih dahulu. Untung saja Tuhan masih sangat menyayangiku ..... hadeeeeh ".


" kau bilang ini ide Ku ? ".


" Nggak lah !!! ", salak Keanu dengan cepat. " Kalau tahu ini idemu, dengan dalih apapun, aku yakin Hanin nggak akan mau ikut ". Suara Keanu terdengar meninggi, tapi berakhir dengan nada penuh kelegaan. " untung saja otakku mampu berpikir cepat, nggak mau rugi juga aku tuan boss ".


" Syukurlah... tapi kau yakin Hanin mau ikut ? ", tanya Haidar lagi.


" Fity-fity ... tergantung jawabanmu nanti. Atau tergantung kau berbicara dengannya. Sudah kau hubungi ? ".


" Dia yang menghubungi ku lebih dulu. Dan bilang ... 'nggak apa-apa 'kan kalau nggak ketemuan di Swiss ", tutur Haidar dengan meng-impersonate 'kan Hanin.


" Itu kode abaaaang.... 'elu harusnya tahu dong. Gadis itu butuh kepastian dari mu, kalau kau memang sangat mengharapkan kehadirannya ".


" Trus aku harus gimana dong ? ". Haidar terlihat konyol dan benar-benar tak paham.


" Hei ... pak dokter yang manajer... percuma dong kemampuan diatas rata-rata dari otak brilan mu. Maksimalkan !!! tapi kali ini gunakan juga kelembutan hatimu ".


" To The Point .... aku harus ngomong apa ? ".


" Oh My Godness............ ". Putus asa terdengar nada kata dari Keanu di seberang sana.


.............................


Hanin yang tadi masih menyandar sambil melihat lembutnya musim gugur di luara sana, kini terlonjak karena nada panggil dari benda di atas meja. Ia pun bergegas meraih telepon selulernya, sedikit berdehem, untuk kemudian .....

__ADS_1


" Halo .. ", sapanya dengan nada setenang yang ia bisa.


" Halo cantik, maaf lama ya nunggunya ".


Hanin tersipu sesaat, bukankah selalu begitu setiap kali ia mendengar sapaan manis itu. " Nggak kok, mas pasti sibuk ".


" Sebenarnya tidak mengapa jika Na' nggak bisa ke Swiss. Pasti sudah kangen banget ya sama ibu dan keluarga di Indonesia, aku tahu kok rasanya. Tapi ... bolehkan aku mencuri sedikit waktumu itu ?. Karena aku juga sangat rindu. Nania .... terlepas dari rasa nyaman untuk Sellma karena ada kehadiranmu, sesungguhnya aku juga sangat bahagia dengan semua ide bang Key ini. Kau tahu ?, aku nyaris gila dengan rasa kangen ini ".


Benarkah ?, tanya itu dengan spontan merebak memenuhi seluruh ruang perasaan di kalbu Hanin. Ia masih terdian saja karena belum menemukan kalimat yang tepat untuk disampaiakn pada Haidar yang pasti sedang menunggunya.


" Nania... jika kau bisa memberiku hadiah waktu, dua puluh empat jam saja ... tak mengapa, itu sangat cukup untukku ".


" Bagauman jika wakunya lebih panjang, tapi ketemunya di Indo saja. Sepertinya lebih nyaman ".


" Itu artinya kau menyiksaku tiga bulan lagi. Apa kau pikir aku akan sanggup ?, apa kau setega itu ? ".


Tidak ada sahutan untuk beberapa detik yang berdetak. Haidar merasakan relatviitas waktu berlangsung lebih lama ditempatnya berada. Suara hembusan nafas Hanin Hanania-nya terdengar lembut namum mampu memicu debur jantung yang berdebar menunjukan betapa ia tak sabar.


" Kau tidak setega itu'kan pada dhuafa cinta yang sedang merindu begini ? ".


Tawa dari seberang sana terdengar hangat dan mengalir menentramkan hati Haidar. Pria itu tersenyum penuh harapan indah. " Putri Anggrek Bulan yang cantik, hamba mohon belas kasihannya dooong .... ".


" Ih, norak, apaan sih ", masih dengan derai tawa yang mengalir dengan ritme menyenangkan di telinga Haidar, begitulah Hanin menjawabnya. " Yakin cuma dua puluh empat jam ? ".


" Okay .... deal sampai ketemu di Swiss, dua puluh empat jam saja ya ... ".


" Siaaap cantiiiiik. See you ... luv you... ". Dan Haidar masih sempat mendengar derai-derai tawa dari seberang sana sebelum ia benar-benar mengakhiri panggilan itu.


" Yes !! ", pemuda itu bersorak girang, menghempaskan tubuhnya penuh kelegaan. Mengeplkan kedua tangannya penuh kemenangan dan tersenyum-senyum bahagia. Seorang pria yang menanti dua puluh empat jamnya yang begitu berharga. Pria yang sedang dimabuk cinta.


.....................


Di dunia ini, ada orang yang mungkin terlahir dengan membawa bakat sebagai malaikat cinta. Yang bisa menjembatani du hati, yang bisa menjadi katalisator untuk sebuah proses fusi dan fisi kasih sayang dua insan. Setidaknya seperti itulah yang dipikirkan oleh Keanu tentang arti keberadaannya saat ini.


Sambil mendengarkan dan juga menanggapi celoteh riang dari si kecil bermata malaikat, Leisel. Keanu bolehlah merasa bangga dengan pencapainnya kini. Seluruh liburan yang ia rencanakan dengan sangat mendadak dan serba tergesa-gesa, nyaris tanpa persiapan sama sekali, tapi sungguh memuaskan hasilnya. Paling tidak goals nya sudah terpenuhi ... menculik sang putri. Haaaiiis.... dasar abang Key.


" Acara apa ?, bagaimana bisa ?... ah aku tidak mampu kalau seperti itu. Kau tahu 'kan keuangan ku. Ah tidak.. tidak.. jangan! itu terlalu merepotkanmu ".


Sederet penolakan itu disampaikan Sellma saat Keanu dengan tergesa-gesa menghubungi dua hari yang lalu. Tapi mulut iblis Keanu yang manis pada akhirnya mampu meyakinkan seorang Sellma yang lembut. Dengan dalih demi menautkan dua hati, demi Hanin yang juga sangat disayangi Sellma. Tapi sebenarnya demi dirinya juga, paling tidak apa yang terjadi harus menguntungkan semua pihak. Ehm !!.. maksud pihaknya dan Haidar tentu. Padahal di dunia ini penuh dengan variabel eror loh bang Key ....

__ADS_1


" Aku mau punya ayah seperti uncle Key ", bisik si kecil Leil sambil bersandar manja pada Keanu. Membuat hidung pria bermata sipit langsung mekar dua ratus persen.


" So, minta sama Tuhan ya. Juga bujuk mamah Leil biar uncle boleh jadi ayahnya Leil ", balas Keanu dengan berbisik pula.


Maka terjadilah kesepakatan manis antara dua insan itu. Saling menautkan jari kelingking, yang satu begitu mungil dan yang satu begitu besar namun terlihat sangat hangat pertautannya. Keanu dan Leisel yang duduk bersebelahan saling tertawa terkikik.


" Hei, ada konspirasi apa kalian berdua ? ", sela Hanin dengan sedikit galak pada dua orang yang duduk di kursi di depannya. Ia duduk asyik mengobrol dengan Sellma, tapi tak luput mematai gerak-gerik dua orang beda usia yang nampak begitu harmonis itu.


" Rahasia tante Hanin .. ", Leil menjawab sambil terkikik. " Cuma buat Leil sama uncle saja ".


" Awas ya, tante nanti ngambek loh ". Tapi ancaman Hanin tak berimbas apapun, justru menambah ceria tawa si kecil Leisel yang di dukung oleh uncle Keanu tersayangnya


Waktu di dalam burung besi yang memangkas jarak antara Berlin dengan Zurich hanya sekitar sembilan puluh menit. Cukup lama dirasakan oleh Hanin, namun cukup singkat dirasakan oleh Keanu. Begitulah cinta membolak-balikan teori relativitas, mengacaukan dimensi perasaan serta ruang dan waktu. padahal Hanin tahu betul, ia baru bisa bertemu dengan mas Haidar -nya keesokan hari. Lamaaaa.... ya cantik. Hadeeeh..... cinta, kok begini amat ya. Padahal kemarin sok ogah, sekarang bikin hati nggak tabah.


Ketika pesawat yang mereka tumpangi telah dengan selamat mendarat di Zurich International Airpot, waktu masih membuat mereka menunggu untuk proses imigrasi dan bagasi. Kali ini Hanin memilih menemani Leil yang sibuk bertanya ini itu, sedangkan Keanu dan Sellma sibuk dengan antrian untuk barang bawaan mereka.


" Kau kasih lah aku kesempatan untuk menunjukan betapa perkasa dan bertanggung jawabnya aku ", begitu bisik Keanu sesaat setelah mereka turun dari pesawat.


" Cemungud abaaaaang .... ", goda Hanin sambil berlari kecil mengejar Leil dan melewati Keanu yang tampak begitu bersusah payah untuk tetap kelihatan cool dihadapan Selma walaupun jelas ia panik, repot dan juga mulai frustasi.


Untung saja serombongan wisatawan dari Denmark yang juga ikut mengular bersama antrian mereka pada akhirnya terkikis habis juga. Bertepatan dengan mendekatnya Leisel seraya mengulurkan tangan kecilnya yang membawa sebotol jus buah segar. Senyuman manis bak bidadari kecil itu terasa seperti angin segar yang membelai lembut jiwa seorang Keanu. Ketika ia sedang merasa syahdu menikmati semua hal itu ....


" Yeee.... bapak porter stasiun, hebaaat .... ", wajah konyol Hanin langsung merusak segalanya. Gadis itu tergelak-gelak, begitu menikmati kekesalan yang berhasil dipancing dari diri Keanu.


" Sableng !!!... lo' pikir ini di Senen ", Keanu geram seolah menyalak.


Tapi Hanin tidak peduli dengan hal itu, ia malah tertawa riang sambil memeluk Leisel dan bermain-main dengan si kecil yang cantik itu. Sementara itu Sellma memperhatikan Hanin dan Keanu yang terlihat saling memanfaatkan kesempatan untuk menindas. Tapi sebenarnya wanita itu mengalami lost in translation, sempat ia melirik Keanu untuk bisa sedikit mendapat penjelasan.


" Setelah ini dia akan terdiam, seperti tersangka yang dihadapkan dengan barang bukti ", gumam Keanu namun cukup keras untuk bisa di dengar oleh Sellma.


" Kalian sedang merencanakan sesuatu yang nakal rupanya ", ujar Sellma sambil mengikuti langkah Keanu yang mendorong tumpukan koper dengan troli.


" Setidaknya sesuat yang indah, yang akan membuat pipi gadis itu merona seprti buah persik. Dan tubuhnya kan segera mengkaku seperti terkena semen. Biarkan saja dia tertawa seperti itu sekarang ".


" Dan kami berdua kau masukan dalam rencana nakal itu, sungguh keterlaluan ", Sellma menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan sambil mengulas senyuman.  "  Untuk yang kali ini aku setuju kok ".


" Dia, kau dan juga Leil berhak untuk bahagia. Bukankah sudah cukup lama kau tidak melihat seorang Hanin tersenyum dan tertawa lepas seperti itu ? ".


" Yah ... dulu yang kulihat hanya wajahnya yang pucat penuh kewaspadaan, senyuman kecil yang dipaksakan, dan hati yang begitu terluka. Semoga yang kali ini benar-benar malaikat cinta nya ya . Semoga dia segera bahagia ".

__ADS_1


" Tidak hanya Hanin.... kau juga harus segera bahagia Sellma ". Gerakan tangan Keanu perlahan dan tidak kentara menyentuh sekilas jemari Selma yang ikut membantunya mendorong troli. " Kau dan juga Leisel .... kalian juga harus segera berbahagia ".


Lalu sepasang mata itu beradu pandang, sesaat namun sangat bermakna. Keanu dapat menyampaikan ketulusan sesungguhnya, dan Sellma tersipu ketika sepasang mata kelam itu dengan telak menembus perasaannya. Dan sentuhan sekilas jemari yang hangat seperti menyampaiakan sejuta getaran penuh makna. Hati perempuan itu tba-tiba menghangat, berbanding terbalik dengan hembusan angin musim gugur yang mulai mengigit urat benua biru itu.


__ADS_2