
Tidak semua cinta itu pada akhirnya bermuara di sebuah pernikahan. Terkadang pernikahan yang sebenarnya adalah salah satu momentum skaral dimana sepasang manusia itu berjanji pada Sang Pencipta -nya untuk saling menjaga pasangan yang telah resmi disandingkan, ternyata hanya sebuah permainan kepentingan saja. Ketika bisikan iblis telah meracuni hati dan menuntun sang otak untuk berfikir licik, maka cinta hanya akan didengungkan saja sebatas keuntungan yang dimaksudkan untuk diperoleh. Tidak peduli bagaimana terlukanya sisi hati yang lain.
Huuuuuh..... pria bermata sipit itu mendengus panjang. Telaah panjang akan dirinya tentang cinta dan pernikahan membuat ia harus kembali melakukan tarikan nafas dengan panjang serupa dengusan. Dia adalah Danny Setiawan, yang kali ini menyerah dari egonya karena kharisma seorang anak muda. Membuatnya berdiri termangu sambil mengumpulkan keberanian di seberang agak jauh dari sebuah rumah. Menatap dengan rasa was-was... ah tidak !, mungkin yang tepat adalah rasa takut dari seseorang yang berkalang malu karena perbuatannya sendiri.
Tapi pada akhirnya, saat seperti ini tiba juga. Suatu kensekwensi yang sudah sangat diperhitungkannya jauh-jauh hari, dengan kepala dingin bahkan. Tapi hawa nafsu dan keserekahan seolah begitu pekat mengelabuhi nalarnya. Hingga akhirnya, seorang anak muda berkharisma dengan rasa percaya diri yang luar biasa, berhasil melibas habis kesombongan seorang Danny Setiawan.
" Saya meminta maaf sebelumnya atas ketidaksopanan ini, Seharusnya saya yang datang ke rumah om, bukan menjemput om dengan .... paksa!, seperti ini. Saya minta maaf dengan segala kerendahan hati, Om ".
Narendra Raka Dipa, akhirnya dia berhasil tahu nama lengkap pemuda dengan wajah lembut namun berbingkai rahang yang kokoh ini. Lekukan sempurna di wajahnya pastilah klaim dari para kromosom yang berasal dari ayahnya, Arjuna. Sorot mata yang terkadang lembut namun akan berubah menjadi tegas pada saat-saat tertentu ini, pastilah hasil perpaduan sempurna antara kromosom ayah dan Hana Arsenio ibunya. Rasa percaya diri dari seorang dokter spesialis bedah tulang muda ini, kharisma menawan yang melengkapi pembawaan pria muda ini, tak membuat pengingkaran jika memang sesungguhnya dia adalah juga seorang Arsenio.
" Kau pasti punya alasan yang kuat untuk ini, iya 'kan ? ".
" Ya Om, dan saya rasa om juga sudah tahu ". Pria muda itu membawa langkahnya masuk kedalam sebuah ruangan private di restorant Jepang ini. " Ardelia bilang kalau om suka dengan hidangan Jepang ".
" Yang pasti itu bukan major reason dari pilihan tempat ini bukan ? ".
" Ha... ha..ha.. tentu saja. Silahkan duduk dulu. Kita nikmati *Kamosuki* pot dish dulu ya\, Om. Sekalian dengan Omi Wagyu -nya ".
Danny tersenyum saja menurutkan pandangannya pada deretan menu yang sudah dipesan anak muda di hadapannya ini. Sepertinya anak muda ini mengerti benar tentang berbagai menu dari perfektur Shiga - Jepang. Pilahan tepat menikmati Kamosuki atau biasa dikenal dengan sebutan Kamonabe juga, hidangan spesial dari sekitan danau Biwa. Hidangan daging bebek yang dipadu dengan aneka jamur dan sayuran segar, sungguh membuat gejolak besar dari para sensor indra pemcium dan perasa.
Ditambah lagi dengan daging sapi Omi yang bearsal dari daerah sekitaran danau Biwa yang terkenal dengan airnya yang jernih dan bersih, membuat daging sapinya memilki tekstur lembut yang meleleh di mulut dan aroma yang kaya. Dan tentu saja kepiawaian pemuda ini memanggang irisan tipis si daging dengan seratn lemak lembut yang menguarakan aroma harum, gurih, semakin membuat aktifis organ pencernakan taka mampu menahan diri lagi. Danny tidak lagi menahan diri, ia pun duduk dengan manis dan menerima irisan daging panggang berbumbu dari sumpit yang diulurkan Raka.
" Kau sepertinya sangat mengenal aneka hidangan dari Shiga ini ya ? ".
" Ardelia yang memberitahukan semuanya padaku ... semua tentang hal yang om sukai dan ... tidak sukai ".
Tatapan penghakiman itu menghunjam, berasal dari sepasang mata kelam seorang pemuda, Membuat seorang pria yang sebenarnya sadar betul akan kekeliriuannya, hanya bisa tersenyum kecut sambil menelan ludah perlahan. Pasti seperti sedang dikuliti ya rasanya ?.
" Oh, begitu ya ". Sebuah tanggapan yang tidak perli disampaikan. Tapi danny sudah benar-benar terpuruk dengan segala keburukannnya yang tak tertutupi lagi.
" Ardelia, dia wanita yang sangat patut untuk ku perjuangkan dan ku pertahankan. Satu-satunya wanita yang akan ku sanding hingga aku terbangun kembali .... Innsya Allah ".
Itu adalah sebuah kesungguhan yang tidak hanya sebatas pemanis kata. Danny bisa melihatnya dengan jelas, dan ia pun tak bisa mengikari hatinya yang berseru setuju.
" Aku tahu, Om sudah merencanakan sebuah pertalian pernikahan untuk Ardelia dengan Sakala ". Raka kembali berkata sambil menatap pada Danny, mengangsurkan kembali pada pria itu, potongan daging bebek dari pot dish yang mengepul hangat. " Kami saling kenal. Aku, Ardelia dan Sakala... begitu juga dengan Dracio ".
" Sebenarnya ... aku berniat menjodohkan Ardelia dengan Keanu, pada awalnya ".
" Tapi berubah ... karena putri om yang lain menginginkan pria itu bukan ? ", sambar Raka dengan kalimat tenang yang telak menghantam uklu hati Danny.
" Kau sudah tahu juga rupanya ", ucap pria itu sedikit mendesah. " Paling tidak... aku menginginkan yang terbaik untuk semua anak ku. Dracio bilang, Ardelia pun menyetujuinya .... pergantian perjodohan itu ".
" Dan on Danny percaya begitu saja ? ". Masih dengan nada yang tenang menghunjam, Raka menyambar dan menukik membuat penghakiman atas keputusan sepihak dari seoarang ayah yang kini termenung. " Atau karena semua hal itu pada akhirnya akan menguntungkan untukmu ? ".
" Ya, aku tahu... aku salah ".
" Tidak !!!!!!.... kau tidak bersalah. Kau hanya tamak saja ".
Begitulah seorang Danny Setiawan dikalahkan oleh seorang pemuda. Tapi anehnya tanpa rasa sakit dan rasa dendam. Bahkan di akhir pertemuan itu, dia memberikan pelukan erat pada Raka. Dan entah mengapa satu sisi hatinya tiba-tiba saja terasa menghangat.
__ADS_1
Semua yang terjadi itu, pada akhirnya kini mengantar seorang Danny Setiawan berdiri dengan sedikit keraguan dan rasa takut di tempai ini. Tepat di seberang jalan dari sebuah rumah yang terlihat asri dengan aneka tanaman hiasnya. Tak sebesar rumah yang ia tempati, tapi entah mengapa aura hangat dan nyaman begitu terasa hingga menguar disekitarnya.
Danny melangkah perlahan, membuka pintu pagar sederhana yang tidak terkunci. Masuk dengan langkah satu persatu bersemu ragu, hingga ia telah tiba tepat di depan pintu. Pagi itu, hari masih berembun dan mentari pun mengintip dengan malu-malu ketika ia mulai mengetuk pintu perlahan, dan masih dengan perasaan berdebar.
" Kau ?! ... ". Seorang wanita cantik di usianya yang sudah sangat matang, berdiri menatap melalui bola mata yang membeliak. Tidak berubah, dia masih secantik dulu.
" Boleh aku masuk ?, Palupi ".
Sepertinya semesta berpihak untuknya menjadi pria yang datang menawarkan sebentuk tanggung jawab. Ah tidak !!.. mungkin tepatnya sebuah penebusan untuk dosa-dosa kelam. Karena tiba-tiba saja gerimis menderas, menggulung sinar mentari yang baru saja akan merambati hari.
" Ya.. masuklah ". Wanita itu tersenyum, menggeser badan rampingnya hingga tersedia luasan yang cukup untuk Danny bisa masuk ke ruang tamu mungil itu.
" Terimakasih, Palupi ".
" Duduklah, akan ku buatkan minuman hangat untukmu ".
Danny tidak sempat mengajukan keberatan dan mencegah wanita itu berlalu. Kini dia sudah ditinggalkan sendiri di ruang tamu, berkawan aneka foto yang menceritakan perjalanan hidup seoarang hadis kecil manis. Itu adalah Ardelia, putri yang dibuangnya. Deretan foto gadis mungil hingga tumbuh menjelma menjadi seorang gadis canitik yang bergambar indah dengan deretan trofi dan piagammnya, seperti tengah mengolok-olok dirinya.
Lihat semua prestasi yang pastinya sangat membanggakan itu, lihat betapa itu adalah putri cantik yang pintar. Di rumahmu ? ... adakah yang punya satu saja foto penuh kebanggaan seperti ini ?. Bagaimana dengan sulung mu yang kau gadang-gadang menjadi sang penerus?, bagaimana juga dengan putri manja yang hanya bisa liburan dan berbelanja ?. Lihat lah putri yang kau buang ini, bukankah dia berhasil tumbuh menjadi manusia berguna ?. Bukan manusia sampah yang harusnya disingkirkan saja.
" Papi ? ".
Danny menoleh, ia mendapati gadis cantik berkulit putih yang begitu manis dengan kacamata serta pakaian rumahan sederhana, tengah menatapnya dengan raut wajah penuh keterkejutan.
" Ya Ardel ". Ia hanya bisa tersenyum dan berdiri perlahan dengan canggung.
" Ya, ingin datang sendiri. Mau ketemu kamu dan mami mu ". Ia pun menyahut cepat pada putrinya yang kini perlahan duduk di sofa seberangnya.
" Apa karena Raka ? ".
" Kau sudah bisa menduganya dengan tepat ". Danny tersenyum mengiyakan apa yang ditebak putrinya. Bertepatan dengan hadirnya ibu dari Ardelia beserta senampan teh panas dan sekawannya.
" Apakah kau ingin berbicara dengan kami?, atau dengan ku saja ? ". Tanpa basa-basi, Palupi atau ibunya Ardelia langsung mengajukan pertanyaan yang sangat tepat.
" Tidak kah kau biarkan aku menikmati teh panas yang kau suguhkan ini ? ".
" Oh ya ..... tentu saja, silahkan ". Palupi tergergap dan langsung memberikan isyarat pada Ardelia. Gadis cantik itupun menuruti perintah ibunya. Menuangkan secangkir teh hitam beraroma wangi melati dan langsung memberikan cangkirnya pada satu-satunya pria di tempat itu.
Suasana kemudian cukup hening, Ardelia hanya mengamati bagaimana tenang ekspresi sang ibu. Dan bagaimana sang ayah mengunyah perlahan kue jahe home made sambil diselingi seruputan nikmat dari teh panas. Keheningan yang menyenangkan menurut Ardelia. Inilah kali pertama mereka bertoga bertemu tanpa berseteru.
" Delia, papi sudah bicara banyak dengan Raka. Anak itu..... walauapun selalu membuat papi berada dibawah ancamannya, tapi .... aku suka ".
Akhirnya Danny membuka cerita, menjeda kalimatnya cukup lama sambil memperhatikan bagaimana tanggapan Ardelia. ia berharap wajah cantik itu akan berubah berbinar, tapi ia kecewa setelah beberapa saat menunggu. Baik Ardelia ataupun ibunya hanya diam dengan tatapan datar, menunggu.
" Raka, dia meminta ku untuk merestui hubungan kalian berdua. Dan aku menyetujuinya ".
" Imbalan apa yang kau minta untuk persetujuan itu ? ".
Danny terkesiap, ia menatap wajah perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya ini. Pertanyaan yang sungguh sangat tidak terduga. Palupi yang dalam ingatannya adalah wanita lemah lembut, kini nampak seperti memliki ketenangan seekor singa betina. Senyap namun mematikan.
__ADS_1
" Lupi, sebelum aku menjawab pertaanyaan mu, aku juga punya satu pertanyaan untuk Delia ". Danny kembali beralih menatap putrinya. " Nak.... apa yang kau inginkan dari ayahmu ini ?. Untuk pernikahan mu, selain menjadi walimu tentunya ".
" Papi yakin? ..... ingin mendengar permintaan ku dan akan memenuhinya ? ".
" Biarkan sekali saja aku menjadi bapak yang baik untukmu ". Danny menegaskan, menjawab ketidakyakinan Ardelia.
" Kalau begitu, lepaskan kami ". Terdengar sangat yakin, jernih tanpa tingkahan ragu dari warna kata yang tersusun. " Berpisahlah dari mami, secara resmi. Biarakan kami hidup damai tanpa harus menyandang nama keluarga mu ".
Karena luka yang kau torehkan pasti sudah sangat dalam..........
**" Om\, aku tidak menjanjikanmu apa-apa. Bahkan\, aku akan memulai perang terbuka dengan Dracio. Tapi sebagai menantumu kelak\, aku pasti akan membantumu.... hanya dalam hal kebaikan ". ** Ingatan Danny bergelung-gelung pada betapa tegasnya ucapan Raka.
" Papi, tidak ada yang harus kau kembalikan, tidak ada yang harus kau berikan untuk kami. Perusahan itu, rumah itu .... dan seluruh aset yang kau kuasai, walaupun itu kepunyaan kakekku. Tapi aku dan mami benar-banra tidak membutuhkannya. Ambilah !!!!... tapi biarkan mami ... bebas tak terikat lagi dengan pernikahan semu itu. Dan aku ... cukup kau tunaikan dengan tanggung jawab mu ... menikahkan ku saja ".
**" Ardelia dan tante Palupi... mereka tidak akan memperhitungakan apapun lagi . Harta ?!!! ..huh... hati mereka terlalu kaya\, harta yang kau kuasai ... tidak lebih dari seujung kuku mereka. Tapi jika Dracio tetap memposisikan dirinya sebagai benalu .... maka dia harus berhadapan dengan ku. Akan ku rebut dan ku kembalikan semua yang curi dari mereka. Tapi satu yang harus kau ingat om Danny ... kami keluarga Arsenio\, tidak akan pernah menggunakan cara yang tidak legal ". **Kembali suara Raka berdengung seperti kepak sayap ratusan lebah yang bersarang di dada Danny.
" Apakah papi keberatan ?. tapi itulah permintaanku ".
" Biarkan aku bicara dengan mami mu dulu Ardelia ".
" Baiklah papi, silahkan kalian bicara ". Ardelia pun bangkit berdiri dan berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Tapi ia masih menyempatkan diri menatap wajah sang ibu yang terlihat sedikit pias. Satu senyuman ia lempar dan mendarat dengan mulus pada wanita cantik itu. Seolah Ardelia berbisik, ' ini waktumu mom, semangat '.
Meninggalkan kedua manusia yang membuat jalan untuknya bisa hadir, bernafas dan tumbuh menjadi seperti sekarang ini, ada rasa aneh yang mencengkeram erat jiwa dan perasaan dengan rasa tak enak dan menyesakan. Mereka yang ada di sana itu adalah orang-orang yang harusnya bersatu padu, bahu membahu untuk mencintainya. Sayangnya ia tidak sesempurna itu mendapatkan yang seharusnya. Tapi dari pada saling menyakiti tiada henti, melihat air mata dan rasa sedih berujung amarah berkepanjangan, mungkin sebaiknya mereka berpisah saja. Toh, sudah sangat terlambat untuk nya bersikap manja pada seorang ayah. Paling tidak, ia telah memberikan kesempatan untuk sang ibu agar bisa lepas dari belenggu rasa sakit selam ini.
" Terimaksih sudah menjadikan dia seorang gadis yang begitu tangguh dan cantik ".
" Aapakah kau perlu melakukannya ? ". Palupi menatap pria yang sampai saat ini masih menjadi suaminya, sayangnya. " Tapi tidak mengapa jika itu membuatmu sedikit lega ".
" Aku tahu kesalahan ku tak termaafkan. Sudah tiba saatnya aku menuai buah dari dosa-dosa itu, Lupi ".
" Jadi, kau sekarang akan melepaskan ku ? ".
" Adakah kemungkinan lainnya, selain menuruti permintaan Ardelia ... yang mungkin bisa kau toleransi ... ah, sepertinya tidak ya ". Danny tertawa kecil dengan perasaan miris.
" Kau tahu aku sungguh tidak perduli lagi tentang apapun .... yang berkaitan dengan mu dan Sita. Apapun yang sudah jadi milikmu, bagaiamanapun cara kau memilikinya ... aku tidak akan pernah mengambilnya. Aku ... sungguh-sungguh tidak peduli ".
" Aku tahu. tapi bisakah kita tidak bercerai saja ?. Setidaknya hingga pernikahan Ardelia nanti ". Danny masih berusaha meraih hati wanita yang tak lepas menatapnya dengan sorotan tajam menguliti hati.
" Ada keuntungan apalagi yang sedang kau incar ? ". Palupi tersenyum sinis dan sengit.
" Tidak... ah, baiklah. Kita akan segera bercerai, seiring dengan persiapan lamaran dan pernikahan Ardelia ". Pada akhirnya Danny menyerah, kalah dengan keteguhan hati yang sudah mengeras karena berjuta bekas luka yang mengkarang itu.
" Terima kasih ... ku pegang perkataan mu. Dan setelah semua ini, ku harap kau bisa mengendalikan Sita dan juga anak-anak mu yang lain. Jangan mengusik kami lagi ".
Danny mengangguk dengan yakin, ada rasa lega dan juga rasa dingin yang berdenyut-denyut seiring dengan ruang hampa yang perlahan mulai tercipta di sudut hatinya. Ia menatap wanita berwajah lembut yang kinibegitu kontras dengan tatapan yang tajam menusuk. Wanita yang ia nikahi seperempat abad yang lalu, wanita yang selama itu pula ia sakiti.
" Palupi .... pernahkah, sedikit saja ... kau mencintai ku ? ".
" Maaf ... aku tidak pernah bisa mencintaimu ".
__ADS_1