
Seperti menatap merak yang melenggok sempurna dengan tariannya. Bukankah dia begitu anggun dengan kepiawaiannya menggerakkan pisau. Sepertinya benda tajam itu telah menjadi perpanjangan dari lengannya sendiri. Menakjubkan, lihat bagaimana bawang bombai itu masih nampak utuh, namun hanya dengan sebuah jentikan kecil... langsung rebah!! dalam slice tipis. Sungguh mempesona bukan ?.
" High skill... bukan abal-abal ".
" Ya iyalah ... lahir udah kalung chef apron... ".
" Kayaknya emang bener deh, jelmaan dewa dapur ".
" Mau dong jadi tuh daging ... dipegangi... biar kata terus diiris tipis.... rela gua ... ".
Hanin tersenyum dalam hati mendengar berbagai komentar dan hayalan absurd dari teman wanitanya yang hanya beberapa gelintir ini. Tapi .... emang pemandangan di depan sana sangat menakjubkan sih.
" Eh, ada yang sudah bisa dapat nomor nya ?.... bagi dong ".
" Kalau berani.... minta noh' sama bagian kesiswaan ".
" Langsung ditolak !!! ".
Dan para gadis itupun lalu terkikik kecil. Menyadari kebodohan mereka. Sementara Hanin, ia memilih diam saja menyembunyikan rahasianya sendiri. Rahasia yang sudah disimpannya dua malam ini. Karena sebuah janji...
" Hei.... kau si berbakat itu rupanya. Siapa nama mu tadi.... Hani ? ".
" Hanin kak ".
Begitulah dua hari yang lalu sang Dewi Fortuna menaunginya. Si mas ganteng yang diincer dan dielu-elukan ini, justru dengan sangat tidak terduga datang menghampiri.
" Bagi email mu ... ku kirim informasi program ausbildung terbaru, terlengkap, terpercaya ... kau mau 'kan ? ".
Seorang Hanin Hanania masih terlongo tidak percaya, ketika kemudian si mas itu mengulurkan tangan , meminta.
" Kau tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini 'kan ?. Ponselmu ... ".
Seperti terhipnotis, Hanin mengulurkan benda pipih berbentuk persegi itu. Menatap senyuman yang seperti sedang meyakinkan nya. Masih tetap berdiri tak bergeming, mengamati dalam kebingungan pada pria mempesona yang sesekali menatap dengan sudut mata dan senyum simpul di ujung bibir. Ah... mimpi apa aku semalam ?, desisnya di tengah gegap gempita suka cita hati.
" Ini ... ", pemuda itu mengulurkan kembali handphone miliknya. " Balas pesanku segera ya ". Lalu berlalu meninggalkan dirinya yang terpaku.
Seandainya benda pipih itu tidak bergetar sesaat, pasti dia masih mematung menatap pintu keluar. Hanin tersadar dari bengongnya, dan melihat sebuah pesan masuk.
' Simpan nomor ku ya, dan segera kirim email mu ... ku tunggu ya, nona cantik '.
Dan Hanin pun tersenyum dalam sipu malu yang membuat wajah nya bersemu merah. Dan saat itulah sebuah pesan kembali datang untuk nya.
' Please ... hanya untuk mu saja. Jangan bagi nomer ini pada siapapun ya. Janji ???!! '.
Ya.... pasti, aku berjanji.
.........
Hari ini akhir pekan, dan Hanin memutuskan untuk pulang lebih cepat. Ia mengatur jadwal untuk hari Minggu dan membuat daftar menu, serta menuliskan apa yang sudah dicicil dikerjakan untuk hari Minggu besok pada white board di dekat pintu masuk dapur. Saat Ameer menghampiri dengan wajah sumringah penuh senyuman yang mencurigakan.
" Hei... ada apa dengan wajah mu. Baru dapat lotre kamu ? ".
" Itu dosa chef... aku tidak mungkin membeli lotre. Kecuali terpaksa .. he.he..he .. ". Pemuda itu terkekeh.
" Haiisss.... ada apa ? ", desak Hanin.
" Ada Mr.Handsome yang menunggu mu di luar ".
Hanin mengernyitkan keningnya, tiba-tiba ia mulai merasa khawatir.
" Ini yang bau surga chef ... bukan si AC-DC itu ", Ameer buru-buru menambahkan keterangan versi nya sendiri demi melihat kilas resah di mata Hanin.
" Yang membuat mu rela berpayah-payah membuat pretzel dan garlic bread untuk sarapan... he..he..he.. ".
" Oh ... ", dan Hanin pun ber-oh dengan lega.
" Sepertinya kau harus bergegas, dia sudah menunggu mu hampir ... emh... dua jam ".
" Hah ?! ", Hanin terkejut.
" Dia melarang semua orang yang akan memberitahumu nona chef..... maaf, bukan salah kami ".
" Oh My God ... ", dan Hanin pun buru-buru beranjak dengan tergesa.Menyambar tas tangan nya dan menyempatkan diri menepuk pundak Ameer yang sibuk terkekeh-kekeh. " Ku percayakan hari Minggu untuk mu .... ambil bonusku nanti ".
" Thanks chef... good luck !".
__ADS_1
Keluar dari area khusus staff, menuruni beberapa anak tangga dan kemudian berbelok melewati sebuah meja kasir. Judith menatapnya dengan kerlingan menggoda.
" Akhirnya Ameer memberitahu ya ... tuh.. ", gadis berambut ikal kecoklatan itu memanjangkan leher, menunjuk sosok tegap yang nampak duduk santai. " Kalau kau tidak mau... berikan padaku saja, cheff ".
Hanin hanya tertawa saja, sambil mengibaskan sebelah tangannya. Lalu mendekati sosok Haidar yang duduk menikmati musik dengan headset-nya. Di atas meja nampak cangkir latte yang telah kosong, piring kecil yang hanya menyisakan saos tomat serta mayonaise dan sebotol air mineral yang tinggal berisi kurang dari sepertiga.
" Kenapa tidak menelpon ku mas ? ".
Jelas pria itu nampak terkejut saat Hanin mendudukan diri tepat dihadapannya. Ia melepaskan headset-nya, tersenyum perlahan, sambil menatap seraut wajah yang entah kenapa, kali ini terlihat sedikit lebih pucat.
" Kau sudah selesai ?. Kau sakit ? ". Cecar Haidar dengan khawatir yang kentara.
" Ya ... aku sudah selesai. Aku baik-baik saja, hanya kurang tidur .... ". Hanin terhenti, ia tidak mungkin menceritakan kejadian semalam.
" Mau pulang sekarang ?. Ku antarkan ".
" Mas ada apa kemari ?. Bukan sekedar untuk ngopi 'kan ...ehm' pasti ada perlu dengan ku ". Hanin nampak sedikit salah tingkah. Sejujurnya ia saat ini sedang merutuki dirinya yang terlalu percaya diri.
" Nona cantik pinter banget ... eh' nggak ganggu 'kan ?. Nggak sampai malam nih hari ini ? ". Tapi Haidar justru yang mencecar dengan pertanyaan.
" Maaf ... mas masih mau di sini ?. Janjian dengan seseorang ? ".
Haidar akhirnya tertawa kecil seraya bangkit dari duduknya. Sambil meletakkan dua lembar pecahan Euro di bawah gelas. Lalu dengan cepat menarik tangan gadis dihadapannya.
" Eh... eh... kebanyakan itu ", protes Hanin.
" Ssst.... biar mereka tetep semangat walaupun aku menculik chef-nya ".
" Ih ... apaan sih. Memang aku sudah mau pulang kok ".
" Anggap bonus malam Minggu ". Haidar tetap melangkah dengan kaki panjangnya sambil melambai ke arah kasir. " *Judith .... terima kasih banyak. Sampai ketemu lagi ya ".
" Sama-sama tuan Haidar .... titip chef cantik kami ya* ".
Haidar yang masih dalam langkah dengan mendukung pundak Nania-nya, nampak semakin sumringah. Sementara Hanin mencoba menahan langkah dengan tatapan protes.
" Sejak kapan kau bersekutu dengan semua teman ku mas ? ", Hanin mendelik.
" Sejak mereka dengan hangat menerima ku doooooong .... ".
Tapi gadis itu sama sekali tidak menolak saat dukungan telapak tangan yang lebar itu beralih, menjadi genggaman hangat memenuhi sela jemarinya. Haidar menjalin jari-jemarinya dengan lembut. Terasa sesak dan sedikit sakit, karena jemari pria itu sangat panjang dan besar. Tentu saja telapak tangan dan jemarinya terlihat sangat mungil, langsung lenyap dalam genggaman Haidar.
" Tau' kau sedang nggak enak badan... aku bawa mobil tadi. Gimana nih ? ". Haidar melepaskan genggamannya kemudian dan menatap Hanin yang berdiri disebelahnya dengan wajah datar.
" Motornya Rama ya ? ".
" Kok tahu ? ", Haidar tertawa.
" Penuh drama Rama dapat motor itu ".
" Hua... ha..ha..ha... pastinya. Mba' ku ka emang luar biasa .. ".
" Ayo ". Di luar dugaan, Hanin justru bergegas menghampiri 'si kumbang' hitam metalik itu, si R1250GS Adventure keluaran pabrik otomotif ternama negeri panser ini.
" Wuuuuuiiiih..... motor yang harganya bisa buat nraktir orang se-kabupaten ", sepasang mata Hanin berbinar. " Ayo ... buruan ... ".
Haidar yang masih berdiri terpana karena tidak menyangka dengan keantusiasan gadis ini, menjadi sedikit gugup. Tapi ia mengatasinya dengan tertawa terkekeh-kekeh. Lalu mengulurkan helm yang sengaja dibawanya untuk Hanin.
" Pakai ini juga... ", ia juga memberikan jaket yang tadi dikenakannya.
Tapi kemudian Haidar kembali tertawa demi menyaksikan bagaimana tenggelam nya tubuh gadis cantik itu dalam balutan jaket miliknya yang sangat kebesaran. Hanin cemberut, tapi ia tidak melakukan tindakan protes. Dengan segera ia naik dan duduk di boncengan bersama Haidar yang gagah mengendarai di depan nya.
" Langsung pulang ?... atau kau butuh kemana dulu ".
" Mas mau aku temani kemana dulu ? ", balas Hanin dengan setengah berteriak mengalahkan derum si kumbang.
Dalam hatinya Haidar benar-benar tertawa-tawa, walaupun bibirnya tersenyum saja. Angin sore yang segar karena beberapa hari ini benderang tanpa hujan, seolah membelai wajahnya dengan lembut karena ikut serta dalam suka cita.
" Kau yang tahu harus kemana ... tempat yang menurut mu menyenangkan ", seru Haidar.
" Tempat kongkow mahasiswa Indonesia... El Reda Restoran... pernah dengar ? ".
" Ah ya... si bang-Key' pernah ngajak kesana, tapi aku tolak ".
" Bang Key?!!..... oooh ya... bang Keanu ". Hanin kemudian tertawa terbahak-bahak. " Ya.. ya.. ya.... masih ingat jalannya ? ".
__ADS_1
" Nyasar dikit nggak masalah 'kan ?. Bareng nona cantik ini, makin lama nyasar nya makin baik ... ha..ha... ha.. ".
" Iiih .... ". Dugh! ... dan Hanin pun memukul perlahan punggung lebar Haidar. Sementara wajahnya benar-benar menjadi semerah tomat yang ranum.
Si kumbang yang melaju dengan kecepatan nyaman, seolah menjadi saksi semakin mendekatnya dua insan. Apakah dia iri?, ah sepertinya tidak. Si Kumbang sepertinya juga ikut berbahagia kok.
Tidak seperti sepasang mata dari seberang jalan yang sejak tadi mengawasi dengan tatapan nyalang, namun kemudian tersapu kelam, dan berganti dengan sendu.
David atau yang lebih sering disapa dengan sebutan Dave, menghentikan langkahnya saat melihat Hanin berjalan dalam gandengan seorang pemuda. Ia bahkan memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobilnya. Mengamati semua itu dari tempat tersembunyi.
Wajah yang sedikit cemberut itu, kemudian berubah menjadi berbinar ceria.... aah, dulu ia pun begitu sering mendapatkannya dari si cantik itu. Lalu tawa renyah yang selalu singgah di telinganya... rasanya rindu sekali dengan derai-derai tawa riang penuh ketulusan. Rasanya... ia seperti benar-benar telah kehilangan separuh jiwanya.
Salah siapa Dave ? ..... semua ini salah siap ?. Lalu, kau ingin bagaimana ?. Masih pantaskah kau untuk sekedar mengharapkan maafnya ?. Dalam mimpi mu ..... itupun sepertinya... mustahil !!!!!. Sadarlah Dave ...
Dan Dave pun menghantam-hantamkan kepalanya sendiri dalam kemarahan. Marah pada dirinya sendiri. Sampah !!!!!!!!, dan Dave pun kembali mencaci.
Sementara di seberang sana, sepasang insan itu terlihat sangat bahagia. Tertawa dan bercanda, untuk kemudian melesat meninggalkan dirinya yang jauh tertinggal dan berkubang dalam lumpur hitam. Tiba-tiba saja hatinya sangat sakti, penuh penyesalan dan rasa berdosa, tapi juga rasa marah yang membuncah. Perlahan air matanya mulai mengalir, bahunya berguncang.
" Kau !!!... memang pecundang Dave ". Dan dia mengumpati dirinya sendiri.
" Ha... ha..ha... lihatlah dirimu... kasihan sekali .. ha..ha..ha... ". Dan di detik berikutnya ia tertawa.
Tapi kemudian ia terlihat merenung panjang dengan segala kepedihan di wajahnya. Sepasang matanya bahkan terlihat sembab dan memerah. Kini ia terdiam menatap kosong jalan lurus di depan. Seolah hanya ada hampa yang menyelimuti.
" Tuan Bharata ... David ? ", dokter itu menatapnya. " Apa pekerjaan mu ? ".
" Saya seorang chef, dokter ".
" Kau sudah berkeluarga ?, sudah punya anak ? ". Dokter itu kembali bertanya.
" Ah ... belum. Ada apa? kenapa dokter ? ", dan ia terlihat sangat kebingungan.
" Saya hanya sedikit curiga dengan gejala autoimun yang kau alami. Ini .... ", dokter itu menyerahkan secarik kertas pada David sambil menatap dalam. " Pergilah ke bagian laboratorium, berikan rekomendasi ini. Setelah hasilnya jadi .... datang kembali padaku. Biasanya dua hari ....".
" Baik dokter... tapi, memangnya saya sakit apa ? ".
Namun dokter itu hanya tersenyum, lalu berdiri dan menepuk pundaknya.
" Segeralah ke laboratorium ...... jangan terlalu dipikirkan kau sakit apa. Dunia medis saat ini telah berkembang sangat pesat.... asal tidak ditunda, semua bisa diatasi ".
Dalam dua malam terakhir, Dave merasa beruntung karena terlupa dengan kegelisahannya. Kesibukan dengan pekerjaan membuatnya sesaat lepas dari rasa khawatir akan bagaimana hasil test laboratoriumnya. Namun pada suatu sore saat ia baru saja akan menghubungi dokter Smith, tiba-tiba saja sebuah pesan masuk di telepon selulernya. Dan itu dari dokter Smith.
' Hasil mu sudah dikirim langsung padaku dari laborat. Sepertinya kita harus bertemu. Ini sedikit serius '. Pesan dari dokter Smith.
' Bisakah malam ini kita bertemu, tapi jika agak larut... apakah tidak mengapa ? '
' Ya, aku selesai praktek jam sepuluh malam. Datangglah, aku tunggu hingga tengah malam ', balas dokter Smith.
Tapi yang terjadi kemudian adalah kekacauan, segala kegelisahannya mengacaukan konsentrasi. Akhirnya koki saus dan koki masakan mediterania menyuruh dirinya untuk istirahat. Menurut mereka, dirinya nampak pucat dan sangat kacau. Akhirnya David pun menurut, dan kini sudah duduk menunggu hingga pasien terakhir yang sudah terjadwal untuk konsultasi dengan dokter yang berusia mungkin sebaya dengan ayah nya itu.
" Silahkan Mr. Bharata ", seorang perawat cantik mempersilahkannya dan membukakan pintu ruangan dengan ramah.
Dave mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan yang terlihat nyaman dengan nuansa biru dan kuning pastel yang lembut, meskipun aroma khas ruangan medis begitu kental tercium. Dokter itu nampak sedang tersenyum sambil mengamati dua lembar kertas. Pasti itu adalah hasil laporan uji laboratorium milik Dave.
" Oh hai, duduklah nak ", kata dokter Smith ramah. " Jus ... ", lalu memberikan sekaleng jus pada David yang kemudian diterima pemuda itu dengan senyuman.
" Terimakasih dokter ". David membuka penutup kaleng itu dan dengan perlahan meminum isinya. Terasa manis dan segar, jus apel yang membasahi kerongkongannya.
" Dave, kau percaya 'kan dengan kemajuan ilmu kedokteran saat ini ".
David mengangguk, tapi sejujurnya debaran di jantung dan hatinya semakin cepat. Ia pun kembali meminum jus apel itu, berharap bisa sedikit mengalihkan.
" Sepertinya, ini cukup awal kita temukan.... jadi kesempatan mu masih sangat luas ".
" Aku sakit apa dokter ? ", akhirnya melompatlah pertanyaan itu tak tertahan. Dan David semakin terlihat gelisah. " Cancer ? ".
Dokter Smith tidak segera menjawab, pria itu kemudian mencondongkan duduknya pada tepi meja dan mendekat pada pemuda di hadapannya. Berusaha tersenyum dengan setenang mungkin, karena bibit topan gurun di hadapannya kini terlihat mulai membesar dan siap dilahirkan.
" Ini bukan akhir dari segalanya Dave ..... kau hanya butuh untuk menyesuiakan diri saja, sejenak ".
..................
Author Corner :
Sorrrryyyyyy............ otor'nya lelet ya. Tapi kalian bener-bener penyemangat dan motivator sejati ku... My Dear Readers .... I Luv You ........
__ADS_1
Yang Rindu Kirana - Alend..... sabaaaaar. Still concepting....