PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Mengurai Masai, Menggenapi Janji (7)


__ADS_3

Ombak masih tetap berdebur seolah tidak akan ada habisnya. Seperti tengah menyaingi perasaan Yulia yang baru saja turun dari mobil Wisya. Pria itupun ikut turun dan mengantarkan Yulia hingga sampai di depan teras rumah. Wisya tersenyum dan sedikit menahan pergelangan tangan Yulia saat akan melangkah masuk kedalam rumah.


" Aku hanya butuh kau percaya padaku, seandainya tidak bisa kudapatkan maaf itu ".


Yulia mengangguk perlahan, " Akan ku usahakan. Tapi aku butuh waktu ".


" Ya.... terimakasih banyak. Beristirahatlah ... ". Dan Wisya pun perlahan melepaskan pergelangan tangan itu.


Menunggu hingga wanita muda benar-benar masuk kedalam rumahnya. Lalu iapun melangkah masuk kedalam mobilnya kembali yang kemudian membawanya berlalu dari tempat itu. Wisya merasakan ada semilir angin yang menentramkan hatinya. Ia kini tinggal menunggu dan berharap saja, semoga wanita itu masih bersedia membuka hatinya.


Tapi lain yang sedang dirasakan oleh Yulia, hatinya seperti berkali-kali dihempaskan ombak. Gelombang kehidupan itu benar-benar mempermainkan perasaannya. Ia dulu sangat terpuruk dan tak mampu lagi mengangkat kepala dengan tegak menatap masa depan. Dirinya seolah-olah hanya seorang wanita yang tidak utuh, dan tidak pantas untuk pria manapun. Hatinya dibekukan oleh tekadnya sendiri, ia telah menutup celah manapun untuk sebuah rasa cinta.


Lalu dendam dan kebencian itu pun mengakar tunggang dihatinya. Menancap begitu dalam dan mencengkeram begitu kuat. Membuat seorang Yulia tidak bergeming dari pendiriannya yang lebih memilih tetap sendiri, dan berusaha berdamai dengan luka itu dengan caranya sendiri. Tapi tiba-tiba, sebuah kenyataan yang dihadirkan oleh sang perusak itu membuat semuanya seperti tercerabut dan dihempaskan begitu saja. Yulia tersudut dalam ruang hampa yang dingin. Mendengungkan kebodohannya sendiri.


.........


" Apa yang kau lakukan ??? ... kau ... ".


Suara itu melengking penuh keterkejutan, juga membuat Wisya terjaga dari kegilaannya.


Di ambang pintu kamar berdiri sosok Anelis dengan wajah pias yang perlahan berubah menjadi memerah dengan amarah. Sementara itu Wisya yang sepenuhnya tersadar dari kegilaan akibat rasa cemburu itu, segera mengambil selimut dan menutupkannya pada tubuh Yulia yang masih terbaring dengan begitu banyak bagian tubuh terbuka tanpa kain penutup.


" Harusnya aku yang menanyakan ini ... bukankah kau yang sudah mencampurkan sesuatu dalam jus itu ? ". Sinar mata Wisya menyorotkan amarah.


Anelis menggeretakan giginya, kedua tangannya mengepal. Ia pun nampak lebih marah daripada Wisya.


" Aku akan menuntutmu !! ".


" Bagaimana bisa ? ", lengking gadis itu. " Aku yang akan menyebarluaskan foto-foto kalian.... dan membuat dia!!!! .... akan terkenal dengan sebutan dokter pelacur ".


" Ku bunuh kau jika melakukan itu ... ", Wisya berteriak marah saat Anelis menyeringai licik sambil mengacungkan handphone yang segera disimpannya kembali dengan erat.


" Kau pikir bisa ? ... lihat saja nanti, kau akan sangat dibenci dia. Dan dia .... akan menerima pandangan jijik orang-orang ... ha... ha... ha... ", Anelis tertawa dengan air mata yang mengalir. Wajah gadis itu begitu mengerikan.


" Kau ... saat ini hanya bisa menurut padaku ", dengan pongah Anelis kembali berkata.


................


Ingin rasanya tidak mempercayai semua hal yang baru saja didengar itu. Tapi kenyataan itu juga membuat sisi hati wanita seorang Yulia diliputi rasa syukur. Ia masih mempunyai cahaya itu, walaupun sempat terkaburklan oleh dusta. Yulia menatap miris ke dalam masa lalunya, kemudian juga melakukan hal yang sama terhadap Wisya.


" Aku tidak tahu entah harus marah atau berterima kasih pada Anelis .... ", gumam Yulia. " Lalu bagaimana kau bisa melepaskan diri dari belenggu nona itu ? ".


Wisya tidak segera menjawab, ia kini kembali mengambil tempat di depan Yulia. Menyentuh kedua pundak wanita itu perlahan dan memegangnya dengan sangat berhati-hati. Seolah memberikan kesempatan sebebas-bebasnya untuk Yulia segera menepiskan jika ia memang tidak mau disentuh.Tapi wanita itu hanya diam, ia bahkan membalas tatapan Wisya.


" Aku menikahinya.... tapi tidak untuk tunduk padanya, pada semua ancamannya. Walaupun dia selalu menyeret nama mu untuk mengancamku dan bertameng mamah ku, semua itu tak membuat ku tunduk. Ku buat dia sengsara mungkin hidup dengan ku ...... ".


" Cih !!!", Yulia berdecih dengan senyuman sinis. " Ku pikir hanya aku, wanita yang hidup terbelenggu kelicikan mu .... ternyata .. ".


" Itu strategi... aku turuti permintaannya, dan menemukan semua kebohongan tentang bukti foto itu. Dia tidak pernah sempat mengambil foto kita saat bercinta ... ".


" Hei !!! ". Yulia menyentak cepat dan juga menepis kedua tangan Wisya. " Kita tidak pernah melakukannya .... ".


" Okay.... ", Wisya mengulum senyum melihat bias merah jambu di pipi Yulia. " Tapi kita pernah saling berciuman..... dan aku tidak pernah bisa melupakannya ".


" Bisa kau hentikan pembicaraan ini ... atau aku akan pergi ". Yulia menjadi gusar karena diselimuti rasa malu.


" Okay... okay... kau harus tahu satu hal lagi ". Wisya terkekeh begitu mendapati kerutan di kening gadis di hadapannya ini semakin menjadi.


" Ha... ha..... ha.. ini tentang Haidar kok ", ikrar Wisya kemudian. " Dia yang sudah banyak membantu ku ... terutama dengan memberikan petunjuk keberadaan mu. Dan juga membantuku terlepas dari Anelis ".


" Kalian !???!!! ... ", Yulia tiba-tiba berubah menjadi terlihat geram. " Kapan berhenti mempermainkan aku ???? ".


" Yulia.... dengarlah dulu .... ", Wisya mengejar dan menjajari langkah wanita itu. " Haidar itu.... ada banyak rahasia dalam hidupnya yang aku pun tidak memahami. Tapi setelah memahami semua duduk perkaranya... dia memutuskan untuk berada di pihak ku ".


" Jadi semua sandiwara kalian berdua ? dia juga sudah terlebih dahulu tahu kalau kau sebenarnya tidak pernah memperkosa ku ? ". Suara Yulia keras mengalahkan angin pantai yang menderu.

__ADS_1


" Tidak... tidak semuanya. Kami tidak pernah bersandiwara .... aku bertemu dengannya dia tahun yang lalu. Dan dia juga..... tidak tahu ... hal itu ".


Wisya menanti dalam diam seperti Yulia yang juga kini telah ikut diam, menghentikan langkahnya.


" Yulia... aku beneran menyesal, aku minta maaf.... aku bersedia memperbaiki semuanya ... termasuk mengklarifikasinya kesucian mu .... pada pria yang kau.... cinta ".


" Tidak perlu !!!! ".


" Tapi... aku....".


" Tidak ada pria yang kucintai ".


" Lalu bagaimana dengan aku yang sangat mencintai mu ? " .


Yulia membatu, ia sama sekali tidak bergerak. Pertanyaan pria dibelakangnya ini membuat seluruh syaraf dan otot tubuhnya kehilangan karsa. Ia hanya bisa diam seolah menunggu, hingga saat Wisya kembali mendekat dan terasa dari suara gemerisik serta sentuhan dari arah belakangnya.


" Wanita kecil yang sederhana ini.... ", Wisya kembali memegang kedua bahu Yulia. " Dia begitu kuat .... dan aku sudah jatuh beribu kali dalam pesonanya. Wanita ini .... mungkin dia belum tahu, jika dirinyalah tujuan hidupku ".


Malam itu beranjak kelam, angin yang mulai semakin dingin pun seolah bertingkah seperti penguasa. Tapi ada dua hati yang justru telah terbebaskan dari belenggu rasa yang sekian lama meracuni jiwa mereka. Bukan sang angin yang menderu lagi sang penguas, tapi kata hati mereka yang merajai.


" Jika wanita ini telah mempunyai tambatan hati yang bisa membuatnya bahagia ...... maka aku akan dengan bahagia melepasnya. Tapi.... aku sungguh berharap kesempatan kedua itu. Aku yang selalu jatuh cinta ..... akan melindungi wanita ini dengan segenap jiwa dan raga ku ".


Dan kalimat panjang itu pun berakhir dengan kedua lengan kekar yang melingkar hangat pada pinggang dan bahu Yulia. Tanpa ia bisa menolak semua kelembutan yang diberikan Wisya. Tapi kemudian terdengar isakannya yang lolos tak tertahankan. Wisya pun semakin mempererat dekapannya, tanpa perlu melihat raut wajah yang pasti kini penuh air mata.


Menangis lah..... agar semua bebanmu bisa hanyut pergi


Kau pun boleh membenciku dan memukulku, agar tidak ada lagi yang mengganjal


Tapi aku akan tetap begini....


Memelukmu dan melindunginyappp


Dengan cinta ku yang rumit ini


.........................


" Sungguh ... kalian sebenarnya pasangan yang paling cocok dan juga paling bodoh, yang sudah pernah ku temukan selama ini ".


Haidar masih terus saja mengompori dua orang di hadapannya. Jika Wisya tersenyum dengan sumringah, lain halnya dengan Yulia yang mencibir kecil. Ini adalah yg kesekian kalinya di hari-hari terakhir mereka bersama, Haidar selalu menyampaikan hal itu.


" Kau ini.... seperti pecinta saja lagaknya. Pacar saja belum pernah punya. Bagaimana harus kami yakini ucapan mu itu ? ". Bertolak belakang dengan bahagia yang dirasakannya, Wisya justru mengungkapkan ketidak percayaan.


" Jangan katakan kau tidak punya pacar juga karena rasa bersalah mu padaku ", Yulia menimpali.


" Ho.. ho... ho.... calm madam, ini tidak ada hubungannya dengan cerita kita ", Haidar tertawa melihat ekspresi Yulia mulai kembali terlihat khawatir.


" So ? .... karena kau juga naksir nona dokter ini ? ", berganti Wisya yang mencecar.


" Waduh.... kalau aku jatuh cinta dengan nona ini .... ", Haidar melirik Yulia dengan tatapan yang sengaja menggoda. " Maka tak akan ku relakan dia untuk mu .... kau pasti tahu itu ".


" Lalu ? .... si cantik mana yang telah mencuri hatimu ? ", Wisya kembali mencecar Haidar. Bukan hanya karena rasa penasarannya, tapi juga untuk memastikan Yulia mendengar semua secara langsung. Sesungguhnya Wisya sedikit cemas jika sebenarnya Haidar dan Yulia saling memiliki ketertarikan. Maka iapun harus memastikan hal tersebut, agar ia tidak salah langkah untuk memenangkan kembali hati Yulia.


" Heeeem...... ", Haidar terlihat sedikit menerawang. Lalu sinar matanya meredup dengan kerjapan kerinduan yang dalam, sesungging senyuman itu pun tercipta dengan lembut. Itu adalah tatapan seorang pria yang sedang jatuh cinta.


" Siapa dia ? ... kami berhak tahu, untuk memastikan kau ini memang pria normal ".


Bahkan kata-kata Wisya yang tajam itupun tidak mengubah raut wajah yang menyunggingkan kelembutan itu. Haidar seolah sedang menatap sosok cantik tercinta dihadapannya.


" Dia.... seperti kuntum anggrek bulan yang menari bersama air hujan. Berada dalam terpaan angin yang kadang menjadi badai, tapi dia tetap bertahan dengan keindahannya. Saat ia hadir di suatu tempat..... aku merasa seluruh aliran waktu terhenti dan hanya menampilkan gerakan kelopak bunganya yang menawan. Dia .... putri anggrek bulan yang cantik dan lincah ... ", Haidar mengungkapkan dengan segala kekagumannya.


" Putri yang sangat cantik ..... sejak kapan sudah mencuri hatimu ? ", Yulia yang seolah-olah ikut masuk dalam cerita itu pun tak mampu membendung perasannya.


" Heeeem...... sejak seorang remaja mendapatkan perhatian tulus pertama kalinya. Perhatian yang memang .... murni dari hati seorang gadis kecil. Kemudian pemuda itu mulai tidak bisa lagi melepaskan diri pesona gadis kecil... hingga menjadi remaja... tapi kemudian kehilangan saat dia menjadi dewasa ... ".


" Maksudmu ? ... kau kehilangan dia? meninggal ? ", Wisya menyergah dengan penasaran yang membuncah.

__ADS_1


" Tidak ..... dia hanya menghilang, dan aku belum sempat menemukannya kembali. Tapi aku pasti akan segera menemukannya ". Haidar terlihat begitu optimis.


Wisya mengangguk-anggukkan kepalanya, ia pun ikut tersenyum. Dalam hati ia bersyukur karena telah berhasil memposisikan dirinya tanpa pesaing untuk seorang Yulia.


" Aku berdoa untuk kau dan putri anggrek bula mu itu .... semoga kalian segera bersatu kembali ", tulus Wisya mengucapkannya.


" Ya, aku pun mendoakan hal yang sama untuk mu dan nona itu, Haidar. Siapa namanya ? ".


" Heeem.... panggil saja putri anggrek bulan ". Haidar tertawa kecil membalas pertanyaan Yulia.


" Okey tuan Haidar dan nona putri anggrek bulan ..... semoga kalian berjodoh ".


Tepat saat Yulia selesai mengucapkan kalimatnya, sebuah seruan dari pengeras suara terdekat. Meminta para penumpang penerbangan yang akan dipakai Haidar itu untuk segera bersiap dan melakukan boarding pass. Haidar pun segera menghabiskan latte nya, dan bergegas meraih sebuah koper berwarna hijau tentara di sebelahnya .


" Sudah ya... sampai ketemu lagi. Ingat !!!! aku harus jadi orang pertama yang menerima kabar bahagia kalian ".


" Aku masih belum bisa mengambilnya hatinya lagi ", tukas Wisya sambil melirik Yulia.


" Ha... ha... ha... itu karena luka yang kau buat terlalu dalam pak. Proses rehabilitasi hati yang harus kau lakukan butuh ekstra tenaga dan kesabaran.... bukankah begitu Bu dokter ? ".


Haidar tertawa menggoda Yulia yang kini mulai kembali tersipu.


" Sel saja butuh meregenerasi dirinya sendiri selama dua puluh delapan hari. Bagaimana untuk infeksi akut dan kronis di hatiku ? ..... tolong sampaikan hal ini pada temanmu ya pak dokter Haidar ", balas Yulia.


Dua orang pria itu kemudian saling tertawa. Kemudian saling berpelukan dan menepuk bahu sebagai tanda persahabatan yang hangat. Sebuah janji telah tergenapi, semua kesalahpahaman pun telah terselesaikan. Mereka kini tinggal mengejar cita-cita cintanya. Menata masa depan yang sempat kabur oleh segala sesuatu yang tumpang tindih dan mengacaukan perasaannya. Kini dua orang pria itu saling menatap dengan optimisme.


" Berjuanglah .... temukan dan sunting putri anggrek bulan itu ", kata Wisya sambil memberikan tatapan penyemangat.


" Tentu saja, dan kau ..... jangan lengah ", Wisya berbalik menatap Yulia sekilas. " Segera ikat dia dengan cinta mu .... kalau perlu borgol dia .... ".


" Ishh!!!!! ... kalian pikir aku ini maling ", Yulia sedikit menjeritkan protes.


" Ya... kau maling hatiku ", Wisya menyela.


" Segera menikahlah .... ", Haidar menimpali .


" Tapi dia belum menerima ku .... ", Widya merajuk sambil menatap Yulia manja. Membuat wanita itu berdecih salah tingkah.


" Yul, .... ini dokter brewok berhati lembut limited edition loh..... jangan jual mahal dong!!!!. Menyesal tiada guna nantinya ..... barang langka loh ini ".


" Kalau begitu awetkan dengan air keras dan museum 'kan saja ". Datar Yulia mengucapkannya, tapi wajahnya berona merah.


" Hiks .... jahat !!!!.... tapi aku mau, di museum hatimu ", kocak Wisya mengucapkannya.


Jabat tangan yang erat dan senyuman hangat pada akhirnya benar-benar menjadi sesuatu yang mereka lakukan. Kemudian Haidar berjalan dengan riang meninggalkan dua orang sahabatnya. Sesekali ia menoleh, tersenyum dan memberikan acungan jempol.


Kisah mereka bertiga, bagaimana hati ditempa dengan peristiwa yang kadang sangat menyakitkan. Bagaimana juga sebuah ketulusan pada akhirnya akan membawa kita menemukan orang-orang yang sejatinya memang benar-benar berhati lembut. Dan memaafkan adalah obat yang paling mujarab untuk setiap luka.


......…........


...Author Corner...


Putri Anggrek Bulan..... temukan kisahnya di BIDADARI BIRU Very Spesial Episode yang akan terbit di tanggal 10-12 Mei. Sebagai hadiah untuk kerinduan para OrMan Lovers........


*****


Ada banyak yang meminta akun sosial media author. He... he.... he.... maaf agak sombong. Sudah hampir dua tahun ini memang kurang aktif di sosmed, karena beberapa hal krusial


IG : @renitawei_


FB : Reni Yusnita


Bisa kalian follow ..... tapi sekali lagi mohon maaf.... jika slow respon.


Tetep sehat, tetep semangat dan stay on postif thinking..... salam terhangat penuh cinta dariku. Semoga senantiasa dalam limpahan berkah dan naungan keselamatan dari Sang Maha Kuasa.... allahuma amiin.

__ADS_1


@renita_wei


__ADS_2