PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Aral Yang Mengeratkan (6)


__ADS_3

Penat yang menyerang raganya begitu terasa setelah ia turun dari mini matic motor yang dipinjam dari salah satu karyawan ibunya. Hanin berjalan tergesa, melintasi ruang keluarga sekaligus ruang tamu di rumahnya yang tidak seberapa luas. Sementara itu terdengar suara sedikit riuh dari ruang sebelah yang lebih besar dan lega. Tempat dimana para pegawai sang ibu sedang membongkar peralatan tempur setelah perhelatan sesiang-sore hingga malam ini di rumah keluarga Arsenio.


" Udah selesai semua neng ? ". Ibunya menyapa, tampak wanita itu baru saja selesai mandi dan masih mengeringkan rambut dengan alat pengering yang mengeluarkan bunyi berdenging ringan. " Ibu pulang duluan, udah nggak kuat berdiri lama-lama . Maaf ya ... ".


Hanin tidak menjawab, tapi ia mendekat dan memeluk seraya mencium wanita itu dengan perlahan dan penuh kelembutan. " Sudah waktunya ibu istirahat saja. Biar Hanin gantikan ".


" Kalau cuma diam saja, juga bikin nggak enak badan ... ". Dalih bu Firman.


" Bener kata mba Raya, emang ibu yang ngeyel ". Hanin terkekeh, lalu bergegas meninggalkan ibunya, tak memberikan kesempatan pada wanita itu untuk membalas.


Bu Firman hanya geleng-geleng kepala. Gadis remaja itu sudah mendewasa, dan begitu cantik. Ia bergumam pelan dalam senyap. Memandang hingga tubuh mungil itu lenyap di balik pintu kamar.


" Nggak mandi dulu nak ? ", seru wanita itu.


" Iya ... ini mau ", dan Hanin kembali keluar dari kamarnya. Kali ini sambil menyandang handuk dan dua potong pakaian ganti.


Biasanya air hangat yang tercurah dari shower akan sangat menyegarkan. Tapi kali ini ia memilih mandi dengan guyuran air dingin saja. Tidak dari shower tapi dari bak mandi yang diambilnya dengan gayung berwarna biru muda. Sama nikmatnya, kali ini bahkan terasa lebih menyegarkan. Cara mandi yang begitu dirindukannya, yang nyaris tidak ada di Berlin.


Ah, di rumah mas Haidar juga nggak ada cara mandi seperti ini. Kira-kira bisa nggak ya si mas gagah itu mandi model beginian ?.


Ya ampun Hanin .... nggak banget sih kamu, baru mandi begini malah ingat si mas. Dasar kamu !!!


Dan Hanin pun tersipu sendiri, ia kembali mengguyurkan air dingin yang langsung meluncur seperti berselancar dari atas kepalanya melalui sulur-sulur rambut dan membasahi seluruh permukaan tubuh seputih mutiara itu. Hanin menikmati segarnya, yang menghilangkan peluh dan penat.


Selesai mandi, ia bergegas merebahkan diri di kasurnya yang hangat, lembut dan wangi walaupun tidak terlalu besar karena menyesuaikan kamarnya yang mungil. Membiarkan pikirannya membara sejenak, sebelum kemudian jatuh dalam lelap. Bermimpi indah, mungkin tentang si mas gagah yang selalu menatapnya lembut. Atau bisa juga karena ia menjelma menjadi putri cantik yang dimanja sang ayah. Pastinya Hanin sangat bahagia, dan ia pun kembali tersenyum dalam lelapnya.


...........................................................


Malam itu Raka bersikeras mengantarkan Ardelia pulang, walaupun kekasihnya itu sudah berkali-kali menolak.


" Lah, terus mobil aku gimana ?. Ngaco ah ... ".


" Biar dianter sama sopir besok. Bandel ah, nurut aja kenapa sih  ", decih Raka namun dengan kerlingan menggoda.


" Baru jam sembilan... ", namun Ardelia tetap bersikeras.


" Hei ... kasih kesempatan lamaan dikit sama pacar aja kok susah banget sih ", Raka menyalak cepat. " Biar ada alasan pagi-pagi ke rumahmu, ~~~~mau antar ayang ke tempat kerja ".


" Ihh... kayak a'be'ge ... ", Ardelia masih bersungut-sungut. " Nggak enak sama tante Orlin dong ... masak iya titip mobil ".


" Kan 'elu calon menantu keponakan ... ayo, buruan.. mana kunci ?".


Pada akhirnya Ardelia menurut saja, karena ia sudah yakin tidak akan menang mengahadapi Raka yang sudah seperti ini. Menatap tajam kearahnya, mengintimidasi dengan seringai garang yang manis. Dan senyuman mengerikan itupun berubah melembut saat anak kunci telah beralih ke telapak tangan pemuda itu. Ardelia hanya mengangkat bahu saja, tanda ia tak bisa berbuat banyak.


" Eh, mamih aku telpon rupanya dari tadi ", Ardelia terlonjak kaget saat memeriksa gawai yang sempat terabaikan beberapa saat lalu.


Raka melirik gadis yang sudah duduk di samping, saat kendaraan yang dikemudikannya mulai melaju membelah jalanan. Ardelia nampak sedikit tergesa dengan wajah menegang manakala membuka laman pada gawai nya.


" Ada apa ? ", tanya Raka yang ikut terbawa ketegangan yang menelusup perlahan diantara keduanya.

__ADS_1


" Ehm ...", Ardelia bergumam resah sambil terus membaca dengan seksama. Hingga kemudian dia menatap Raka dengan sorot mata cemas.


" Papih dibawa ke UGD ". Kata gadis itu cepat tanpa menutupi sorot mata resah yang selama ini selalu disamarkan nya.


" Di mana ? " .


" Rumah sakit mu ".


" Oke, kita kesana ".  Mode santai dan selengekan sang Raka langsung berubah, hingga rahang pria itu seolah-olah mengeras dengan sendirinya. Raka ikut merasakan kecemasan wanita tersayangnya.


Perjalanan Itupun menjadi hening, tanpa canda seperti biasanya. Hanya sesekali terdengar deru nafas Ardelia yang meningkahi senyap. Hingga kemudian Raka memutuskan untuk menyentuh sekilas jemari gadis yang duduk di sebelah nya itu.


" Wajar kalau kamu cemas, wajar juga jika... ".


" Seharusnya mereka tidak usah mengabari dengan membabi-buta seperti ini". Ardelia menyalak dengan cepat, menghentikan ucapan Raka.


" Dan aku lebih mencemaskan mami.... maaf ". Seolah menyadari kekeliruannya, yang tidak seharusnya ia berkata dengan nada tinggi pada Raka.


" Tante sudah di rumah sakit ", tanya Raka kemudian. Dan dijawab dengan anggukan oleh Ardelia.


" Mami di sana... sendirian, tanpa aku... pasti sedang diserang habis-habisan... ". Ardelia kemudian menggigit-gigit bibirnya sambil sesekali berdecih cemas.


" Hei.... lebih dari dua dekade, ingat itu. Dan mami selalu bisa mengatasi seluruh rong-rongan, hinaan, dan berbagai tindakan busuk mereka. Jadi untuk satu malam ini, rasanya kita tidak perlu terlalu mencemaskan. Dan... tidak sampai lima belas menit lagi kita sampai. So.... tarik nafas panjang, berdoa, dan tetap tersenyum. Seperti Ardelia yang biasanya, yang selalu membuatku jatuh cinta ". Raka berusaha mensuport mental gadis tercinta nya.


" Aku yang kacau seperti ini... kau..". Suara Ardelia terdengar meradang.


" Kau yang seperti itu .. bukan hanya aku yang jatuh cinta. Tapi ironman juga.... I love you three thousand... ".


" Terima kasih... kau sudah menghibur ku ".


Raka tidak menjawab, ia hanya tersenyum seraya membelai rambut Ardelia perlahan. Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikannya pun telah memasuki area parkir khusus dokter Ars Internasional Hospital. Lalu keduanya bergegas turun, bahkan Raka berlari kecil sambil sedikit menarik Ardelia. Gadis itu terkunci dalam genggaman jemari Raka yang menariknya untuk berjalan cepat.


" Delia ", sebuah suara memanggil, membuat Ardelia menghentikan langkah tergesa nya diikuti Raka. Tepat di ambang pintu yang baru saja terbuka, seorang wanita paruh baya yang cantik dengan tatapan sendu menyongsong keduanya.


" Mami ", dan Delia pun menyongsong memeluk wanita itu. " Mami baik-baik saja ? ".


" Hei ... ", Palupi atau Ibu Mawar menyentil hidung mancung putri semata wayangnya. " Harusnya kau tanya bagaimana papi mu ".


" Ya, bagaimana ? ". Lanjut  Ardelia kemudian tanpa mengendurkan pelukannya.


" Nak... ", tapi belum sempat Palupi menjawab pertanyaan putrinya.


" Kau lama sekali .. ", sebuah suara berat menyeruak dan tiba-tiba saja atmosfer di ruangan itu berubah pekat mencekat. Dia adalah Dracio yang menatap dengan sinar mata dengki.


" Belum jadi orang kaya, sudah susah dihubungi... bagaimana nanti ". Terdengar seperti suara tinggi melengking yang mampu menyayat apapun yang menghalangi. Itulah suara Yesy, adik Dracio yang juga adalah saudara tiri dan sepupu Ardelia juga.


Raka terdiam membatu menahan nafas dan menyumpal segala sumpah serapahnya sendiri. Ia hanya menikam dua orang yang menurutnya bagai ngengat busuk itu dengan sebaris senyuman dingin.  Perlahan ia meraih jemari ibu Palupi, mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim, dan tersenyum penuh hormat.


" Maaf tante, saya sudah buat Delia jadi terlambat ".

__ADS_1


Palupi hanya tersenyum saja, ia sedikit menepuk-nepuk pundak Raka.


" Sudah, nggak apa-apa. Kalian bisa melihatnya sekarang. Cio... tolong antarkan Delia ke dalam ".


" Biar kami sendiri saja tante. Pasti ada banyak hal yang akan diurus Cio. Ayo sayang ". Raka menarik tangan Ardelia tegas namun lembut. Membuat Palupi tersenyum kecil, hatinya ikut bahagia melihat kasih sayang yang ditunjukan Raka pada putrinya


Tapi tidak demikian dengan Yesi dan Dracio yang berdecih sambil membuang muka. Rasa kesal sepertinya telah bercampur aduk dengan rasa iri, yang sebenarnya adalah implementasi dari rasa kalah dalam persaingan. Seumur hidup mereka berdua, yang paling membahagiakan adalah melihat penderitaan Ardelia. Tapi kini sepertinya angin mulai merubah haluan keberuntungan mereka.


" Kalian ... ". Seorang wanita paruh baya yang juga baru keluar, nyaris bertabrakan karena ia menghentikan langkah tiba-tiba.


Ardelia terlihat berusaha untuk tersenyum, seringan mungkin, senatural mungkin. Tapi genggaman tangannya yang mengerat, memerangkap jemari Raka, menunjukkan jika ia tidak sedang baik-baik saja.


" Kami masuk dulu tante... ", Ardelia bergegas melewati wanita itu. Tanpa menoleh lagi, dan mengubah posisi menjadi dirinya yang angkuh tak tersentuh. Mengangkat sedikit dagu dan tak mengizinkan barang sedikit sudut matanya untuk menoleh pada wanita dalam lintasan langkahnya.


Ardelia berubah menjadi wanita muda berhati merak. Tapi hal itu adalah refleksi dari segala rasa sakit yang menderanya terlalu lama. Raka memahami, ia pun kemudian mempererat genggaman pada Ardelia. Memberikan kehangatan serupa janji bahwa ia akan selalu ada untuk gadis itu. Membuat Ardelia melunak, tapi tetap menggenggam erat dan melangkah cepat. Hanya saja ia sudah lebih tenang saat menghembuskan nafasnya.


" Pak Raka ", seorang pria muda mengenakan setelan serupa biru langit menyapa.


" Roni... ", Raka membalas sesaat setelah melirik tanda pengenal yang tergantung di leher pria muda. Seorang dokter residen yang beberapa hari lalu sempat ikut asistensinya.


" Ayah nona ini di dalam... kami mau masuk ".


" Oh ya, pak. Mari silahkan... ". Rony mengangguk lalu mempersilahkan dengan ramah.


Ardelia tersenyum berterimakasih, lalu mengenakan jubah berwarna berwarna merah muda. Tanpa menunggu Raka yang tengah berbicara serius dengan beberapa koleganya. Pandangan gadis itu tertuju pada sosok yang terbaring, lemah, tertopang oleh rangkaian alat penyangga hidup.


" Aku kan juga anaknya papih... ".


" Kenapa harus kita yang pergi? "


" Aku nggak nakal.... ".


Memori itu seperti slide yang berjejalan keluar dari neuronnya. Menjalari raganya dengan rasa pedih. Gadis kecil yang tak tahu menahu, ia hanya ingin seorang ayah. Seperti anak-anak lainnya. Tapi kenyataan justru memberitahukan bahwa ia tidak diinginkan, oleh pria yang kini terbaring tak berdaya di sana. Ardelia memukul dadanya perlahan, namun dengan hentakan yang tajam, seolah ingin menyingkirkan rasa pedih yang merajam.


" Takdir Tuhan, kita tidak pernah tahu. Tapi secara ilmu dunia, beliau hanya tinggal menunggu waktunya saja ".


Ardelia menoleh perlahan, tapi hanya sesaat. Karena ia kembali mengalihkan pandangannya pada sosok rapuh di atas ranjang. Lalu di detik berikutnya, ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya bersama beban rasa yang ingin dibuang nya.


" Mungkin, sudah saatnya kau sedikit menurunkan ego mu. Memaafkannya.... paling tidak kau tidak akan pernah menyesali seumur hidupmu ", Raka kembali berbisik sambil perlahan melingkarkan lengannya di pundak Ardelia.


**Terhanyut oleh aliran waktu yang mengingatkan mu pada rasa rindu itu.


Walaupun pada akhirnya engkau hanya kembali untuk melihat mu yang terluka.


Tapi terkadang, obat untuk luka itu kau temukan saat kembali mengingat sakitnya.


Namun mungkin**, ****sebenarnya**** kau telah tahu sejak lama.


Bahwa obat untuk luka hatimu itu.....

__ADS_1


Adalah memaafkan sang pe-luka


__ADS_2