
Wanginya segar penuh kelembutan, dada yang bidang dan kersat itu ... entah mengapa terasa sangat nyaman dan hangat. Bahkan ia nyaris tak bisa mengontrol kedua tangannya untuk tidak merayap naik dan membalas memeluk punggung itu. Ia seperti terhipnotis oleh seapsang mata kelam yang tadi menikam ke dasar hatinya.
Hanin tak berniat sedikitpun untuk meronta, melepaskan diri dari pelukan hangat seorang Haidar. Walaupun ada dua suara yang saling tarik-menarik berlawanan arah atas kesadarannya. Tapi ia memutuskan untuk tetap diam dan menikmati ... wangi yang membius nalarnya, hangat yang melenakan jiwanya.
Dan irama yang teratur itu berdegup seperti gemerincing lonceng musim semi yang menangkan. Hanin menikmati degup jantung Haidar. Bahkan ia merasa seperti sutra tak berdaya, bersandar dengan lemah dan pasrah di dada yang bidang itu. Meletakkan pipinya begitu saja, melupakan perdebatan keras di hatinya.
" Mas ... maafkan aku ... sudah membuat mu khawatir ", desisnya dalam lirih
" Nania .... ".
" Ya Mas.... ".
" Aku cemburu ... ".
Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya Hanin?, kau dengar itu?. Tapi Hanin semakin tidak mampu bergerak, ia merasa berada diantara kenyataan dan khayalan. TIdak tahu harus bagaimana sekarang, seharusnya ia tadi langsung menolak pelukan itu ..... dan kini ia menyesal.
" .... ", Haidar pun lalu seperti membeku. Tapi milyaran sel di tubuhnya memindai dengan penuh suka cita wangi dari rambut gadis yang kini terdiam di pelukannya. Sesuatu yang hangat bergelayar dan menggeliat perlahan, membuat Haidar menenggelamkan semakin dalam di ceruk leher gadis itu, tidak lagi hanya menyentuh ubun-ubun dengan ujung hidungnya yang bertengger perkasa.
Hanin merasakan gerakan yang sangat lembut, turun perlahan dari puncak kepalanya, menyentuh dengan ringan ujung telinga dan berakhir dengan sebuah hembusan hangat di ceruk tulang selangka. Ia mengigil, tapi tak berdaya untuk menolaknya. Sementara hatinya masih menjabarkan dua kata terakhir yang tercitra oleh indra pendengarnya... 'aku cemburu'.
Pria ini...... bukankah sebelumnya juga ... " Sejak kapan kita pacaran ? ", saat ia bertanya. " Sejak sekarang ? ... mau ? ". Hanin mengingat semua hal itu .... lalu kini Haidar mengatakan jika ia cemburu. Apa atinya ini.
Suara yang nyaring terdengar dan didahului oleh sebuah nada klasik peminta perhatian itu, membuat Hanin tersentak. Itu adalah panggilan untuk para penumpang kereta yang akan segera melaju ke Heidelberg. Pria yang kini sedang memeluknya, dia harus segera bersiap menaaiki alat transportsi terpanjang di dekade ini.
Ia mendorong perlahan tubuh besar yang mengungkungnya penuh kelembutan itu. Tak perlu usaha yang keras, tenaga yang berlebih, ia telah terbebas sepenuhnya... ah ternyata tidak. Sepasang lengan yang kekar itu masih melingkar sepanjang pinggang. Sekarang Hanin justru tersesat lebih jaug lagi di senyap sepasang manik hitm yang berpendar penuh gelora itu. Membuatnya tercekat, tak mampu berkata-kata .... dan semakin masuk dalam pusaran rasa yang ..... menghanyutkan.
Suara berdenting dengan panggilan dari operator wanita itu terdengar merdu, namun bernada mendesak. Tapi Haidar tak kunjung bergegas. Ia tetap semain dalam merayapi wajah jelita yang tak kunjung beranjak dari hadapan. Padahal sesungguhnya ia sudah bersiap menata hati, jika wanita mungil ini akan mendorongnya dengan keras, menajuhinya dengan segera.... ia akan tetap tersenyum manis. Tapi sekarang .... sepasang mata indah dengan iris coklat terang itu justru memakunya.
Hann tak bergerak sedikitpun begitu juga dengan Haidar. Keduanya terpaku, saling memandang, seolah sedang meyakinkan diri mereka masing-masing. Hingga peluit panjang terdengar melengking, serta suara mesin ular baja itu terdengar berdesing membelah udara, menandakan ia mulai beranjak. Dan Haidar masih tetap terdiam, mengungkung jelitanya, menatap pada indah smpurna yang telah memporak-porandakan separuh jiwanya.
" Mas ... kereta mu ... ". Hanin tersentak, ia mendorong dengan lebih kuat. Berusaha membuat Haidar melepaskan kedua lengan yang masih melingkar di pinggangnya.
" Mas... kau ... melewatkannya ... ", sesal Hanin. Tapi ia tak terlepas sama sekali dari jeratan Haidar yang masih membelenggu nalarnya.
" Mas ... kau .... terlambat .....". Tapi ia terbungkam kemudian.
Haidar merasa sudah tidak membutuhakan lagi nalarnya, ia hanya menuruti rasa yang bergejolak mendesak keluar. Sepasang mata itu begitu indah, kulit putih yang bersemburat kemerahan itu terlihat sangat ranum. Ia menyentuhnya perlahan, membelai dengan penuh kelembutan.
Hal tergila seumur hidupnya ..... dan ia melakukannya kini. Membelai pipi serupa mutiara termurni dilautan. Perlahan namun pasti mendekatakan diri, dan menyatukan dengan keindahan yang telah membuat musim semi di hatinya datang lebih cepat.
Hanin bisa melihat bagaiamana sepasang mata kelam itu membulat dan membesar. Bersamaan dengan hembusan nafas yang lembut dan panas membelai permukaan wajahnya perlahan. Ia terdiam, seperti dibekukan oleh kenyataan yang tak pernah terlintas sedikitpun dalam prediksinya. Tahu-tahu ia telah menyatu dengan pria ini, yang kini menundukan wajah dan melekatkan kelembutan itu padanya.
Terasa sangat manis dan lembut .... ini adalah untuk yang pertama bagi Haidar. Menyentuhkan dirinya pada seorang wanita, lalu mencecap kelembutan berwarna merah muda yang ranum seperti kelopak sakura. Mengeratkan kembali sepasang lenganya yang tadi sempat sedikit terkulai melingkari di pinggang Nania-nya. Manis dan lembut bibir Nania-nya sungguh membuatnya menjadi seorang pria yang tak waras dengan kenekatan tiada tara. Yang dilakukannya ...... adalah sebuah ultimatum rasa tanpa melmikirkan persetujuan dari sisi lainnya. Namun Haidar tidak perduli, ia telah benar-banar dibutakan oleh cinta.
Sementara si jelita Hanin Hanania, tak bergerak dengan sepasang mata yang membelalak. Pria ini sedikit tergesa dan sangat kaku pada awalnya. namun entah kenapa, seluruh neuron tubunya seperti sangat menikmati. Puluhan detik pertama yang membuatnya terkesima, tapi ternyata detik-detik berikutnya.... justru membuat ia semakin terlena. Apakah ia sudah terlalu lama merindukan kelembutan seperti ini... ah tidak juga. Dulu ia selalu menolak denagn halus ketika David meminta ijin dengan lembut untuk sekedar menyapukan kedua bibir mereka.
Tapi sekarang ?.... entah mengapa ia seperti tak keberatan dengan ciuman yang dalam sekejap berubah menjadi pagutan mesra ini. Padahal diantara mereka .... belum terjalin perasaan asmara, belum terikrar ikatan hati. Ini pasti hanya sebuah sikap impulsif dari rasa khawatir, kesal dan juga rasa bersalah yang menghantam bertubi-tubi tadi. Yah ... pasti demikian.
Dan kau ? .... sedalam apa lagi kau akan terjebak dalam impian semu mu Hanin. Sadarlah !!!!!!!!!!!!
Satu dorongan yang cukup kuat membuat Hanin terlepas dari semua kelembutan dan kemesraan itu. Dan sepasang matanya yang tiba-tiba memercik gelisah, melihat Haidar berdiri menjulang dengan sedikit senyuman di bibir.... yang baru saja terlepas dari bibirnya. Hatinya ... tiba-tiba saja terasa kosong.... seperti ada angin dingin yang menyusup masuk perlahan. Hanin sedikit mengigil, bibirnya yang terasa lebih lembab dan menebal..... bergetar.
" Na'... Nania... ". Haidar kebingungan .... dan ia merasa sangat bersalah. Dua butir air bening itu bergulir perlahan dari susut-sudut mata yang cantik itu.
" Mas ... kau ... kau .... ", bahkan Hanin tak mampu berkata-kata. Dadanya seperti akan meledak ....., " Kau mencuri ciuman pertamaku !!!!! ", jerit nya dengan isak yang tak bisa ditahan lagi.
................................................
Akhirnya ...... Haidar menarik nafas dengan lega. Menempatkan diri dengan nyaman di kursi penumpang. Bis antar negara bagian ini, walaupun dia hars duduk selama dua belas jam ... tapi seoadan dengan perolehan yang seperti diambil dimuka tadi. Haidar duduk sambil tak henti-hentinya cengar-cengir kegirangan. Dengan konyol, bahkan berkali-kali ia membelai bibirnya sendiri.
Masih terasa manis dan lembut disana mas bro ?. Pastinya ... wangi yang lembut menggoda itu bahkan masih tertinggal dipelukan. Ia berjanji tidak akan mencuci coat yang dikenakannya kini.... biar tetep terasa dipeluk oleh si cantik Nania. Ya elah mas bro '..... segitunya ya ?.
__ADS_1
" Kau ... pencuri .... !!!! ". Air mata itu berderai-derai dan Hanin pun mulai terlihat membabi buta memukuli dadanya. Gadis itu menjadi terisak-isak, kacau .. seperti seorang anak yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.
" Aku benci kamu mas ... aku benci !!!! ". Masih dengan kedua kepalan mungil yang terus mengahntam-hantam dadanya, hanin tambah terisak.
" Aku menjaga semua ... semuanya untuk ...... ".
" Untuk siapa Na' ? ", akhirnya ia tak lagi bisa menahan, mendesak Nania-nya yang menjeda terlalu lama. " Nania ... untuk ... siapa ? ". Desaknya lagi sambil menunuduk dan memegang bahu gadis yang masih terisak itu.
" Tentu saja untuk suami ku !!!!", gadis itu menyalak keras dan mata indahnya yang sedikit memerah karena isakan itu membulat sempurna.
Haidar tersenyum mengingat moment impulsif nan manis itu. Hatinya bersofak-sorak seolah menyerukan euforia kemenangan. Paras cantik dan manis itu... ternyata memang sangat murrni, lugu, lucu dan menggemaskan, Membuatnya kembali tak bisa menahan diri untuk menarik si pemilik tubuh mungil itu dalam pelukannya.
" Lepaskan !!! ", gadis itu meronta.
" Aku akan menjadi suami mu ".
" Enak saja !!!... kenapa kau yang meutuskan hidupku. Memang kau siapa ? ", masih tetap meronta, memukul dan menjerit kecil.
" I luve you ... so much. Will you marry me ? ".
" Huaaaa....... ", tapi gadis itu menjerit dengan tangisnya.
Haidar tersenyum geli bercampur bahagia mengingat semua hal indah beberapa menit lalu itu. Walupun kini ia telah melaju meninggalkan si cantik, tapi hatinya masih angat berbunga-bunga.
" Kau pasti sedang menghiburku saja ... aku benci. Sejak dulu kau selalu begitu ". Masih dengan berurai air mata, tapi kini Hanin terlihat lebih tenang dan perlahan menghentikan pukulannya di dada. Tentu saja karena gadis itu sudah kembali ia perangkap dalam pelukan.
" Karena aku sudah mencintai mu sejak dulu ".
" Bohong !!! ", tapi Hanin masih saja menyalak.
" Kau pikir .... apa sebanya Dave' ku tinju ?. Lalu dulu ... kenapa aku selalu menikmati hari jumat dan sabtu sore di kantin kantor ? ".
Dan gadis itu terlihat sedikit demi sedikit mulai tenang. Walaupun sisa isaknya masih tetap terlihat meningkahi setiap tarikan nafasnya. Ia pun lalu membelai dengan lembut pipi yang putih itu, menghapus sisa-sisa jejak air mata. Menyelipkan anak rambut yang kacau berkeliran, menempatakannya kembali di pagar telinga. Lalu menatap sepasang mata yang berkerjap sedikit gelisah, seoalh sedang mencari suatu benderang kepastian. Ia pun tersenyum, mengangguk perlahan untuk meyakinkan Nania-nya.
Hanin yang menengadah mentapnya terlihat ternganga, tapi kemudian gadis itu mengeleng-geleng perlahan. Percikan di matanya menunjukan ia sedang mengikari sesuatu.
" Aku sempat merelakanmu .... kau tahu itu sangat menyakitkan. Dari belasan tahun yang lalu ... aku sudah memutuskan ... kau harus jadi istri ku ".
" Mas ? .... apa tadi Ameer menambahkan alkohol di minuman mu ? ".
" Ya ampun Nania ... ". Tentu aja ia menjadi sangat gemas, dan menggeleng tak percaya. Gadis ini ... benar-benar ya. Ia pun menggeram dengan sedikit kesal. " Perlu aku menciumu sekali lagi ? ".
" Tidak !!! ", telapak tangan itu langsung menutup mukanya dan mendorong dengan cepat. " Lepaskan aku !! ".
" Tidak !!! ", ia menahan tubuh mungil yang mulai meronta itu. " Berjanjilah satu hal ... maka aku akan melepaskanmu ".
" Kau keterlaluan mas ... ".
" Jadi kau pilih ciuman kedua ? ". Tentu saja ia serius ... tapi juga bermaksud menggoda gadis ini
" Apa ?... tidak !!! ", si cantik ini pun kembali menyalak, tapi semburat merah muda di pipinya nampak berpendar sempurna. "Baik.. aku berjanji. Apa itu ? ".
" Pertimbangkan aku ... untuk menjadi suami mu. Beri kesempatan untukku membuatmu jatuh cinta .... padaku ... ".
" Ya ... tapi.... ", kedua bola mata cantik itupun bergerak gelisah penuh ragu.
" Tapi Nania ? ".
" Jika aku tidak bisa jatuh cinta padamu .... kau harus menyerah mas .. tidak boleh ada dendam dan sakit hati ".
" Baiklah Nania ... ".
__ADS_1
" Ya .. satu bulan, mas. Waktumu ... hanya satu bulan ".
" Ya .. satu bulan ... kau akan mencintaiku ... Nania ku ".
..............................................
Hanin melemparkan tubuhnya di atas pembaringan dengan cukup ... keras. Malam sudah mulai larut ketika ia sampai ke dalam kamarnya. Menutup muka dengan menggunakn bantal, lalu ....
" Aaaaaaaaa.... ", berteriak sekencang-kencangnya.
Kejadian hari ini sungguh sangat luar biasa. Menguras energi, pikiran dan juga pertahanan hatinya. Ini pertama kali dalam hidupnya ... direpotkan oleh dua orang pria sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ah tidak, sebelemnya ia sudah pernah juga direpotkan oleh dua orang pria. Tapi yang kali ini ......
" Kau harus mengatarku ke terminal bis. Kau membuatku terlambat naik kereta ".
" Enak saja !!!!.... itu salah mu sendiri mas. Kau ... kau yang memelukku terlalu lama ".
" Tapi suka' kan ? ".
" Enggak !!! ".
Tunggu ... benar kau tidak menyukainya ?. lalu kenapa kau seperti ini sekarang Hanin ?. Berguling kesana kemari, mentup wajahmu dengan bantal ... dan itu.. pipimu bersemburat merah. Kau menyukainya Hanin.
Ciuman pertama .... apakah memang selembut dan semanis itu ?.
Aaaah .... bodoh !!!... memalukan kau Hanin.
Tapi ... itu sangat menggetarkan bukan, kau masih bisa merasakan bagaimana diawal ia terasa hangat dan kemudian mulai memanas. Dadanya hangat sekali ya ?. Kau sangat nyaman dan amna bukan berada dalam pelukannya ?.
Hanin... Hanin... kau sudah jatuh cinta, pasti. Lalu ... untuk apa menunggu satu bulan ????.
***Cinta itu ......... ***
Berbatas tipis dengan benci
Terkadang keduanya malah saling bergandengan
Seperti dengan sengaja mengacaukan hati
Cinta itu .......
Tidak ada matematika yanng mampu menghitung prosentase kemungkinannya
Tidak ada Fisika yang mampu menentukan arah momentumnya
Tidak ada Kimia yang bisa menghentikan laju reaksinya
Cinta itu ....
Terkadang waktu pun bisa salah membuat perkiraan
Karena cinta ... ia bernafas dengan nyawa nya sendiri .................
__ADS_1