PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Cinta Itu.......... (4)


__ADS_3

Di rumahbesar yang berpagar halaman luas seperti barrier untuk pertahanan indah, setidaknya saat ini jadi lebih indah sih. Rasanya aneh bukan ketika masuk ke dalamnya dan kau tidak menemukan sambutan dari seoarang pria muda yang biasanya paling dulu menyambutmu dengan kementar absurd sepanjang masa. Saat kau melongok ke


dalam kamarnya ….. tertata lebih rapi dan indah, semarak dengan pot-pot bunga.Tapi kosong… dia tidak ada di sana.


“ Haaiiii … orang Jerman …. “. Justru lengkingan manis yang menyeruak membelah sepi di siang itu.


Lalu disusulah dengan sebuah lompatan seorang gadis yang langsung menghambur ke pelukanmu. Adik bungsu yang manis berkebaya hijau tosca nan anggun … tapi tidak


tampak sedikitpun pada sikapnya.


Haidar tertawa sambil membawa adik nya itu berputar beberapa kali dalam pelukan, dan kemudian menurunkan perlahan. Kirana tampak tidak perduli dengan bagaimana ibu dan ayahnya menggelengkan kepala berkali-kali begitu melihat tingkah kekanak-kanakkannya.


“ Mana oleh-oleh buatku ? “, todong gadis itu.


“ Lupa … sorry … yang bener sih nggak ada waktu buat cari oleh -oleh “.


“ Huuff… dasar ! .. kebiasaan “. Dan Kirana memanyunkan bibirnya.


Tapi Haidar tidak ambil pusing, ia melangkah mendekati kedua orang tuanya. Lalu memeluk dua orang tersayang itu bersamaan,


“ Hai mom .. dad … miss you  so much “.


“ Lancar penerbanganmu ? “. Orlin membalas pelukan putranya, merangkul leher pria muda yang menjulang itu dan membuatnya menunduk. Lalu memberikan sebuah kecupan dalam di keningnya. “ Ish … asem .. “.


Haidar tersenyum geli dan beralih memeluk Mandala yang tersenyum-senyum geli.


“ Eits … mama mu saja bilang asem “. Pria itu menghindar dengan gerakan lucu. “ No ..no..no “. Tapi pada akhirnya  tetap berpelukan dengan sang putra.


“ Nanti malam ada acara apa ? “, tanya Haidar kemudian.


“ Acaranya istirahat … persiapan untuk resepsi besok siang “, jawab Orlin. “ Kau istirahatlah dulu … persiapakan dirimu untuk besok seharian . Oh ya … ada sop iga, sambel terasi dan tempe goreng.. belum digoreng sih. Bukan masakan catering … mama yang masak khusus buat mu. Mau makan sekarang ? .. biar disipan sama bibi “.


Haidar tersenyum lalu kembali memeluk mamanya. Sejujurnya ia sangat terharu, dengan kesibukan yang luar biasa saat ini, ibunya tidak lupa menyambut kepulangannya dengan hidangan khusus yang sangat istimewa.


“ Luv U’ mom ….. aku mandi dulu aja. Mama istirahat saja, aku bisa kok kalo’ cuma goreng tempe “. Kata Haidar sambal mencium pipi Orlin yang tersentum-senyum.


“ Mama gitu deh, kalau kakak aja…. disiapin yang istimewa. Giliran Rana … heem’ nggak ada acara penyambutan …. Sama sekali !!!! huaaaa….“.


“ Merantau dulu neng ke negara tetangga ….. pasti pulang-pulang dapat upacara penyambutan “. Haidar terkekeh.


“ Sudah ah becanda’nya … ayo  mandi.. istirahat “. Lerai Orlin sambil melangkah menuju kamarnya dengan diikuti Mandala suaminya yang juga tersenyum-senyum kecil melihat tingkah polah anak-anaknya.


“ Non .. “, seru Haidar sambil melangkah menjajari adiknya yang berjalan menuju kamar, karena kamar mereka memang sebelahan. “ Gimana tadi acara ijab kabul ? “.


“ Ya …. Khidmat banget sih. Tapi aku ngantuk kak… jadi lebih fokus untuk biar tetep bisa melek “.


“ Haiya …. dasar adek nggak ada akhlak “.


“ Lo’ nggak tahu sih, kak …. sampai rumah jam dua malam, jam lima sudah harus bangun… mandi terus dandan macam gini. Menderitaaaaa…. “.


“ Lah ? … “. Hiadar kebingungan.


“ Aku berangkat dari Yogya … bareng Kak Raka sama mba Ardelia. Kemarin dia ‘kan Pelepasan Pendidikan Dokter Spesialisnya… yang dapat tugas jadi pendamping ya aku sama mba Ardel. Gara-gara dia terlalu tenar … bikin patah hati orang se-Yogya … jadinya kita ketinggalan pesawat. Ya naik bis lah kita ….. pokoknya … hadeeeeh “.


“ Lah ? … gimana ceritanya itu ? “. Haidar sangat penasaran.


Kirana yang terlihat letih dan loyo pun bercerita, walaupun dipadatkan dan dipersingkat tapi ia berhasil menyampaikan dengan baik. Haidar manggut-manggut sambil tertawa-tertawa kecil. Ia bisa membayangkan bagaimana tingkah polah sepupunya yang memang notabene Don Juan De Marco itu. Terbayang juga bagaimana


jeritan histeris para fans bocah itu saat Raka membuat pengumuman siapa pilihan hatinya.


“ Untung saja Ardelia tidak dapat cakaran disana-sini ya dari para anggota barisan patah hati itu.... fans garis keras padahal ya  “.


" Huh !!! ... dasar paras cantik nggak ada otak ... mau-maunya ditipu Kak Raka ".


" Maksud elo ? ".


" Ya merekalah ..... masa iya mba Ardelia. Kalau dengan yang ini sih .... kena karma kak Raka ".


Haidar terbahak-bahak, lalu berlalu meninggalkan adiknya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya sendiri. Bermaksud segera membersihkan diri, untuk kemudian segera bisa menikmati sop iga buatan mama tercinta. Baru saja ia masuk ke dalam kamar, terdengarlah sebuah notifikasi pesan masuk.

__ADS_1


Pemuda itu tersenyum-senyum saat mendapati sebaris pesan dari yang baru saja jadi tranding topic di Yogya, siapa lagi kalau bukan Raka sang saudara sepupu.


' Jangan lewatkan kesempatan mengupas abis si abang. Last minute perjaka.... gwa' tunngu sore ini di rumah. Nganter bidadari surga dulu ya.... '


……………………………………………………………..


Bukan hal asing bagi Namu berada di rumah ini. Ia bahkan sudah ratusan kali kerap menginap di kediaman keluarga Om dan tantenya, sejak kecil dulu. Apakah ada yang berubah sekarang?, hingga membuatnya sedikit berdebar-debar. Tentu saja karena sekarang ia berstatus sebagai sang menantu, bukan lagi sang keponakan.


Karena ia telah sukses menikahi Wanita cantik yang kini sedang membersihkan diri. Ya ampun Cinta …. Setengah jam di kamar mandi, apa yang sedang kamu lakukan.


Ah… kau pasti sedang bersiap ya. Tiba-tiba saja wajah Namu menjadi bersemu merah, membayangkan hal-hal indah yang akn segera terjadi … mlam ini… di kamar ini. Pria itu tersenyum simpul, tapi kemudian ia terigat akan sesuatu. Sesaat lalu saat keluarganya berpamitan, ia masih sempat melambaikan tangan dan juga memeluk ibunya begitu lama. Entah mengapa hal itu juga terasa sedikit aneh. Padahal dulu … setiap kali ia menginap di rumah ini. Ia hanya akan melambaikan tangan saja dan berjanji seperti biasa.


“ Aku akan jaga adik-adik dengan baik … Mamah nggak usah khawatit “.


Kali ini ia pun berjanji hal yang sama , tapi mama Orlin yang memintanya.


“ Jaga Cinta baik-baik …. Yang sabar ya, hati-hati, jangan buru-buru .. “. Mama Orlin membisikannya perlahan. Tentu saja ia langsung mengangguk, karena ia sangat paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Wanita tersayang itu.


“ Ya  Mah … aku janji “, balasnya sambil berbisik.


Walaupun saat itu tidak ada duo usil yang akan menggodanya habis-habisan, tapi ia sangat bersyukur karena ibunya ini begitu pengertian. Tidak terang-terangan mengucapkan nasehat : hati-hati, yang sabar, jangan buru-buru. Bayangkan jika duo dokter somplak itu samapi mendengar ….. Hancurlah dia direbus dalam panci ledekan yang pastinya membuat dirinya memerah serupa udang rebus. Huuufff… selamet.. selamet…


“ Kau masih lama di dalam sana ? “, akhirnya Namu menjadi tidak sabaran dan mengetuk pintu kamar mandi.


“ Aku sudah selesai … tunggu “, suara Cinta menyahut dari dalam kamar mandi. Dan beberapa detik berikutnya, menyembulah keluar seraut wajah cantik yang terlihat segar dengan kepala masih terbungkus handuk.


“ Giliranmu abang sayang .. “. Sambil melenggang melewati Namu yang nampak seperti seekor itik sedang menelan gumpalan dedak yang cukup besar.


“ Begitu saja ? “.


“ Hah ?! “, Cinta menoleh dan menatap pria yang baru beberap jam ini menjadi suaminya dengan wajah kebingungan.


“ Hei nyonya Namu …. Kau harusnya menjalankan tugas pertamamu sebagai istri “.


Cinta mendelik menatap Namu yang masih berdiri diambang pintu kamar mandi dengan senyuman bulus. Membuat Wanita muda mendekat perlahan sambil bersedekap. Menghentikan langkah pada jarak yang menurutnya sudah sangat aman.


“ Kau harusnya membantuku mandi “.


“ Hei … “, Cinta menjerit kecil. “ Kau sudah berjanji tidak akan macam-macam sampai acara resepsi selesai “, salaknya kemudian.


“ Bagaimana kalau aku ingkar janji … karena tidak bisa menahan diri. Nggak dosa ‘kan ?... toh istri sendiri .. “.


Tidak perlu mendengar lagi apa argument dari Cinta, yang jelas wanita itu sudah tidak bisa lagi berbicara memprotes pria yang baru saj resmi menjadi suaminya ini. Karena Namu dengan sangat rakus telah menyatukan mereka berdua, dan membuat Cinta menggapai untuk berpegangan pada apapun agar ia tidak melorot karena


seluruh persendiannya terasa seperti dilolosi.


Saat akhirnya ia pasrah mengalungkan kedua lengan pada leher Namu setelah putus asa karena pria ini tidak bergeming dengan semua pukulan di punggung dan juga cubitannya di pantat. Tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu kamar. Membuat Cinta dengan cepat mendorong Namu dengan wajah blingsatan. Sementara pria itu tertawa kecil untuk kemudia melarikan diri ke dalam kamar mandi.


“ Cinta … Namu … ada tamu istimewa di bawah. Bisa keluar sebentar ? “. Itu adalah suara Hana, ibunya Cinta.


“ Ya Mah..”. Cinta mengelap bibirnya dengan tergesa, menyamarkan jejak gairah asmara yang baru saja ditinggalkan oleh Namu. Lalu bergegas membuka pintu kamar.


“ Mana Namu ? “.


“ Baru mandi .. siapa sih tamunya ? “, tanya Cinta dengan harap-harap cemas, ia khawatir jejak yang ditinggalkan Namu terlihat jelas oleh sang mama.


“ Om dan tantenya, juga sepupunya yang dari Korea “.


“ Ya ampun … Om Teddy “, kali ini Cinta yang benar-benar terperanjat. “ Aku ganti baju dulu ya, Mah “.


“ Iya ... iya … ditunggu di bawah ya “.


Tentu saja Cinta menjadi sangat bersemangat, kali terakhir bertemu dengan Om Theodorus atau yang akrab dipanggil Teddy kurang dari setahun yang lalu saat kondisi Kesehatan beliau memburuk karena penyakit cancer yang diderita. Sempat putus asa dan menolak melanjutkan pengobatan, tapi kabar kehamilan sang putri tunggal membuat beliau kembali bersemangat. Mempunyai harapan yang besar untuk menang melawan penyakitnya. Tentu ini adalah kejutan yang luar biasa membahagiakan.


“ Cantik sekali … bukannya tadi bilang kalau mau istirahat .. rebahan.. kok ini sudah cantik banget “. Namu menatap istrinya heran sekaligus takjub.


“ Buruan pake’ baju yang bener .. tuh dah kusiapin. Ada tamu istimewa “. Cinta menunjuk pakaian ganti yang udah dia siapkan diatas tempat tidur.


“ Wah … mantan siap nih yang datang ? “.

__ADS_1


“ Nggak usah becanda deh ‘…. Ayo buruan “.


Namu tertawa saja melihat sepasang mata itu melotot kesal. Jelas ini tidak bisa dianggap enteng, siapa sih sebenarnya itu tamu istimewa ?. Dan Namu mengambil langkah tepat, ia pun bergegas mengenakan setelan semi forma berwarna kelabu yang senada dengan gaun selutut tanpa lengan yang dikenakan istrinya itu.


“ Ayo … “. Cinta menggapit lengan Namu dan mulai bergelayut dengan manja. “ Jangan lupa … pasang senyuman paling menawan ya … “.


“ Siapa sih tamunya …. Jangan-jangan pengagum rahasianya istriku ini “.


“ Udaaah … jalan saja “. Senyum Cinta penuh misteri.


Namu baru menyadari jika hari ternyata sudah beranjak senja saat ia dan istrinya mulai menuruni tangga dan berjalan menuju ruang tamu utama. Sayup-sayup terdengar suara obrolan yang diselingi suara tawa. Beberap suara itu sangat dikenalnya. Ia menatap Cinta yang tersenyum penuh misteri.


“ Si Haidar itu … “.


“ Ada lagi yang istimewa … “, Cinta tersenyum sambil menatap mesra sang suami.


“ Yu huuu…. Ini dia sang pengantin. Ngamarnya ntar malam dong …. “. Siapa lagi yang akan berkomentar seusil ini jika bukan adik tersayang. Haidar melompat dengan gembira dan langsung memeluk Namu.


“ Selamat ya kak … setidaknya si ‘uler mata satu’ … nggak Cuma buat pipis doang “. Walaupun dibisikan di telinga, tapi tetap saja membuat semburat merah di wajah Namu langsung menyeruak.


“ Dokter Gendeng “, balas Namu, tapi tak diperdulikan oleh Haidar yang berganti memeluk Cinta dengan penuh semangat.



He..he..he…. kakak ipar …… selamat ya nyonya Cinta Namu Perkasa “.


“ Om Teddy …. Tante… Lee…. Hyoorin … “. Namu berseru seolah tak memperdulikan bagaimana sikap Haidar yang memeluk kakak sepupu sekaligus istrinya itu dengan begitu heboh.


Perhatian pria ini langsung tertuju pada sosok seorang pria yang mengenakan penutup kepala, terlihat sedikit kurus tapi nampak lebih.. lebih.. sehat dan segar dari terakhir kali mereka bertemu. Namu bergegas menghampiri pria yang tengah duduk itu, memeluknya dengan sangat hangat. Lalu ia pun mendapatkan hal serupa dari


seorang Wanita setengah baya yang duduk di sebelah pria itu.


“ Aigoo… lihat betapa tampannya kau ini. Selamat ya sayang atas pernikahan mu “. Dia adalah tante Boona yang langsung memeluk Namu dan menatap dalam-dalam wajah sang putra tunggal mendiang kakak perempuannya.


“ Terimaksih  imo … terimakasih … “. Namu membalas pelukan bibinya itu.


“ Brother …. Akhirnya kau punya keberanian itu. Aku bangga padamu “. Kali ini yang memeluknya adalah Lee, suami Hyoorin sepupunya yang sedang hamil ini.


“ Calon ayah … terimakasih … terimaksih … “. Namu tertawa lebar dan membalas pelukan Lee lalu beralih memeluk Hyoorin sesaat dan membelai lembut perut buncit saudara sepupunya ini. “ Hai little bean….. kau baik-baik saja ?... tidak jet lag ? “.


“ Aku sehat uncle … selamat ya …”. Hyoorin tertawa setelah menjawab dengan gaya anak kecil, lalu memeluk sepupunya ini.


Semua wajah-wajah yang ada  ruangan itu terlihat sangat bahagia, berbincang penuh kehangatan dalam suasana kekeluargaan yang kental. Arjuna duduk bersebelahan dengan sahabat yang kini juga sudah menjadi suadara jauhnya, Teddy. Hana berbincang besama Boona, Cinta dan Hyoorin, nampak sangat antusias membicarakan tentang kehamilan.


Sementara  itu Haidar dan Lee merapat menggoda Namu. Suasana itu semakin bertambah menjadi lebih semarak lagi setelah Raka datang. Dia yang baru saja mengantar Ardelia pulang ke rumah, kini ikut bergabung. Setelah meluapkan rasa rindu dengan begitu over acting pada Haidar .....


" Mas Broooo'..... ya ampyuuun kirain bule dari mana. Kalo' aku cewek pasti udah jatuh cintrong sama elo', Dar ".


Kini giliran duo devil itu membantai Namu habis-habisan. Membuat Namu nyaris tidak bisa berkata-kata, dengan wajah memerah serupa udang rebus.


" Nggak jet lah lo' .... ngapain juga ikutan si kucluk ini ", kata Namu pada Haidar , karena sudah tidak tahan dengan keusilan Raka  yang membuatnya benar-benar merasa malu karena terus menerus digoda.


" Yeaa... ini .. saat-saat sakral ... malam terakhir ".


" Apaan sih Dar ? ", Namu sewot.


" Malam terakhir keperjakaanmu kakak ... he..he..he. Kita-kita sebagai para junior ingin mengamatinya ... dan menemukan perbedaannya dengan besok ... ha..ha..ha..".  Raka menyahut cepat dan langsung tertawa-tawa .


Jika Namu bersemu merah, maka lain halnya dengan Lee yang nampak kebingungan. Haidar yang melihat hal itu langsung membisikan sesuatu pada calon bapak muda itu. Lee kemudian nampak manggut-manggut dan tersenyum-senyum serta sedikit tersipu.


" Jangan percaya apapun yang dikatakan duo setan ini Lee ".


" Haa...ha..ha.. ", Lee tertawa . " Tenang saja Namu ... tidak usah bingung ..ikuti saja naluri dasar mu. pasti bisa kok ".


" Hei Bambang ! ... ngomong apa lo' sama dia ? ", Namu mendelik kesal pada Haidar dan Raka.


Tapi Raka dan Haidar justru tertawa-tawa sambil melakukan high-five, dan kemudian secara bergantian mengajak Lee untuk melakukan hal yang sama. Membuat namu makin frustasi saja.


" Awas ya kalian .... tunggu saja giliran kalian ". Namu akhirnya menyerah, pasrah saja menjadi buan-bulanan Haidar dan Raka, tapi dengan satu ancaman pasti.

__ADS_1


Sabar ya Namu ...... tunggu giliranmu balas mereka berdua . Sekarang ....... terima saja dengan lapang dada.


__ADS_2