
'Andai aku bisa menyembunyikan kepalaku, dengan memasukannya kedalam kerah baju seperti kura-kura yang bersembunyi dalam cangkangnya... aku pasti sudah melakukannya dari tadi. Haduuuuh ... sayang sekali aku manusia. Tapi pasti sekarang wajahku semerah udang rebus sebelum di balur dengan saus mentega yang gurih itu. Lalu aku harus bagaimana? mendorongnya?.... alamaaak... mengangkat wajah saja aku tak mampu. Maluuuuu...., tapi sampai kapan aku harus menyembunyikan wajah ini di dadanya '.
Begitulah Hanin yang sedang memarahi dirinya sendiri. Rasa malu membuat seluruh tulang ditubuhnya seperti terlolosi satu persatu. Menyebabkan ia seperti spons basah yang hanya mampu bersandar. Merasakan bagaimana liat dan kerasnya sebidang dada yang tegap itu. Degupan jantung pria itu bahkan bisa terasa dengan nyata, seperti mengetuk-ngetuk pintu hatinya.
" Aku berangkat ya... jangan nangis lagi. Kalau ada yang menganggu mu lagi... bilang saja. Aku akan menghajarnya ".
'Demi apa ini ... tolonglah aku Tuhan. Aku harus bagaimana, suaranya kenapa terdengar seperti gemerinting lonceng yang menenangkan jiwaku. Bukankah aku harus mendorongnya segera, mengucapakan maaf dan juga berterimakasih. Tapi kenapa aku hanya diam seperti orang tolol'.
" Kau baik-baik saja ' Na ? ".
" Ah ... ya.. ya.. ma-maaf mas Haidar ... maaf ...".
" Aku berangkat ya ... ".
' Bukankah itu senyum terindah di pagi ini. Kehangatannya seperti menyusup perlahan dan terus membelai hatiku. Ah.... dream come true, akhirnya aku mempunyai seorang kakak lelaki yang tampan. Ya... dia, dia hanyalah kakak yang menyayangi adiknya. Tidak jauh berbeda dengan dulu, dia selalu memperlakukanku dengan lembut dan baik'.
" Ini ... pasti aku habiskan. Heem harumnya, terimakasih banyak ya ". Dan Hidung pria itu terlihat kembang-kempis. Tapi sebelum ia melangkah pergi, kembali ia menoleh.
" Pernah ke Heidelberg ? ". Ia tertawa saat yang ditanya menggeleng pelan, " Kapan-kapan kau harus ikut denganku ... kata Audrey dan Dirga pemandangan tepi sungai Neckar dengan kastil di atas bukit itu sangat indah ".
Akhirnya perlahan Haidar sedikit demi sedikit menjauhkan tubuh Nania-nya, agar dia bisa menatap wajah seputih mutiara itu. " Kau harus ikut dengan ku kapan-kapan ... temani aku berwisata, janji ? ".
" Insyaallah .... jika aku ada kesempatan ".
Kemudian keduanya telah benar-benar saling menjauh. Hanin begitu sepenuhnya terlepas dari kungkungan hangat lengan Haidar, mundur sedikit dengan perlahan. Sementara pria itu setelah meninggalkan senyuman yang..... ehm! ... menawan, pun segera berbalik. Berjalan dengan sedikit tergesa menuju electronik gate.
Hanin memperhatikan dalam diam, bagaimana si bahu lebar dan kekar itu berjalan menjauh. Ia sangat tinggi untuk ukuran pria sebangsanya, cukup tinggi juga untuk orang di negara ini. Seandainya dia tidak berambut hitam legam dan kulitnya juga tidak sawo matang, pastilah dia akan begitu mudah berkamuflase menjadi penduduk pribumi negeri ini.
Hanin masih tetap menunggu pria itu, setidaknya sampai bayangan tubuhnya menghilang. Apakah ia berharap pria itu akan menoleh sekali lagi saja padanya?. Ah tentu saja tidak, ia hanya merasa sedikit lebih lega jika bisa melihat pria itu menghilang sepenuhnya.
Sementara Haidar, tiba-tiba saja hatinya terasa seperti tertusuk angin dingin. Sebenarnya ia sudah sejak beberapa saat tadi merasakannya. Tepatnya sesaat begitu ia sedikit menjauhkan tubuh Nania dari dadanya. Apakah ia begitu merasa kehilangan keintiman itu.
Oh ...my God, hei bro.... , What do you think ? Why are you so perverted?. Haidar memaki dirinya sendiri yang berkelana dengan naluri alamiah nya.
Tapi kemudian ia memutuskan untuk menoleh, dengan tidak berharap banyak. Hanya untuk melegakan hatinya saja. Memastikan si bening itu sudah tidak ada lagi ditempatnya. Dan ia akan segera pergi dengan segenggam harapan. Ia pun mengambil jeda waktu dari antrian, untuk menoleh.
Sementara itu Hanin sedikit terkejut, ia tak menyangka jika pria itu akan menoleh untuk melihatnya kembali. Dengan sedikit gugup ia melambaikan tangannya, dan mengulas sipu menjadi senyum.
'Ah .... semoga dia tidak salah paham dengan ku, selama jalan kakak'. Kembali Hanin mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Tapi tidak dengan Haidar, senyuman menawannya kembali terkembang begitu lebar. Bahkan saat berbalik dan dengan tergesa berjalan menuju peron beratap kaca serupa Doom yang megah itu, ia mengepalkan tangannya penuh semangat. Yes.... pekiknya dalam diam. Rupanya ia memenangkan jack pot besar hari ini.
Waah ...... selamat ya mas Haidar. Tapi bisa minta tolong sedikit kurangi senyuman-senyuman itu. Banyak yang salah sangka tuh. Seperti dua orang gadis yang duduk di bangku sebelah kanan mu. Lihat ... mereka jadi salting, dikiranya kau menggoda mereka. Tentu saja mereka begitu, kau itu cukup tampan loh.
Tapi Haidar tidak ambil pusing dengan tanggapan orang-orang yang melihatnya. Ia tetap saja duduk dengan nyaman, menikmati sajian sarapan pagi spesialnya. Padahal kereta baru saja mulai berjalan. Tapi Haidar benar-benar tak mau kehilangan momen indahnya bersama Nania-ny. Walaupun kini cukup diwakilkan dengan kehadiran bretzel dan garlic bread ini saja.
'Ini enaaaak sekali ... apa karena kau yang membuatnya ?. Aku suka kue-kue mu ... aku lebih suka lagi dirimu '.
__ADS_1
................
Masih di hari Minggu, tapi kini bergeser ke daerah khatulistiwa. Dimana matahari sangat hangat dan cerah meninggalkan pagi yang ceria. Saat itu Cinta baru saja turun dari boncengan motor yang dikendarai pak Yanto, tukang kebun kepercayaan keluarga Arjuna. Turun tepat di depan pintu gerbang rumah keluarga om dan tantenya. Bersamaan dengan hendak keluarganya pasangan mesra sepanjang abad, siapa lagi kalau bukan Om Mandala dan Tante Orlin-nya.
" Loh ... jalan kaki nih ? ", tanya Orlin yang langsung membuka jendela mobilnya.
" He.. he... nebeng pak Yanto 'te. Pada mau kemana nih ? ".
" Nganterin yang mau reunian sayang ". Itu adalah suara Om nya yang gokil abis. Mandala terlihat cengar-cengir. " Ada yang mau ketemu mantan terindah nih ".
Tentu saja Cinta menjadi tertawa. Karena ia tahu betul bagaimana kisah cinta Tante tercantiknya itu. Bagaimana pria dengan rambut yang mulai memutih ini adalah orang pertama dan pastinya yang terakhir dalam romansa tante Orlin.
" Pepet terus Om .... jangan sampai ada ce'ek'be'ka' ... ", tentu saja Cinta hanya berbalas bercanda saja.
" Hush !!! koq malah ketularan sableng sih. Sudah janjian dengan Namu ".
" Belum Tante ... ada dia ?. Ditelpon dari tadi pagi nggak diangkat ". Cinta setengah mengadu sambil menggerutu.
" Dari pagi mainan barbel sana treadmill... ini tadi baru nyemplung ", kata Orlin. " Kami berangkat dulu ya Cinta ".
" Ya tant ... bye... ".
Setelah saling melambai, akhirnya Cinta pun berjalan masuk ke pekarangan rumah om dan tantenya. Melalui halaman samping, melintasi ruang tengah lalu menuju arah belakang menyeberangi halaman yang ditumbuhi rumput hijau tebal namun terawat. Dari tempat ini ia langsung bisa mendengar suara kecipak air. Sepasang matanya juga menatap sosok yang punggungnya nampak timbul tenggelam dengan teratur, sedang berenang memutari kolam berbentuk oval ini. Lalu Cinta memilih duduk disebuah kursi dengan santai, menunggu seseorang itu selesai mengitari kolam nya.
" Hai ... ", akhirnya yang ditunggu pun sadar. " Satu putaran lagi ya ", tapi kembali meluncur membelah permukaan air.
" Nyusul sini ...".
" Nggak ... aku sudah mandi ", tolak gadis itu dengan cepat.
" Halah !!! ... ayo... ", dengan sengaja Namu membuat air itu meluncur kearah Cinta dengan gerakan tangannya.
" Kak ... ish... aku sudah mandi koq " . Cinta berteriak kesal sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan.
" Kalau aku minta ditemani ... gimana ? ", pancing Namu seraya naik ke permukaan dan mulai berjalan mendekat.
" Stop !!!! jangan macam-macam ya ...", Cinta langsung memasang mode galak.
Membuat Namu tergelak, tapi tetap mendekat. Lalu dengan sigap meraih tubuh wanita itu dan bersiap akan menceburkan diri dengan masih tetap menggendongnya. Ketika kemudian suara lengkingan Cinta membuat langkahnya langsung terhenti.
" Aku menstruasi ... ".
" Oh .. ", hanya begitu dengan ekspresi tololnya yang keluar di wajah Namu.
" Turunkan aku cepat ... ih ". Masih dengan sebalnya Cinta menghardik Namu. " Kau membuat baju basah ".
" Oh sorry ... ", akhirnya Namu memenuhi permintaan Cinta.
__ADS_1
" Dari pagi aku menelpon mu ... kau seperti nggak punya telinga ".
" Maaf .... aku berkebun, lalu fitnes. HP ku taruh di kamar ".
" Raka menelpon, Haidar juga ... akhirnya mereka memintaku untuk melihat mu ", masih dengan ekspresi kesal Cinta mengucapkannya.
" I'm so sorry .... ". Namu yang masih berdiri dengan tubuh basahnya tiba-tiba meluk Cinta.
" Basaaaaaah .... ihhh ", tentu saja Cinta segera meronta dan menepis kedua lengan Namu.
Tapi pemuda itu tertawa, lalu berlalu masuk ke dalam rumah tak mengindahkan Cinta yang bersungut-sungut.
" Aku mandi dulu ya... tunggu sebentar. Oh ya... aku lapar nih. Bisa pesankan sesuatu ? ".
Cinta mendecih, masih sambil mengibas-kibaskan blous warna nila yang berbahan tipis itu. Sialan .... makinya, saat melihat bagian basah blouse itu tepat di daerah berbahaya yang akan bisa memicu ledakan seorang pria. Cinta mendekap dadanya yang kini tercetak dengan lekuk menawan karena kain yang basah.
Arghh... Cinta mengerang frustasi. Kondisinya saat ini sangat cukup untuk memicu bahaya. Karena semenjak hatinya dan hati Namu saling terbuka, acap kali hal-hal yang dulu adalah biasa, dalam waktu cepat akan berubah seratus delapan puluh derajat menjadi situasi bahaya yang menyenangkan dan melenakan.
Sosok Namu yang dulu dikenalnya sebagai sosok seorang kakak yang sedikit pendiam, sangat melindungi dan juga alim. Akhir-akhir ini berubah menjadi sosok pria dengan ketahanan diri di posisi paling rendah. Apapun yang dilakukannya selalu berakhir dengan dorongan posesif dari Namu. Yang membuatnya terperangkap dengan nafas memburu dan tersengal, sementara kedua telapak tangannya akan sibuk menhan dada bidang Namu yang mendesaknya tanpa kompromi.
" Ternyata aku salah memilih mu ", lengkingannya suatu saat ketika ia baru saja terbebas dengan nafas yang masih putus-putus tersengal. Sementara bibirnya terasa tebal dan seperti tersengat akibat ulah pria dihadapannya ini.
" Maksudmu ? ".
" Kau pria mesum.... kembalikan kakak Namu _ku yang dulu ".
" Hei !!!... kau yang mengubahku jadi seperti ini ".
Tentu saja saat itu ia makin melorot dengan kesal, sambil mengelap cepat bibirnya yang basah dan lembab.
" Bagaimana bisa ? ".
" Ya .... salah sendiri kamu sangat cantik. Aku mana tahan kalau begini ... ".
Tentu saja perkataan Namu langsung membuat semburat merah di pipinya menjalar dengan cepat, menghantarkan hawa panas. Tapi jika ia tersipu malu, bukan tidak mungkin dia akan berakhir kembali dalam kendali Namu.
" Dasar !!. Pria mesum ... ". Cinta memutuskan untuk berkata dengan nada kesal.
" Pria mesum yang kau cintai bukan ? ".
Tapi selalu ia yang tersudut, menghadapi rayuan dan godaan kekasih yang sudah puluhan tahun menjadi kakaknya ini.
Kini Cinta masih memutar otak. Hairdryer ... itulah yang langsung terlintas di kepala nya. Tapi ada dimana benda itu?. Kamar Tante Orlin, tapi orangnya baru tidak ada di rumah. Kamar Kirana ?, semoga tidak dikunci. Tapi dia kecewa saat tidak bisa membuka pintu kamar adik sepupunya itu.
Hingga kemudian ia teringat jika di kamar Namu juga ada benda itu. Dan kini si empunya
kamar ini pasti masih mandi, aman... tapi dia harus segera bergegas.
__ADS_1
................