
Sabrina Darin Nahda...... kakak yang menyenangkan :
Kedatangan adik sepupu tersayang yang merupakan versi terbaik perpaduan dari Om dan Tante favoritnya, membuat seorang Sabrina mau berpayah-payah menjemput sendiri di airport. Sedikit beradu argument dengan suami, dan tentu saja mengakhirinya dengan serangkum pelukan dan kecupan hangat. Tak lupa pula dengan anggukan yang menandakan bahwa dia menyetujui persyaratan yang diajukan suaminya.
" Kirain .... sengaja balik cepet dari Dusseldorf karena udah kangen berat. Eh... nggak taunya ... ". Dan begitulah seorang suami yang terlihat sedikit kecewa berujar.
" Siapa bilang tidak kangen ? ", Sabrina yang sudah berusi lebih dari empat puluh tahun dan berputra-putri tiga orang namun masih terlihat muda dan cantik itu, menyalak pada suaminya.
" Oh .... ". Dan begitulah sang suami yang hanya ber-oh pendek dengan wajah terlihat mengkerut.
" So .... jangan pulang terlalu larut, kalau bisa sore hari sudah harus sampai di rumah. Ingat... ada yang..... kangen ..... berat ", dan dengan sengaja menekankan ekspresi sedikit nakal pada dua kata terakhir. Sabrina kembali mengalungkan kedua lengannya pada sang suami.
" Jangan menggodaku ibu .... ini sudah waktunya berangkat kerja ". Pria yang sedang sibuk mengenakan dasi pada lehernya itu sedikit kesulitan dengan tingkah istrinya yang tentu saja sangat menggoda.
" Salah sendiri pulangnya malam-malam ", sahut Sabrina nggak mau kalah.
" Laah..... kamu 'kan nggak bilang-bilang mau balik ".
" Udah gitu masih bertapa di ruang kerja ... ", lanjut Sabrina tak mau kalah.
" Sorry .... ", dan sebuah sambaran lembut membungkam bibir Sabrina. Tentu saja itu adalah ciuman yang hangat dan dalam.
" Aku janji .... nanti malam double ya ". Dengan suara sedikit terengah, dia melepaskan pelukannya. Menatap dalam pada wanita cantik yang masih saja membuat gelegak prianya segera berkobar manakala mereka bersentuhan.
" Masih kuat ? .... double ronde gitu ? ", Sabrina terkekeh dan menggoda. Padahal dia tahu betul bagaimana stamina pria yang sudah hampir dua puluh tahun ini menjadi suaminya.
" Bersiap saja ".
Dan Sabrina tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian sebelum sarapan tadi. Mungkin benar yang dikatakan orang-orang, jika seorang pria akan kembali mengalami pubertas saat usia mereka empat puluh tahun. Hal yang cukup mengkhawatirkan juga sebenarnya. Mengingat bagaimana situasi, kondisi dan juga relasi suaminya. Tapi ia meyakini satu hal, suami yang dipilihnya sendiri ini adalah orang yang teguh pendirian dan tahu betul bagaimana harus membawa diri.
Tentu saja, saat ini mereka adalah ayah dan ibu bagi seluruh warga negara Indonesia yang kebetulan bermukim di Jerman. Mengemban tugas negara untuk urusan diplomatik dan juga menjadi rumah bagi seluruh saudara setanah air di negara ini. Mereka harus lebih dewasa dan juga memberikan contoh yang terbaik dalam segala aspek. Sabrina yang paham benar bagaimana karakter suaminya, walaupun pada awalnya merasa ragu hingga pada akhirnya mampu bersanding dengan manis mendampingi sang pak dubes itu.
Seorang pria yang dikenalnya saat ia baru saja berusia lima belas tahunan, tepat ketika ia sedang sangat besedih karena kehilangan sosok seorang ayah. Di Indonesia, negara kelahirannya sendiri ia merasa seorang diri dan kesepian. Lalu datanglah seorang pemuda pendiam namun sangat memukau ketika sudah berbicara. Sayang pertemuan mereka begitu singkat, karena ternyata pemuda ini akan melanjutkan belajarnya ke negeri yang baru saja ditinggalkannya.
Akhirnya menjadi bertambah lagi satu alasan baginya untuk tetap kembali ke Jerman. Beruntung ibu dan kakaknya juga mengambil keputusan yang sama. Tapi sang waktu tentu saja selalu memainkan perannya dengan sangat baik. Menguji kesungguhan perasaan seorang gadis muda bernama Sabrina itu. Hingga saat ia telah menjelma menjadi seorang gadis yang jelita, mereka dipertemukan kembali.
Saat itu Sabrina baru saja memulai debutnya sebagai seorang designer. Menutupi identitasnya karena ia tak mau terbebani oleh nama besar sang ibu yang sudah lebih dahulu dikenal di dunia mode. Datang menghampirinya seorang pemuda gagah dengan seulas senyum yang selama ini dirindukannya. Dialah Arya Mahardika, sosok yang dulu pernah menyapanya. Kini datang dengan senyuman yang selama ini memenuhi mimpi indah seorang Sabrina.
Seorang wartawan dan pegawai magang di KBRI kala itu, masih belum menunjukkan prestasi yang gemilang. Tapi kecerdasan dan kepekaan pemuda yang cakap dalam bidang hukum dan komunikasi itu pada akhirnya membawa dirinya menjadi seorang pegawai tetap. Belum lagi kepandaian menuliskan sebuah berita yang didasari dengan fakta dan analisis mendekati keakuratan presisi, tentu saja membuat nama Arya Mahardika menjadi semakin terkenal dan diperhitungkan.
Ketika akhirnya dengan manis pria itu membocorkan sebuah rahasia besar padanya.
" Aku sudah mengincar mu sejak lama. Tapi diriku yang dulu .... tentu saja belum cukup membanggakan untuk punya muka dan merasa pantas menerobos di keluarga besarmu. Sekarang ... walaupun masih begitu banyak kekurangan.... maukah kau menyempurnakan separuh kehidupan ku ? ".
Uwaaaaa........ tentu saja seorang Sabrina langsung meleleh. Pria manis itu menatapnya dengan lembut di antara cahaya lilin yang berpendar.
" Aku sudah meminta ijin kakakmu .... dan dia bilang, bagaimana dengan mu saja. Oh ya... sebenarnya kami berteman. Maaf ..... sengaja tidak mengatakannya ".
Begitulah sang suami yang ternyata sudah terlebih dahulu jatuh cinta padanya. Merencanakan semuanya masak-masak dalam waktu yang tidak sebentar. Bahkan melibatkan sang kakak untuk ikut dalam skenario besar ini. Marah ? kesal ? ... sedikit, begitulah yang dirasakan Sabrina.
Mengingat bagaimana perasaan saat dalam posisi digantung. Diliputi rasa tak menentu dan sesak di hati, was-was dan juga cemburu. Awalnya seorang Sabrina memutuskan untuk menunjukkan rasa kesalnya dengan berlalu meninggalkan pemuda Arya. Tapi sebenarnya hal itu karena ia merasa malu. Bagaimana tidak? ... hampir semua perasaannya sudah diceritakan secara gamblang pada sang kakak, yang ternyata bersahabat baik dengan pemuda pujaannya ini.
__ADS_1
Tapi tidak berlangsung lama pelarian kecilnya ini. Karena keesokan harinya, ia sudah dibangunkan oleh kiriman ratusan tangkai mawar yang mewangikan suasana kamar tidurnya. Membuatnya tersenyum bahagia dan juga tersipu malu saat sang pengirim ternyata juga sudah berdiri didepan pintu rumahnya.
Ah .... cerita itu masih saja dirasakan seperti mimpi indah. Cinta itu tidak selalu menakutkan dan menyedihkan seperti yang dialami ibunya. Nyonya Hayu, putri sulung keluarga Arsenio, siapa yang tidak mengetahui cerita cinta sedih itu. Tapi ia bersyukur, karena ia tak mengalaminya.
" Cinta mama memang menyedihkan...... tapi tak tergantikan. Seandainya ada mesin waktu, mama juga akan tetap memilih papahmu ".
Selalu seperti itu yang didengarnya. Dan kini ia mulai mengerti alasannya. Ketika cinta itu sudah bukan lagi hanya berdasarkan perasaan dua orang manusia saja, tapi juga sudah berbuah perasaan termurni dari sepasang mata yang menyorot tulus, anak-anak tentunya. Bukan 'kau dunia itu sudah langsung teralihkan rotasinya ?. Ya.... begitulah besarnya cinta seorang ibu. Dan sekarang ia sangat memahami hal itu.
Ketika mulai dibakar api cemburu, genggaman tangan si sulung Rama yang seratus persen mewarisi kelembutan sosok ayahnya tentu saja akan kembali menenangkan. Ketika ia mulai terpuruk oleh rasa tidak percaya diri, dua orang putri cantik kembarnya yang ceria dan energik
Celine dan Celia akan selalu memberikan suntikan semangat tanpa batas.
" Bu .... kita sudah sampai ".
Sabrina tersentak dari lamunan indahnya. Itu adalah suara pak Yoga, salah satu terms & conditions dari suaminya. Tentu saja pada point .... wajib diantar, tidak boleh pergi sendiri.
" Ah ... ya pak. Saya turun ya, pak Yoga tunggu di sini dulu ". Kemudian tubuh yang semampai itu melangkah dalam ayunan kaki jenjangnya, bersama orang-orang yang tentunya berkepentingan dengan salah pusat transport termutakhir abad ini.
Masih bersama dengan orang-orang yang tingginya sedikit melebihi, itupun karena dia memakai boots dengan heel lima sentimeter. Tapi Sabrina tidak ambil pusing dengan hal itu, tidak seperti belasan tahun sebelumnya. Dulu urusan tinggi badannya yang hanya seratus enam puluh centimeter itu, cukup membuatnya frustasi, tentu saja karena hampir seluruh temannya berasal dari ras Kaukasia yang menjulang. Itu dulu ya mba Sa'.... begitu panggilan sayang dari para adik sepupunya. Setelah datang mas Rama, semuanya seperti debu tersapu angin..... tak berarti apa-apa.
Sabina sesekali menjulurkan lehernya seolah bagian tubuh itu adalah periskop kapal selam, berharap bisa menemukan sosok yang dinanti nya. Seketika wajahnya berbinar ceria, manakala sepasang matanya menangkap si jangkung yang nampak dengan santai berjalan sambil berbincang dengan seorang pria muda berparas semi oriental sambil mendorong sebuah koper besarnya. Garis rahang yang tegas dengan hidung yang menjulang artistik itu adalah warisan sempurna dari sang Om favoritnya. Sementara sinar mata yang hangat dan senyuman ramah itu sudah pasti adalah hasil genetik dominan dari sang Tante kesayangannya.
" Haiiiiiiid ..... ", seru Sabina dengan riang sambil melambaikan tangan.
" Kakakku yang cantik ..... ".
Dan si jangkung itupun menghambur memeluknya, membuat ia tenggelam dalam tubuh kekar yang saat kecil dulu dialah yang menggendong. Lalu dua orang itu saling tertawa.
" Bu Dubes .... you look most beautiful ".
" Bisa nggak kalau manggil yang lengkap. Risih telinga ku disamakan dengan siklus bulanan para wanita.... padahal aku 'kan lelaki tulen yang perkasa ".
" Ya udah .... Haidar... tuh' kan kepanjangan. Haid ... itu dah seattle banget deh ".
" Yow wes ... sak karepmu mba ".
" Ha.. ha.. ha.. ", Sabina tertawa lepas. " Haidar cakep .... ini temenmu ? ".
" Iya ... kenalkan ini Keanu, mau mengadu nasib di negeri Bundesrepublik Deutschland. Mohon bantuannya dari ibu dubes ".
Pemuda berwajah semi oriental yang dipanggil Keanu itu sesaat tadi masih menerka-nerka berdasarkan apa yang didengarnya. Tapi kini ia buru-buru tersenyum, mengangguk hormat sambil mengulurkan kedua tangan dengan gesture khidmat.
" Saya Keanu .... betul ya ini dengan ibu Rama Mahardika ?. Waaah ..... sungguh beruntung sekali saya, mimpi apa ya semalam .... bisa bertemu dengan Bu dubes ".
" Panggil saja Mba Sabina atau mba Sa'.... seperti Haidar memanggil ku. Bu dubes itu kalau acara resmi ". Sabina berkata sambil menyambut jabat tangan pemuda itu dengan ramah.
" Waduh ..... tidak berani saya Bu. Kualat nanti ... apalagi saya ikut kerja perencanaan proyek pembangunan gedung KBRI baru itu. Waaah... bisa-bisa kena omelan para boss ini ". Keanu berkelit dengan gayanya yang sedikit jenaka.
" Oh mein gott, also bist du derjenige...... Jadi kamu orangnya, mas Rama juga cerita tuh ".
" Mba Sa ... ", Haidar menyela. " Keburu jetlag ku makin akut nih ".
__ADS_1
" Mein lieber jüngerer bruder (adiku tersayang).... ayo !!. Keanu .. ayo bareng sekalian ".
" Udeeh ... kagak usah nolak bang ". Dan rangkulan Haidar dengan intimidasi yang begitu mendominasi itu membuat Keanu tak sempat lagi bersikukuh menolak.
" Menolak permintaan ibu dubes sama artinya tidak tunduk dengan aturan negara .... kau mau lebih ekstrim untuk warna pelarian mu hah ?!!!". Bisik Haidar saat mereka mulai berjalan keluar.
" Tak kusangka .... ternyata aku bertemu jajaran keluarga hebat Nusantara. Aku tunduk apa katamu saja tuan muda ...... ". Dan Keanu yang sebenarnya merasa sangat beruntung itupun memilih mengimbangi saja gaya ngocol Haidar.
" Keanu ikut menginap saja di rumah kami. Baru besok 'kan melapornya ke kantor ? ".
" Aduh bu.... jadi enak sekali ini saya. Tapi saya sudah membuat janji dengan tuan Bardolf .... ".
" Ya... ya... ya... tuan Bardolf, kalau begitu katakan saja padanya kau menginap ditempat kami. Besok siang, biarlah tuan yang ramah itu mengantar mu ke apartemen ".
" Kau mengenalnya mba ? ", sela Haidar.
" Tentu saja.... orang-orang di KBRI.... siapa yang tidak mengenal tuan serigala baik hati yang ramah itu. Ha... ha... ha... itu arti namanya ".
Lalu sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir empat puluh lima menit itu tentu saja lebih didominasi dengan suara Sabrina dan Keanu. Penuh semangat sang kakak sepupu yang cantik dan ramah ini menceritakan tentang keluarganya pada Keanu, juga tentang negara Jerman tentunya. Tanpa dibuat-buat, Keanu seperti memang sangat menikmati seluruh cerita dari Sabrina.
Sementara Haidar, ia hanya sesekali tersenyum dan menimpali. Tapi lebih sering menatap keluar jendela. Menikmati mendung yang bergelayut, cuaca menjelang siang yang sedikit gelap dengan hujan mengguyur lebarlt. Musim semi mulai mengakhiri masanya dengan membasahi bumi. Menyegarkan tetumbuhan dan membasuh bumi yang seperti tanpa lelah berotasi dan berevolusi ini.
Di salah satu bagian dari kota ini, yang terkenal dengan gedung pencakar langit bersanding dengan bangunan tua nan artistik ini, ada keindahan yang dirindukannya. Keindahan dari sepasang mata yang mengerling padanya dulu. Tentu saja yang berpadu sempurna dengan suara tawa yang ceria. Dan semakin menawan dengan kecantikan alami yang mengagumkan. Dia akan segera menemui sang dewi yang mempesona itu.
Tapi ..... di sebuah sudut hatinya, yang ia bangunkan sebuah menara tinggi tanpa tangga, dan ditempatkan disana dengan dirantai ganda..... sebuah rasa ..... cemburu. Yang terus menggelepar dan meronta, meskipun gemerincing rantai pengekang itu terus menasehatinya. Mengingatkan tentang siapa dirinya.
Aku merindukan wangi segar aromamu
yang mengingatkan untuk pulang.
Aku juga tak pernah bisa melupakan
gemulai ayunan kelopak mu yang putih suci.
Bahkan tawa ceriamu tak pernah berhenti terngiang.
Saat ku pejamkan mata.....
Maka kurasakan engkau semakin kuat menarikku dalam khayalan.
Sepanjang waktu, ku lukis indah mu dengan sapuan kuas rindu.
Selama itu pula mengalun doa agar aku bisa kembali menatap mu.
Anggrek Bulan dalam rimba hatiku ......
.....................
Author Corner :
Cerita tentang Keanu ini terinspirasi dari rencana pembangunan gedung baru KBRI di kota Berlin. Tiergartenstrasse 28 - Berlin, adalah tempat yang pada tanggal 19 Agustus 2021 lalu dimana diletakkan batu pertama untuk pembangunan gedung baru KBRI. Oleh Dubes RI untuk Jerman - Arif Havas Oegroseno. Sekaligus dalam acara peringatan HUT RI ke -76.
__ADS_1
“Gedung baru ini akan menjadi gedung yang monumental yang akan memperkaya seni arsitektur bangunan di Kota Berlin. Dengan menggandeng kantor arsitek yang sebelumnya membangun stasiun utama kota Berlin, Bandara Tegel Berlin, dan Bandara baru Berlin-Brandenburg, bakal gedung kantor KBRI Berlin ini kaya akan nilai dan filosofi,” ucap Dubes Oegroseno pada acara peresmian, seperti dikutip dari pernyataan KBRI Berlin yang diterima Medcom.id, Kamis 19 Agustus 2021.
Dan cerita author ini 'kan murni fiksi ya..... jika ada satu dua tokoh rekaan, juga tempat dan segala aspek pendukungnya ..... mohon maaf ..... mungkin akan tidak sesuai dengan kilas balik dari kenyataan yang ada. Bagi teman-teman yang sudah paham benar tentang Berlin, Dusseldorf, Hamburg, Frankfurt..... bahkan beliau-beliau yang ada di wisma KBRI .... mohon maaf ya jika banyak ketidak sesuaian. Semoga tetap berkenan membaca tulisan romansa dari author ini.