PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
In Your Eyes I See The Missing Piece Of Peace (8)


__ADS_3

Sebenarnya hal yang sangat biasa dilakukan, berjalan membelah lobi kantor yang luas... lalu mengangguk ramah pada sesama pagawai, atau juga membalas sapaan hangat mereka. TKemudian masuk ke dalam lift atau jika tidak sedang tergesa-gesa, akan lebih memmilih menapaki anak-anak tangga terlebih dahulu, yah sambil melatih pernafasannya. Tapi akhir-akhir ini, semua hal tersebut rasanya seperti menjadi hal aneh yang membuatnya sedikit merinding. Lebih tepatnya adalah suasana yang membuatnya bisa merasa demikian. Lihatlah orang-orang yang dengan diam-diam saling berbisik itu, lalu lirikan mata serasa menghujam penuh penghakiman sepihak. Bagaimana kau akan bisa terus-terusan untuk abai dengan hal ini ?.


Geram, gemas, kesal, sebal  dan entah apalagi padan katanya ... pokoknya semua hal tidak menyenangkan yang melingkupi atmosfer kehidupan dunia kantor akhiri-akhir ini. Cinta berjalan dengan sedikit mendongakkan wajah cantiknya, begitu anggun seperti cendrawasih, mencoba abai dengan semua hal yang sedang berlangsung itu. Tapi tetap saja, ada sudut hatinya yang tak berhenti begitu saja memindai  situasi canggung itu. Lalu dengan tidak tahu diri mengumumkan pada departement hatinya dengan analisa menyebalkan.


Ketika seorang gadis yang sudah cukup matang bahkan sudah mulai masuk zona telat nikah, pada akhirnya membuat kejutan besar. Ia akan segera menikah.... wow !!!.... apalagi dengan saudara sepupunya sendiri. Sepupu dekat yang masih bisa dikatakan adalah juga adiknya jika dilihat dari hierarki urutan kekeluargaan. Mengejutkan... sangat mengejutakan, benar-benar bisa menggemparkan jagad perkantoran Ars Internasional Group. Bagaimana para putra sang pewaris akhirnya memutuskan untuk saling menikahi.


Terjawab sudah pertanyaan kenapa sang Vice President tak kunjung nampak menggandeng seorang wanita. Jelas sudah kenapa sang manajer perencanaan yang cantik juga taj kunjung mengumumkan kedekatannnya dengan seorang pria. Rupanya mereka selama ini sebenarnya saling menyembunyikan perasaan, atau menyembunyikan hubungan ?. Wah ... cerita baru nih, mungkin sebenarnya dua sejoli Namu -Cinta itu sudah cukup lama menjalin hubungan hati. Tidak lagi sebagai keluarga, melainkan sebagi pria dan wanita.


Tapi bisa juga kalau si pria tampan itu sebenarnya ... ehm! ... ada disiorientasi rasa suka terhadap lawan jenis. Bukankah akhir-akhir ini banyak sekali para pria tampan beralih minatnya terhadap pasangan. Karena terlalu sering dikejar-kejar wanita cantik, bahkan terlalu mudah mendapatkannya... akhirnya mereka mengalihkan rasa sukanya menjadi pada pria cantik. Lalu si gadis itu sebenarnyalah yang sudah terlebih dahulu memendam rasa. Lalu gayung bersambut saat keluarga si pria shock berat mengetahui kelainan pada cacat perasaan itu. Kemudian memutuskan untuk menikakkan keduanya. Wah ... untung besar itu si gadis.


Busyet !!!!!.... teori konspirasi macam apa itu ?. Tapi demikianlah yang terjadi. Hal-hal itulah yang kahir-akhir ini begitu renyah menjadi suguhan dalam setiap pembicaraan para karyawan. Di kantin saat makan siang, toilet dan ruang ganti wanita terutama, bahkan juga gosip manis itu begitu lihai menyusupi sekat-sekat  ruang kerja.


Tapi semua itu ... baru di ruang kerja, dan lingkungan relasi pekerjaan. Lihatlah yang tertulis di sebuah situs berita on line, pencairan teraatas kanal video on line ... ya ampuuuun, setenar itu sekarang si Namu Baskara Perkasa. Gara-gara si uler keket Lola Astrid yang model dan pengacara muda itu. Huh !! ... tetangga yang menyebalkan. Bukankah dia adalah gadis yang datang bersama ibunya, menerobos ruang makan rumah Om Mandala-nya. Sok akrab dengan tante Orlin-nya, padahal aslinya ngincer babang' ganteng. Jangan-jangan kepindahan mereka juga sebuah upaya untuk memerangkap inceran besar.


Huuffftt........, tapi apa iya beneran kalo' bang Namu tersayangnya nggak inget sama sekali dengan si mba' lawyer gatel itu ?.


" I don't care ... I don't know her.... and I Iove you ".


Walaupun dia mengatakan begitu, tapi benarkah hatimu akan langsung percaya begitu saja, Cinta ?


" Kau masih beruntung Cint... Orlin dulu.. heehh.. lebih ngeri lagi. Dapatnya mantan playboy. Kalau Namu sih aman dan anteng anaknya. Tapi tetap saja, pasti orang-orang akan segera mengusili masa lalu dan asal-usulnya. Yang penting, kalian jangan hilang komunikasi, saling percaya, saling menjaga ... jangan mudah terpancing emosi. Stressor orang mau nikah itu semakin meningkat seiring dengan mendekatnya hari  H ".


Dan apa yang dikatakan mamanya itu memang seratus persen terbukti.


" Tok.. tok .. tok.. ". Ketukan di pintu membuatnya tersadar. Cinta pun segera mengalihkan pikirannya, begitu juga dengan tubuhnya yang langsung beralih pada pemandangan di atas meja kerja.


" Ya .. masuk ", ia mempersilahkan dengan anggun. Seluwes gerakannya, mendudukan diri dengan postur sempurna. Bersamaan dengan masuknya mba Dewi, sekertarisnya yang tersenyum ramah.


" Bu Cinta... tidak lupa jadwal hari ini 'kan ? ". Wanita yang usianya sedikit lebih tua diatas Namu itu tersenyum.


Sementara Cinta sendiri justru mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat jadwalnya sendiri. Tapi rupanya isi otaknya terlalu kusut. Hingga ia akhirnya memilih untuk menggeleng perlahan, dan mendapati wajah mba Dewi yang masih mentapnya dengan senyuman... seolah-olah berkata : Iya .. pasti lupa 'kan, aku tahu kok.


" Jam sepuluh nanti harus melakukan KIR Kesehatan Calon Pengatin... bersama pak Namu tentunya ".


" Oh ... di rumah sakit ? ".


" Di puskesmas... karena ada suntikan ** wajib. Oh ya .. kalau di Puskesmas lebih aman juga. Pak Namu 'kan juga sekarang sedang naik daun. Sudah ku atur... jam setengah sepuluh nanti berangkat. Biar diantar sopir saja bu ... tadi dia juga yang ndaftarin kok ".


" Iya mba Dewi ... terimakasih banyak ya ".


Demikian Cinta lebih memilih untuk menyerahkan urusan tersebut pada Dewi yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Ia benar-benar linglung akhir-akhir ini. Ia mengangguk mengiyakan, walaupun hatinya masih diliputi banyak pertanyaan. Diantaranya, kalau yang di imunisast ** hanya calon pengantin wanita... kenapa calon pengantin pria juga harus ikut ?. Tapi ia lebih memilih untu memendamnya sendiri.


" Bu Cinta ... ".


" Ah ... ya .. ", Cinta terkejut. Ia menatap Dewi masih dengan usaha untuk mengembalikan moodnya.


" Perlu saya ikut, menemani ibu  ? ". Wanita berusia tigapuluhan itu tersenyum hangat, seolah benar-benar mengetahui kekacauan yang sedang di alami Cinta saat ini.


" Oh ... ya, boleh. Terimakasih banyak. Aku memang butuh kawan mba ". Wajah Cinta terlihat sedikit ceria.


" Yakinlah ... semua akan baik-baik saja. Banyak-banyak berdoa, kalau bisa ... berpuasalah hingga menjelang hari H. Agar hati tenang, pikiran jernih dan memperoleh banyak kemudahan-kemudahan ".


Cinta menarik dua sudut bibirnya, berusai mengukir sebuah senyuman. Yang disarakan mba Dewi itu sepertinya tepat. Dan saat ini pu ia sedang sangat butuh teman untuk berbicara.


" Mba .. duduklah... aku mau minta tolong ".


" Ya ", Dewi pun segera mengambil tempat di hadapan Cinta. Menatap gadis itu dengan tenang, tidak seperti kegelisahan yang bergolak dan bergelung di wajah Cinta.

__ADS_1


" Keputusan kami untuk menikah .... apakah ... salah ? ". Akhirnya Cinta berhasil mengeluarkan pertanyaan yang mendekam dan berhasil mengaduk-aduk isi hatinya.


" Kenapa berfikir seperti itu. Walaupun pak Namu adalah putra dari om nya bu Cinta... tapi tidak ada hubungan darah sama sekali. Dan ... kalian menikah, itu bukanlah hal terlarang. Ada apa? .... si Lola Astrid itu ? .. apakah kalian saling mengenal ? ".


Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya dijawab dengan satu gelengan oleh Cinta. Ia menghela nafasnya sendiri, membuat Dewi yang ada dihadapannya justru tersenyum kecil.


" Pak Namu itu .... good looking good rekening, tentu saja impian banyak wanita ".


Komentar mba Dewi itu membuat Cinta terkekeh, tapi memang benar sih.


" Karyawan di Ars ... tidak semua tahu jika pak Namu adalah putra angkat. Wajarlah jika aneka spekulasi akhirnya berkembang. Sudah ... tidak usah didengarkan. Lalu komentar rekan bisnisyang nyinyir .... anggap saja itu koor dari barisan sakit hati ".


" Barisan sakit hati ? ", Cinta mengernyitkan keningnya.


" Tentu saja .... berapa banyak relasi yang kecewa karena gagal menjodohkan putra-putri mereka dengan kalian berdua. Perjodohan yang sebenarnya juga bertujuan untuk memperbesar kepemilikan saham. Pernikahan bisnis ... yang gagal ".


" Oh .... ". Hanya itu yang keluar dari bibir Cinta yang kini sedikit mengerucut. Sebenarnya, dari dulu ia sudah paham, tapi baru benar-benar merasakan keruwetannya sekarang. Dan benar-benar tidak menyangka jika imbas dari segala penolakan itu, saat ini benar-benar terasa seperti boomerang.


" Ada lagi bos besar yang nyinyir ? ". Dewi tersenyum penuh arti. " Biarkan saja ... nanti juga diem kalo' udah capek sendiri ".


Ketika tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka, menyembulkan sraut wajah putih bersih yang terlihat segar. Tersenyum tanpa dosa, tidak memperdulikan keterkejutan si pemilik ruangan. Semantara Dewi ikut menoleh ke belakang, dan segera berdiri serta bergeser sedikit saat mengetahui siapa yang baru saja hendak memasuki ruangan itu.


" Aku nggak ganggu 'kan ? ", ramah suara itu menyapa.


" Tentu saja ganggu. Ada apa kak ? ", terlihat Cinta kurang senang.


" Pak Namu ... ", Dewi mengangguk hormat.


" He.. he.. sorry ... jangan galak-galak dong. Eh ... jadi ke rumah sakit hari ini ? ".


Semula rencananya mereka akan diantar oleh Koko si sopir kantor. Tapi akhirnya Koko satu mobil dengan Dewi dan Namu yang bersikeras menggunakan kendarannya sendiri, tentu saja bersama Cinta yang masih terlihat sedikit uring-uringan.


Suasana di pusat kesetan tingkat pertama itu cukup ramai, beruntung Koko sudah terlebih dahulu mendaftar tadi pagi, sehingga mereka tidak perlu antri lagi di loket pendaftaran.


" Di sini pelayanannya bagus, ramah dan cepat. Dulu istri juga ** disini, melahirkan disini, anak saya juga imunisasi di sini semua. Murah dan bagus pak ", begitu promosi pria ini saat mengantarkan Cinta dan Namu ke poli Kesehatan Ibu dan Anak.


" Bu Cinta dan pak Namu nanti masuk bersama ya... saya nunggu di luar ".


" Tapi mba Dewi... katanya tadi mau nemenin ". Cinta pun memprotes.


" Nanti ada sesi konseling juga ... kalau ada orang lain yang tidak berkepntingan ... takutnya malah mengurangi kenyamanan ".


Pada akhirnya Cinta mengerti apa maksud dari 'mengurangi kenyamanan' yang baru saja diucapakn Dewi. Pada sesi konseling, seorang bidan yang usianya mungkin sekitar empat puluhan, dengan ramah menjelasakan seputar tes kesehatn pra nikah yang akan mereka jalani sebelum akhirnya mendapatkan suntikan ** untuk calon pengantin wanita.


" Jadi.... Suntik ** atau tetanus toksoid dianjurkan untuk calon pengantin wanita, fungsinya untuk mencegah infeksi tetanus pada ******, baik saat malam pertama maupun persalinan. Setiap perempuan yang akan dan setelah menikah perlu mendapatkan vaksin ** sebanyak 5 kali dan dilakukan secara bertahap. Ibu hamil yang sedang hamil 5-6 bulan juga disarankan untuk melakukan suntik ** demi menjaga kesehatan calon buah hatinya. Setelah ini, mba cantik ke laborat dulu ... untuk pemeriksaan PP test dan juga HBsAG ya ... nah, mas gantengnya harus nemenin juga ya ".


Cinta dan Namu sama-sama tersipu. Tapi keduanya lalu menurut saja, menunju ruangan laboratorium dan memberikan secarik kertas pada petugas yang sudah menunggu mereka. Seorang ibu-ibu bertubuh tambun dengan wajah yang sangat ramah.


" Mba Aurora Kanaya Cinta Hanjani..... aduuuh bagus banget namanya ... ", si ibu tersenyum lucu sambil memberikan sebuah gelas plastik kecil pada Cinta. " Pipis dikit di sini ya ... kamar mandinya di sebelah ".


" Iya bu ... ", Cinta menurut dan menerima benda mirip sebuah pot kecil itu. Setelah ia menagambil sebungkus tisue anti septik dari dalam tasnya, ia pun berlalu menuju kamar mandi. " Titip ya ", ucapnya yang dijawab anggukan oleh Namu.


" Nah ...mas gantengya cek golongan darah dulu ya ", kembali si ibu itu berkata.


" Golongan darah saya O bu ", jawab Namu dengan cepat.


" Rhesus nya ?. Kita cek lagi ya.... nggak apa-apa 'kan ? ".

__ADS_1


" Oh iya .. iya .. bu ". Akhirnya Namu menurut saja. " Kalau tadi ... maaf, cek urinenya untuk apa ? ". Tanya Namu dengan wajah penasaran tanpa dusta.


" Tentu saja untuk mengetahui ada tidaknya hormon HCG ".


" Apa itu  bu ? ".


" Hormon kehamilan ".


Glekgh.... tiba-tiba saja Namu terlihat sedikit terperanjat, yang juga karena sentakan jarum kecil yang menyengat dari alat berbentuk seperti pena yang dipegang ibu subur menggemaskan  itu. Ujung jarinya mengelurakan darah yang langsung di raih oleh si ibu.


" Loh ... itu nggak ... eh' maksudku, ... membuka privasi seseorang ?. Bagimana kalau sudah hamil duluan... kan' malu bu ? ".


" Tujuan kami bukan untuk mempermalukan tentunya. Seorang wanita yang hamil itu 'kan berada dalam resiko tinggi rawan gangguan ksehatan, Jika memang calon pengantin putrinyan sudah hamil... tentu saja akan kami buatkan jadwal untuk kontrol kehamilannya, suntik ** yang selanjutnya, juga konseling gizi dan kesehatan kehamilan. Jadi kita dukung supaya kehamilannya sehat... bayinya juga sehat. Bukan mau mengolok-olok mas ... he.. he.. he... ".


" Oh gitu ya bu ... ", Namu nampak manggut-manggut. " Kalau yang ini... saya jamin, segel masih aman kok ... ".


" Alhamdulillah ... syukurlah. Ih mas ini... udah ganteng, baik lagi. Untung saya udah punya LGBT di rumah ... kalau nggak... heem udah ku lamar si emas ini ".


" Hah ?! .... LGBT ? ". Terkejut dan syok.... begitulah ekspresi Namu.


" Ye .... jangan salah. LGBT -nya ibu sih.... Lelaki Ganteng Beristri Tambun ... ".


What ?!!.... ha..ha..ha..., kali ini Namu benar-benar terkejut dan tertawa lepas. Ibu analist ini sungguh ramah, renyah dan menghibur. Cinta mengerutkan keningnya sedikit terkejut karena melihat Namu yang tengah bercanda dan tertawa-tertawa dengan si ibu.


" Eh ... ini dia si cantik nya. Mba... masnya baik banget ya. Moga-moga pernikahannya lancar ya... ayo ambilk darh dulu ".


" Ya bu ... ", Cinta menurut saja. " Ini pipisnya ... untuk periksa apa bu ? ". Tanya Cinta sambil memberikan pot kecil berisi air seninya.


" Si pipis itu buat periksa kalau non cantik hamil nggak ? ... habis ini diambil darah juga ".


Jawaban yang diberikan Namu membuat Cinta melongo, sebelum kemudian berubah menjadi sedikit kesal.


" Harus begitu bu ? ", tanya gadis itu jelas dengan ekspresi kurang suka. " Seperti dihakimi dong .. ".


" Bukan untuk menghakimi ... privacy tetap terjaga. Jika memang sudah hamil duluan... kami hanya akan membantu dan memfasilitasi untuk langkah-langkah kesehatan ibu dan janin yang sedang dikandungnya ". Si ibu tambun itu menjawab dan tersenyum ramah, sepertinya sudah terbiasa dengan reaksi yang serupa.


" Oooh .... maaf ya bu. Kaget aja saya tadi ", Cinta meminta maaf dengan wajah menyesal.


" Kalau sekarang pasti negatif hasinya ya bu ... test urine nya. Bulan depan moga-moga udah positif .. ". Terdengar ringan Namu menyahut, bahkan sudut bibir pria itu menyunggingkan kebanggaan.


"  Aamiiin... ", si ibu menyahut dengan gembira.


" Lima belas tahun bu ngejaganya ... he.. he.. he.. ", Namu terkekeh.


" Oh ya ? ... waaah... setia banget ya ". Walaupun terlihat antusias dan penuh binaran bahagia, si ibu tambun itu tetap cekatan bekerja. Dengan isyrat meminta Cinta untuk mengepalkan tangan sementara ia sendiri mengurut perlahan punggung tangan gadis itu untuk mencari pembuluh darah.


" Hampir putus asa ... yang sono' nggak paham-paham kalo' di tungguin ", kata Namu lagi.


" Waah ... best romance kayaknya nih ", sahut si ibu. " Sedikit sakit ya mba... ditahan, jangan ditarik tangannya ya ".


Namu tahu dengan pasti bagaimana gadis ini sangat takut dengan jarum kecil tajam dan panjang itu. Lihatlah wajah yang mulai memucat dengan titik-titik keringat mulai mengembun di kening itu. Dengan sigap Namu pun mendekat, berderi di samping Cinta. Meraih kepala gadis itu dan membuat wajah cantiknya tersembunyi dalam rengkuhan hangat. Membuat si ibu itu tersenyum dan mulai menusukan perlahan jarum panjan itu ke pembuluh darah di punggung tangan Cinta.


" Nggak rugi ya mas lima belas tahu nungu ... mba'nya canti begini ".


" Kalau bukan  dengan dia ... saya nggak akan nikah kok bu. Yang paling berharga ini bu .... Bidadari Surga yang dikirim Tuhan hanya untukku ".


Dan kecupan lembut itupun mendarat dengan manis dan mesra di ubun-ubun Cinta. Wangi dan hangat yang menenangkan. Inilah yang dinamakan kepingan damai surga dalam cinta .... pasti !!!!!.

__ADS_1


__ADS_2