PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Mengurai Masai, Menggenapi Janji (3)


__ADS_3

Dulu wanita ini belum berkacamata, tapi kini pasti dia sudah menderita miopia. Kegemarannya membaca bertumpuk-tumpuk buku tentulah sebagai faktor pencetus utama. Tapi kaca mata yang bertengger di hidungnya itu semakin mempertegas kecantikan yang dimiliki wanita ini. Dan Wisya, sama seperti yang telah lalu .... ia pun kembali terpesona.


" Jangan campur adukkan tugas yang kau emban dengan perasaan pribadi ", tukas Yulia dengan ketus.


" Loh ... bukan aku yang memulai ", Wisya tertawa kecil. " Aku datang ke sini untuk bertugas.... tapi kau pikir, aku akan menganggu mu ".


Huh !!! Yulia benar-benar merasa terpojok dengan kalimat Wisya yang tidak salah itu. Ia pun kemudian meletakkan map file dari Wisya di atas meja. Menatap pria itu seolah mengumumkan bahwa dia yang baik berkuasa di sini.


" Sekarang ... kau ingin aku bagaimana ? ", Yulia seolah mengalah tapi sinar matanya terlihat sinis.


" Standar saja... bawa aku berkeliling fasilitas ini, perkenalan dengan seluruh staff ... lalu tunjukkan rumah yang akan ku tempati ".


Cih ... Yulia berdecih tanpa ditutupi, tapi Wisya hanya tersenyum saja melihatnya. Ia sudah mempersiapkan ketebalan muka hingga level tujuh belas, dan terbukti bermanfaat.


" Ada yang lebih penting lagi ..... ayo kita bantu Haidar. Kau tentu bisa sirkumsisi bukan ? ".


Wisya tertawa kecil lalu segera bangun dari duduknya. " Ayo.... aku siap ".


Dan begitulah, akhirnya setelah beberapa tahun inilah untuk pertama kalinya mereka berdua berada di satu mobil. Wisya bersikeras untuk menggunakan mobilnya sendiri, tidak mau menggunakan mobil pusling yang ada. Membuat Yulia sedikit mendengus kesal. Tapi ia kalah telak dan akhirnya dengan enggan masuk ke dalam mobil Wisya. Mobil sejuta umat yang standar saja, terasa sedikit aneh. Seorang Wisya Damara yang saat kuliah dulu selalu menggunakan mobil mewahnya, kini terlihat nyaman menggunakan kendaraan pribadi yang jauh dibawah imagenya selama ini.


" Ini kubeli dengan uangku sendiri " tanpa diminta Wisya mulai bercerita seolah mengerti yang dipikirkan wanita yang duduk disebelahnya.


" Aku nggak tanya ", Yulia ketus.


" Aku nggak jawab .... tapi cerita saja. Karena kerutan di sudut mata mu itu tak berubah sejak dulu.... yaaa... kalau sedang memikirkan sesuatu ", Wisya tersenyum kecil. Yes!!!! ... satu point' untuk ku, sorak hatinya.


" Di depan situ belok kanan..... Balai desa ada kanan jalan ". Seolah tak menghiraukan apa yang dikatakan Wisya, Yulia memfokuskan perhatiannya pada jalanan. Namun sebenarnya hatinya bersorak, karena ia tak perlu merasa terpergok seperti tadi.


Benar saja, beberapa meter setelah berbelok sudah mulai terlihat keramaian warga. Semua berpusat pada bangunan berbentuk pendopo Limasan khas Jawa Tengah dengan halaman yang luas, tentunya itu adalah balai desa yang dimaksud Yulia. Banyak orang berkumpul disana. Suasana ramai oleh tawa canda bernada menggoda dan juga diselingi tangisan bocah pria yang terlihat takut.


Nuansanya adalah bersarung sambil berjalan perlahan seraya memegangi sedikit kain yang dominan motif kotak itu. Tentu saja menjemputnya pada bagian di depan perut kecil mereka. Keluar ruangan masih dengan wajah memerah karena air mata, namun segera tersenyum ceria saat menerima amplop putih dan bingkisan berbungkus cantik.


Seorang bapak-bapak muda yang mungkin berusia sepantaran Yulia datang tergopoh-gopoh menghampiri. Wajahnya sedikit panik tapi juga terlihat sangat sumringah.


" Bu dokter.... diluar dugaan, pesertanya terus bertambah. Saya tidak bisa menolaknya... ".


" Oh ya? ... tambah berapa ? ", tanya Yulia kemudian.


" Tambah dua belas ... ini masih akan ada empat lagi dari desa lain. Saya nggak mungkin menolak ... ".


Wisya yang mendengar hal itu melihat ke arah dua bilik yang dibatasi dengan tirai. Itu pasti tempat mengeksekusi .... ah, tepatnya mempermanis tampilan si gajah kecil. Sementara Yulia nampak serius berbicara dengan bapak kepala desa itu. Wisya menangkap isi pembicaraan itu adalah mereka sedik kewalahan dan kekurangan tenaga.


" Bu dokter ..... ", sela Wisya. " Bagaimana jika buka satu bilik lagi .... dan kau jadi asisten ku ".


" Serius ? ", Yulia menatap Wisya yang terlihat tersenyum penuh percaya diri. " Peralatannya ... ".


" Kau pikir aku tanpa persiapan .... ??? ".


Dan untuk pertama kalinya setelah pertemuan pertama mereka, Wisya bisa melihat kembali senyuman manis dokter Yulia. Sebuah senyuman tulus yang datang dari hatinya yang lembut. Senyuman yang mampu membuat Wisya bangkit kembali dari segala rasa sakit dan rasa dendam yang menggerogoti. Dan pria itu pun melantunkan syukur yang panjang dalam hatinya.


" Bantu kami menyiapkan satu ruangan lagi pak... ada tempat tidur kecil ? ", Yulia pun terlihat bersemangat.


" Ya Bu ... ada, kita pake punya Bu bidan saja. Segera saya siapkan ... ehm ... di ruangan saya saja ". Pak Kepala desa pun bergerak cepat, wajahnya terlihat lebih bersemangat.


Semilir angin daerah pesisir pantai meningkahi matahari musim hujan yang kali ini memenangkan pertarungannya dengan awan. Suara tangisan dan tawa yang terkadang berbaur dengan seringai geli juga ikut menyemarakkan suasana saat itu. Tiga bilik tindakan itu seolah tak henti mengukir cerita awal mula menjadi seorang pria.


Dan tepat tengah hari ketika adzan Dzuhur berkumandang, seorang pria kecil keluar dari dalam bilik dengan didampingi oleh Wisya. Pria kecil itu menyeringai antara sedikit risih dan nyeri juga karena gembira. Ada setitik air mata yang tersisa di sudut matanya, tapi buru-buru diseksa penuh semangat. Bocah itu menyeringai lebar memperlihatkan gigi ompongnya yang lucu, ia gembira saat menerima sebuah bingkisan besar.

__ADS_1


Tapi serabut wajah dibelakangnya lebih gembira lagi, walaupun ia membalutnya dalam senyuman tipis. Wisya merasakan dadanya seperti hendak meledakkan ribuan kuntum mawar, karena ia sangat bahagia. Bukan karena ia telah berhasil membantu menyunati peserta tambahan sunatan masal, tetapi lebih karena asisten cantiknya ini. Walaupun selama bekerja Yulia begitu serius, tapi ini untuk pertama kalinya wanita itu tidak menunjukkan penolakan padanya.


Sesekali pundak mereka bersinggungan, atau lengan mereka saling bergesekan. Wisya merasakan debaran di dadanya, bukan karena takut atau gugup, tapi karena ia bahagia. Menemukan kembali hal yang sangat dirindukannya selama hampir lima tahun ini. Wisya pun bertekad untuk menebus semua kesalahan, menghapus dendam dan membalut luka yang pernah ia torehkan. Kebahagiaan saat melihat senyuman Yulia yang tulus tanpa beban, sungguh bukan hal yang harus dia perjuangankan kembali.


" Untung kau memilih datang lebih awal ".


Sebuah suara mengurai senyuman Wisya dan membuatnya semakin tersenyum lebar. Haidar yang baru saja selesai melakukan tugasnya lantas ikut bergabung.


" Niatku untuk merecokimu sebenarnya ", canda Wisya.


" Waaah.... rupanya itu yang membuat mu datang lebih awal. Kau sangat merindukan saat kita berseteru rupanya .... ".


" Itu kau tahu ", Dua orang pria itu walaupun tanpa banyak bicara tetap saling tersenyum. Yulia mencuri pandang pada keduanya, dan ia pun memilih menepi.


Kenyataan saat ini kedua pria itu menyapa dan sedikit berbincang tanpa beban, bahkan saling melempar canda. Padahal dulu mereka bertarung dengan keegoisan mereka dan membuat seorang Yulia yang lugu tak memahami apa-apa menjadi seorang korban. Ia tidak bisa untuk tidak marah pada keduanya. Dengan segala kelemahannya, ia seperti menjadi sebuah tumbal atau mungkin piala, tanpa tahu mengapa. Dan kini, hati itu kembali teriris perih.


" Bu dokter.... ", sapa seorang wanita mengentaskan Yulia dari tenggelam dirasa pribadinya yang perih.


" Nggih Bu ..... ", Yulia tersenyum kearah istri kepala desa yang tergopoh-gopoh datang menghampirinya.


" Monggo, dahar dulu ". Ibu muda seusia Yulia itu mempersilahkan Yulia untuk menikmati makan siang yang telah dihidangkan.


" Oh ya Bu, yang lain ? ", tanya Yulia kemudian.


" Menunggu Bu dokter, monggo ... ".


Yulia pun kemudian tersenyum dan bergegas mengikuti langkah ibu itu masuk kesebuah ruangan yang cukup lega. Disana sudah berkumpul seluruh anggota timnya yang bertugas sepagi hingga siang ini. Tentu saja Wisya juga ikut bergabung disana. Pak Kepala Desa itu juga ada dan nampak tersenyum sumringah. Di sebuah meja panjang, nampak tersaji beraneka hidangan dan juga sebuah tumpeng dengan aneka lauk yang menggiurkan.


" Bu dokter .... mari kita syukuran dulu ", ucap pria muda itu penuh semangat. " Terimakasih banyak untuk seluruh bantuannya, Bu dokter, pak dokter dan juga bapak-ibu para medis lainnya ".


Memang benar jika makan bersama dengan banyak orang dan setelah melakukan pekerjaan berat, pasti terasa lebih nikmat. Bagi hampir seluruh yang ada di ruangan itu, demikian yang dia rasakan. Tapi sedikit berbeda dengan Yulia, dia memilih menepi setelah dengan cepat menghabiskan porsi kecil makan siang yang diambilnya. Bukan karena menu yang tidak menggugah selera, tapi ada beban berat yang mendesak hatinya dan membuat sesak. Yulia berakhir duduk termenung dibawah pohon rindang yang menaungi salah satu sudut halaman balai desa itu.


Memilih pulang terlebih dahulu, Yulia membonceng salah seorang perawat dan berlalu pergi. Meninggalkan Haidar dan Wisya yang sedikit kebingungan mencari keberadaan wanita itu.


" Ibu sedikit pucat, baru mensis hari ke dua. Tadi dibonceng Indah pulang duluan .... mungkin langsung ke rumah, nggak ke kantor lagi ", seorang bidan yang kebetulan adalah tuan rumah acara tersebut menjelaskan pada Haidar .


" Oh ... ya udah kalo gitu. Aku nggak ikut ambulans ya... tolong bilang sama Sapto. Langsung pulang juga sama dokter Wisya ".


" Ya pak... nah itu Sapto ", bidan itu menunjuk pria jangkung hitam manis yang datang menghampiri.


" To' .. aku langsung pulang ya. Ikut dokter Wisya ", kata Haidar.


" Siap pak boss ", dan Sapto pun nyengir penuh semangat.


Gerimis kembali turun ketika mobil yang dikendarai oleh Wisya dan membawa serta Haidar memasuki sebuah pelataran rumah. Ini adalah rumah dinas bidan desa yang sudah tidak ditempati lagi. Sang bidan yang kebetulan menikah dengan warga setempat, memilih tinggal di rumah suaminya. Dan menjadi keberuntungan bagi Haidar yang kemudian bisa menempati rumah itu.


" Ada satu kamar yang masih kosong, lengkap dengan satu almari dan tempat tidur. Pastinya jauuuuh dari ekspektasi definisi sebuah kamar untuk mu ".


" Heeeem.... untuk seorang Wisya sewindu yang lalu .... mungkin iya ", Wisya menyela cepat.


" Kau sudah berubah rupanya ? ".


" Tepatnya ... sudah mampu melihat lebih dalam lagi. Kau juga sudah banyak berubah ... ".


" Oh ya ? apa itu ", Haidar tertawa sambil membuka pintu rumah dan mempersilahkan Wisya untuk masuk dengan gesture tubuhnya.


" Kau .... sekarang sudah tidak pelit ngomong ".

__ADS_1


" Ha.. ha.. ha... ha... ya betul. Aku sudah terbebas dari penjara senyap .... ". Haidar kembali tertawa. " Itu kamarmu ... beristirahatlah, aku juga akan beristirahat sebentar. Sore nanti pasti masih ada satu dua orang yang periksa ke sini ".


Haidar menunjukkan sebuah kamar yang letaknya berseberangan dari sebuah kamar yang baru saja dimasukinya tadi. Ia keluar membawa sebuah bantal dan guling yang masih kempes karena termampatkan oleh plastik kedap udara. Barang-barang itu segera berpindah tangan pada Wisya, berikut sarung bantal guling senada dengan warna coklat yang lembut


" Okay, terimakasih ya.... eh' kau buka praktek juga rupanya ", kata Wisya sambil membawa dua benda itu dalam pelukannya.


" Hanya memenuhi permintaan masyarakat ... mereka yang bekerja pada pagi hingga siang hari sehingga lebih memilih menahan sakit hingga sore hari ..... ".


" Begitu ya ? .... luar biasa ", Wisya nampak terkejut.


" Kau juga harus bersiap untuk tetap melayani.... hingga malam hari ".


" Kan ada kamu ... aku cukup di rawat inap saja ", Wisya tampak tidak mengerti.


" Hei... ", Haidar menyentuh pundak Wisya. " Kau disini hari Senin sampai Rabu.... itu artinya di hari Senin dan Selasa sore kau juga harus buka praktek di sini.... tuntutan mereka. Lupakan status SPOG mu ... disini tidak berlaku. Yang masyarakat tahu, kau ini dokter yang bisa mengobati penyakit. Kau tidak akan mampu menolak sinar mata tulus mereka yang penuh pengharapan ".


" Lah iya..... ' kan ada kamu Haidar ".


" Masaku sudah berakhir ..... sekarang giliran mu ".


" Maksud mu ? kau akan pergi ? ... bagaimana bisa begitu ? ". Wisya memberikan pertanyaan bernada protes.


" Aku hanya partisipan disini.... pekerja sosial dan bukan abdi negara seperti kalian. Aku akan segera kembali ke Jakarta .... bulan depan ".


" Bulan depan ? ... itu artinya tinggal sebelas hari lagi. Yulia sudah tahu ? ".


" Dia akan segera tahu ", Haidar tersenyum.


" Kau ... ah!!!... curang. Bagaimana bisa kau membiarkan ku di sini.... padahal kau tahu tujuan ku kemari itu untuk apa .. ", Wisya nampak geram karena kecewa.


" Waaah.... kau begitu mengharapkan bisa bersama ku rupanya. So sweet .... aku terhoreeee ... ". Haidar yang sudah bersiap masuk kedalam kamarnya, membalikkan badan dan membuat raut wajah yang manis-manis menggelikan


" Kampret !!! lo' bro... Buang ekspresi alay mu itu ".


" Hua.. ha... ha... ha... ", dan Haidar pun tidak bisa lagi menahan tawanya melihat Wisya yang begitu kesal. " Abaaang dokter .... bobok dulu ya akunya... ".


" Burgh ... ", suara lemparan bantal dan guling itu tepat mengenai pintu yang dengan cepat di tutup oleh Haidar. Suara tawa pria itu terdengar berderai-derai dari balik pintu. Sementara Wisya bersungut-sungut kesal. Ia pun melangkah mendekat dan kembali mengambil dua benda yang dicampakkan tadi.


" Eh ... nanti malam kita bicara. Aku yakin kau sangat merindukan ku .... he...he... ". Haidar kembali membuka pintu dan menampakkan seringai konyolnya.


Belum lagi Wisya memberikan komentar apapun, pintu itu kembali tertutup. Dan Wisya dengan sedikit geram membuat gerakan meninju. Tapi kemudian dia tersenyum seraya melangkah menuju kamarnya di seberang.


Bersih dan rapi, tampak sangat terawat. Sebuah ranjang kecil dibawah jendela dan satu set lemari, serta kamar mandi ada di dalamnya juga. Cukuplah untuk ia tinggal disini nanti. Wisya memutuskan membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan kaos yang nyaman. Ia nampak segar, dan kini berbaring menatap langit-langit kamar yang putih.


Setelah bertahun-tahun, ia sungguh tidak menyangka akan bisa bertemu kembali dengan dua orang yang sudah sangat berperan besar mewarnai hidupnya. Dua orang yang membuatnya mampu melihat jauh kedalam hatinya sendiri, dan juga membuatnya mampu membuat sebuah pilihan. Yulia yang polos dan , serta seorang Haidar yang begitu banyak mempunyai rahasia. Tapi untuk sebuah cita-cita, mereka sama..... tak punya rasa menyerah.


Wisya yang tadi tersenyum, kini menjadi muram, bahkan sangat muram. Ada ketakutan, kesedihan dan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyelimuti hatinya.


' Kau sudah berniat untuk memperbaiki semuanya... tunggu apalagi ?. Saat mengetahui kebenaran itu, pasti ia akan lebih membenci mu dan kau tidak boleh mundur. Bukankah kau sendiri yang menyebabkan semuanya ?. Ingatlah kembali niatmu .... mengembalikan kebahagiaan yang telah kau rampas '


Aku rapuh , dengan segala keangkuhan ku


Aku benci dengan semua rasa cinta ini


Tapi aku tidak bisa berpaling darimu


Jika nanti kau benar-benar meninggalkan ku

__ADS_1


Kumohon, sisakan sedikit senyummu untuk hatiku.


__ADS_2