PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Relung (5)


__ADS_3

Melakukan kesepakatan dengan seorang pebisnis dan negosiator handal, mempunyai sebuah tingkat kesulitan yang berlipat. Apalagi jika posisi mu di matanya mungkin hanya dianggap seorang bocah kemarin sore. Lantas ?. Yah... mau bagaimana lagi, tugas negara yang dimandatkan dari dear bude tersayang. Menyangkut harkat martabat keluarga, yang pasti ini menentukan stabilitas hati seorang kakak perempuan.


" Saat kau menolong orang lain dengan ikhlas, sejatinya kau sedang menolong dirimu sendiri nak ".


Begitu yang berdengung dalam ingatannya selalu. Penuturan idola hidupnya, sang mama tercinta.


Kirana sore ini terpaksa menuruti permintaan pria boss, yang sudah mulai terbiasa dipanggil mas Alend. Mereka berada di sebuah rumah warga di daerah sentra penghasil durian. Duduk di bale-bale sambil menikmati daging buah berwarna kuning dengan aroma harum legit yang sangat khas itu. Walaupun ada sebagian orang yang sangat tidak suka dengan si raja buah itu, tentu saja karena aromanya. Tapi tidak demikian dengan si pria boss ini, ia tak henti melahap dengan nikmat.


" Aku sih mencoba memahami saja bagaimana antusiasnya kedua orang tua mas dengan maksud Tante ku menjodohkan kalian ... ".


" Menurut mu .... kenapa bisa begitu ? ". Sambar Syailendra secepat ia menyambar daging buah berwarna kuning yang masih menempel pada kulitnya yang berduri.


" Tuh ... ", dengan menyorongkan bibir dan wajah nya, Kirana menunjuk buah durian di hadapan mereka.


" Loh ? ".


" Iya lah ... karena mas 'kan Duren ".


" He.. he... he... jadi sekarang adik manis ini mengakui kalau aku ini duren ... duda keren ". Syailendra terlihat puas dengan seringai usilnya.


" Orang sejagad juga paham kalee' ... kalo mas keren, tapi tetep aja duda ". Suara Kirana terdengar menegas saat mengucapkan kata terakhir.


Tak urung langsung menyebabkan Syailendra tertawa lepas.


" Kamu ... nggak mau sama yang duda? . Kan lebih berpengalaman tuh .. ".


" Ish ....", Kirana berdecih. " Masih banyak kalee'... yang masih orisinil ... belum unboxing ... ".


" Emang ngefek gitu ?. Kan kalo pria sama saja ".


" Ya enggaklah ... sama apanya. Wanita dimanapun, maunya tetep jadi the one and only di hati prianya. Gwa' sih ogah... kalau harus hidup dalam bayang-bayang wanita lain. Nggak banget sih, kalo pas lagi disayang ..... eh suaminya malah justru terkenang dengan mantan istrinya ".


" Begitu ya ... ".


Dan sepersekian detik kemudian Kirana tersadar. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Duh muluuut.... embeeer..... kenapa selalu lupa pake rem pakem.


" Ma- maaf mas Alend ... itu hanya pendapat ku saja ... ". Dan Kirana pun menunjukkan penyesalannya. " Semoga mas Alend ...... segera mendapatkan seorang wanita yang mau menerima mas Alend apa adanya dan mencintai mu setulus hati ".


" Amiin.... doa yang sama juga untuk mu adek manis ".


Kirana mengangguk seraya mengembangkan senyumnya. Pria ini cukup menyenangkan dan tidak seperti kebanyakan pria yang mendekatinya selama ini. Tergolong cuek, tak terlihat ambisius, mungkin karena faktor kedewasaan dan juga segala materi yang sudah dimilikinya. Tapi yang pasti, Kirana merasakan perasaan yang tidak asing saat berbincang dengannya. Sama seperti ketika ia berbincang dengan para kakaknya.


" Namanya ..... Seika, aku lebih senang memanggilnya begitu. Dia.... sebelumnya adalah cinta pertamaku sejak SMP, seorang adik kelas yang manis ".


Ketika tiba-tiba saja Syailendra mulai menuturkan sebuah cerita, Kirana hanya bisa menatap lebih dalam sosok itu. Pandangan dari sepasang iris kelabu itu menjadi seperti tersaput mendung. Walaupun sesaat diawal tadi masih ada sepercik bintang yang sempat melintas di angkasanya jiwa pria ini. Kirana terpekur menikmati suara berat yang dalam khas itu saat bertutur.


" Kupikir dia juga mempunyai perasaan yang sama pada ku, karena dia tidak pernah menolak ku..... menerima pernikahan ini. Hingga saat sebuah kebenaran terungkap.... dia mempunyai cinta sendiri yang disimpannya dengan rapat. Pria itu adalah Yoga, teman satu kelasku saat SMA.... ".


" Mereka berdua pernah pacaran ? ", Kirana menyela.


" Tidak!. Bahkan Yoga... tidak pernah mengerti sebelumnya. Hingga .... ".


Saat Syailendra menghentikan cerita nya untuk sesaat, Kirana justru merasakan hal itu terlalu lama. Tapi ia tetap berusaha menahan diri, tidak menyela, tidak mengejar... hanya menunggu.


" Maaf ... kau harus mendengar cerita ini ".


" Tidak mengapa ". Namun sejurus kemudian Kirana menyesali dirinya yang akhirnya tidak bisa menahan diri. " Ma-maksudku .... aku mungkin... aaah... dengan sedikit bercerita, mungkin kau sedikit merasa lega.... mas ".


Syailendra tersenyum, sambil mencuci tangannya dengan menggunakan air yang di tampung dengan kulit buah durian. Lalu dia menuangkan air dari botol mineral dan membuat kulit durian yang lain sebagai wadahnya. Kemudian menyodorkannya pada Kirana.


" Kau sudah tahu 'kan cara mengurangi aroma durian dan sendawa durian ? ".


Kirana menerimanya tanpa ragu, lalu meminum air tersebut. Syailendra tersenyum melihatnya. Setelah memberikan kulit durian yang lain dengan air mineral di dalamnya lagi, yang tentu saja digunakan oleh Kirana untuk untuk membasuh jemarinya, Syailendra terlihat nyaman merebahkan diri sambil beralas dua telapak tangannya.


" Rasa cemburu membutakanku. Aku sangat marah pada istriku itu. Aku mengabaikannya berbulan-bulan .... padahal dia sedang mengandung anak kami. Hingga akhirnya ...... ".


Syailendra kembali menjeda ceritanya dengan beberapa kali helaan nafas yang berat.


" Tuhan menegurku. Aku kehilangan dia dalam sebuah kecelakaan. Sempat koma dan dirawat beberapa Minggu .... tapi akhirnya ia benar-benar meninggalkan ku bersama anak yang dikandungnya. Dan itu..... adalah hukuman seumur hidup untuk ku ".

__ADS_1


" Mas ... masih sangat mencintainya ? ".


" Apa pantas seseorang seperti aku mencintainya ? ".


" Aku tidak tahu.... mas yang pasti tahu ".


" Rana .. ".


" Ya ".


" Aku tidak akan menghancurkan sebuah jalinan cinta yang suci dari dua orang insan. Yang telah begitu lama saling memperjuangkan cinta mereka. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu ..... jangan khawatir, aku berbicara pada mommy and daddy ... aku menolak perjodohan itu ".


Sesaat keduanya saling terdiam dalam hening. Perlahan Kirana menoleh dan menatap pria yang berbaring santai disebelahnya. Kedua mata pria itu nampak terpejam, sedangkan dibibirnya tersungging sebuah senyuman.


" Berarti .... besok sore aku tidak usah bertemu om dan tante Rayhan dong ? ".


" Kalau itu tetap wajib ".


" Bagaimana bisa ? ", protes Kirana.


" Hei cantik ... kau tetep harus menjalankan tugas dari Tante mu loh ".


" Ish.... ", dan wajah Kirana melengos dengan bibirnya yang sedikit manyun.


" Tenang saja .... aku akan ada disana kok. Penolakanku akan kusampaikan saat itu juga. Jadi .... kamu ... Cinta dan Namu bisa bernafas lega ".


Tunggu...... apa itu barusan. Kamu, Cinta dan Namu...... apa maksudnya ?. Kirana merasa ada sesuatu yang besar mencekat kerongkongannya.


" Mas....... ".


" Ups!!!! ", Syailendra tiba-tiba membuka matanya. Satu blunder yang akhirnya membuyarkan semua peraturan yang telah dibuatnya sendiri tentang tiga pertanyaan itu.


" Kau dapat Jack pot nya cantik...... ha.. ha.. ha.. ", dan ia tertawa, tepatnya menertawakan kebodohannya sendiri.


" Aku kalah telak... ha... ha.. ha... bahkan aku mengingkari janji pada mereka berdua. Semua karena mu nona cantik ".


Kirana masih melongo saat Syailendra terus saja berkata-kata sambil terbahak. Gadis itu seperti berada ditengah arena yang gegap gempita, namun ia berdiri sebagai seorang pandir tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Sialan !!!!, Kirana memaki dirinya sendiri. Sebuah sentuhan di jemari tangan serasa seperti sengatan kecil yang menyadarkannya.


" Aku ..... benar-benar merasa sangat ... ouugh. Ternyata ...... ", Kirana mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi sangat geram.


" Kakakmu ..... cinta mati dengan Cinta ".


" Sejak kapan ? ".


" Belasan tahun yang lalu. Tapi saling diam... bodoh ya mereka ".


" Ya... sangat bodoh. Kau tahu darimana semua romansa itu mas? ".


" Awalnya aku menebak saja tentang bagaimana Namu yang tidak pernah bergeming saat didekati wanita secantik apapun. Lalu... tentu saja sepupumu itu yang dengan sukarela curcol asyik ... he.. he.. he. Saat galau salah paham pernikahan di Korea itu ".


" Ooawalaaah....... ". Dengan wajah polos bersemu bego terlihat begitulah ekspresi Kirana. " Para kakak rempong tak ada akhlak ... bikin susah aku saja. Terus... aku gimana sekarang ? ".


" Gimana apanya ? ".


" Tugasku .... buat menghadap tuan sultan Rayhan dan nyonya. Aku harus ngomong apa dong ? ".


Gadis manis dengan sepasang mata yang memukau itu sama sekali tidak terlihat mengada-ada, ia kebingungan. Dalam benaknya beberapa saat lalu, ia akan datang dan memperkenalkan diri sebagai utusan tantenya.


" Segala urusan pertunangan dan lain-lain, biar Rana ikut membantu ya Tante ... ", begitulah kalimat yang sudah dirancangnya masak-masak. Tapi kini ...... bluushh... menguap sudah.


" Maaf Tante Rayhan ... sebaiknya perjodohan ini dibatalkan saja. Karena kakakku dan kakak sepupuku itu saling cinta. Ya Allah ....... emang siapa gue' dengan tidak senonoh ngomong begitu. Ampun deh .... ".


Cara berbicara Kirana yang selalu berterus terang mengungkapkan apa yang ada dibenaknya, lugas dan tidak terbebani apapun semakin membuat Syailendra tak bisa mengalihkan perhatiannya. Dia terlihat manis, bahkan saat bingung, kalut dan cemberut. Sungguh adik manis yang menggemaskan.


" Kapan rencana kunjungan diplomatik mu ? ".


" Besok sore .... sepulang jaga IGD tentunya ".

__ADS_1


" Mau aku temani ? ".


" Harus dong ", sepertinya Kirana menjawab tanpa berpikir. " Mas Alend juga yang harus ngomong kalo' .... rencana perjodohan itu dibatalkan saja dengan alasan .... itu tadi. Eh.... bilang saja kalau mas nggak ada rasa sama mba Cinta ".


" Menurut mu ......".


Kirana menggigit-gigit bibirnya sendiri, ciri khas ketika dia sedang gelisah menunggu, atau juga sedang berfikir keras menentukan pilihan. Kali ini sepertinya dia mengalami kedua hal tersebut. Menunggu pria boss yang sudah bangkit untuk duduk dan sedang manggantungkan kalimatnya.


" Apa ? ", akhirnya Kirana merangsek dengan tidak sabaran. Membuat Syailendra kembali mengulas senyuman.


" Apa yang dipikirkan oleh mom and dad, saat aku datang bersama seorang gadis secantik dirimu untuk kemudian menolak sebuah rencana perjodohan ".


Oh dear God.... what is this ?. Dug dug... dug dug... dug dug. Dan ritme kerja jantung Kirana tiba-tiba meningkat. Kalimat Syailendra itu seperti katalisator yang mempercepat seluruh proses metabolisme dan katabolisme di dalam tubuhnya. Tentu saja dengan hasil sampingan kalor aktif yang mulai membakar kedua pipi gadis itu, membuatnya bersemu merah.


" Hei ... adik manis kau merona ", Syailendra tak menyia-nyiakan kesempatan menggoda gadis itu. " Pasti kau punya pikiran yang sama dengan ku.... he... he... he... ada ide untuk antisipasi sebuah kesalahpahaman itu?. Yaaaa... walaupun belum terjadi ".


Kirana terlihat kikuk dan salah tingkah. Ditambah lagi dengan sepasang mata kelabu yang terus saja mengawasinya sambil tetap mempertontonkan segaris senyum simpul yang menawan itu. Ia merasa seluruh departemen anilsa dan perencanaan di dalam otaknya kacau balau karena badai.


" Adik manis belum ada ide ? ", dan yang tersampaikan itu bukanlah sebuah pertanyaan. Tapi godaan dari pria tampan yang sepertinya sangat bahagia setiap melihat si adik manis itu salah tingkah.


" Aku duluan yang datang, mas setelah aku ". Akhirnya Kirana mampu meloloskan sebuah ide, yang tentu saja menurutnya sempurna.


" Lantas ? ".


" Ah ya ", Kirana terlonjak. " Kita pura-pura nggak kenal, okay ? ".


Senyuman kecil yang diikuti dengan terangkatnya satu sisi alis mata itu menjadi sebuah tanda persetujuan dari Syailendra. Disusul dengan senyum penuh kelegaan dari Kirana.


" Okay ..... deal!! ". Kirana mengulurkan tangannya.


" Deal ", yang kemudian disambut dengan penuh semangat oleh Syailendra.


" Kita pulang sekarang ", kata Kirana lagi sambil berdiri begitu jabat tangan itu terselesaikannya.


" Bisa bantu aku berdiri ? ".


" Hah ?? ".


Keraguan Kirana sesaat saja bergelayut, ia lalu meraih tangan Syailendra yang terulur. Membiarkan pria itu mengaitkan telapak tangan lebar itu pada pergelangan tangannya yang tentu saja langsung tenggelam karena perbedaan ukuran. Membuat kedua kakinya harus berposisi kuda-kuda sempurna saat Syailendra mulai bangkit berdiri dengan membuat dirinya sebagai tambatan.


" Terimakasih adik manis .... ayo kita pulang ".


Kirana, ia sangat sering menerima perlakuan manis seperti ini dari dua orang pria tampan, kakak-kakaknya. Poni yang diacak-acak dengan sayang dan gemas. Yang sejak dahulu selalu membuatnya menjerit dengan kesal.


Tapi saat pria ini yang melakukanya, jeritan itu seperti tertahan. Berganti dengan dengan dentuman tak menentu yang membuatnya memilin jemari dengan gelisah. Sementara jauh di relung kalbunya, ada yang berdentum-dentum menguat dan membuncah. Seiring dengan degupan jantungnya yang tak terkendali. Dug dug... dug dug.. dug dug... dan Kirana pun tersenyum gelisah.


...^^^..............^^^...


Yang akan kau temui adalah orang yang sudah sangat kau kenal. Enam puluh persen lebih dari hidup yang sudah kau jalani, nyaris tidak pernah lepas dari dirinya. Bahkan masa kecilmu dulu kau habiskan dengan merengek mengganggunya saat ayahmu yang super sibuk tidak bisa menemani mu bermain. Ayah kedua untuk mu, yah... sepertinya begitu.


Lalu kenapa ?, kau justru masih berdiri termangu saat ini. Mengingat betapa kedekatan itu terjalin, tentunya semua akan lebih mudah bukan ?. Kau hanya perlu mengikis habis rasa ragumu dan menaikkan level percaya dirimu saja. Urusan yang lain.... kau punya Tuhan Yang Maha Kuasa.


" Om mu orang yang sangat bijaksana nak, kau hanya perlu berterus terang padanya. Bicara dari hati ke hati. Bismillah ... jangan lupa berdoa ". Begitulah mama Orlin menyemangatinya tadi pagi.


" Nanti malam jadwal tennis om mu, papa juga. Datang selepas jam tujuh ya, jangan lewat jam. delapan. Papa hanya bisa membantu mu sampai di jam itu. Kau tau 'kan bagaimana posesifnya Tante mu ? ".


Dan ia harus benar-benar memanfaatkan kesempatan yang sudah dirancang oleh papa nya ini. Berbekal doa restu dari sang mama juga, ia hanya perlu fokus. Ya.... fokus Namu, now or never.


" Aku ... aku ... tidak menemanimu ya ". Gadis itu lalu menenggelamkan wajah cantiknya di dada bidangnya. Meninggalkan aroma wangi lembut yang sampai saat ini masih terasa.


" Doa mu yang harus menemani ku ", bisiknya sambil merengkuh lembut kedua bahu sang Cinta.


" Sejujurnya aku takut .... ".


Dan ia hanya bisa semakin mempererat rengkuhannya saja. Berusaha meredam gelisah dan gundah. Tak menjawab apapun pada gadis ini, hanya bernafas bersama dalam hangat. Setidaknya ini sudah mampu untuk lebih menguatkan.


Jika dahulu ia sering meminta untuk ditemani bermain bola, juga meminta bermain game bersama. Kini yang akan dia pinta adalah separuh jiwa dari pria itu. Meminta restu untuk menikahi putri tersayangnya. Tentu saja rasa percaya dirinya tiba-tiba saja melesak hingga mendekati titik 'nol'.


Namu menarik nafas panjang dan menghembuskannya seraya memejamkan mata sambil melantunkan barisan doa dan permohonan. Sesaat setelah mendapatkan keyakinan, iapun melangkah dengan pasti. Menuju satu titik masa depannya.

__ADS_1


Om Juna, aku datang untuk meminta restu darimu. Karena putrimu, juga adalah separuh jiwaku.


__ADS_2