
Tidak seperti beberapa malam sebelumnya yang selalu terselimuti awan dan basah oleh hujan. Kali ini cuaca cerah walaupun tanpa taburan gemintang. Mengantarkan sepasang anak muda yang mulai saling bicara dengan perasaan riang. Tawa mereka sesekali terdengar, seperti sahabat lama yang terbiasa saling bercerita.
" Terima kasih sudah mengantarku ".
" Sama-sama Yulia.... selamat istirahat. Sampai ketemu besok ya ".
Yulia pun turun dari dalam mobil Wisya sesampainya mereka di depan kosannya. Saat ia sudah berada di luar mobil, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ya, ia harus mengembalikan barang yang dipinjamnya dari pemuda itu.
" Wisya..... ini, milikmu. Terimakasih ya.... ". Yulia kembali membuka pintu mobil itu dan mengulurkan payung lipat pada pemuda di dalamnya.
" Oh.... ", namun Wisya mendorong perlahan benda itu pada Yulia. " Kau bawa saja .. ".
" Tapi ... ".
Wisya menutup pintu mobilnya membuat Yulia merasa tidak enak dan menyadari kesungguhan penolakan itu. Perlahan ia merasa sangat menyesali kebodohannya. Tentu saja benda itu tidak berharga untuk seseorang seperti Wisya. Tapi kemudian jendela mobil itu pun terbuka dan Wisya nampak menyunggingkan sebuah senyuman.
Yulia mengerjapkan matanya tak percaya. Ia pasti tadi terlalu berprasangka buruk pada pemuda ini. Ia menutup pintu pasti bukan karena merasa terganggu, tapi mungkin karena dia benar-benar ingin memberikan benda ini padanya. Tapi senyum itu sangat manis, dan sinar mata itu begitu hangat.
" Hei.... biarkan ada bersamamu, ku pinjamkan padamu ", kata Wisya masih dengan senyuman yang menghias wajah tampannya.
" Aku ... sudah punya ", tolak Yulia sambil tetap menyodorkan payung itu .
" Nona ... setidaknya, biar aku ada alasan untuk mengantarmu lagi ". Wisya tersenyum dan buru-buru menutup jendela mobilnya.
Sementara itu Yulia terpaku, tapi merasakan sangat ringan. Hatinya seperti selembar bulu yang tertiup angin, melayang terbang mengikuti tarian udara. Bahkan hingga mobil itu telah berlalu dari hadapannya, ia masih terpaku membisu tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh mata dan juga telinganya. Bukankah ini terlalu aneh? apa benar aku masih waras? atau dia yang sedikit gila?, begitu desis Yulia dalam keterpaduannya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, Yulia tetaplah mahasiswa rajin yang selalu datang lebih awal dan memilih duduk di deretan depan setiap perkuliahan. Sedikit bicara, dan tidak pernah berinisiatif memulai pembicaraan pada siapapun. Cukup dengan selalu tersenyum ramah pada teman-teman yang melewati tempat duduknya saat masuk ke dalam kelas.
" Yulia ", suara sapa itu memaksa ia mengangkat wajah.
" Ya Haidar ".
" Sudah buka email mu? ", tanya pemuda yang baru saja datang menghampiri.
Haidar, pemuda ini mengambil tempat duduk fi sebelahnya. Yulia mengerutkan kening, ia dua hari ini belum sempat membuka elektronik mail miliknya.
" Belum .....ada apakah ? ", tanya Yulia kemudian.
" Tugas dari profesor Daniel .... aku juga baru buka tadi malam setelah mendapatkan telpon dari beliau. Katanya, kau sama sekali tidak merespon teleponnya ".
" Hah ?!!", Yulia mengerutkan keningnya. Ia pun teringat beberapa panggilan masuk tak terjawab dari sebuah nomer baru tak dikenal. " Oh ya, maaf .... nanti aku cek ".
Dan percakapan mereka terhenti ketika rombongan teman-teman sekelas mereka yang berisik mulai masuk bersamaan dengan kehadiran dosen muda favorit. Tiba-tiba saja bangku depan terisi penuh oleh deretan gadis cantik. Yulia menoleh perlahan ke samping kanan - kiri, dan ia mendapati Haidar juga melakukan hal yang sama. Lalu pemuda itu juga tersenyum kecil sambil mengangkat pundaknya, mungkin Haidar berpikiran sama dengan Yulia.
Berlanjut sesuai mata kuliah siang, kini dua orang mahasiswa cerdas itu saling mendekatkan bangkunya untuk mulai mendiskusikan proyek penelitian yang dikirim profesor mereka. Yulia terlihat masih mempelajari email yang baru sempat dibukanya.
" Yul, maaf aku harus segera pergi. Ini nomer WA ku, ini email ku juga. Tolong setelah ini kau hubungi aku ya.... aku sudah terlanjur janji dengan ayahku ".
Yulia mengangkat wajahnya, ia melihat Haidar sudah mulai mengemas laptop mutakhirnya. Seperti biasa, pemuda ini akan dengan tergesa pulang saat perkuliahan usai. Sopir dan pengawalnya pasti sudah menunggu seperti biasa. Sepertinya pemuda ini memang dibatasi oleh peraturan yang sangat ketat untuk pergaulannya. Entah berasal dari keluarga seperti apa pemuda ini, hidupnya seperti terikat dengan erat. Dan Yulia pun hanya bisa mengangguk mengiyakan.
" Ya ... maaf, aku baru sempat membukanya. Setelah ini aku akan menghubungi mu ".
Haidar tersenyum membalas Yulia dan segera berlalu meninggalkan gadis itu. Suasana kelas telah benar-benar sepi. Walaupun masih terdengar keriuhan dari luar kelas sebelah. Yulia memutuskan mempelajari dengan cermat tugas yang diberikan profesor-nya itu. Seorang ahli penyakit tropis yang mengkhususkan dirinya pada bidang parasit.
Dengan cermat Yulia mencerna seluruh isi email tersebut. Lalu melanjutkannya dengan mencari bahan referensi dan membuat sketsa milestone penelitian nya itu. Ketika tiba-tiba sebuah kotak juicy berwarna dominan hijau segar diletakkan di depannya.
Yulia mengangkat wajahnya, mendapati senyuman hangat itu terukir pada seraut wajah. Widya menarik kursi dan duduk dihadapannya tanpa menarik senyuman yang sudah terkembang.
" Apakah aku menganggu ? ", tanya pemuda itu kemudian.
" Tidak ... ".
" Dapat tugas ya ? ", tanya Wisya lagi.
__ADS_1
" Iya dari prof.Daniel .... seperti nya proyek penelitian, mungkin untuk kepentingan kampus ", pada akhirnya Yulia menjawab sedikit panjang.
" Ooh... semangat ya. Minumlah .... semoga bisa menyegarkan mu, jangan lupa makan siang ya ". Wisya pun meletakkan sebungkus roti lapis teriring dengan senyum lembutnya.
" Terimakasih .... aku merepotkan mu .. ".
" Tidak .... aku yang sudah menganggu mu... he.. he.. he... silahkan dilanjutkan, aku pulang dulu ya ".
Tanpa sempat terbangun dari keterkejutan, Yulia telah ditinggalkan sendirian di kelas itu oleh Wisya. Ia termenung tak mengerti dengan sikap pemuda itu.
" Terimakasih .... kau sama sekali tidak menganggu ku Wisya ... ".
Sayangnya pemuda itu tak mendengarnya. Karena Yulia membutuhkan waktu cukup lama untuk tersadar. Sentuhan jemari Wisya pada punggung tangannya walaupun hanya sekilas, seperti pemicu henti jantungnya sesaat tadi. Dan Wisya pun telah terlanjur menghilang di luar sana .
Waktu itupun bergulir tak memperdulikan apapun, melibas dan menggilas apa saja yang berada dihadapan dan kemudian membuatnya ikut bergulir bersama, seperti sebuah gerakan bola salju. Yulia sudah sangat disibukkan dengan mini project-nya bersama Haidar. Membuat semua waktu jeda dari setiap mata kuliah menjadi saat efektif untuk mereka berdua berdiskusi, mengingat Haidar selalu tergesa-gesa pergi setelah selesai perkuliahan.
Keduanya akan melanjutkan diskusi melalui chat email. Saling bertukar informasi tentang subyek penelitian mereka. Lalu bersama-sama menyimpulkan hasilnya, sebelum mengirim pada sang profesor. Tapi terkadang keduanya juga harus datang bersamaan menemui para subyek responden mereka, atau bahkan mengikuti kemana langkah prof. Daniel. Bisa ke rumah sakit menemui para pasien yang terjrna penyakit parasit dalam tubuhnya, atau ke laboratorium penelitian. Dan seperti biasa, Haidar segera menghilang setelah acara mereka usai.
Yulia pun akhirnya terbiasa melakukan komunikasi efektif dengan menggunakan email atau chat WA nya. Dan itu cukup efektif, karena Haidar ternyata adalah orang yang sangat kompeten dan bertanggungjawab, walaupun ia selalu seperti dikejar-kejar sesuatu.
Tiga Minggu pengamatan dan penelitian ini akhirnya mulai memasuki tahap akhir. Dan keduanya pun yang sudah sejak awal berbagai peran, kini tinggal menyusun dan mempercantik laporannya saja.Yulia meregangkan kedua tangannya dengan nikmat, ia tersenyum puas di tempat VIP, bangku pojok perpustakaan.
" Nah... bagaimana kalau kita mengisi perut ? ".
" Hah ? ... astaghfirullah ... ", Yulia tidak mampu mengatasi keterkejutannya. Ia benar-benar tidak menyadari kehadiran sosok Wisya yang tiba-tiba sudah duduk di sebelahnya sambil memasang senyuman lebar.
" Ha... ha.. ha... kau tidak menyadarinya ya, aku sudah hampir dua jam ada disini loh. Minumlah, untuk mengobati terkejut mu ". Sekotak kecil minuman diberikan Wisya, kali ini adalah susu cokelat. Beberapa hari yang lalu aneka jus buah, terkadang juga sari asam atau sari kacang ijo.
" Tidak perlu repot-repot begini... aku jadi banyak berhutang pada mu ".
" Aku tidak pernah meminjamkan budi padamu... lagian aku juga tidak punya budi itu ".
Yulia terkekeh kecil mendengar ucapan Wisya, iapun lalu meraih kotak mungil kemasan susu coklat itu dan mulai meminumnya sedikit demi sedikit melalui sedotan.
" Mana bisa... buat ku saja ". Dengan gerakan cepat Wisya merebut kotak mungil bersedotan putih itu. Lalu tanpa canggung langsung iapun menyedot isinya.
Yulia ternganga tak percaya, ia bengong karena terkejut dengan apa yang disaksikannya. Sementara Wisya yang telah selesai menghabiskan sekotak mungil susu coklat itu kini tersenyum penuh misteri.
" I .. itu bekas ku ... ", Yulia terbata-bata.
" Sekarang perutmu harus diisi lagi... ayo kita cari makan ". Tanpa permisi Wisya menarik tangan gadis dihadapannya yang masih terbengong-bengong.
" Ah .... apa ... ini ? ", Yulia berubah menjadi gagu. Dan ia sama sekali tidak bisa menolak apa yang dilakukan Wisya padanya.
Masih dengan tatapan protesnya, Yulia berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah Wisya yang ringan dan berbalut senyum ceria. Ia menunduk malu sambil tetap berusaha melepaskan jemari Wisya yang menggenggam erat pergelangan tangannya.
" Kalau aku lepaskan.... kau pasti menolak ajakan ku ". Seperti mengerti arti tatapan protes gadis itu, Wisya berusaha memberikan alasan atas tindakannya.
Seperti seorang anak yang hanya bisa menurut pada ibunya, Yulia tidak mampu menolak ajakan Wisya. Beruntung pemuda ini hanya mengajaknya makan di kantin dekat perpustakaan kampus. Sehingga Yulia tidak perlu lagi menahan debaran jantungnya yang lebih cepat, saat mereka berdua di dalam mobil seperti beberapa hari yang lalu.
Tapi ternyata dia salah, sikap Wisya begitu manis. Menarikkan kursi untuk dirinya, memberikan sapu tangan yang halus dan wangi ketika Yulia baru sadar jika tissue yang dibawanya telah habis. Bahkan dengan sangat perhatian juga, pemuda itu mengambilkan sebotol saus pedas dari meja sebelah mereka.
" Rasanya jadi lebih sedap ya... pasti karena ada kamu ".
" Uhuk.. ", Yulia tersedak dan terbatuk-batuk kecil.
" Ini minum dulu... tidak usah terburu-buru... apa kau punya janji yang lain ? ".
Sepasang mata Yulia memerah menahan rasa tidak nyaman di hidung dan tenggorokannya, karena uap pedas yang salah masuk rongga sebab terdorong oleh rasa kagetnya. Perlahan ia sudah kembali bisa menguasai diri.
" Tidak kok.... setelah ini aku akan ... ", Yulia tidak melanjutkan ucapannya. Ia berpikir cepat untuk tidak menyambung kalimat itu, karena takut dengan reaksi Wisya selanjutnya.
Tapi pemuda dihadapannya ini menatap dengan penuh rasa penasaran, terlihat ia begitu menunggu Yulia melanjutkan perkataannya. Tentu saja membuat gadis berjilbab itu menjadi salah tingkah, ia pun menelan potongan kentang goreng yang tiba-tiba terasa begitu sulit masuk tenggorokannya. Sementara Wisya masih menatap, menunggu.
__ADS_1
" Aku mau pulang .... setelah ini. Persiapan buat kuis besok ". Akhirnya Yulia menemukan sebuah jawaban tepat.
" Oh iya..... Trauma dan Kegawatdaruratan ... waduh... ", Wisya menepuk jidatnya dan ia terlihat mulai cemas.
" Terimakasih sudah mentraktirku ... maaf aku selalu merepotkan mu ", kata Yulia yang dijawab dengan kibasan tangan Wisya.
" Seandainya aku yang merepotkan mu .... apakah kau bersedia ? ".
" Selama itu aku mampu ... tentu saja ".
" Mau membantu ku belajar ? ... untuk kuis besok pagi ? ".
Yulia menatap Wisya sejenak. Gadis itu seperti sedang menimbang-nimbang sebuah keputusan. Lalu sebuah senyuman tersungging di wajah manisnya beriring dengan anggukan kepala, ia mengiyakan permintaan Wisya.
" Terimakasih ..... akhirnya, aku bisa dapat nilai bagus juga ", pemuda itu tertawa renyah dan riang.
Satu hal yang kemudian membuat Yulia menjadi bisa tertawa kecil. Ia melihat Wisya yang begitu bersemangat, dan bertingkah sangat kocak. Sesuatu yang baru ditemuinya dari pria muda berparas tampan ini. Yang selalu dilihatnya adalah pemuda yang hanya bisa tertawa lepas saat bersama kelompoknya. Teman-teman yang datang dari latar belakang keluarga yang sewarn, keluarga kaya dan berpengaruh.
Mungkin hal itu juga yang membuat Wisya terlihat menjadi seorang pribadi yang mengharuskan seseorang punya keberanian dan kelebihan khusus. Tidak sembarangan teman mau mendekati, dan hal itu karena mereka yang berasal dari golongan biasa seperti Yulia tentu tidak mempunyai keberanian. Daripada menerima rasa malu karena penolakan, lebih baik tidak bersinggungan saja.
" Aku ke kosanmu ya ... ", kata Wisya dengan berbinar-binar.
" Jangan .... tidak tempat untuk belajar di sana ", Yulia menolak cepat. Ia membayangkan kos-kosannya yang sangat sederhana dan berisi gadis-gadis lugu golongan menengah ke bawah. Tapi untuk urusan cowok ganteng, mereka lebih liar dari gadis-gadis muda manapun.
Pasti nanti Wisya malah tidak bisa berkonsentrasi karena tingkah polah para gadis-gadis itu. Bisa jadi Wisya mungkin malah akan muntah-muntah melihat tingkah gila mereka dalam mencari perhatian. Membayangkan hal itu, Yulia menggeleng kuat-kuat.
" Heiii.... tidak usah seganas itu kau menggeleng ".
" Oh ... ma- maaf.... di perpustakaan lagi saja ? ", tawar Yulia.
" Nggak ah... gimana kalau di cafe Indigo ? ".
Glegh!!!!!, Yulia tercekat ia bahkan menelan potongan daging steak yang sudah dikunyahnya itu dengan sedikit kesusahan. Itu adalah sebuah cafe yang sangat digemari oleh sebagian besar mahasiswa di kampusnya. Sayangnya itu sangat mahal untuk seseorang seperti dirinya, cafe itu sepertinya memang khusus dibuat untuk kalangan tertentu saja. Yang jelas bukan untuk orang-orang seperti Yulia.
" Kebetulan aku punya VIP members ... ".
Ada keanggotaan istimewa juga, Yulia meremang. Sungguh hatinya yang sangat sederhana tidak bisa membayangkan hal tersebut. Tapi tatapan Wisya ini begitu penuh pengharapan.
" Please.... mau ya... aku bener-bener minta tolong ". Betapa manisnya pemuda ini memohon, seperti seekor anak kucing yang menggemaskan.
Setelah beberapa saat keduanya saling tatap dengan mempertahankan ekspresi masing-masing, pada akhirnya Yulia pun mengawali jawabannya dengan menarik nafas panjang. Kemudian sebuah anggukan tanda persetujuannya tercipta, membuat sepasang mata Wisya berbinar indah dan terlihat bersemangat.
Begitulah muda-mudi itu mengawali sebuah cerita, merangkai sebuah hubungan dan melukisnya kisah mereka sendiri. Terkadang segala perbedaan yang membentang terlalu jauh dan menghunjam terlalu dalam itu, mampu terselesaikan hanya karena sebuah senyuman. Selagi hati nurani masih merajai diri, semuanya pasti terasa begitu indah.
.............
...Aku mengenalmu seperti rusa yang berlari di tengah padang rerumputan...
...Kau hanya sekilas menatap ku untuk kemudian berlalu ...
...Tapi ternyata adakalanya engkau berlari menghampiri ku...
...Dengan riang mengitari tubuhku...
...Tahukah engkau jika aku berdegup kencang karena takut terinjak...
...Tapi engkau pun lalu menjauh kembali...
...Menyisakan aku dengan debaranku...
...Aku bunga rumput liar yang kadang kau hampiri...
...( Bunga rumput - PH3K @renita_wei '21)...
__ADS_1
............