
Tentu saja alasannya karena kita semua adalah keluarga. Tapi wajah masam sang kakak sepupu itu tetap saja tak kunjung berganti menjadi ceria. Walaupun Haidar sudah berkali-kali meminta maaf.
" Ah ... mana ada hal sepenting ini kamu malah kelupaan ", masih dengan bersungut-sungut Sabina mengucapkannya.
" Maaf mba ... bener-bener aku minta maaf ... kupikir aku sudah mengatakannya padamu. Tapi kalau urusan pernikahan itu, aku memang baru tahu kemarin ... swear deh. Mama yang bilang ".
" Di grup juga sepi, sama sekali nggak ada yang menyinggung. Grup nya mati suri kayaknya ", Sabina masih bersungut-sungut.
" Ya... semuanya sibuk. Raka sudah fase akhir ujian spesialis. Rana juga di penghujung koas... akhir-akhir ini kami tenggelam dengan schedule yang super padat ".
" Berarti mas Ardi juga belum tahu ", tentu yang dimaksud Sabina adalah kakaknya Ardiansyah yang tinggal di Jepang. Haidar menjawabnya dengan anggukan pasrah penuh rasa bersalah.
" Mau aku atau kau sendiri yang ngasih tahu ? " .
" Hah ?! ", Haidar sedikit terkejut tapi kemudian dia tersenyum. " Apa biar calon pengantinnya sendiri yang ngasih tahu ".
" Sayang.... paling mama juga sudah dikasih tahu. Tapi kau halo-halo juga lebih bagus ", kali ini mas Arya yang ikut nimbrung demi melihat istrinya yang mulai uring-uringan.
" Dasar !! .. kalian laki-laki pada nggak peka. Ya udah ... aku yang bilang sendiri sama mas Ardi dan mba Sita ".
Akhirnya Sabina memilih sedikit menjauh untuk menelpon kakaknya. Meninggalkan Haidar dan kakak iparnya yang saling berpandangan sambil tersenyum penuh arti.
" Biasanya kalau gampang ngambek dan uring-uringan gitu ... PMS ", kata Arya setengah berbisik.
" Apalagi kalau kontrasepsinya hormonal ".
" Oh pengaruh gitu ya ?. Tapi Mbak mu itu sudah hampir delapan tahun nggak pakai kontrasepsi apapun tuh ".
" Oh, berarti mas yang pakai ? ", tanya Haidar kemudian.
" Nggak juga... nggak mau dia kalau harus ada penghalang. Pinter-pinter nya kita aja. Kau tau sendirilah cara mainnya .... kau kan dokter ".
Haidar terkekeh, begitu juga dengan Arya. Sementara itu suara Sabina kini terdengar sedikit ceria, bercakap-cakap melalui telepon genggamnya.
" See .... asli PMS tuh. Swing mood-nya akut ", Rama tersenyum kecil dan diikuti oleh Haidar.
" Mas, saya pamit ya ... mau ketemuan sama temen. Keanu ... ingat 'kan ? ".
" Oooh ... ya..ya..ya ... bawa mobil ku saja. Tuh kuncinya ", Arya menunjuk dengan dagunya. " Sudah pernah pakai setir kiri 'kan ? ".
" Sepertinya harus mulai membiasakan diri nih... makasih ya mas ".
" Hati-hati ... ya ".
" Okay... saya pamit dulu, tolong bilangin mba Sa'. Takut ganggu .. he..he..he... ".
" Takut dijambak kaleee.... ", kelakar Arya yang langsung dibalas dengan ledakan tawa oleh Haidar.
Tapi saat pemuda itu baru saja akan menutup pintu, ia mendengar suara Sabina yang berseru.
" Mau kabur kemana tuh? ".
" Nggak kabur kok mba, tapi... aku juga mau menuju jalan menggapai cinta ... ". Dan Haidar kembali tertawa, kali ini benar-benar menertawakan dirinya sendiri.
Jika bukan karena provokasi dari bang Keanu yang sangat meyakinkan, sebenarnya di malam penuh hujan seperti ini Haidar lebih memilih untuk bergelung di bawah selimut. Apalagi ia baru saja sampai dari perjalanan jauh dengan kereta antar negara.
" Lo ... harus liat dan dengar sendiri bujang bucin ". Begitulah Keanu yang ternyata sangat berbeda dari penampilan cool-nya saat mereka berdua baru bertemu pertama kali.
" Namanya Febi ... temen seperjuangan Hanin, walaupun tidak begitu dekat, tapi dia tahu semua yang terjadi pada gadis itu ". Lanjut Keanu dengan penuh semangat.
" Terus .... ".
" Besok malam Sabtu ... ada komunitas orang Indo yang mau pada kongkow, lo' harus ikutan ".
" Ga' mau gua ... males ".
" Yakin nggak mau denger info langsung tentang si cantik ? ". Keanu kembali mengeluarkan manuver cantik provokasi nya. " Yang kali ini orang-orangnya asyik-asyik... nggak ada yang sok pamer gitu .. he..he..he.. trust me".
" Okay .... tapi, rahasiakan identitas ku. Jangan memicu kehebohan ".
" Siap mister Haidar .... jam sepuluh malam, jangan telat !!!! "
__ADS_1
" Malam bener ... ", Haidar masih sempat memprotes. Tapi pada akhirnya ia pun kini sedang menuju destinasi yang baru beberapa saat lalu di-share loct oleh Keanu.
" Bang Haidar .... akhirnya .... ooooh ". Dengan gaya yang begitu idih, Keanu bangkit dari duduknya, menyambut Haidar yang baru saja masuk melalui pintu sebuah cafe, lalu memeluk pria tinggi besar itu.
" Gelo' ... tadi minta identitas dirahasiakan... malah pake mobil pak Dubes ". Bisik Keanu dengan nada geram.
" Bilang aja aku sopirnya ... ".
" Hanya orang dungu yang percaya ", geram Keanu.
" Bang... ayo diajak temannya ", sebuah seruan riang menyelamatkan Haidar dari kegeraman Keanu. Seorang gadis manis berambut ikal dengan wajahnya yang khas Indonesia Timur, melambaikan tangan dengan riang.
" Yooo.... ini dia temen ganteng gua. Pak dokter nih ... ", mulailah Keanu beraksi.
Sekelompok pemuda dan pemudi yang duduk mengelilingi sebuah meja yang cukup besar terlihat menyambut Haidar dengan sangat ramah. Mereka adalah sekelompok orang berbeda dari yang sudah ditemuinya diacara satu Minggu yang lalu di rumah kakak sepupunya.
" Ini nih .... temen-temen peracik resep ... sebelas dua belas sama elo' sih... cuma resep yang mereka racik itu enak dimakan, nggak kaya resep elo' yang pahiiiiiiit .... ".
Tentu saja semua segera tertawa mendengar celoteh Keanu. Tak lama kemudian, semua bisa berbaur dengan sangat nyaman. Haidar yang tadinya merasa sangat enggan karena capek, kini telah bisa melupakan rasa penatnya itu. Tertawa bersama dengan teman-teman barunya, menikmati malam yang basah dan dingin.
" Harus coba bir ... minuman kebanggaan negeri ini ", seorang pemuda menyodorkan segelas penuh minuman berwarna kuning keemasan dengan busa yang masih berkerumun dengan riang di permukaan.
" Thanks... but sorry... gua takut ... gak berani gua ", Haidar tertawa kecil saat menolaknya.
" Kenapa ?, takut mabok ? ... tenang... ada kita-kita yang bisa nganterin ntar ".
" Ha.. ha.. ha... iya, tapi takut sama Tuhan gua... sorry ya ".
" Oh .... so sorry too Haidar ", si pemuda berambut cepak menarik kembali gelas besar itu, ia pun tersenyum dengan gesture penuh permintaan maaf.
" Bang Key ... ini nih yang temennya Hanin ya ?. Ini aja bang ... robusta yang baru dipanggang ... asli enak, dengan gula aren ". Si gadis manis berambut ikal itu datang dengan secangkir kopi yang mengepul wangi.
" Iyuups ... bang Haidar, ini Febi ... Febiola ... sang bartender yang baru cuti ".
Haidar tertawa kecil, lalu berinisiatif mengulurkan tangannya terlebih dahulu pada Febiola.
" He..he..he... bisa aja nih bang Key ". Dan gadis manis itu pun menyambut uluran tangan Haidar. " Yang itu .. suami ku, Beni. Sorry ya... dah serasa orang Jerman dia, nggak bisa ketinggalan bir ".
" Tidak masalah ya bang ... iya 'kan ", tanya Beni sambil menggoyangkan jalinan jabat tangan itu dengan penuh semangat.
" Bang Key cerita , katanya abang butuh info lengkap tentang Hanin ya ? ", kali ini Febi yang bertanya.
Malam itu sudah semakin beranjak menuju larut, ketika tinggal empat orang itu yang masih duduk berbincang. Sementara satu persatu orang-orang sudah memutuskan untuk kembali pulang dan beristirahat. Hingga akhirnya Febi melemparkan pertanyaan yang sebenarnya menjadi inti dari pertemuan malam itu.
" Keluarga kami, kebetulan lumayan dekat. Dan ibunya Hanin meminta tolong pada ku ".
" Sejauh mana yang abang sudah tahu ... tentang Hanin dan Dave tentu ", kali ini yang bertanya Beni. " Hanin kawan istriku, dan aku lumayan kenal baik dengan Dave dan Garrett... profesi mempertemukan kami ".
" Ehm.... sedikit banyak. Ada satu hal yang aku tidak mengerti ... ". Haidar pun mulai bertutur perlahan. Ia mengungkapkan keinginannya untuk bisa membantu Hanin, terutama yang berkaitan dengan Sellma dan anaknya.
" Dia masih rutin berkunjung setiap Minggu. Juga mengunjungi Liesel ... ah, gadis kecil yang cantik itu. Kapan kau mengijinkan aku untuk hamil sayang ... ", Febi bergelayut manja pada Beni.
" Bisa beri tahu aku ... eum... cara untuk bisa ikut menjenguk Sellma ? ". Haidar menatap penuh dengan pengharapan.
" Tentu saja ... kami akan membantu mu ".
...................
Siang yang cerah, tidak ada mendung sama sekali. Sepertinya hari ini benar-benar diperuntukkan spesial bagi gadis kecil yang bergelayut manja dalam gendongannya. Mata besar yang bulat dengan iris kebiruan berpagar bulu matanya yang panjang dan lebat, sungguh sangat cantik seperti bidadari kecil. Rambut kecoklatan itu begitu halus dan bergelombang lembut, pasti akan membuat siapapun langsung jatuh cinta dengan si kecil ini. Liesel yang sangat menawan. Saat ini Hanin menggendong si kecil itu, sementara satu tangannya membawa sebuah kotak.
" Halo cantik ... ada yang bisa ku bantu ". Ketika sebuah sapaan begitu mengejutkan menghampiri indra dengarnya.
" Ya ampun... mas Haidar? .. kok bisa disini ? ". Tampak Hanin sangat terkejut, tapi senyuman lebar terkembang di bibirnya. Bahkan sepasang matanya ikut berbinar-binar.
" Halo ... siapa peri cantik ini ? ", tapi Haidar seolah mengabadikan. Pemuda itu malah membelai rambut Liesel dan sedikit mencubit pipi ranum si kecil yang menggemaskan itu. Membuat gadis kecil itu terkekeh dengan celoteh lucu.
" Leil ... Leisel namanya ", Hanin menjawab.
" Boleh aku yang menggendongnya ? ". Tapi Haidar seolah tidak butuh jawaban dari Hanin, karena ia langsung mengambil alih si kecil itu dari gendongan Hanin.
" Hei mas.... kau belum jawab pertanyaan ku loh ", Hanin sedikit mengeraskan suaranya, seperti meminta perhatian karena merasa sedikit diabaikan.
__ADS_1
" Kalau aku bilang ... membuntuti mu ... apa kau percaya ? ".
" Hah ?! ", Hanin benar-benar ternganga, persis seperti dugaan Haidar.
" Kalau aku bilang aku kangen kamu ? ".
Tapi kali ini Hanin terdiam, tidak ternganga seperti tadi. Ia menatap dengan diam yang mengunci, seperti melihat padang rumput yang luas tanpa batas. Sepi, sedih dan hampa.
" Aku tidak sedang bercanda mas ", serupa desisan Hanin mengucapkannya.
" Aku serius ... aku rindu padamu ".
" Mas ... please ... ".
" Ha.. ha... ha... iya, iya... aku mengunjungi seorang kawan di sini. Ia seorang dokter juga ".
Demi Tuhan... jawaban bohong yang sudah sejak tadi dipersiapkannya, akhirnya benar-benar terpakai. Tapi Haidar tertawa miris, lihat lah bagaimana si cantik ini lebih mempercayai sebuah kebohongan.
' Padahal aku benar-benar merindukan mu. Setengah mati mencari cara yang tepat untuk bisa bertemu dengan mu di tempat ini. Beruntung ada Beni dan Febi yang begitu baik, menceritakan semua hal tentang mu. Tapi kamu lebih mempercayai kebohongan ku ... '.
" Kau akan membawa si cantik ini kemana ? ", tanya Haidar kemudian. " Boleh aku temani ? ".
Hanin menatapnya penuh dengan keheranan. Tapi Haidar cukup tersenyum saja. Ia sudah memutuskan untuk lebih agresif untuk mendapatkan seorang Hanin Hanania ini. Gadis yang terlihat cenderung menutup diri ini. Luka bernanah di hati si cantik ini, harus segera disembuhkan. Sudah cukup melarikan diri dari kenyataan, sudah saatnya beralih pada masa depan. Begitulah Haidar bertutur dengan tatapan lembutnya.
" Tapi mas baru saja ke luar dari sana 'kan ? ". Dengan dagunya Hanin menunjuk pintu masuk rumah sakit.
" Memang kenapa ?. Toh aku tidak repot seperti mu. Ayo !!! ... kau akan membawa Leil ... periksa ? ". Dengan penuh inisiatif Haidar berjalan maju, membuat Hanin pun bergegas mengikuti.
" Hari ini ulang tahun Leil ... ia akan merayakan bersama mamanya ", kata Hanin yang setengah berlari kecil demi bisa menjajari langkah Haidar.
" Oh ya... woaa... Leil alles Gute zum Geburtstag schöne... ", Haidar pun ikut berbinar.
" Ke sini dulu ", tiba-tiba Hanin dengan gesture memimpin, meminta Haidar untuk mengikutinya.
Gadis itu berbicara sebentar dengan dua orang perawat jaga. Lalu terlihat salah satu diantaranya menelpon seseorang. Kemudian memberikan sebuah ID Card yang digantung dengan tali pada Hanin.
" Ini untuk Leil ... biar bisa ketemu mama ya ". Lalu gadis itu mengalungkan benda pipih berwarna hijau dan bertali biru itu pada leher si kecil Leisel.
" Kartu pass ya... anak kecil seharusnya tidak boleh berada di area ini ya ", gumam Haidar.
" Tapi Leil mau ketemu mama ya... ayo ".
Naik ke lantai tiga rumah sakit itu dengan menggunakan lift. Tapi dua orang dewasa itu saling diam, sementara si kecil Leisel terkadang berceloteh dengan bahasa yang sangat asing di kuping Haidar.
" Mama nya Leil... sakit apa ? ", tanya Haidar pada akhirnya saat mereka bertiga berjalan menyusuri sebuah lorong yang benderang dengan cahaya lampu.
" Kecelakaan ... lalu ada perdarahan di otak. Membuat mama nya Leil ... tidak sadarkan diri sampai sekarang ".
" Koma setelah dioperasi ? ... bagaimana kondisi vitalnya ? ".
" Aku kurang paham mas... nanti bisa lihat sendiri. Tapi .... ah, itu dia kita sudah sampai ".
Sebenarnya Haidar hendak menahan tangan Nania-nya, agar gadis itu bisa menyelesaikan 'tapi' nya. Namun gadis itu justru semakin mempercepat langkahnya, dan baru berhenti ketika sudah sampai di depan sebuah pintu kamar.
" Leisel ... alles Gute zum Geburtstag schöne ", Hanin menoleh sambil tersenyum. Leisel... ayo kita ketemu mama, begitu katanya. Dan bocah dalam gendongan Haidar itu terlihat bersemangat.
Haidar mengikuti langkah Hanin yang masuk kedalam ruangan itu. Ternyata di dalam sebuah ruangan yang cukup besar itu, sudah menunggu seorang pria dan seorang wanita yang mungkin berusia lima puluhan tahun. Keduanya sedikit terkejut karena melihat kehadiran Haidar yang muncul tanpa diundang.
" Mereka kakek dan nenek Leil ".
" Oh ... ". Dan Haidar pun segera mengangguk memberi hormat pada sepasang suami istri itu.
Hanin terlihat bercakap-cakap sebentar dengan pasangan itu. Haidar mengerti, Hanin memperkenalkannya sebagai seorang teman dari Indonesia. Dan gadis itu juga mengatakan jika keluarganya bekerja untuk keluarga Haidar. Terlihat pasangan itu tersenyum ke arahnya.
" Ich bin Haidar Sir Madam ". Katanya kemudian dengan ramah, memperkenalkan diri.
" Ini tuan dan nyonya William Haydn ... kakek neneknya Leisel. Dan itu .... perkenalkan, dia kak Sellma ".
Dan Haidar pun mengikuti dengan tatapannya, pada sosok yang masih terbaring diam. Lalu entah mengapa, iapun merasakan ada yang meronta perlahan dari kekangan hatinya. Itu adalah perasaan marah yang tersimpan lama. Apa yang ada dihadapannya kini... adalah bentuk dari ketidakadilan. Dan itu sudah sangat membuatnya seperti seekor Phoenix yang terbangun dengan aura api yang membakar.
' Jika engkau marah ... pikirkan bagaimana rasa sakit dan rasa marah yang telah disandang oleh mereka selama ini '
__ADS_1