
" Looh... koq belum jadi mandi ? ". Tanpa permisi seraut wajah yang menyunggingkan senyum lembut itu menyembul dari ambang daun pintu yang mulai terbuka. Itu adalah mama Orlin yang memutuskan menyusul Haidar di kamarnya.
" Ini mau mandi. Di ganggu Kirun Mah... ".
" Dia telpon ? ".
" Iya, katanya tadi telpon mama nggak diangkat lamaaaa..... ".
" Oh... buruan mandi, papa sama kakak mu sudah menunggu ".
" Okay .... ".
" Pakai telpon ku aja mah ". dengan gerakan cepat menekan tombol dial dan buru-buru menyerahkan pada sang Mama. Haidar kemudian bergegas melesat masuk ke dalam kamar mandi.
" Apaan lagi kak ... jangan mengolok-olok lagi ", sambar suara diseberang sana dengan ketus.
" Ini mama, Rana ".
" Oh ... maaf mah. Habiiiis nya ... koq bisa pake nomer kakak ".
" Ada apa ?. Masih masalah anjangsana ke rumah om Raihan ? ".
" Ya ... iyalah. Apalagi ... ".
Orlin tersenyum, seolah ia bisa melihat bagaimana cemberutnya wajah di bungsu.
" Masa' tadi kakak tetep ngasih saran ... lanjut. Ish ... sebel "
" Nggak apa-apa... nggak harus hati kok ".
" Iya sih ... pending aja ya mah ", Kirana mulai merengek mencari sekutu.
" Terserah Rana saja. Tapi bagaimana dengan janji yang sudah dibuat Tante Hana dan Tante Nilam... istrinya om Raihan ? ".
" Maksudnya mah ? ", suara Kirana terdengar mulai kebingungan.
" Yaaa.... tentu saja. Beliau berdua 'kan juga orang yang cukup sibuk. Siapa mereka tahu sudah dengan sengaja menyiapkan waktu khusus untuk Rana. Kalau kau tiba-tiba saja membatalkannya ...... coba pikir lagi .... mereka mungkin akan kecewa ".
" Iya sih .. tapi yang buat janji ' kan Tante Hana ", Kirana masih saja berkelit.
" Hei..... dewasalah cantik. Ini baru salah satu pendelegasian untuk menjalani hubungan bilateral .... kelak akan lebih banyak lagi tugas seperti ini ", Orlin masih terus membujuk dengan lembut.
" Lagian ya Rana .... om Raihan itu teman baik sejak muda dulu. Dan kamu juga nggak usah khawatir... Tante Nilam itu orangnya humble dan ramah. Rana pasti seneng ngobrol dengan mereka ".
" Tapi 'kan gap' nya terlalu jauh mah.... ntar aku ngobrol apaan dong ? ".
" Bismillah saja... niatkan silaturahmi. Percaya deh' she is very nice. Nggak usah khawatir ya berlebihan ah ... ".
" Aah... mama nggak cs' ah ", dan di seberang sana terdengar rajukan Kirana yang semakin berat.
" Looh..... udah deh nggak pa-pa. Tante Nilam tuh nggak punya anak perempuan ... pasti seneng banget dengan kedatangan mu ".
" Ini lagi .... bikin ngeri. Nanti klo' Rana dijodoh-jodohin gimana ? ".
" Ha... ha.. ha... nggak usah khawatir. Dua yang kembar udah laku semua.... yang satunya jelas sudah diniatkan dengan kakak mu . Santai aja ya. Jangan lupa.... sampaikan salam mama ya. Hei .... sudah hampir jam tujuh nih. Kamu nggak berangkat ? ".
" Ini sudah di mobil ", jawab Kirana cepat.
" Ya udah ... hati-hati ya. Semoga semua berjalan lancar. Bye... muaachhh.. ". Orlin memutuskan untuk menutup telponnya.
Setelah meletakkan di atas nakas tempat tidur, ia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya perlahan.
" Kita tunggu di bawah ya kakak ... ".
" Iya mah ... udah selesai kok ", sahut Haidar dari dalam kamar mandi.
................
Haidar mempercepat langkahnya, sekeluar dari lift. Bukan hanya sekedar jam makan siang yang akan segera berakhir, tapi ia sudah sangat terlambat untuk sebuah janji.
Terkadang, walaupun berada dalam satu tempat yang sama tidak selalu menjamin bisa bertemu seperti yang diharapkan. Contohnya ya ini tadi, menjelang makan siang ia malah kedatangan tamu penting. Investor dari negeri tempat patung Merlion dengan anggun berdiri kokoh. Tahu'kan patung Merlion yang menggambarkan ikan berkepala singa.
" Mendadak sekali sih Pah ", protesnya kala itu. " Kok bukan kak Namu aja yang ndampingi ? ".
Mandala menatap putranya sekilas, tapi kemudian dia mulai tersenyum-senyum penuh arti. Sementara Arjuna yang duduk di sofa tak jauh dari mereka berdua terlihat mulai terbahak.
" Waaah... kau mulai cari muka padaku nih ", seloroh Arjuna di sela tawanya.
__ADS_1
" Untuk apa ?. Aku hanya sekedar membantu mengamankan saja. Apalagi ini anak-anak kita ".
Haidar hanya melongo tak memahaminya sama sekali kemana arah pembicaraan dua orang bapak ini. Sementara mereka justru sangat terlihat menikmati kebingungannya.
" Haidar, nanti amati baik-baik ya. Tuan yang akan datang kali ini .... lumayan licik. Dan.... ".
" Yang harus kau waspadai adalah putrinya ", sambar Mandala.
" Oooh.... begitu ", kali ini Haidar manggut-manggut. " Itulah sebabnya kenapa aku yang diumpanks .... ".
" Tentunya kita semua tidak mau mengganggu kemesraan pasangan yang baru saja merasa sedikit lega .... ".
" Apalagi dengan memicu kecemburuan ", dan Arjuna pun menyambung perkataan Mandala dengan cepat.
" Satu lagi .... kau juga harus bekerja sama dengan kita ". Mandala menatap tajam anaknya.
" Jangan bilang mama dan Tante mu, kalau tuan Oong datang ", kembali Arjuna yang melanjutkan.
Dan akhirnya Haidar mengerti semua yang dimaksud dari betapa kompaknya ayah dan juga pamannya itu. Lihat pria Flamboyan yang mengikutkan beberapa orang bersamanya ini. Dua pria lain itu pastilah sekertaris dan bodyguard nya. Dan gadis muda ini, anaknya ? atau ..... simpananya ?.
" Kami hanya mampir saja tuan Mandala. Sepertinya Yiona juga sedikit merindukan putramu. Hei dimana dia ? ... kau tidak memintanya menyambut kami ".
Percaya diri yang sangat mendominasi, ini pertama kalinya Haidar melihat orang seperti itu. Selama ini ia berpikir, hanya ayah nya sajalah yang punya tingkat rasa percaya seperti itu.
" Dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya ".
Wow.... jawaban yang pastinya jika didengar oleh Namu akan membuat cuping pria muda itu kembang-kempis bahagia. Tapi tidak dengan gadis berambut lurus yang bermata sipit yang menyorot tajam itu. Dari gesturenya jelas-jelas menunjukkan keterkejutan yang mulai memercikkan rasa tidak suka.
" Wah ... kau kalah start sayang ", jelas kalimat ini ditujukan untuk putrinya. " Tak mengapa... masih ada satu pria berkualitas di keluarga Arsenio. Bukankah begitu tuan Mandala ? ".
Mandala terkekeh dan memandang Arjuna serta Haidar bergantian. Belumlah lagi ia membalas pembicaraan, pria Flamboyan ini sudah kembali mendominasi percakapan.
" Kami ke sini hanya benar-benar mampir saja. Tapi tentu bukan tanpa maksud pasti. Aku undang kalian .... hei... pemuda tampan ini siapa dia ? ".
" Anak boss Mand tentunya ... salah satu extra ordinary man di keluarga Arsenio ", kalo ini Arjuna yang menjawab cepat.
" Wooow .... keberuntungan selalu menghampiri ternyata. Oh ya ... tuan Arjuna, kau ajak juga putramu ya. Tapi ingat !! ... pesta ini hanya khusus lajang dan pria saja. Jangan ajak para istri .... ".
Haidar masih terpana dengan sikap penuh percaya diri yang menyebalkan itu. Pria Flamboyan yang dengan lugas mengutarakan bagaimana ia akan mengadakan pesta di 'yatch dengan bertabur gadis cantik. Tanpa risih ia membanggakan bagaimana akan gelapnya pesta itu bertabur para model dan bintang.
Cih!, Haidar berdecih dalam hati. Tentu saja pria seperti ini yang masuk dalam pantauan radar mamah dan juga tantenya. Pria partnernya iblis, yang harus di tolak bala. Pantes saja papah dan om nya meminta dia untuk bekerjasama. Tentunya untuk merahasiakan kehadiran si iblis Flamboyan ini.
" Anak-anak juga biar bisa bermain-main sampai puas.... dan kita, tentu saja .... biar bisa menikmati gelegak muda ". Dan pria itu masih saja nyerocos dengan gaya ... menyebalkan.
" Maaf tuan Oong .... ", akhirnya Haidar gatal untuk tidak membuka mulutnya.
" Ya young man .... siapa nama mu ? ".
" Haidar tuan Oong. Boleh saya tahu rencana kesepakatan kerjasamanya ?. Tidak mungkin bukan, dalam hingar-bingar sebuah pesta .... bisa konsentrasi dengan dokumen kerjasama ? ".
" Woow ..... ", dan disusul dengan bertepuk tangan. " Aku suka pemuda ini .... sama seperti kakaknya.... aku suka ... ".
" Mohon maaf tuan Oong .... saya masih perlu banyak belajar. Jadi ...... ".
" Ya... ya... ya ... aku paham. Yiona .... bisa kau merapat pada tuan muda ini ? ".
Dan kemudian aral itupun melintang, menghadang dengan cukup nyata. Janji temu dengan Bu Firman di kantin siang ini menjadi begitu tertunda. Walaupun Haidar sempat berkirim pesan dan memohon maaf jika dirinya akan sedikit terlambat.
Ternyata tidak sesederhana yang dia pikirkan, dan dua orang pria di sana, ayah dan pamannya .... huuft sama sekali tidak membantu. Sepertinya duo bapak itu dengan sengaja membuat situasi ini seperti sebuah ujian praktek baginya. Haidar mencoba menahan geram dan menghela nafas perlahan.
" Maldives sepertinya tempat yang cocok untuk kita bisa memulai pekerjaan ini ". Menggoda sekali bukan apa yang ditawarkan si lebah ratu ini ?.
Tapi Haidar justru bergidik ngeri, keterusterangan yang menjijikkan. Kecantikan gadis ini memang diatas rata-rata , tapi Haidar yakin ada campur tangan bedah plastik di setiap inchinya. Lalu lenggok yang dengan sengaja mengundang itu..... heeeem... like father like daughter. Tentu saja, pasti dia belajar banyak dari ayahnya.
" Ini sebuah tawaran besar ... maksud saya kerjasama ini. Dan saya murni hanya akan melakukan pekerjaan saja, tidak piknik ".
" Woooo... ho.. ho.. ho.. anak mu membuat anakku mati kutu Mand ".
Tapi Haidar tidak memperdulikannya. Ia bangkit berdiri lalu membungkuk dengan penuh hormat.
" Maaf tuan Oong, nona Yiona... ini sudah masuk waktunya kami menunaikan ibadah shalat Dzuhur. Saya mohon diri dulu. Oh ya nona Yi... jika memang serius, bisa ajukan penawaran itu langsung via email resmi perusahaan kami ".
Haidar merasa tak perlu menunggu bagaimana reaksi para tamu tak diundang itu. Ia bergegas melangkah ke luar dari ruangan ayahnya. Tidak memperdulikan bagaimana tatapan si lebah ratu yang pastinya sangat berniat untuk menyengatnya. Juga tidak ambil pusing dengan umpatan kecil tuan Oong yang ditingkahi suara tawa ayahnya.
' Sak karepmu ', begitu batin Haidar.
Segera setalah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, Haidar setengah berlari menuju kantin perusahaan. Ia tersenyum lega saat melihat seorang wanita sebaya dengan mamanya tampak sedang duduk santai sambil mengobrol dengan saudara sepupunya, Cinta.
__ADS_1
" Bu Firman ..... maaf ".
" Ah mas Haidar .... ", wanita itu tersenyum dengan sepasang mata yang berbinar.
" Nggak konsekuen lo' ", Cinta menyolot dengan cepatnya.
" Sorry sist... tapi lo' harusnya berterima kasih pada ku ".
" Loh ?! ", Cinta melongo bingung.
" Ku jadikan tubuhku sebagai tameng, ku hadang badai untuk kalian saudara bucin ku tersayang ... ".
" Ngomong apa sih elo ...", Cinta yang kebingungan mulai menunjukkan rasa tidak sabarnya.
" Ada tuan Oong melompong dan anaknya yang ngincer si abang ".
Cinta menatap Haidar dengan sepasang mata bulatnya yang semakin membulat. Saat Haidar mengangguk-angguk sambil tersenyum, gadis itu seperti tersadar. Ia segera menyeruput habis gelas berisi jus berwarna merah jambu.
" ****!!!! .....damn!!.... harus segera diamankan ".
" Yoi'.... bergegaslah, si Kakak ganteng masih di ruangannya.... dan dia sendirian ... ". Kalimat itu tentu sebuah provokasi bukan penyemangat. Haidar terkekeh melihat bagaimana ke hectic'kan kakak sepupunya.
" Oh maaf Bu ... jadi mengabaikan ibu ". Haidar menyadari jika wanita yang duduk di hadapannya ini sudah terlalu lama menunggunya.
" Aah.... tidak apa-apa. Ibu 'kan bukan orang sibuk. Oh ya, besok berangkat jam berapa ? ".
" Lusa Bu ... habis magrib. Mohon doanya ya Bu ".
" Tentu nak, titip ini buat Hanin ya. Katakan kalau ibu sudah kangen sekali. Tanyakan juga kapan dia pulangnya ? ".
Haidar tersenyum, ia menerima sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan rapi. Tidak terlalu besar mungkin berukuran sekitar 30x40x 10 centimeter saja. Tapi lumayan berat, sekitar tiga kilo lebih.
" Baik Bu, nanti akan saya sampaikan pada Nania... ah Hanin. Ngomong-ngomong ini isinya apa ya Bu ? ".
" Itu .... teri jengki asin buat bahan rempeyek kesukaannta. Ada sedikit terasi dan juga sambel kacang. Mau bawain oncom juga sebenarnya ..... tapi pasti jadi bikin kacau nanti '.
" Ha.. ha.. ha... lain kali saja. Ini pasti akan jadi sedikit pengobat rindu ya. Oh ya, bisa minta alamat dan nomer teleponnya Bu ? ".
" Tentu. Ini ibu kirimkan ".
Haidar tersenyum saat bunyi notifikasi pesan masuk menggerakkan telepon selularnya.
" Nak .... ajak dia pulang ya ".
Haidar tercekat, ada sesuatu yang ia tangkap dari getar suara wanita di hadapannya.
" Baik Bu .... ".
" Semua orang berhak bahagia .... katakan juga kalau ibu juga sudah merestuinya. Maka pulanglah .... katakan hal itu padanya ".
Blar !!!!!, dan kilat itupun menyambangi dengan telak di hati Haidar. Ia terpaku menatap wanita paruh baya yang mulai berkaca-kaca ini. Tapi sesungguhnya, dinding-dinding hatinyalah yang mulai retak. Betapa inginnya ia mengingkari pendengarannya.
" Ibu.... minta tolong sekali ya nak ".
Yang kemudian bisa dilakukan Haidar adalah menggenggam jari-jemari yang telah begitu terlihat menua. Kerutan halus dan juga kerutan masiv sudah seperti penguasa, menandai setiap goresan peristiwa yang telah dilalui wanita lembut ini.
" Insya Allah Bu ... Nania akan kembali ".
Walaupun sejuta rasa penasaran membuai dan menyelimuti benaknya, tapi Haidar memilih bungkam dan menahannya.
Apa itu tadi .... ibu merestuimu ?, kenapa jantung ini terasa terreamas sakit.
" Terimakasih banyak ya mas Haidar ". Kini wanita itu sedikit tersenyum.
Tapi tidak dengan Haidar yang beberapa saat kemudian melangkah dengan gontai sambil membawa kotak itu. Mungkin seperti ini rasanya kecewa, dunia seolah runtuh menimpa mu.
Haidar memasukkan kotak itu kedalam mobilnya, kemungkinan kembali berjalan menuju elevator untuk naik ke lantai atas tempat ia bekerja. Tapi wajahnya begitu kentara tersaput mendung.
Ya ampun Haidar ..... lihat, belum apa-apa kau sudah kalah telak. Berbesar hatilah .... biarkan dia bahagia. Setidaknya kau bisa bertemu lagi dengannya .... bisa melihat tawanya yang indah.
Dan Haidar pun sibuk menyemangati dirinya sendiri. Jangan sampai berlarut-larut.... ia harus bangkit..
Seorang pemuda yang sayapnya terpatahkan, bahkan sebelum ia mulai mengembangkannya.
Tapi ia tetap tersenyum. Karena ada keyakinan tentang sebuah harapan. Walaupun mungkin itu hanya sebuah angan.
' Setidaknya .... aku masih bisa melihat mu bahagia .... anggrek bulan ku '.
__ADS_1