
" Memang sih belum genap satu tahun kita saling mengenal, tapi sebagian isi hatimu sih aku sudah tahu banget. Pasti kamu butuh privacy, secara 'kan abang boss yang sibuk dan juga pasti asyik tuh kalau ada yang nemenin tanpa ada yang gangguin.. hi..hi..hi ..".
Keanu nyerocos seperti biasa, kali ini sambil membantu Haidar membawa koper dan aneka dokumen yang sudah sempat di gelar pria itu. Ternyata abang Key yang ganteng itu sudah mempersiapkan satukamar khusus untuk Haidar. Tentu saja !, ingat 'kan ? transferan Haidar untuk dana akomodasi modus hati mereka ?. Haidar yang malam itu sudah mulaikembali berkutat dengan pekerjaannya sedikit bersungut-sungut juga.
" Nggak ngomong dari tadi ".
" Halaaah ... tinggal naik lift lagi, satu lantai .. dah sampai. Lagian, kalau nggak satu lantai dengan kita juga pasti lebih nyaman 'kan?. Mana tahu ada yang mau diajak bobok bareng ...hi..hi..hi.. ".
" Maksudmu ? ". Haidar mendelik pada si sontoloyo ganteng yang terlalu sibuk menebar kebahagiaan dengan aksi nyengir kudanya.
" Ya masa' aku sih bang bro. Atau memang sebenarnya pingin aku yang ngelonin kamu ?. Boleeeeh ... aduh !!!". Karena satu jitakan mendarat tepat di pelipis si raja absurd itu.
" Ide elo' ini nggak bakal aku terima seandainya besok pagi nggak ada kiriman pasukan dari papah. Haiiiis ... yang pernah muda juga nggak paham kalo' anaknya lagi berjuang mengejar cinta. Malah ditambahin beban kerjaan ".
Haidar menggerutu dengan muka yangmasih memerah karena pilegnya. Tentu karena pesan singkat padat dan jelas dari Mandala yang mengabarkan ada perubahan strategi dan rencana, dan besok pagi-pagi akan ada support team yang datang membantu Haidar. Membantu bisnis dan kerjaan sih iya, tapi mengacaukan seluruh rencana indah yang sudah di susun pria muda itu.
" Halaah, sok menderita banget sih ‘lo. Kan tinggal bilang aja sama dedek Hanin…. sayang maukah kau mendukungku?, baik di kasur atau bagi-bagi brosur ... beres ".
“ What ?! … gendheng!!!. Lo’ pikir Hanin itu apaan, bagi-bagi brosur … “. Haidar mendelik kesal sementara Keanu semakin terlihat puas dengan penderitaan teman sulatannya ini.
“ Biar pas aja rima nya… “, jawab Keanu asal.
" Pada mau kemana ? ". Secara mengejutkan si topik pembicaraan yang cantik, tiba-tiba berada tepat di belakang duo absurd yang sedang menunggu lift terbuka. Kontan saja wajah keduanya seperti tersengat arus tegangan tinggi.
Hanin dan Sellma yang menggendong sikecil Leil, dua wanita itu begitu keheranan melihat keterkejutan di wajah dua pemuda itu. Dengan pandangan menyelidik khas perempuan, Hanin mulai menikam Haidar dan Keanu dengan tatapan menginterogasi.
“ Rencana apa lagi yang kalian sembunyikan dari ku ? “.
“ Aa.. ituuu… “, Keanu tergergap sambil menyikut Haidar.
“ Uncle mau pergi?, tidak mengajak aku dan mama ? “, tiba-tiba si kecil Leil merengek manja.
“ Oh no, no sayang … ini uncle hanya membantu uncle tampan ini pindah kamar. Dia sedang sakit, jadi harus tidur di kamar yang berbeda, biar nggak menularkan penyakitnya “.
Masuk akal sih apa yang disampaikan Keanu sebagai jawaban. Tapi Hanin masih menatap Haidar tanpa mengendurkan sedikitpun level kecurigaannya. Serasa sedang di lucuti sang istri ya mas Haidar ?.
“ Iya Na’, dan aku memang butuh kamar yang cukup besar yang ada ruang rapat kecilnya. Papa mengirim tim besok pagi-pagi sekali. Ehm … ada perubahan rencana … “.
“ Oh, okay .. “, sahut Hanin dengan cepat.
“ O’ okay ? “, Haidar justru membeo dengan kebingungan.
“ Lah ini kalian mau kemana ? … maksudku kalian mau kemana ? “, Keanu mengulang pertanyaannya dengan bahasa Jerman begitu memahami Sellma sudah mulai kebingungan.
“ Leil merengek minta bertemu dengan mu, dia mau jalan-jalan. Nap nya tadi lumayan lama… mungkin dia mau ngajak lembur juga malam ini “, sambar Hanin yang memahami raut wajah sungkan dari Sellma. “ Uncle Key mau temani kami jalan-jalan ? “.
Mungkin inilah yang disebut dengan angin surga, kesempatan emas atau apalah yang artinya menguntungkan, terutama bagi Keanu. Wajah pemuda sekita menjadi sangat bersemangat. Dengan sigap ia menyerahkan pegangan koper pada Hanin, lalu mengambil alih Leil dari gendongan ibunya. Dan semua itu bertepatan dengan membukanya pintu lift.
“ Kalau begitu kita bagi tugas, aku temani peri kecil ini. Dan kau ‘Nin .. babang tamvan ini sangat butuh bantuanmu
sekarang. Ayo Sellma …. “.
Sellma menurut saja saat Keanu menarik tangnnya, membuat wanita itu ikut masuk ke dalam lift, walaupun masih
dengan raut wajah kebingungan yang belum memudar.
“ Hai kalian!, sampai kapan mau mematung seperti itu ? “.
__ADS_1
Dan seruan Keanu yang berjarak tidak lebih dari dua meter itu cukup sukses membuat Haidar dan Hanin tersentak. Lalu dengan terburu-buru mengukuti Keanu yang sudah tampak seatle dengan Leisel di gendongannya, dan Sellma yang tak ia lepasakan dari gandengan.
“ Haaaiis…. Kebanyakan mikir kalian. Langsung eksyen aja ngapa ? “.
Sungguh, Haidar sangat ingin menjitak pria bermata sipit itu yang sangat minim kemampuan mengontrol bibir lemes’nya. Tapi kalau dipikir-pikir, ia juga yang diuntungkan. Jadi mungkin tepatnya bukan jitakan kali ya, tapi kado kecil sebagai ungkapan terimaksih.
………………………………
Café Kid, bisnis ini sepertinya mulai marak dan mulai populer di berbagai negara dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya sudah cukup tinggi. Perpaduan antara arena bermain dengan bisnis kuliner indoor yang nyaman dan menyenangkan. Tidak hanya untuk pengunjung café yang notabeme adalah anak-anak kecil, tapi juga untuk pengasuh atau orang tua yang mengantar. Dan di sinilah sekarang Keanu berada, menemani Leisel yang sedang melakukan perjamuan minum teh ala orang Inggris.
Setelah tadi si bocah perempuan bermata biru yang cantik itu tertawa lepas dan menjerit-jerit kegirangan saat Keanu membawanya di area trampoline land. Lalu mengajak si kecil itu bertualangseolah menjadi spiderman yang menyebrang menggunakan tali. Kini Keanu harus duduk manis dan mengobrol dengan santai menghadiri jamuan princes Leisel.
Ya gitu bang kalau sama anak perempuan. Bentar lagi juga bakal jadi kelinci peragaan di salon dadakan. hi..hi..hi..hi…
“ Oh lovely mr. Key, roti ini sangat enak. Kau mau tambah lagi ?. Ah aku memaksa “, celoteh Leisel dengan riangnya.
Dan Keanu pun bergaya sangat imut saat Leisel pura-pura menuangkan kembali the dari teko ke cangkir yang sedang di pegangnya dengan menggunkan ujung ibu jari dan jari telunjuknya. Lihatlah bagaimana berkali-kali Sellma terkikik geli, sepertinya Keanu sukses besar kali ini.
Tiba-tiba serombongan gadis-gadis kecil yang mungkin seumuran anak-anak sekolah dasar kelas tiga atau empat
terlihat menghampiri. Mereka menyapa dan memuji kecantikan Leisel dalam bahasa Prancis yang kurang dipahami Keanu. Tapi tidak demikian dengan Sellma. Anak-anak itu kemudian meminta ijin untuk mengajak Leisel bermain salon-salonan dan menjadikan bocah itu sebagai model.
Sellma menanyakan kesedian Leisel, yang ternyata sangat antusias mengikuti kakak-kakak itu. Tak berapa lama
kemudian, nampak Leil sudah duduk di depan cermin miniature salon kecantikan bersama para kakak-kakak barunya. Sementara itu Keanu dan Sellma tak lepas mengawasi dengan tetap duduk di areana perjamuan teh sebelumnya.
” Kira-kira apa yang sedang terjadi dengan mereka ?, Haidar dan Hanin maksudku “, tanya Sellma kemudian. “ Masudku … apa permasalahan mereka sudah beres ?, tadi keduanya terlihat sedang terlibat masalah cukup serius “.
Keanu tertawa dan menoleh menatap Sellma. “ Hei.. mereka sedang tidak bertengkar kok, hanya canggung satu sama lain. Dan aku memperkeruh suasananya, ehm … maksudku sih membuat romnasa. Hanya saja keduanya terlalu naïf “.
“ Ah kau ini, cupid yang nakal “, Sellma ikut tertawa. “
Hanin “.
“ Semoga saja. Kau tahu ?, Haidar sudah suka dengan Hanin sejak gadis itu masih duduk di bangku sekolah menengah pertama “.
“ Oy ya ? “, sepasang mata Sellma terbelalak seiring merekahnya sebuah senyuman. “ Lalu takdir mempertemukan mereka kembali di sini “.
“ Haidar yang menunggu bertahun-tahun dan juga mencarinya hingga ke Jerman. Pria itu sempat memtuskan untuk menyerah, tapi begitu mengetahui kisah sedih Hanin di Jerman…. Ia berjanji untuk mendapatkan cinta gadis itu
lagi, utuh “.
“ Ah indahnya …. “, sepasang mata Sellma berbinar indah. Keanu tersenyum melihatnya, pria itu menatap iris
biru seteduh lautan itu.
“ Sellma … “.
“ Ya “, Sellma menyahut cepat.
“ Aku jatuh cinta … “, setengah berbisik tapi terdengar cukup jelas untuk Sellma. “ Bolehkah ? “.
Ibu muda itu terdiam, tubuhnya menjadi kaku, bahkan ia merasa kesulitan untuk bernafas. Sikapnya berubah menjadi waspada pada pria di sebelahnya yang kini nampak tersenyum lembut. Tiba-tiba saja Sellma merasa mual ketika mendengar pernyataan itu.
" Pada malaikat kecil tercantik yang pernah kutemui.... ". Keanu melanjutakan kalimatnya sambil melempar pandang pada si kecil Leisel.
Sellma tiba-tiba saja merasakan ada aliran udara hangat yang membelai dan mulai memudarkan rasa sesak dan juga mual yang tadi menyerangnya. Tatapan pria begitu lembut dan hangat, begitu juga sikapnya pada Leisel. Bukannya ia tidak memperhatikan, tapi ia berusaha mengabaikan. Karena luka hatinya belumlah sembuh benar.
__ADS_1
" Aku mulai jatuh cinta padanya, saat dengan lugu ia memintaku jadi ayahnya. Bolehkah ? ".
Dan Keanu menatap tepat ke dalam iris biru yang mempesona milik Sellma. Membuat wanita yang sesaat tadi sudah merasakan kelegaan, kini kembali tersentak. Tapi entah mengapa hatinya seperti membumbung tinggi, mengangkasa dan menari diantara mega-mega.
....................................
Mengekori pria gagah yang nampak tak kerepotan dengan koper dan juga beberapa file dan entah apa lagi isi tas kerja yang juga terlihat pasrah dalam tentengan, Hanin sebenarnya merasa sungkan. Dan suasana di dalam lift yang membawa mereka berdua naik satu tingkat saja, serasa seperti menyusuri lorong panjang. Hanin memilih berdiri sedikit di belakang, ia terlalu takut jika harus berjajar karena degup jantungnya yang tak beraturan itu pasti akan terdengar cukup jelas oleh Haidar.
" Bisa bawakan sebentar ? ", tanya Haidar mengagetkan Hanin yang sejak tadi membisu. Pria itu tersenyum serya memberikan beberapa bawaan di tangan kanannya tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu.
Alamak ... tenyata lumayan berat juga tas kerja dan dokumen-dokumen ini, tapi kenapa seperti bulu saat pria itu yang menentengnya. Hanin agak terkejut dengan bobot yang tak pernah diperkirakannya. Sementara itu Haidar telah membuka pintu kamar dan membuat gesture yang menyenangkan untuk mempersilahkan Hanin segera masuk.
Woouuw .... Presidential Suit, Hanin mendecak saat kakinya mulai menapakkan di ruangan yang cukup luas lengkap dengan kursi tamu elegan dan aneka interior yang tentu saja terbaik. Hanin meletakan titipan bawaan Haidar yang cukup berat itu dengan hati-hati di atas sebuah meja. Tapi kakinya masih saja terasa berat walaupun untuk sedikit berkeliling saja.
" Mau membantuku lagi ?. sepertinya lemariku butuh sentuhan wanita ". Haidar menyembulkan wajahnya dari pintu ruang tidur yang terbuka.
" Oh .. ", sejenak Hanin nampak kebingungan. " Ya ", tapi akhirnya kembali terhipnotis dengan pinta yang pria yang terdengar sangat manis.
" Rasanya seperti sudah menjadi istriku, melihatmu seperti ini ". Haidar mungkin mencoba menacairkan suasana, tapi sepertinya ia kurang memahami perasaan seorang wanita yang kini justru nampak begitu canggung.
Hanin menelan ludahnya, ia tercekat. Berpura-pura baik-baik saja sambil terus menggantung setelan dan beberapa potong baju formal milik Haidar. Hidungnya saja sudah cukup grogi saat membaui wangi yang membuat hatinya kebat-kebit tidak karuan itu. Malah ditambah perumpamaan yang menyenangkan oleh Haidar, tentu saja koloid darahnya serasa lebih encer jadinya, kontan meleleh absolut berimbas pada persendiannya yang terasa lemas.
" Kau tidak akan kembali ke Jerman lagi 'kan ?, maksudku untuk bekerja dan menetap di sana ? ". Tanya Haidar kemudian begitu menyadari kecanggungan Hanin.
" Aku dapat pekerjaan bagus di Bogor. Jadi saus chef sih... tapi mungkin bisa jadi awal yang bagus ".
" Tidak berniat mendirikan tempat usaha sendiri ? ".
" Survei pasar dulu, cari pengalaman dulu, kumpulin modal dulu ... baru bertempur kemudian ".
" Kurang tuh ", sela Haidar yang membuat Hanin menoleh cepat padanya.
" Hah, apanya ? ". Kedua bola mata Hanin yang sudah bulat itu membelalak, terlihat penuh semangat.
" Prosesnya lah. Ada satu part yang kau lewati... harusnya, bersuami dulu ... he..he..he.. ".
Haidar... please deh!. Tak kau lihat bagaimana Hanin tiba-tiba menjadi halu kembali. Padahal tadi itu topik pembicaraanmu sudah cukup pas untuk mencairkan suasana. Tapi kayaknya kau sengaja ya ?,
" Kata mamahku, jika langkah seorang wanita itu akan selalu terberkahi manakala sudah mendapatkan ridho suami. Bayangkan, kau punya ibu yang meridhoi mu ditambah punya suami yang juga meridhoi mu juga. Bgaimana mungkin kau tak bisa mengenggam seisi dunia ? ".
Hanin tadi sempat berfikir jika mas Haidar nya ini mengoda saja. Tapi setelah ia mendengar penuturan panjang lebar itu, ia merasa si mas ganteng ini memang benar-benar sedang memberikan masukan yang cukup bagus untuk dipertimbangkan.
" Dan lagi, jika sudah ada seorang suami... pasti kau akan merasa lebih aman dan nyaman ".
Gerakan itu perlahan, lembut namun mengunci dengan pasti. Haidar menggiring Hanin Hanania untuk menghadap ke arahnya, memaksa dengan lembut agar gadis itu mau menyelami jiwanya. Menyelaraskan nafas, menautkan sinar mata yang menuturkan kejujuran, seolah tengah membisikan sebuah rencana indah.
" Ada lengan yang akan memelukmu ... ". Haidar bergerak perlahan mendekat dengan kelembutannya yang membuat Hanin tak bergeming. " Seperti ini ... ".
Jantungnya berdegup seolah bergemuruh, tapi ia pun sungguh tak mampu menolak segala pesona pria gagah yang kini kembali merengkuhnya. Hanin masih membuka mata ketika perlahan wajahnya kembali terbenam di kehangatan dada yang bidang milik Haidar.
" Ada yang hati yang selalu memohonkan kebahagianmu ". Bisik Haidar sebelum ia mengangkat wajah Hanin dengan ujung jemarinya. Membuat gadis itu kembali menatapnya. " Ada pria yang akan mengkhawatirkan mu ... ".
Wajah tampan itu mendekat perlahan, menghembuskan hawa hangat yang nyaris panas membelai kulit wajahnya. Hanin tercekat dalam kepanikan yang nikmat, ia tak dapat lari menjauh. Yang bisa dilakukannya kemudian hanya berpasrah seraya menanti dan memejamkan mata.
Cantik dan menggemaskan, lihatlah bagaimana wanita ini begitu gugup. Tapi kini ia terperjam seolah menanti. Haidar tersenyum kecil, sementara hatinya sendiri juga tak menentu untuk mengambil keputusan. Tapi sungguh, ia hanyalah seorang pria dengan hawa nafsunya. Yang mungkin juga tak mampu mempertahankan kewarasannya sendiri. Pilihan ada di tangan mu mas gagah ....
" Ada yang akan melindungimu dengan segenap jiwa..... ". Dan Haidar memilih mendaratkan bibirnya dengan lembut, menyapu kening Nania tersayangnya. " ... hati dan nyawanya ".
__ADS_1
Di luar sana, malam musim gugur seolah bernyanyi. Seperti tengah merayakan bersatunya dua hati. Dan menyampaikan pesan tentang cinta dan kebahagiaan.
.......................