
Sebenarnya Haidar sangat memahami situasi yang tengah dialaminya saat ini. Karena ini bukan yang pertama baginya harus abai dengan lihai atau melakukan manuver menghindar yang manis saat mulai dijerat oleh salah satu golongan manusia terkuat di dunia ini, apa lagi kalau bukan seorang wanita. Dia sangat paham bagaimana Velinda dengan sangat sengaja menyentuhnya, melempar senyuman dengan ringan, atau memancing perhatian dengan bergerak gemulai mengekspos kemolekannya.
Tapi bukan Haidar namanya jika tidak bisa lebih pandai dalam mengatasi situasi seperti itu. Pengalaman telah membuatnya cukup terlatih untuk bisa mendeteksi masuk level berapa jenis
Velinda ini. Ia bahkan bisa memprediksi kadar kenekatan yang mungkin saja bisa dicapai oleh si ratu pe’de’ itu. Yang jelas setelah melakukan analisa dan mitigasi bencana cinta, ia tahu betul langkah apa yang harus di ambilnya.
“ Pak Haris, untuk pendamping nanti di Denmark saya minta staff pria saja. Sedangkan di Jerman nanti, saya bisa sendiri. Sudah ada tim sendiri disana. Saya percayakan Swiss sama bapak “.
Haris mengerutkan keningnya, tidak segera menjawab namun menelisik dengan tatapan. “ Apakah ada yang kurang berkenan dengan tim support yang ada di sini ? “.
“ Sejujurnya …. Ya. Tapi ini lebih pada hal pribadi, yang sebenarnya kurang tepat jika harus saya katakana pada bapak “, jawab Haidar diplomatis.
“ Oh maaf kan kami jika demikian pak Haidar. Tapi bolekah kita mengetahuinya … ehm, sedikit. Agar bisa introspeksi dan mengusahakan perbaikan “.
Haidar tertawa kecil, dengan gesture yang menunjukan ia meminta maaf akhirnya ia menjawab. “ Saya akan segera menikah, dan calon istriku orangnya cemburuan. Jadi sebsa mungkin kuhindari pemicu cemburu yang bisa berakibat runyam. Wanita itu …. Terkadang tak terduga
pak Haris, benar bukan ? “.
Haris kembali terdiam, tapi kali ini ia mengikuti pandangan sesaat haidar pada keponakannya yang mulai berkendara dengan tuan Pouzas. “ Saya paham pak, maafkan saya … “.
“ Oh, tidak.. tidak… bapak tidak melakukan salah apapun, saya hanya berjaga-jaga saja “. Haidar lalu tersenyum pada Haris yang menunjukan wajah tidak enak hati. “ Pak Haris, saya puas dengan cara kerja mu, terimakasih banyak “.
Lalu Haidar berjalan mengikuti langkah Andrean yang sudah memanggilnya. Meninggalkan Haris yang masih termenung. Lalu pria itu menggeleng-gelengkan kepala dengan sedikit geram. Tapi bukan pada sikap Haidar, melainkan pada kelakuan keponakannya sendiri.
……………..
What ?, menginap ?... bersama tentunya. Sialan !!!!!.
Gadis berkaki jenjang itu melangkah lebar meninggalkan kediaman keluarga Pouzas. Hatinya penuh gemuruh karena geram,
Hei nona, kenapa begitu ?, memang kamu siapanya?, jadi uring-uringan tidak karuan.
Tapi Velinda tidak menghiaraukan sindiran hati nuraninya. Ia berdecih sambil memasuki mobil yang sudah menunggu. Lalu duduk sambil menyilangkan kakinya, mengekspos kulit paha yang mulus dan licin. Padahal sengaja dirinya menyiapkan hal itu hanya untuk bisa membuat dada Haidar berdesir. Tapi sungguh, pria muda sama sekali tak meliriknya. Apa mungkin pria itu terlalu naif, atau dia sedang menjaga perasaan calon istrinya.
Ah pasti benar begitu, si gadis manja itu pasti terlalu posesif. Karena dia pasti sangat takut kehilangan calon suami yang luar biasa itu. Artinya, si gadis manja itu tau betul dia tidak sepadan dengan Haidar. Kalau sudah tahu begitu kenapa tidak cukup tahu diri untuk mengalah saja?. Cihh!! dasar ...
Untuk seorang calon pemegang tahta kerajaan bisnis keluarga Arsenio pastilah diperlukan seorang pendamping dengan banyak kelebihan yang bisa menunjang performa sang suami tentunya. Cerdas, berwawasan luas, berasal dari keluarga yang paling tidak setara dengan keluarga Arsenio, tidak hanya cantik semata. Dan pastinya harus perempuan tangguh dan punya kelebihan yang bisa di banggakan. Yang akan membuat sang suami semakin bersinar.
Lalu gadis manja itu, siapa dia ?.
Velinda mendengus dengan kesal, baru kali ini ia merasa dikalahkan. Yang lebih menyesakkan lagi, oleh lawan yang sangat idak sepadan. Dan hal itu sebenarnya sangat mustahil, tidak mungkin terjadi. Seandainya tidak ada kecurangan....
Yah, pasti... pasti gadis itu sudah bermain curang .
...............................
Pesta itu hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat dari kelurga Nikolov Oeri Pouza saja, tapi jumlahnya sudah melampui seratus orang. Dan sembilan puluh sembilan persen tidak dikenal oleh Hanin. Sehingga ia hanya bisa begelayut saja pada Haidar yang selalu sibuk memperkenalkannya dengan mimik sumringah sebagai 'calon istri'. Seandainya tidak ada pria itu, mungkin ia sedang berdiri di tepi sana dekat dengan barbeque grill dan mengenakan chef jacket kebanggaannya.
Tapi kini ia terpaksa berdiri dengan anggun dan bersikap manja sambil terus menebarkan senyum manis. Sementara kakinya mulai terasa tidak nyaman, dan lama kelamaan otot tungkai dan betisnya menjerit-jerit sambil mengumpati heels yang menyiksanya. Ampuuun... sakiiit...
" Kenapa ?", bisik Haidar yang menyadari ada yang tidak beres dengan si cantik ini.
" Kakiku kram ... betisku kaku seperti tertarik, aku tidak bisa merasakan telap kaki ku, selain ribuan semut yang merayap membuat kebas ".
Deskripsi yang sempurna Hanin, lihatlah kini wajah Haidar langsung berubah khawatir. Dengan drastis langsung pada level sembilan kekhawatiran tingkat tuan muda yang lagi jatuh cinta.
" Duduk dulu, kalu begitu... ayo .. ".
" Pelan-pelan.... auw.. . ". Hanin yang berpegang pada lengan kekarnya memekik perlahan. Begitu kentara wajah seputih mutiara samudra itu menahan nyeri yang menjadi.
__ADS_1
" Maaf ya sayang, demi aku jadi seperti ini... ".
Hanin sungguh tidak menyangka pada apa yang akan terjadi pada dirinya. Belum lagi ia meleleh mendengar permohonan maaf tulus dari pria yang sudah memaksanya memakai heels tujuh senti meter itu. Pada detik berikutnya, tubuh telah terayun cepat namun sangat lembut dan mengagetkan. Membuat kedua lengannya spontan mengalung di leher kekar itu dengan cepat.
Ia tergagap karena tidak siap dengan reaksi yang akan dilakukan pria gagah itu. Menggendong dirinya dengan sangat mudah, bagai mengangkat boneka teddy kesayangan. Membawanya ke tepi arena dan mendudukannya di kursi dengan sangat lembut.
Hanin masih tak percaya dengan yang sedang dialaminya, ketika tiba-tiba Haidar sudah bersimpuh dengan satu tumpuan lututnya. Menyentuh kaki kanannya dan membuka heels berwarna nude cantik itu. Melepasakan jeratan ketat sepatu limited edition yang pernah menjadi perdebatan panjang ketika benda itu akan berpindah kepemilikan. Tentu saja karena keberatan dari dirinya yang tidak biasa mengenakan barang dengan harga dua kali gajinya sebagai cheff.
Kini pria itu memijat tungakai dan betisnya dengan lembut tapi bertenaga. Mampu mendistraksi rasa sakit yang ketat menjerat tadi dan menggantinya dengan rasa enak dan nyaman. Hanin terdiam tak mampu bersuara, ia hanya bisa menatap rambut hitam yang lebat itu. Memandangi punggung lebar yang tampak liat dan keras. Ah, memang seperti itulah punggung itu, bukankah tadi ia sudah sempat menyentuhnya ?.
" Nah... bagaimana ?, sudah mulai relaks ? ". Pupil itu menikamnya dan menimbulkan gelanya aneh yang membuat seorang Hanin menjadi setengah waras.
Hanin tidak menjawab, tapi tangannya terulur perlahan. Menyentuh pipi dan membelainya dengan lembut di sepanjang rahang dan berakhir di area dagu yang mulai terasa sedikit kasar.
" Mas.... ".
" Ya ... ".
" I love you .... ".
.....................................
Bagi Haidar tidak mengapa tidak jadi menginap bersama, toh di dua malam sebelumnya mereka sudah menghabiskan malam berdua. Walaupun keesokan harinya mereka akn berpisah cukup lama. Mungkin dua atau bahkan bisa jadi tiga bulan, mereka akan terpisahkan jarak dua benua dua samudra. Tapi kebahagiaan jelas terpancar dari wajah Haidar, rasanya seperti terbebas dari rasa nyerinya penantian.
Padahal sebelumnya ia merasa sangat tidak enak hati, dan terus menerus mengumpat pada dirinya sendiri saat melihat Hanin yang meringis kesakitan, walaupun tertahan. Ini semua karena keegoisannya, memaksa gadis mungil itu untuk memakai heels agar terlihat makin sempurna. Tapi lihat hasilnya sekarang, Hanin nampak sedikit pias karena menahan rasa sakit.
Tidak membiarkan gadis itu lebih kesakitan lagi karena berjalan, adalah satu-satunya hal terbaik yang bisa ia lakukan. Hap ... tubuh mungil itu cukup ringan, untuk seukuran dirinya yang berbobot lebih dari tujuh puluh delapan kilo. Mudah saja membawanya menepi, mencarikan tempat yang nyaman dan mendudukannya di sana. Di sebuah kursi taman tak jauh dari povenal air mancur antik.
Pasti sangat sakit dan menderita, hingga Hanin tidak mengeluarkan prostes sedikitpun saat ia melakukan semua aksinya itu. Bahkan si cantik ini terdiam membeku saat ia mulai menaruh kaki ramping yang putih bersih itu diatas pahanya. Memberikan relaksasi pada otot-otot betis yang tegang dan mengkayu.
Ketika dirasa cukup, ia langsung mengganti dengan satu kaki lainnya dari si cantik itu. Tepat di saat ia memulai memijatnya perlahan, tiba-tiba saya sesuatu yang lembut dan berbau wangi dan manis menyentuh pipinya.
" Mas, ... I Love You ... ".
Sesuatu yang di tunggunya selama ini dengan sabar, bagai seorang anak yang tengah merenda impian. Sempat terhenti dan merasakan dingin yang sepi. Sempat hampir menyerah dengan membisiki diri sendiri .... 'asalkan dia bahagia'. Sempat mengabai tak mengindahakan ketakutannya sendiri, bahwa .... ' tak kan ada namamu di hatinya'.
Tapi kini ... dewi anggrek samudra itu menatapnya penuh keyakinan. Tanpa perjanjian, tanpa rasa berhutang budi, si jelita itu menatapnya dengan percik rasa terindah yang pernah dilihatnya. Membisikan sesuatu yang sangat dinantikannya, dengan tulus. Membuatnya sedetik hanya mematung, ternganga... tapi tiba-tiba ada air hangat yang mengalir menuruni pipi. Dengan cepat dan gugup ia menghapusnya.
Keterlaluan !!! ... bagaimana mungkin ia tidak bisa menahan rasa haru yang menggebu-gebu itu. Pasti Hanin sibuk menertawai guliran air bening yang tidak tahu diri tadi. Aduuuh ... malunya ...
..................................
Air mata seorang wanita itu bukan karena mereka mahluk yang lemah. Tapi air mata itu menyirami sakitnya sepi, menentramkan galaunya gundah, menyembuhkan laranya luka, dan menguatkan kembali batin yang terdera sengasara. Karenanya para anak Hawa itu menangis dalam senyap ataupun gempita.
Tapi yang kini sedang meneteskan air mata adalah seorang anak Adam nan rupawan, yang selalu menggetarkan hati bahkan hanya dengan satu hal kecil saja mampu menyitrakan sempurna, berkelebat diingatan. Pria yang menangis bukan karena terluka, atau sedihnya ... tapi karena telah mendengar dirinya berucap.
" I .. love .. you ... ".
Hanin sungguh tidak tahu apa yang telah terloloskan dari bibirnya. Itu bukan hanya sekedar reaksi impulsif semata, tapi ia pun merasakan gegap gempita perayaan cinta di setiap inti selnya. Namun pria ini malah meneteskan air mata, begitu tersentuhkah ?. Atau akhirnya dia lega karena terlalu lelah menunggu.
" Mas ... maaf ... ". Bisik Hanin penuh sesal, lebih karena ia tidak mengerti harus bagaimana.
Haidar menggeleng kuat-kuat, serya bangkit dan ikut menahan telapak tangan Hanin yang menangkup pipinya. Kini keduanya duduk bersebelahan dan saling menatap lekat. Sementara tak jauh dari mereka, tepatnya di tengah taman yang kini tampak lebih semarak karena nyala lampu hias yang digantung serupa gemintang di angkasa, terdengar lagu selamat ulang tahun yang dibawakan oleh band penghibur.
Happy Birthday
Happy Birthday to you
Happy Birthday just for you
__ADS_1
Happy Birthday
Happy Birthday to you
Happy Birthday
Happy BirthdayJust a day
Just another year
But in our eyes you are the best
We´re gonna love you
Gonna love you above the rest, oh
May good times always smile on you
May happiness always come your way
We´re here to love you
We´re here to celebrate your day
We wish the best of what the best can be
All the best
We wish for you that all your dreams come true
" Terimaksih .... mulai sekarang, sertakan aku dalam doamu. Pintakan pada Yang Maha Cinta, agar cinta kita sehidup sesorga ". Tidak ada kesan berlebihan atau hnyalah sebuah rayuan pemanis asmara saja, tapi iu adalah permohonan dari hati terdalam yang disampaikan seorang Haidar.
Hanin mengangguk, ia telah tersesat dalam rasa hangat yang menentramkan ketika Haidar tak melepaskan pandangannya sedikitpun.
Sementara itu lagu selamat ulang tahun itu terus mengalun. seirama dengan deburan perasaan yang berteriak kencang karena bahagia. Haidar dan Hanin telah tersesat dalam lautan asmara yang mereka arungi bersama.
The years may come and the years may go
But that won´t change what we already know
You´re such a great friend
And in our hearts your love will grow, grow
Happy Birthday
Happy Birthday to you
Happy Birthday just for you
Happy Birthday
Happy Birthday to you
Happy Birthday
Happy BirthdayJust a day
__ADS_1