PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (7)


__ADS_3

Pileg dan juga flu yang kemarin sempat hengkang sesaat seolah seperti memberikan sejenak waktu untuknya agar bisa menikmati terbatasnya masa bersama gadisnya. Sepeninggalan wanita tercantik itu, badannya mulai terasa meriang lagi. Padahal ia harus segera kembali menempuh perjalanan lintas negara. Untung saja jarak Jerman Swiss tidak terlalu lama, apalagi jika ditempuh dengan perjalanan udara. Tapi tetap saja, membuat badannya terasa ringan bergelanyar dengan nuansa melayang-layang karena pengaruh obat pengurang gejala influenza yang beberapa saat lalu di minumnya.


Haidar sama sekali tak menjeda waktu perjalanannya untuk sekedar beristirahat di rumah sang kakak yang kebetulan bu dubes itu sesampainya dia di Berlin. Di hari yang sama, ia pun langsung menuju Heidelberg. Yang berkecamuk dalam benak pria itu adalah bagaimana menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, tepat dan hasil maksimal. Tapi pada akhirnya ia pun harus benar-benar beristirahat satu hari penuh di apartment nya. Meringkuk di bawah selimut, menikmati rasa dingin dan nyeri tenggorokan yang membuatnya menggigil karena demam.


Tiba-tiba saja telinganya mendengar suara yang sangat dikenalnya. Apalagi kalau bukan denting notifikasi pesan masuk. Beruntun, dan cukup mengusiknya untuk meraih handphone yang diletakan di atas nakas. Sepasang matanya yang masih terasa sedikit panas, tiba-tiba saja berbinar manakala melihat asal pesan itu. Siapa lagi, kalau bukan Nania nya yang cantik di seberang sana. Mengirimkan dua foto yang cukup membuat hatinya berbunga-bunga. Sicantik itu tampak cemerlang di antara kelembutan mama Orlin dan juga manisnya mba Cinta yang kini terlihat semakin montok.


Sepertinya ini foto yang diambil kemarin. Haidar menegakkan duduknya dan bersandar, demi bisa mengamati dengan seksama.  Ia bahkan sudah bisa tersenyum sekarang, tanpa meringis dan melenguh merasakan pegal-pegal dan juga sakit di sekujur badan serta kepalanya. Ia mengamati si cantik yang duduk diapit dua orang wanita tersayangnya, mamah yang paling baik hati dan kakak yang kini terlihat lebih montok seiring kehamilannya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi dan mengesampingkan segala hal yang biasanya dijadikan alasan untuk menunda berbincang dengan si cantik. haidar pun segera melakukan panggilan jarak jauhnya. Walaupun dalam hatinya sibuk menghitung rentang waktu, dan akhirnya ia yakin jika ini adalah waktu yang tepat untuk menelpon Hanin. Tapi ia mulai terlihat gelisah manakala panggilannya tak kunjung berbalas.


" Halo mas, assalamu'alaikum ".


Rasanya mungin seperti diguyur hujan setelah kemarau panjang. Beitulah bias yang terpancar di wajah Haidar saat mendengar suara sapa yang lembut di seberang sana.


" Wa'alaikum salam cantik. Hai ... ", senyum Haidar merekah tapi tersusul oleh batuknya yang terdengar serak menggilitik tenggorokan.


" Flu mu koq belum sembuh mas ?. Sudah minum obat ? ", nada suara Hanin jelas terdengar khawatir.


" Ya, ternyata Heidelberg lebih dingin. Hari ini full .. istirahat di rumah. Besok baru lanjut kerja ".


" Jangan dipaksakan. Sudah makan ? ".


" Tadi sarapan pagi ... bikin roti isi celesai coklat. He..he..he.. belum sempat belanja ".


" Mas kirimi alamat lengkap apartment mu. Aku punya temen chef di sana, makan siang aku pesankan ya ... ".


" E eh ... nggka usah repot-repot. Aku pesan sendiri saja nanti. Nggak apa-apa kok ", tolak Haidar dengan serta-merta.


" Kenapa ?, ada siapa di sana ?. Aku cuma mau kirim booster buat flu aja koq. Nggak mau spionase mas ".


" Eh... ", Haidar tertegun sejenak, tapi sejurus kemudian tersenyum. " Baiklah, aku tunggu kirimanmu ".


" Nggak usah mikir yang aneh-aneh deh. Pasti lagi senyam-senyum .... ". Suara lembut itu terdengar sedikit merajuk.


" Aiiih ..... adik manis tau aja ya. Udah kangen pasti nih, jadi bisa ngeker dari jauh ", goda Haidar seperti biasanya.


" Lah ?!... kan' emang biasanya mas gitu ".


" Senyum ku kalo' pas lagi sama cantik aja koq. Nggak usah khawatir ... ".


" Yeee... ".


" Tapi suka'kan ? ", Haidar meringis seolah Hanin sedang berada di depannya.


" Udah mulai sembuh nih berarti... udah kumat usilnya ".


Dan Haidar pun tak bisa menahan tawa yang meluncur lepas.


" Terimaksih banyak ya cantik, udah nemuin mamah. Sama Raka dan Ardelia udah ketemu ? ", tanya Haidar kemudian.


" Ehm... belum. Minggu depan mungkin, pas tujuh bulan nya mba Cinta ".


" Oh gitu ya ".


" Kata bu Orlin ... Kirana juga mau pulang ".


" Oh ya ?. Waah ... bakal heboh tuh Jakarta. Miss cempreng datang ".


" Mas ... ", suara Hanin terdengar sedikit melemah. " Aku... aku sedikit takut ".


" Hei... kenapa?, apa yang membuatmu jadi takut ".


Yang terdengar kemudian adalah sura tarikan nafas di seberang sana, terdengar berat dengan helaan panjang.

__ADS_1


" Nania... ".


" Ya, mas. Ah nggak apa-apa ... aku cuma belum terbiasa lagi dengan keluarga mas. Setelah lama tidak bertemu ".


Jelas itu bukan warna nada yang menyampaikan bahwa dia sedang baik-baik saja,  dan Haidar paham betul.


" Maaf ya, kau harus menghadapi hal itu sendirian. Semua akan baik-baik saja koq. Kau tahu betuk bagaimana keluargaku. Kau tahu betul bagaimana hangatnya mamah ku.... Nania ku yang cantik dan pintar, pasti kau akan langsung jadi favorit mereka. Seperti Celine dan Celia yang begitu memujamu ... ".


Suara tawa kecil di seberang sana akhirnya juga berhasil menggiring senyuman lega dari Haidar. Paling tidak dia sudah berhasil menghilangkan kekhawatiran Nania nya.


" Ayo buruan shareloct .... mumpung belum jam ramai. Udahan dulu ya nelponnya ".


" Hei... aku masih rindu suara mu .... ", protes Haidar.


"  Itu artinya, harus segera akhiri panggilan ini. Lanjut istirahat ... nunggu makan siang datang ".


" Hyaah .... yes ma'am. I luv you ... ".


" Love you too ".


" And I miss you  ".


" Miss you too mas. Buruan shareloct ..... bye... assalamu'alaikum ".


Haidar mencebik dengan gemas, karena ia Hanin menutup telponnya dari seberang sana. Seolah tahu jika ia akan menahan gadis itu lebih lama. Dan tawa pun meluncur dari mulutnya dengan lumayan lepas.


...................................


" Na' nggak lupa'kan, kalau nanti malam harus nganterin bunda ke rumah bu Mandala ? ".


Hanin tersenyum seraya mengangguk sekilas pada ibunya yang baru saja pulang dari pasar. Lalu ia pun melanjutkan menggoda balita montok, keponaknnya yang baru berumur empat tahun.


" Mba Raya mana ? ", tanya ibunya lagi.


" Nggak... cuma mau minta saran aja ".


" Boleh gitu sama Na'  ?, sarannya ? ". Hanin bangkit sambil menggendong si montok, mencoba menawarkan diri.


" Bukannya besok kamu harus ke hotel ?, katanya mau ketemu sama manajer nya ".


" Iya sih bund, tapi kalau cuma saran aja sih .... nggak ngeganggu kayaknya ".


" Masalahnya ini urusan rujak ... selain saran juga harus nyoba bikin. Sempat ? ". Bu Firman tersenyum menantang putri bungsunya.


" Wah, itu sih memang bagian mba Raya kayaknya ", akhirnya Hanin menyerah.


" Kalau Na' sempat .... ibu malah minta bikinin pastry-pastry imut. Kalu bisa yang isinya buah-buahan ya, special bua mba Cinta ".


" Buat sample  nanti malam ?, atau di bawa besok pas acaranya saja ?  ".


" Iya sayang. Juga buat acara nanti, hadiah special  buat mba Cinta. Gimana ? ".


Hanin sejenak terlihat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. Pada akhirnya senyuman manis terkembang dari bibir semerah kuntuman mawar itu. Hanin mengangguk dengan yakin, membuat bu Firman juga nampak puas dan mengembangkan senyumannya.


................................


Rumah itu masih sama seperti yang ada dalam ingatannya, megah dan asri. Lampu-lampu taman yang berjajar seperti mengucapkan selamat datang padanya. Benderang mengantarkan mobil yang ditumpanginya hingga sampai tepat di pintu samping rumah besar ini.


Hanin ingat betul, halaman samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga ini, adalah tempatnya dulu sering bermain bersama para putra dan putri si pemilik istana indah ini. Sebuah keluarga yang sangat berada, namun mempunyai hati seluas samudra sehingga sudi menerimanya dengan sangat baik, ramah dan hangat.


Jika mengingat masa lalu yang manis itu, seharusnya ia tak perlu seberdebar ini. Apalagi sebelumnya ia sudah bertemu dengan nyonya rumah yang juga bersikap tak berubah dari dulu. Sangat ramah, baik, hangat dan menyenangkan. Tapi tetap saja, jantungnya tak mau berkompromi. Seolah-olah organ itu tengah mempercepat ritme detakannya sendiri, bagaimanapun ia mencoba menahannya. Ah dasar !!!.


" Wah sudah datang nih ", suara lembut yang berseru senang itu menyambut kehadirannya dan sang bunda. Itu adalah bu Orlin sang nyonya rumah, yang langsung membuka pintu lebar-lebar sambil mengembangkan senyuman. Terlihat semakin cantik saja.

__ADS_1


" Cuma berdua saja bu Firman ? ".


" Iya. Cukup berdua saja, bawaannya juga nggak terlalu banyak kok ".


Hanin tersenyum dan mengikuti langkah bundanya. Kedua tangannya yang sibuk menenteng bawaan berisi aneka masakan tester itu, membuatnya tak bisa menyambut bu Orlin dengan jabat tangan dan salam takzim. Ia hanya bisa mengangguk penuh hormat saja dulu, lalu bergegas mengikuti langkah dua orang wanita yang sudah melaju di depannya.


" Iya, taruh sini saja dulu cantik ", sambil menunjuk sebuah meja yang cukup besar . " Mba Cinta .... Rana... ", Orlin berseru kemudian. " Ini Hanin sudah datang " .


Langkah kaki dan suara wanita bercakap-cakap dengan riang terdengar mendekat perlahan, tepatnya dari ruang atas dan kini bertambah suara tapakan yang agak menjejak. Pasti itu Kirana dan Cinta yang sedang menuruni tangga. Hanin sekilas mengangkat wajahnya dan mendapati sosok tinggi semampai yang terlihat sangat manis dengan rambut diikat sekenanya. Beberapa anak rambut yang berkeliaran di pipi dan kening gadis itu justru semakin membuat wajah manis itu begitu memikat. Dan saat gadis itu tersenum lebih ceria ketika pandangan mata mereka bertumbukan, aah .... ada garis serupa dengan senyuman Haidar.


" Haniiin ... ", lengking Kirana yang bergegas melepaskan gandengannya dari Cinta. Lalu berjalan cepat ke arah Hanin.


" Gile' ... tambah putiiih, makin cantik aja kamu. Pantes si abang ku terkintil-****** ya ... ".


Dan Kirana pun memeluk Hanin dengan ramah, hangat sehingga mampu melumerkan hati Hanin yang sesaat lalu sempat di belenggu berbagai kekhawatiran.


" Berapa lama ya kita nggak ketemu ? ", tanya Kirana lagi.


" Terakhir ketemu, pas kita kelas dua SMA mungkin ".


" Wah, udah lama banget dong ya. Eh, tapi jangan-jangan si abang ku diem-diem suka sering nyolong-nyolong ketemu kamu ya 'Nin .... ".


" Ngawur ah !!!, mas Haidar kan' yang ngilang ... ".


" Cieeeeee......  ". Kirana terkekeh-kekeh sambil terus menguasai Hanin yang akhirnya tidak bisa melanjutkan kegiatannya menata aneka tester masakan yang dibawa. " Iyey' banget sih kakak ku bisa dapetin kamu. Tapi kamunya udah yakin beneran 'kan sama dia, not under pressure ? ".


" Kepo amat sih. Kelamaan jomblo kayaknya kamu  Rana ", tiba-tiba Cinta menyela sambil mendudukan dirinya perlahan di salah satu kursi yang mengitari meja oval besar tempat aneka makanan mulai ditata dengan rapi.


Hanin nyaris kehabisan nafas saat Kirana mulai membuka cerita tentang hubungannya dengan Haidar. Ia sempat melirik ke arah ibunya dan juga ibu Orlin yang nampak kurang memperhatikan mereka karena sibuk sendiri dengan obrolan serius tentang ... entahlah, yang jelas hidangan utama sih. Beruntung mba Cinta yang nampak makin cantik dengan kehamilannya ini datang bagai malaikat penyelamat.


" Nin, mana pesenanku ? ", tanya Cinta lagi.


" Ini mba ". Hanin langsung melepaskan diri dari Kirana dengan beralih pada aneka kue-kue cantik bertoping aneka buah yang mengkilap segar menggugah selera.


" Wuaaaaah ..... ", hanya itu yang terlontar dari bibir sempurna manis milik Kirana.


" Yang ini apa namanya 'Nin ? ", tanya Cinta yang langsung tertarik cronuts bertoping irisan kecil-kecil mangga dan angur hijau yang segar.


" Itu mix croisant donut yang di modif lagi topingnya, sesuai permintaan mba. Ada yang ini juga koq ... lihat ".


" Wuuuah .... laper mata nih jadinya, laper juga sih ". Dan sepasang mata Cinta pun membelalak manakala Hanin mengeluarkan aneka kue imut dengan toping buah dari berbagai penjuru dunia yang langsung membuat ia meneguk ludahnya sendiri.


" Mama tante', tetep harus nunggu papa om nih ? ".


Hanin mengernyitkan keningnya dengan panggilan yang disampaikan Cinta. Tapi kemudiah ia ber-oh panjang dalam hati.


" Cukup mama sayang, harus mulai dibiasakan ya ", begitulah dengan lembut Orlin mengingatkan menantunya.


Sejak kecil menjadi keponakan, ternyata cukup repot juga saat takdir menggariskan menjadi menantu. Kagok banget, terutama untuk mengubah panggilan.


" Khusus buat momy twins pasti boleh, ya kan Nin' ? ". Orlin berapling pada Hanin yang langsung merespon cepat dengan mengambil satu kotak snack bertutup transparant dan memberikannya pada Cinta.


" Bu Orlin sudah memesankan khusus ini untuk mba Cinta  kok ".


" Woouw ", sepasang mata Cinta membelalak dan berbinar penuh semangat. " Ini khusus untuku .. ", salaknya lagi saat Kirana mulai mengulurkan tangannya juga pada sekotak penuh croisant dan aneka puff pastry cantik segar menggoda.


" Ih ... syndrome' mami muda hamil ", Kirana mencibir. " Nggak apa-apa ... wek !!! ", sambil menjulurkan lidah. " Gue kokinya aja .... ", dan tertawa penuh kemenangan sambil merangkul bahu Hanin.


" Wuah ramai sekali, sudah datang rupanya si nona kecil ", suara itu terdengar berat, khas dan mirip dengan suara seseorang.


Hanin mengikuti gerak tubuh Kirana yang mencari arah asal suara. Lalu mendapati sosok gagah menjulang dengan rambut keabu-abuan yang tampak begitu berwibawa sedang mengembangkan senyuman.


" My handsome dady .... ". Dan Kirana pun melompat, menghambur pada pelukan pria itu.

__ADS_1


**********************


__ADS_2