
Pria boss itu terlihat sedikit kesulitan saat mengenakan kaos berwarna hitam. Pasti karena luka robek di perutnya. Dan seharusnya ia memang tidak boleh banyak bergerak dulu.
" Aku bantu ", akhirnya Kirana pun menawarkan diri, walaupun dengan sedikit canggung. " Duduklah.... kau terlalu tinggi ... ".
Sebuah senyuman terukir saat pria boss itu mulai duduk di kursi. " Terimakasih ... wah, aku merepotkan mu terus ya ".
" Ini tidak gratis kok ", Kirana menyela cepat. Kontras dengan gerakan perlahannya yang membantu memakaikan kaos hitam itu.
" Oh ya... ", Alend si pria boss itu lalu tertawa.
" Duduklah ", pinta Alend kemudian. " Kita akan berbicara banyak hal bukan ? ".
" Pertunangan .... bahkan mungkin pernikahan kalian akan dipercepat. Pak.... ehm' mas Alend sudah tahu bukan ?. Apakah selama ini ... ternyata ... mas Alend juga menyukai mba Cinta ?".
Tanpa prolog, Kirana memulai pembicaraan itu dengan jelas. Langsung mengarah pada sasaran, seperti sebuah busur yang dilepaskan setelah melalui proses akurasi tinggi. Melesat cepat dan langsung merobek apa yang disebut sebagai sebuah basa-basi.
" Ini sudah termasuk pertanyaan ? ".
Kirana menjawab dengan anggukan dan sinar mata yang penuh keyakinan.
" Jika aku menjawabnya .... berarti tinggal tersisa dua buah pertanyaan lagi. Kau yakin ? ", Syailendra menatap gadis dihadapannya dengan pandangan menegaskan.
" Ya ", jawaban tegas Kirana terucap pasti. " Karena jawaban mas Alend... menentukan, aku akan melanjutkan permainan ini atau tidak ".
" Baiklah ... aku suka gayamu ", Syailendra masih terlihat mengulur pembicaraan. " Jadi....".
" Apakah mas menyukai mba Cinta ? ", tanya Kirana lagi, menyambar dengan cepat dan membuat Syailendra tersenyum.
" Tidak ... dia hanya teman yang baik untuk ku ".
" Mas Alend ... mau membantu ku menyatukan mba Cinta dan kekasihnya ? ".
" Hei Rana... itu bukan sebuah pertanyaan, tapi itu permintaan ". Syailendra sedikit terkejut, wajah ramahnya begitu kentara menunjukkan dentuman kecil yang tiba-tiba saja menggelegar di hatinya.
" Mas yang buat aturan kalau jawabannya cuma 'iya' dan 'tidak'. Tidak ada aturan bagaimana bentuk pertanyaan itu. Aku masih tetap di koridor permainan ini koq ".
" Haduuuuuh..... ", dan Syailendra pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan ekspresi bingung dan serba salah.
" Mas Aleeeeeend .... ", dan Kirana menatap dengan percikan sinar mata yang imut menggemaskan seperti seekor anak kucing yang sedang memelas.
" Okay.... ya... jawabannya iya ".
Kirana pun tersenyum dengan ekspresi yang cukup puas, sementara Syailendra bermuka seperti seorang penjudi yang kalah taruhan.
Gadis pintar .... desis pria itu dalam hati. Dan ia pun terpesona dengan wajah lembut yang mempunyai sorot mata tajam namun hangat, menyiratkan kepribadian seorang wanita yang cerdas.
" Tapi pertanyaan selanjutnya tidak sekarang ... nanti, akan ada saatnya ".
" Hei .... tiga pertanyaan itu hanya berlaku sore ini ", buru-buru Syailendra memprotes.
" Maaf ..... peraturannya hanya tiga pertanyaan dan tidak membahas tentang kapan ... masih ingat? mas hanya mengatakan ... kau bisa menemuiku sore ini dan mengajukan tiga pertanyaan dengan jawaban iya dan tidak ".
Kirana mengangkat kedua alis matanya yang melengkung sempurna tanpa penambahan lukisan, membuat kedua bola mata jeli'nya menatap Syailendra dengan tegas. Tapi bagi pria yang duduk di hadapannya ini, entah mengapa tampak begitu menggemaskan. Ah... benar-benar adik kecil yang sangat manis, batin Syailendra tanpa menahan senyum.
" He... he... he... sifat detail dan perfectionismu itu pasti menurun dari Om Mandala ya. Oke deh.... next, apa yang harus kubantu untuk proyek cupid mu itu ? ". Akhirnya Syailendra pun menyerah.
" Besok siang atau sore... tapi sepertinya sore, aku diminta menemui om dan tante. Saat itu mas Alend juga sudah harus bilang pada mereka tentang kenyataan kalau mas Alend tidak bisa menerima pertunangan ini.... ".
" Hah ?!! .... aku?? ", Syailendra menunjuk mukanya sendiri dengan ekspresi tidak percaya. " Bagaimana bisa ?... padahal kau yang akan bertemu mereka ".
" Ya iyalah.... aku belum pernah ... emmh... sudah ding' ... sekali, ya baru sekali ketemu om & tante Raihan, mana mungkin langsung bilang ... tolong rencana pertunangan ini dibatalkan saja, karena putra anda tidak mencintai kakak saya, dan kakak juga sebenarnya sudah mencintai orang lain .... blaaaaa.... malah dikira aku yang sudah naksir duluan sama mas Alend ".
" He ... he... he.... iya juga nggak pa-pa .... ". Kekehan Syailendra itu lepas dengan santai dan hanya bermaksud menggoda.
" Hiiih... ngarep' ... nggak deh!!! ". Spontan Kirana melesatkan nada mencibir dengan ekspresi seperti orang tersengat lebah.
Tapi.... dug-dug.... dug-dug.... dug-dug.... dug-dug.... degup jantung gadis itu bertalu lebih cepat lagi, dan kegugupan itu samar terlihat dari wajahnya. Membuat Syailendra menjadi tertawa keras, seolah dia menikmati setiap ekspresi adik manis ini tanpa tahu apa yang sesungguhnya sedang dirasakan.
" Iya... iya.... pasti dokter semanis dan secantik Rana banyak pria naksir. Tapiiiii..... kok kemarin malam nggak ada yang nemenin malam Minggu nya? .... masih tahap pilih-pilih ya ? ".
" Mas Alend ..... kita sedang bahas mba Cinta... jangan mengalihkan topik dong ", Kirana pun cemberut.
" He.. he.. he... iya deh, tapi pasti sudah punya gebetan 'kan ? ".
" Mas ..... please deh .... ". Kirana bersikap seolah merajuk.
__ADS_1
Tapi yang berdentum-dentam di hati, kemudian menjadi alasan utama ia bersikap layaknya seorang bocah, merajuk panjang ketika digoda seseorang yang dekat dengannya. Tunggu dulu .... dekat? ... begitukah Rana?. Sejak kapan ? ..... ah, itu hanya klaim perasaan sepihak mu. Atau kau memang sudah sangat terpesona dengan pria ini ?. Sepertinya begitu ya Rana ? .
" Oke..... lalu kau punya rencana apa adik manis ? ". Syailendra bertanya dengan sebuah senyuman.
Dan senyuman itu adalah senyuman yang sama, yang telah berhasil menciptakan prahara di hati Kirana. Menciptakan dua kubu yang saling bertentangan. Antara naluri seorang gadis yang telah terpikat dan keangkuhan seorang wanita dengan karena memegang teguh harga dirinya.
Bunga itu yang harus disunting, tidak seharusnya menundukkan kelopaknya pada sang lebah .
Duuuuh.... Kirana, sebegitunya ya ?.
" Kan' sudah ku katakan tadi ", Kirana pun kembali mengeluarkan sungut lele tak kasat matanya, kebiasaan ketika ia mulai kesal.
" Jadi cuma seperti itu rencana mu ??? ". Sepasang bola mata coklat keabu-abuan itu membesar, memperlihatkan kelopak iris yang berlapis....... ah indahnya.
" Nggak akan mempan untuk orang tuaku ", kata Syailendra lagi dengan decihan kecil.
" Terus, gimana dong? ", Kirana mulai terlihat frustasi. "Aku nggak ada ide lain nih. Masa iya sih ?. Orang mau tunangan terus nikah 'kan harus saling cinta mas ".
" Untuk seorang duda seperti ku ...... semua persyaratan itu tidak berlaku 'non. Paling mereka akan bilang ....... dicoba dulu, dia gadis baik dan cantik, masa iya tidak tertarik padamu. Bukannya kalian dekat ya ? ..... atau..... ".
" Stop... stop.... ", Kirana buru-buru menghentikan gaya pria dihadapannya yang menjelma menjadi impersonator. " Walaupun mas Alend juga bilang kalau mba Cinta sudah punya seseorang yang disukainya ? ".
" He... he... he... adik kecil, ini dunia orang dewasa yang terdesak. Jika kekasih mba'mu itu tak kunjung bergerak ..... maka semua alasan itu tak berguna. Dan kau tahu ?... mba mu adalah kandidat sempurna. Menurut keluarga kita, untuk seseorang seperti ku.... tentu saja Cinta itu sangat tepat. Apalagi tante' Hana sudah nyaris putus asa .... ".
" Jadi menurut mu, kau itu pahlawan..... bintang terang yang tiba-tiba hadir di kehidupan keluarga kami ", sela Kirana cepat.
" Waaah ..... seindah itu kah arti diriku ? ", Syailendra berkata dengan cuping hidung yang sedikit bergetar, sepertinya dia terlalu bangga. " Pasti juga ada alasan bisnis di dalamnya ".
Kirana menegakkan duduknya saat mendengar kalimat terakhir yang lolos dari bibir Syailendra. Entah mengapa ada yang menggelitik dan mengusik hatinya, menciptakan getaran dengan frekwensi yang terasa sedikit menyakitkan.
" Om Juna bukan orang seperti itu, ia tidak akan mengorbankan anaknya sendiri demi sebuah materi. Aku tidak sependapat ", ucap Kirana dengan tegas.
" O'ouw... bukan seratus persen begitu maksud ku. Alasan bisnis hanya salah satu penguat saja..... bukankah sudah biasa ya dikalangan para pengusaha, pernikahan bisnis seperti itu ".
" Tapi tidak bagi keluarga ku ".
" Rana ..... maaf ... ", tiba-tiba saja Syailendra merasa bersalah dengan praduga nya. " Bisa kita kembali fokus .... ".
" Mas sendiri yang memperlebar masalahnya ", dengus Kirana dengan kesal.
" Pasti!!!.... dan kau sudah berjanji ".
" Iya... lantas, apa yang harus kulakukan ? ".
Kirana terdiam cukup lama, sementara Syailendra yang duduk dihadapannya juga nampak menggigit-gigit sudut bibirnya sendiri. Pria boss itu pun terlihat begitu memaksimalkan kemampuan otak kanan-kiri nya. Setelah beberapa saat .........
" Rana .... kau jadi pacarku saja ".
" Apa ?????!!!! ".
....................
Petang baru saja tergelincir dalam peraduan cakrawala, dan berganti dengan malam yang sedikit sejuk karena gerimis. Raka yang ngotot mengantar Ardelia hingga ke rumah gadis itu, saat ini sedang duduk sambil menikmati secangkir teh hangat. Berteman bakwan jagung yang baru matang, membuat mulut pemuda itu berdesis-desis karena panas dan juga sengatan si mungil hijau cabai yang pedas untuk lalap.
" Enyaaak sekali. Kau bisa 'kan buat yang seperti ini ? ".
" Tentu saja ", jawab Ardelia dengan penuh percaya diri
" Seenak bikinan Tante ? ", tanya Raka kemudian sambil menatap pada ibunya Ardelia, Tante Palupi.
" Kau meragukannya ? ".
" Kalau begitu, buatkan yang seperti ini setiap ku minta..... ehm, setiap hari mungkin ".
" Ish !!!", dan Ardelia hanya mencebikan bibirnya.
" Mas Raka... terimakasih loh sudah nganterin Ardel. Malah jadi merepotkan ", akhirnya wanita berperawakan kalem.dengan kulitnya yang seputih lobak itu menyela pembicaraan. Ekspresi yang ditampilkan terlihat mulai serius.
" Tante... ada yang ingin saya sampaikan dan tanyakan ", Raka pun mulai berbicara dengan perlahan setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.
" Tante juga ".
" Kalau begitu .... Tante dulu ".
" Jika ini tentang aku, seharusnya meminta pendapat ku dulu ". Tapi Ardelia menyela dengan cepat. Sepasang matanya tiba-tiba terlihat gamang dengan getaran lembut yang mengoyak rasa nyaman.
__ADS_1
" Ini tentang kita, tentu saja pendapatmu sangat didengarkan dan diperlukan ". Begitulah Raka menyentuh dan menenangkan Ardelia dengan ucapannya yang lembut namun bersungguh-sungguh.
" Apakah Raka sudah tahu semuanya ? ", tanya Palupi kemudian sambil menatap dua sejoli di hadapannya bergantian.
" Mami... ", Ardelia menyentuh jemari ibunya. Menatap penuh permohonan, tapi sang ibu terlihat tersenyum tenang.
" Raka harus tahu sayang ", ujar wanita itu sambil meremas jemari putrinya beramaksud menenangkan.
" Saya .... sedikit meraba-raba dan menebaknya saja. Tentang lamaran keluarga Arya Sanjaya itu ? ".
" Bukan lamaran ...... sesungguhnya, keluarga kami yang datang mengajukan diri untuk perjodohan. Jangan salah sangka, itu diluar persetujuan ku, sebagai ibunya Ardelia. Papinya yang keras kepala itu ...... yang seenaknya sendiri. Aku tidak pernah menyetujuinya... aku menentangnya ".
" Mami ...... ". Ardelia bangkit dari duduknya, menghampiri sang ibu, lalu memeluk wanita itu dengan erat.
" Sampai kapanpun, mami akan menentangnya. Jangan kau korbankan dirimu sayang ..... ".
" Aku baik-baik saja ...... akan selalu baik-baik saja, mami jangan khawatir .... It's gonna be okay ".
Dua wanita jelita yang rapuh namun saling menguatkan. Kasih sayang dan cinta termurni itu tak terbantahkan, lihatlah mereka berdua yang saling menopang itu. Tak menghiraukan rasa sakit yang disandangnya, demi bisa melihat yang lain bahagia. Padahal sesungguhnya, keduanya sangatlah rapuh dan merana.
" Tante..... ", suara berat Raka memecah suasana. Membuat kedua wanita itu kini menatapnya.
" Ardelia.... dia hanya akan menikah dengan ku ". Raka mengucapkannya dengan nada terjernih yang tercipta dari sebuah keyakinan sejati. " Aku akan melindungi Ardelia ".
" Ti-tidak !! ..... a-aku... aku akan menuruti permintaan papi .... ".
" Demi apa sayang ? apa yang kau harapkan dari seorang pria yang kebetulan saja adalah ayah kandung mu. Pria yang sesungguhnya adalah manusia terjahat yang pernah kutemui ".
" Mami.... ", Ardelia hanya semakin mengeratkan pelukannya pada wanita tercinta itu.
" Jangan kau korbankan dirimu, cintamu dan hidupmu. Demi apa? sebuah pengakuan? .... sayang, kita tidak butuh semua itu. Merekalah... mereka yang sesungguhnya tidak bisa hidup... meski hanya dengan bayangan kita. Harta? .... kita tidak butuh. Keluarga? .... cukup cici' disamping mami ".
Terbuang, begitulah Raka menerjemahkan sebuah kesimpulan dari apa yang dilihatnya saat ini. Dua wanita tegar yang saling menguatkan itu membuat sisi rasa tanggung jawab dirinya sebagai seorang pria menggelora. Memantapkan sebuah keputusan yang telah diambilnya.
" Tante .... maaf .... ", Raka pun menyela dan membuat wanita yang tengah berada dalam pelukan putrinya itupun kembali menatapnya. Dengan wajah yang mulai berbinar seolah mendung yang menggantung telah tersibak.
" Minggu depan, keluarga ku akan datang untuk meminang Adelia. Dan pernikahan ...... bulan ini akan terlaksana ".
" Raka..... kau, tidak pernah merundingkannya dengan ku .... ", terdengar Ardelia memprotes.
" Secepat itukah mas Raka? .... Apakah keluarga mu sudah menyetujuinya ? ". Palupi pun nampak terkejut.
" Bukankah kita harus berpacu dengan waktu dan keinginan dari papinya Ardelia ?. Kemudian Raka beralih menatap tajam pada Ardelia. " Dan juga .... aku menyayangkan sikap mu yang tidak mau berterus-terang pada ku ".
Entah mengapa kalimat itu seperti barisan anak panah yang melesat kemudian menghunjam dengan telak ke dadanya. Ardelia bahkan terlihat gemetar, entah menahan marah atau menahan sakit yang amat sangat di hatinya. Yang pasti, gadis itu merasa tersudut dengan sikap dan perkataan Raka.
" Apa maksudmu ? ", desis Ardelia sambil melepaskan pelukannya dari sang ibu. Berdiri tegak dan membalas tatapan Raka.
" Aku menunggumu ... tapi kau tak kunjung menceritakan ada apa sebenarnya. Hingga.... ".
" Cukup Raka ! ", sambar Ardelia dan membuat Raka berhenti bertutur. " Ini sudah malam ... aku lelah, kau pulanglah ".
" Delia .... ". Sentuhan itu teriring dengan teguran lembut dari Palupi untuk putrinya.
" Tante Hana pasti mengkhawatirkan mu, pulanglah Raka..... kita bicara lagi besok ".
" Baiklah ..... tapi.... antarkan aku hingga depan kompleks ".
Ardelia mengangguk, lalu dengan cepat ia melesat meninggalkan ruang keluarga yang nyaman itu. Membawa gemuruh dihatinya, menutupi ketakutan yang membuat air matanya menyudut.
Sementara Raka, setelah berpamitan dengan ibunya Ardelia langsung bergegas mengikuti gadis yang sudah tidak nampak lagi. Kini tinggal seorang Palupi yang menatap dua muda-mudi itu. Ada senyum getir disudut bibirnya, namun doa terindah mengalun tak bertepi, ia panjatkan untuk Sang Maha Cinta demi kebahagiaan putri semata wayangnya.
................................
Dia yang terbaik yang Engkau titipkan padaku
Dia adalah salah satu perwujudan kasih sayang Mu di dunia
Seandainya dosa masa laluku sungguh tidak terampuni
Kumohon kabulkanlah satu doa ku ini
Biarkanlah dia bahagia dengan cinta sejatinya
..........................
__ADS_1