
Suara tepuk tangan, suitan bersahutan dan juga teriakan semi histeris dari tamu-tamu yang sebagian besar terdiri dari keluarga langsung pecah saat Haidar mulai memainkan jemarinya di atas tuts piano. Setelah sebelumnya pria tampan itu selesai memainkan melodi indah dari seorang pianist asal Korea Selatan, dan berlanjut dengan sebuah lagu dari salah satu boyband asal Amerika yang lahir di tahun sembilan puluhan dan masih sangat eksist hingga sekarang. Lagu ketiga ini justru semakin membuat baper para gadis, apalagi Haidar menambahkan sebuah pesan khusus untuk seorang gadis penerima lagu merdu ini.
" Untuk seoarang putri yang ada di sana. Ku harap kau bisa melihat ini .... Du solltest weiter lächeln. Oder lass mich dich zum Lächeln bringen. Weil du so schön bist..... coz' Your Beatifull ".
Aredelia yang bertugas merekam seluruh aksi pria ini pun ikut tersenyum. Sementara Raka yang sedang melakukan panggilan video, kini sudah berdiri sejajar dengannya, tidak lagi berada di belakang seperti tadi. Dan dengan terang-terangan, Raka melingkrakan satu lenggan di pinggangnya. Sambil berbisik...
" Bucin dia sekarang. He..he..he.. tetep keren'an gue kan ? ".
" Kayaknya sih keren'an Haidar deh, Dia tiga lagu ... ".
" Yeee... tapi dia plagiat ide ku ", sahut Raka tidak mau kalah.
" Sssst .... serius pada tugas kita ".
Raka tertawa dan merapat pada wanita cantik itu. Menyempatkan memberikan sebuah kecupan di pipi Ardelia. Yang tentu saja membuat gadis itu tersipu malu dan langsung mendelik kesal, tapi ia tidak bisa mendorong pria ini. Mengingat tugas sebagai para peretas hati sedang di laksanakan. Duuuuh ..... Ardelia, jadi korban nih, karena Raka semakin leluasa menunjukan kemesraannya.
" Abang !!!!!! .... hentikan !!!. Malu.. nggak sopan, banyak orang ", hardiknya dengan sura geram yang sengaja di tahan. Tapi Raka tidak ambil pusing, ia justru semakin mempererat pelukan kecilnya di pinggang gadis itu.
" Biar pada tahu, dan nggak ada yang ngarep lagi ... your so beatifull ". dan sebuah kecupan kembali mendarat di pipi Ardelia.
" Ihhs ... abang ah ! ", Ardelia kembali menyalak dengan pipi bersemu merah. Tapi Raka hanya tertawa saja.
Yang mempunyai acara adalah seorang bisnisman sukses, tentu saja orang-orang yang datang menghadiri undangan juga bukan orang sembarangan. Ini adalah pernikahan dua orang cucu keluarga Arsenio, walaupun yang satu adalah cucu angkat. Tapi sepertinya banyak yang baru tahu jika sang mempelai pria itu hanyalah seorang putra angkat dari pengusaha sukses Mandala Runako Arsenio.
" Sepetinya perjodohan mereka sudah sejak lama "
" Tidak ada slentingan atau berita apaun tentang jejak asmara keduanya, terutama mempelai pria ".
" Hei ... video mdel yang patah hati itu ? "/
" Sepertinya itu hanya cinta sepihak. Lihat ! ... si model ada di sana ".
" Ah ya ... kasihan sekali, wajahnya seperti kumulus nimbus ". Kumpulan wanita dengan dandanan dan gaun indah khas sosialita nampak asyik 'berdiskusi', sambil terus mengamati keadaan berseling berfoto-foto cantik untuk sosial media mereka.
" Anakku pernah akan ku jodohakan dengan si putri itu, tapi yah .... ". Seorang pria nampak mengangkat bahu dengan kecewa.
'' Oh ya?, berarti sebenarnya belum ada perjodohan sejak dulu ? ".
" Kalian datang terlambat ya ?... tidak lihat video pembukaan acara ini ?. Sejoli itu sudah saling merahasiakan cinta mereka sejak lama ".
" Oh benarkah ... ".
" Oh... pantas saja ".
Yang ini adalah dari para pria berjas mewah yang juga tidak mau kalah bergunjing juga rupanya.
Tapi untuk seorang pria muda dengan tubuh sedikit tambun, yang menjadi pusat perhatiannya adalah sepasang sejoli yang sedang sibuk merekam atraksi si adik laki-laki sang pengantin pria. Sepasang matanya menyorot tajam, sementara rahangnya mengetat dengan kuat. Lalu ia menoleh pada pria paruh baya di sebelahnya, yang nampak juga sedang memperhatikan fokus yang sama.
" Sekarang papi mengerti bukan, kenapa Delia menolak mentah-mentah perjodohan dengan Sakala ?. Dia pikir sudah sangat hebat rupanya bisa menggandeng keluarga Arsenio ".
" Tapi, menurut papi tidak buruk juga jika bisa masuk ke dalam keluarga besar ini ". Senyuman yang menyiratkan sejuta rencana begiti kentara di bibir pria berkulit putih lobak itu. Wajahnya yang sudah berkeriput disana-sini, seolah tidak mampu menyembunyikan kelicikan yang begitu kentara.
" Disini aku yang jadi kesulitan, pap. Aku sudah terlanjur berjanji pada Sakala ... '.
__ADS_1
" Cukup Dracio !, aku, lebih tahu yang terbaik ", hardik si pria. " Awas !, jangan kau bertindak macam-macam. Biar papi yang ambil bagian untuk hal ini ", Dan pria itu menatap pada sang anak dengan pandangan tajam mengancam.
" Dengarkan papi mu, sabar ... demi kita semua ". Seorang wanita paruh baya mengelus-elus punggung pria muda itu. " Mami susul papi mu dulu, kau ingat pesannya ya ".
Wajah Dracio menjadi sangat gusar, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kini. Sementara kedua orang tuanya nampak telah semakin dekat ke arah pelaminan. Jelas papi nya hanyalah orang yang masuk dalam jajaran undanagn biasa, tidak istimewa apalagi VVIP. Tapi di sana, ia melihat Ardelia bisa melenggang dengan sangat leluasa di area VVIP, bahkan terlihat sekali jika gadis itu sudah sangat diterima sebagai keluarga. Ini, sangat memporak-porandakan rencananya.
Ardelia yang baru saja selesai merekam aksi Haidar, dengan dibantu oleh Raka kini sedang turun dari sisi panggung. Masih tetap dalam dukungan lengan pria tampan itu, Ardelia kembali melangkah untuk duduk di kursinya. Saat ia sudah duduk dengan nyaman dan menerima segelas minuman segar dari Raka yang entah dapat dari mana, saat itulah pandangan matanya yang menatap lurus ke arah pelaminan menangkap bayangan dua sososk yang sangat dikenalnya.
Seorang pria paruh baya dengan perutnya yang nampak semakin membuncit, berjalan berdampingan dengan seorang wanita bergaun hijau dengan belahan dada sedikit rendah dan dandaanan yang begitu glamour. Seharusnya ia tidak perlu menjadi seperti ini, bukankah memang sudah terbiasa dengan pemandanagn seperti itu. Seorang ayah yang tak pernah bersikap seperti ayah padanya, yang selalu melenggang dengan nyaman sambil menggandeng seorang wanita dengan mesra. Yang disana itu hanyalah seorang pria kejam yang telah mencuri kebahagian di hidupnya.
" Ada apa ? ". Raka terlihat ikut mengamati apa yang dilihat gadis tercintanya ini. " Dracio ?... bagaimana diabisa ada sini ? ".
" Hah ?! ". Dan Ardelia semakin tercekat saat ia juga melihat apa yang ditunjukan oleh Raka.
" Itu pasti ayah dan ibu tiri mu ya ". Tapi kemudian Raka merasa keliru karena seharusnya mungkin, ia tidak perlu mengucapakan tebaknannya. Kini Ardelia terlihat terdiam dengan wajah tak lagi ceria dan bahagia seperti tadi.
" Hai .... ada aku, tenanglah. Look in to my eyes ' .... hei ". Dengan lembut Raka membuat Ardelia menatap sepasang matanya, menggenggam jemari gadis itu dengan erat lalu mengembangkan sebuah senyuman.
" Tidak akan ada manusia yang bisa menyakitimu lagi. Ada aku yang akan menjagamu .... dengan ijin Allah, innsya Allah, Ardelia ".
Apakah hal itu terlalu berlebihan?, sepertinya tidak. Karena demikianlah tekad Raka. Pria muda itu menyelam kedalam sepasang telaga bening yang tadi bergolak dalam resah. Seolah mencari jantung yang tengah berdegup tak menentu itu, lalu ketika sudah menemukan, ia pun membelai perlahan. Tanpa mengatakan apapun lagi, cukup hanya menatap dengan dalam saja. Seperti tengah menyamakan ritme detakan sang jantung, lalu menyelerasakannya. Membuat Ardelia kembali tenang, hingga senyuamnnya pun kembali terkembang.
" Biarakan aku bicara dengan papi mu. Yakinlah .... semua akan baik-baik saja ".
" Bang.. ".
" Kau percaya padaku bukan ? ". Raka menggenggan jemari Ardelia semakin erat, hingga gadis itu mengangguk perlahan. " Kau disini saja. Ah ya, biar aman ... Rana.. Rana.. ".
" Ya kak .. ", gadis cantik berkebaya biru muda yang lembut itu pun mendekat. Tapi di belakangnya mengikutu sosok gagah menjulang bergaris rahang tegas dengan sepasang alis indang memagari bola mata yang kelabu seperti warna hujan di senja hari.
Pria itu tertawa mendengar kelakar Raka. Sementara Raka yang langsung menghampiri Kirana, kini tengah membisikan sesuatu pada gadis itu. Sesaat Kirana terlihat sedikit kaget, tapi kemudian menganguk-angguk tanda ia sudah mengerti.
" Sebentar ya Ardel ". Raka melambai sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ardelia tersenyum, walaupun kegelisahan begitu kentara kembali menyeruak.
" Kak Raka pasti bisa mengatasinya, dia tahu benar apa yang di lakukan ". Hibur Kirana sambil duduk menyebelahi Ardelia.
" Katanya tadi ada aksi dewa cinta. Siapa yang sempat merekam ? ". Tanya Syailendra mengalihkan suasana. " Aku baru datan... sorry ".
" Mba Ardel tadi, mau lihat mas ? ". Sambar Kirana dengan ceoat.
Setidaknya apa yang dilakukan dua orang itu bisa membuat Ardelia menjadi sedikit lebih sibuk. Heeeem...kompaknya Mas Alend dan dek Rana.
Sementara itu, Raka yang mengenakan busana adat jawa tengah terlihat sedikit kesulitan untuk berjalan cepat. Tapi senyumannya mengembang lebar saat sepasang matanya menemukan sosok yang sedari tadi dikejarnya. Ia pun berhenti sesaat, seperti memberikan kesempatan untuk seluruh komponen tubuhnya untuk bersiap. Hingga kemudia ia melangkah pasti mendekati sasaran yang sejak tadi telah masuk dalam jangkuannnya.
" Selamat siang om. Saya Raka ... teman putri Om ". Dengan cepat ia mengulurkan tangannya.
Pria itu memandang dengan paras terkejut dan juga ragu sesaat, tapi kemudian senyuman terukas. Tanpa ragu, pra itu menerima uluran tangan anka muda di hadapannya ini. Lalu menjabat erta tangan pemuda yang kini tengah tersenyum padanya.
" Oh ya ... jadi kau putra kedua pak arjuan dan bu Hana ya ". Pria itu lalu mengubah senyuamannya menjadi tawa.
" Iya Om, saya Raka. Saya sudah berteman dengan Ardelia sejak SMA dulu ".
" Oh ya..ya..ya.. kau sudah tahu namaku ? ".
__ADS_1
Tapi Raka menjawab dengan gelengan kepala penuh penyesalan. Namun hal itu justru membuat sang pria di hadapnnya ini tertawa-tawa.
" Tidak mengapa, pasti anakn itu tidak pernah menyinggung namaku sama sekali. Tidap apa-apa ,,, kau bisa memanggilku Om Danny ".
" Ah ya Om... Om Danny ". Raka tertawa kecil. " Ada yang ingin ku bicarakan denagn Oom Danny, bisa kita menepi sebentar ? ".
Sepasang mata sipit pria paruh baya itu sedikit terangkat, tapi kemudian sebuah senyuman kembali terkembang di wajahnya. " Tentu saja ... ".
" Heeem.... Danny Setiawan Kusuma. Rupanya dia juga salah satu kolega om Juna ". Syailendra yang bertugas mengawal dua gadis di sebelahnya ini, menaikan kacamata dengan gesture menawan. setidaknya menurut Kirana .. heeem.
" Mas kenal ? ". Tanya Ardelia, tapi ia buru-buru menyambung pertanyaanya. Dan satu isyarat ia tujukan pada Kiran untuk tetap diam, hingga membuat gadis itu segera menutup mulutnya ... rapat-rapat sebelum mendengungkan apapun.
" Ehm... oarang yang masuk dalam daftar untuk lebih diwaspadai ". Santai Syailendra mengucapkannya. Berbeda dengan Kirana yang kelihatan lebih tegang, sambil sesekali memijit pangkal hidungnya.
" Begitu ya ?. Ternyata tidak akan bisa berubah rupanya ". Ardelia justru terlihat lebih santai, bahkan ia dengan sangat wajar menyudutkan senyum ironis.
" Kenapa Raka begitu bersemangat mengejarnya ? ".
" Ya iyalah mas .... itu calon mertua nya ", jawab Kirana dengan cepat. Membuat wajah Syailendra tiba-tiba menjadi seputih kapas.
" Itu ayah kandungnya mba Ardel ", seloroh Kirana lagi.
" Oh ... eh ... itu .. ". Dan syailendra pun seketika menjadi seseorang yang gagu. Tapi Ardelia hanya tersenyum kecil saja sambil memperhatikan Raka yang menggiring menjauh.
" Aku sudah sangat paham dengan keburukannya. tenang saja mas Alend. Kau sudah sangat membantu dengan kejujuran mu ".
Dan Syailendra pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tersenyum dengan sangat aneh serupa seringai tak nyaman. Untung saja Ardelia sama sekali tidak memperharikan hal itu. Tidak seperti Kirana yang menggeleng-gelengkan kepala penuh penyesalan. Aiiih... issh... nggak ngerti bahasa kode'sih, gumam Kirana.
" Mungkin om Danny sudah pernah mendengar tentang ku dari Dracio ", begitulah Raka membuka kata saat mereka berdua telah menepi dan menempati sebuah meja yang cukup menyudut.
" Ya. Ah, tapi baru-baru saja aku ngerti selengkapnya. Bukan dari Dracio, tapi dari mami nya Ardel ".
" Lantas, menurut Om ? "
Pria itu tidak langsung menjawab, namun terlebih dahulu menenggak minuman dari gelas yang dipegangnya. Menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan menelanjangi, lalu mulai mendekatkan wajahnya pada Raka yang juga nampak dingin menatap.
" Setidaknya, Delia akan mendapatkan orang yang bisa bermanfaat untuk keluarga. Yang bisa memberi kepastian, jaminan hidupnya nanti ".
Raka mencelos, ia tersenyum dengan sinis. Entah mengapa tiba-tiba saja ia merasa sangat muak.
" Apakah menurut Om, aku tidak lebih baik dari seorang duda yang hobinya kawin cerai, selingkuhan dimana-mana.... dan ia mendapakan nilau plus hanya karena berjanji akan menopang perusahan mu yang sudah mulai kolaps itu ? ''.
Danny Setiawan terbelalak, ia terpana denagn keterusterangan anak muda di hadapannya. Tapi di detik berikutnya pria ini tertawa, lirih namun panjang. Membuat Raka merasakan dadanya bergemuruh. Ia seolah melupakan tekadnya tadi, untuk bersikap manis pada pria yanga adalah ayah kandung dari wanita tercintanya.
" Kau.. kau ... kenapa kau lebih mirip dengan pamanmu .. ", pria itu masih tertawa. " Arjuna yang kalem, sepertinya tidak bisa menurunkan sifat itu padamu ... hi..hi..hi..hi.. tapi aku menyuaki mu anak muda. Dan sepertinya kalian berdua memang sangat cocok Kau dan Ardelia ... pasangan serasi ".
" Maka dari itu, jangan halangai hubungan kami ", Raka menyambar cepat. Mengutarakan kesunguhannya dari hati yang bergemuruh.
" Apa yang akan aku dapatkan dari mu anak muda ? ".
Rasanya sangat menyesakkan, mendengar pertanyaan seperti itu dari seoarang Ayah yang selalui abai dengan putri kandungnya. yang dengan tega melakukan tipu muslihat untuk menguasai seluruh harta warisan sang istri. Lalu tanpa belas kasihan menyingkiran seorang wanita beserta putri yang seharusnya dia sayangi, karena mereka adalah istri sah dan anak kandungnya.
" Kau tidak akan mendaptakan apapun, kecuali seorang pria yang sangat mencintai putrimu. Yang akan menyandingkan seluruh hidupnya demi putri mu itu. Yang akan menjaga hati putri agar tetap bahagia... dengan segenap jiwa dan raganya. Kau ... tidak akan mendapatkan apapun, selain seoeang pria dengan janji cintanya ".
__ADS_1