PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Than You Look At Me (7)


__ADS_3

Nak..... jadilah pria dengan kesetiaan janji yang bernafaskan tanggung jawab sejati. Maka kau akan hidup dalam kasih sayang yg berpondasi kekuatan dari kelembutan cinta seorang wanita. Hargailah para putri Hawa seperti kau teguh memegang janjimu. Ini adalah permintaan seorang ibu pada para putranya untuk sesama wanita.


Haidar berlari tergesa sambil menarik kopernya yang tidak terlalu besar. Hanya tersisa waktu kurang dari sepuluh menit dari jadwal lepas landas sang burung besi yang akan ditumpanginya. Itu pun dengan susah payah ia harus mengejar hingga ke negeri singa air demi bisa bersama mengudara dengan pesawat tujuannya. Dalam situasi seperti ini, ia tiba-tiba saja merasa sangat beruntung dengan segala koneksi yang di miliki seorang Mandala Runako Arsenio ayahnya. Demi apa ?, tentu saja demi tambahan waktu yang sengaja ia buat untuk dirinya sendiri.


" Sudah sangat yakin dengan pilihanmu sepertinya  ".


Dan Haidar mengangguk dengan mantap seraya memeluk erat sang mama beberapa jam lalu saat dibantu berkemas oleh wanita tercantik dan terlembut yang saat ini masih menempati peringkat pertama di hatinya itu.


" Butuh tidak hanya waktu dan pemikiran panjang, tapi sepertinya juga pengorbanan lebih untuk impian ku itu. Ternyata tidak mudah ya, merengkuh hati seorang wanita yang terlihat lemah dan ... mungil' .. he..he..he.. ".


" Menurutmu ?. Heeem ... jangan pernah tertipu dengan fisik dan air mata seorang wanita ya nak. Belum lagi kalau dia nanti sudah jadi seorang ibu. Kau akan takjub dengan kekuatan tersembunyinya. Sudah, sudah... sana berangkat !, jangan lupa pamit juga sama papah mu ".


" Nggak sempat kayaknya mah, kalau harus ke kantor lagi nemuin papah. Nanti di mobil aku telepon aja deh. Tapi tadi sudah sempat bernarasi dulu sih ... he..he..he... sambil terima pertanyaan yang sama dengan mamah tadi. ' Kau sudah yakin?' ", Haidar menirukan suara berat dan gaya khas Mandala saat sedang menyelidiki suatu masalah. Membuat Orlin tertawa melihat gaya konyol suaminya yang begitu mirip dibawakan oleh sang anak.


" Karena sifat playboy papah mu yang sepertinya tidak menjadi dominan pada gen mu, tetap saja harus ia khawatirkan ".


" Atau karena papah kurang setuju ya  ". Haidar sekilas bertanya dengan nada khawatir yang tidak bisa seluruhnya disembunyikan dari tatapan san mamah.


" Dari mana datangnya pikiran itu ? ", tegas Orlin sambil mengelus lembut lengan kekar Haidar. " Itu semua tergantung ketulusan kalian berdua. Seandainya kurang berkenan, atau mungkin karena papah mu punya pandangan yang lain..... ehm mungkin, biar mamah yang akan mengurusnya ".


Haidar tersenyum lega mendengar lima kata terakhir bagai rangkaian janji yang menenangkan itu. Ia pun kembali memeluk sang bunda dengan hangat, lembut dan buncahan rasa terimakasih tak terhingga.


" Memohonlah pada Tuhan mu, mamah mendoakanmu, tinggal kau yang akan mengukir penyelesaiannya sendiri. Ingat, segala sesuatunya niatkan untuk ibadah, dan menikah adalah menyempurnakan separuh ibadah mu. Hati-hati ya, salam buat Nania ".


Dan kini Haidar sudah duduk  dengan tenang sambil  mengatur nafas yang tadi sempat sedikit memburu seiring kecepatan ritme jantung yang berusaha keras menjajari ritme hidupnya. Ketika seorang pramugari mulai berkeliling menawarkan selimut dan wellcome drink yang menyegarkan, pria itu cukup tersenyum saja sambil menganguk ringan. Karena hatinya sudah lebih tenang sekarang, tak lama ia pun terjatuh dalam lelap. Mempercayakan sepenuhnya pada sang pilot dan rekan-rekannya yang membawanya mengakasa memangkas jarak dan waktu untuk menanti sang dewi bulannya yang bersinar seputih mutiara. Haidar pun tersenyum dalam tidurnya, seolah tengah merangkai harapan bahagia yang akan dia jelang.


..............................


Leisel mulai terlelap setelang menghabiskan makan siangnya dengan lahap dan juga mengakhiri tangis pilunya. Sementara Sellma sibuk membenahi segala kekacauan yang baru saja di buat oleh si cantik itu. Karena Boby Ingo si boneka flamingo berwarna dominan merah muda dengan topi dan jas biru yang selalu menjadi teman tidur Leil itu tertinggal di rumah. Sesaat setelah masuk ke kamar hotel, drama itu terjadi. Untung saja Sellma bisa menenangkan putri kecilnya itu dengan naluri malaikat kasih sayang seorang ibu. Hanin benar-benar takjub dengan semua hal itu.


Seperti dejavu .... Hanin merasa sangat familier dengan semua kejadian itu. Hingga akhirnya ia benar-benar ingat, dengan seorang wanita lembut yang bisa menenangkan tangisnya yang membahana saat kecil dulu. Ketika ia menangis meraung-raung minta dibelikan seorang ayah. Agar tidak diejek lagi oleh Dio, biar bisa minta digendong di pundak seperti Ayu, biar ibu ada yang jagain juga. Hanin kecil menangis meraung-raung meminta seorang ayah, tanpa dia mengerti dengan permintaannya sendiri.


Ibunya yang baru datang dari bekerja di kantin perusahan langsung merengkuhnya yang terguling dilantai bersimbah air mata dengan isak tangis dan sedu sedan membahana. Menggendongnya. membelai-belai rambutnya dengan penuh kasih-sayang, menenangkan sambil menepuk-nepuk lembut punggungnya perlahan. Entah mengapa rasanya begitu nyaman. Hingga kemudian tangisnya benar-benar reda dengan sendirinya.


" Dek Na' mau punya ayah ? ", tanya ibunya lembut sambil memangkunya perlahan dan mentapnya lembut seraya menyeka bekas-bekas air mata dan juga ingus yang bertebaran dimana-mana. Ia mengangguk perlahan, masid dengan perasaaan kesal, tapi entah mengapa ada rasa bersalah saat menatap ke dalam sepasang mata ibunya.


" Mau belinya dimana ?, di supermarket ?, apa di pasar aja yang deket ? ".

__ADS_1


Nania kecil hanya mengangguk kembali untuk menjawab pertanyaan ibunya. Wanita cantik iu lalu membawanya masuk ke dalam kamar, menggendongnya dengan lembut dan mengajak putri kecilnya itu berdiri melihat lebih dekat sebuah foto. Gambar pria yang cukup tampan dan mempunyai senyuman gagah dengan kumis yang rapi. Pria itu tampak begitu bahagia merengkuh seorang wanita yang tengah menggendong bayi dan juga anak perempuan cantik serupa dirinya di atas pangkuan.


" Kalau dek' Na beli ayah baru di pasar yang harganya agak murah, atau di supermarket yang harganya pasti mahal , terus ayah Firman pasti sedih dong ..... ".


Entah mengapa kalimat yang begitu sederhana itu terasa seperti sepasang tangan yang meremas hati si gadis kecil itu. Ia terdiam, terpaku menatap senyum lembut si pria yang ada di foto itu. Kata ibunya dan juga kakaknya, bayi mungil itu adalah dirinya. Bayi mungil dalam gendongan sang ibu yang didukung penug oleh lengan kekar pria itu. Pria itu adalah ayahnya.


" Ayah Firman pasti sediiih sekali ..... terus ibu harus jawab apa nanti sama beliau. Kalau ayah Na' tanya ... apa Nania sudah nggak sayang ayah lagi ya?, kok malah beli ayah lain ?, apa sudah nggak mau nunggu ayah lagi buat ketemu di surga nanti ?. Nania bisa bantu jawab itu ? ".


Hampir sama seperti yang dilakukan oleh Sellma, membujuk dengan hal sederhana yang mudah dipahami oleh anak berusia empat tahun. Cukup jitu untuk membuat seorang anak yang masih sangat lugu untuk jadi bisa memahami situasi yang cukup pelik sebenarnya.


" Sekarang istirahat dulu ya, nanti kita beli teman buat Boby Ingo juga buat Leil. Nangisnya berhenti dulu, biar mami nggak sedih, biar tante Hanin juga nggak ikut sedih. Mami janji ... ".


Ternyata drama dengan segala ******* yang menguras emosi itu berakhir dengan terlelapnya ibu dan anak, Sellma dan Leil tertidur pulas. Hanin tersenyum kecil melihat keduanya. Ia pun memutuskan untuk pergi keluar, berjalan-jalan sebentar. Tadi satu blok sebelum memasuki area hotel, ia sempat melihat ada gerai-gerai berjajar dan diantaranya menjual coklat dan boneka. Tidak lupa ia menuliskan secarik pesan dan meletakannya di nakas dekat dengan handphone milik Sellma, walaupaun ia juga telah berpesan melalui seluler nya . Tidak lupa juga ia mengirim pesan untuk Keanu yang pasti juga sudah tepar.


Hanin melihat jika pesannya sudah dibaca oleh Keanu, tapi pemuda itu tak merespon apapun, walaupun cukup lama tertera notifikasi jika si penerima pesan sedang mengetik balasan. Hanin tidak ambil peduli, ia berjalan santai keluar dari loby hotel sambil mengancingkan mantel merah batanya. Menikmati udara yang mulai dingin walaupun belum menusuk tulang, berjalan perlahan bersama orang-orang yang sepertinya juga turis seperti dirinya.


Benar saja, rombongan-rombongan kecil itu adalah turis yang sedang berburu oleh-oleh. Hanin pun ikut asyik ngobrol dengan seoarang wanita berkebangsaan Jepang yang merasa sangat tertolong karena dibantu olehnya dengan kemampuannya berbahasa Jerman dan juga Belanda. Apalagi mereka adalah sama-sama orang Asia, seolah jadi menemukan saudara lama di tempat asing. Rasanya menjadi lebih menyenangkan.


Setelah sukses memborong beberapa kotak coklat Swiss yang sangat termasyhur kelezatannya itu  tentu saja untuk si kecil Leisel dan juga keponakan-keponakannya di tanah air, Hanin lalu menyusuri deretan gerai yang ada. Mencari sebuah bangunan bernuansa pink dan biru lembut yang penuh dengan pajangan boneka terlihat dari etalase seperti melambai-lambai padanya saat ia menuju hotel siang tadi. Akhirnya ia menemukan tempat yang sedari tadi dicarinya, sepasang mata jelitanya membulat seiring senyuman ceria mengembang di bibirnya yang merekah merona. Ia bergegas memasuki tempat yang ternyata lumayan penuh dengan anak-anak itu.


Tidak perlu menunggu lama, ia sudah sibuk merayapi bulu-bulu lembut boneka yang terpajang dengan tatapan penuh semangat. Sisi kanak-kanaknya mulai meronta dan mencoba menghipnotisnya untuk membeli semua obsesi masa kecilnya yang tidak terpenuhi. Boneka beruang kuning yang menggemaskan di ujung sana, teddy besar berbulu coklat lembut yang sepertinya sangat nyaman untuk dipeluk atau juga boneka sapi yang sangat imuuut itu. Semua seperti berlomba-lomba menyeru namanya dan meminta untuk dibawa pulang.


" Mohon maaf, untuk seri keluarga flamingo sudah tidak ada lagi. Mungkin seri keluarga pelika ini bisa jadi penganti ? ", tawar gadis penjaga toko itu dengan sedikit menyesal. " Ini koleksi kami, lihatlah. Ada juga seri burung hantu dan elang ".


Setelah cukup lama memperhatikan dan memilih, akhirnya Hanin memutuskan membeli seekor pelikan betina yang cantik, mendandaninya dengan baju warana pink cantik dan lengkap dengan aksesori kantung kain yang mengantung di paruh, legenda pelikan mengantarkan bayi. Ia juga membeli burung hantu dengan bulu merah hati dan kecoklatan serta berkacamata yang menambah kesan jenius hewan lembut itu. Stelah memilih setelan yang dirasa paling pas untuk boneka hewan yang melambangkan kecerdasan itu.


Lalu Hanin menunggu semua boneka pilihannya itu dilahirkan, begitulah istilah di toko ini. Boneka-boneka yang dipajang adalah contoh saja, lalu pembeli akan memilih berdasarkan contoh yang ada beserta pakaian dan aksesorisnya. Kemudia boneka itu baru akan dibuat, tidak butuh waktu lama hanya beberapa belas menit saja untuk mengisi badan boneka dengan dacron yang lembut lalu mendandaninya dengan baju dan aksesoris yang sudah di pilih.


" Untuk akta kelahirannya, anda ingin diisi dengan nama siap nona ? ", tanya gadis penjaga itu yang datang dengan si Pelikan dan si Burung Hantu.


" Oh ? ", Hanin sedikit kebingungan dengan pertanyaan gadis penjaga itu.


" Ya , toko kami selalu memberikan akta kelahiran untuk setiap boneka yang jadi milik pelanggan. Berisi nama boneka dan orang tua boneka atau si pemiliknya ".


" Oh begitu ya ?. Bisakah mengkosongkan untuk nama-nama tersebut ?. Biar keponakanku yang mengisinya sendiri nanti ". Pada akhirnya Hanin mulai paham.


 " Tentu saja nona ", dan gadis pelayan itu tersenyum seraya memberikan dua buah kertas cukup tebal serupa akta kelahiran tapi dengan versi warna-warni yang menarik.

__ADS_1


Pada akhirnya Hanin tersenyum puas dengan apa yang sudah berhasil didapatkannya kali ini. Satu tas cukup besar penuh berisi kotak-kotak coklat lezat. Dan satu tas bueesaar .... berisi dua boneka menggemaskan. Tidak berat sih, tapi lumayan merepotkan tubuhnya yang mungil saat harus keluar dai gerai itu. Belum lagi orang-orang yang mulai ramai berlalu-lalang di jalan untuk berburu oleh-oleh. Sangat lumayan membuat dia kesulitan untuk melakukan manuver ketika berpapasan.


Senja telah menjelang saat ia mulai berjalan kembali ke hotel, hidung mungilnya yang cukup menjulang cukup bisa membaui aroma wafel yang manis lembut. Ia pun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk membeli kue crispy yang nikmat dan hangat itu. Beruntung di kedai sebelahnya juga menyediakan cokelat panas yang menggoda. Pas sekali untuk tenggorokannya yang mulai terasa kering.


" Bisa kau pesankan juga untukku nona cantik ? ".


Ini adalah dunia dimana orang yang bisa menuturkan kalimat seperti itu hanya sebagian kecil saja. Berbahasa Indonesia dan bertanya dengan lembut, seolah-olah sudah mengenalnya dengan sangat baik. Di sebuah negara yang jauh dari rumpun khatulistiwa dan nusantara tempat kelahirannya, tentu hanya segelintir kecil orang yang mampu bertutur dengan bahasa ibunya.


" Hai.. kau sudah lupa dengan ku rupanya ? ".


Dan Hanin menoleh, sedikit mendongak untuk bisa memastikan keberadaan sosok yang berdiri sedikit di belakangnya. Rasa seperti sangat hafal dengan suara itu, tapu benarkah ?, karena warna suaranya terdengar agak berbeda.


" Hai ... ". Dan pria itu menyapa, melambaikan tangan sambil tersenyum. Ia menjulang dengan gagah, bermantel dan mengenakan syal yang melilit lehernya. Hidungnya nampak kemerahan dan terlihat pria itu sedang pilek. Tapi sungguh, semua itu tidak mengurangi prosentase ketampanannya sedikitpun. Hanin masih membelalak tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya.


" Jadi pesan cokelat panas nona ? ",  tanya pelayan kedai membuat Hanin tergeragap.


" Ya, berikan dua untuk kami ", jawab sosok gagah yang perlahan mendekat dan mengambil alih pesan Hanin.


Entah mengapa Hanin Hanania masih tak bisa berkata-kata, hanya sepasang matanya saja yang tak bisa lepas mengikuti semua gerakan pria yang baru datang menghampirinya itu. Dan ia pun tidak tahu kenapa, walaupun pria itu berkali-kali melakukan gesture yang biasa dilakukan oleh orang yang hidungnya tersumbat, tapi tetap saja terlihat .... mempesona.


" Untukmu nona cantik, coklat panas yang nikmat. Kita duduk disana dulu ? ".


Dan itu bukanlah pertanyaan untuk meminta persetujuan, karena telapak tangan lebar dan hangat itu telah mengandengnya untuk mendekati deretan kursi di dekat kedai. Membuat Hanin Hanania patuh mengikuti dan kemudian duduk bersebelahan dengan si gagah itu. Seperti kehilangan suara, Hanin terdiam dan hanya mampu patuh saja.


" Seharusnya aku yang kehilangan suara, cantik. Ini ... minumlah ".


Hanin masih terdiam, ia menerima cup cukup besar berisi cokelat panas yang manis harum itu. Kini ia duduk bersebelahan dengan si gagah, tapi ia tidak berani menatapnya lagi. Ia menatap jalan di hadapannya, lalu lalang pejalan kaki dan juga kendaraan-kendaraan di jalurnya masing-masing.


" Apa masih ada lagi yang berubah tentang jadwal yang sudah diberikan padaku ? ", akhirnya Hanin berkata-kata dengan menyampaikan tanya. Perlahan gadis itu menyeruput minuman hangat yang diberikan padanya.


" Aku yang merubah jadwalku, biar bisa menambah dua puluh empat jam bersamamu .... ". jawab si gagah sambil sesekali menyeka hidungnya yang mampet dan gatal. Bahkan suaranya mulai terdengar jelas sengaunya.


" Terus ... flu ini juga hasil dari perubahan jadwal ? ".


" Iya ... tapi pasti sebentar lagi sembuh. 'Kan sudah ketemu obatnya ... ".


Dua orang itu masih duduk sambil menikmati pemandangan senja musim gugur, berkawan cokelat hangat yang semoga bisa menghangatkan hati juga. Sementara lalu-lalang orang-orang seperti aliran waktu yang tidak peduli dengan gemuruh hati dua insan itu. Terkadang pertemuan tak seperti yang kita bayangkan, atau mungkin masih saling mengunci kejujuran atau menahan perasaan ?.

__ADS_1


Entahlah .........


__ADS_2