PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Involved & Entangled (3)


__ADS_3

Terlelap dalam ketenangan, dan udara yang dingin itupun juga ikut serta membuai malam. Nafasnya begitu teratur seolah menyampaikan semua impian yang membahagiakan. Tidak seperti beberapa saat yang lalu, saat semua berubah menjadi tak terkendali. Ketika terjadi perkelahian antar nalar, kesadaran, akal sehat melawan nafsu, hasrat yang menerjang bagai gelombang pasang.


Menepis perlahan helaian rambut yang jatuh menutupi kening dan raut wajah lembut itu. Lalu membelai lembutnya pipi yang masih menyisakan jejak air mata serupa garis perak transparan. Gadis itu menggeliat perlahan, iapun lalu sedikit mendekat tubuhnya berharap gadis itu kembali terlelap. Dan malam pun semakin beranjak larut memasuki dinihari.


Biasanya dia akan segera terlelap dengan perasaan puas dan nyaman saat setelah selesai bergulat dengan hasrat dan menuntaskannya dengan satu lenguhan panjang kepuasan. Saat melewati malam yang bergairah dengan para gadis yang menghampirinya dengan gemulai memabukkan. Kemudian mereka akan menuntaskannya dengan sangat panas diatas ranjang, berbaur dengan rintihan manja dan erangan kepuasan.


Malam ini, dirinya benar-benar mendapatkan gadis termurni. Yang menghampirinya dengan suka rela, menyerahkan dirinya dengan sadar. Gadis yang selalu menjadi mimpi indahnya, gadis yang telah mencuri separuh jiwanya. Bahkan, ini adalah gadis yang selalu dibayangkannya saat ia tengah bermain bersama dalam hasrat bersama para gadis penggoda itu. Tapi.........


" Delia .... ", Raka menatap Ardelia tak percaya. Ia masih tidak mempercayai apa yang merasuk di indra pendengarannya.


Apa itu tadi ? .... benarkah itu yang didengar? ... benarkah itu yang diucapkan oleh Ardelia ?. " Tolong aku .... jadikan aku wanita mu ... seutuhnya ... malam ini ".


Raka masih menatap tak percaya pada seraut wajah yang tengah menengadah menatapnya. Ia menyelami iris kelam yang menghanyutkan itu. Tiba-tiba dadanya terasa menciut karena diperas oleh rasa sakit yang tajam. 'Kau membohongiku cinta..... kau minyaksaku ... ', desisnya pelan dalam relung hati.


" Aku mencintaimu Ardelia .... apakah kau juga mencintai ku ? ".


" Mereka ... apakah kau juga mencintai mereka? . Apa kau juga selalu bertanya seperti ini pada mereka ? ".


Nada suara Ardelia terdengar marah, tapi penuh dengan keputusasaan. Raka merasakan detak jantungnya semakin cepat. Dan darahnya menggelegak.


" Apa kau juga butuh konfirmasi dari ku, jika aku menginginkan mu ???!!!! ", seru Ardelia dengan jeritan dan amarah tertahan.


" Apa aku tidak lebih baik dari mereka para wanita itu ?!!..... bukankah para pria selalu sama ? ... hanya menginginkan hal ini ??? ". Dan itu terdengar semakin menyedihkan.


" Benar ... aku memang sangat tidak berpengalaman dibanding mereka. Tapi apa itu tidak cukup ? ". Dan lengkingan tanya itu semakin menyayat.


Kedua bahu Ardelia bergetar hebat, wajahnya nampak memerah menahan amarah. Tapi Raka mengerti... sangat mengerti ... amarah itu bukan untuknya.


" Aku mungkin tak seindah mereka ..... ". Lirih Ardelia mengucapkannya, selembut gerakannya menarik tali jubah handuk lembut berwarna putih yang dikenakannya.


" Tapi aku juga seorang wanita .... yang juga mendengar pertanyaan cinta mu secara langsung ... setidaknya aku juga layak ... ".


Dan Ardelia perlahan telah mendorong dirinya sendiri tepat ke sebuah bibir jurang yang menganga begitu dalam dan pekat ....


Ketika dirinya yang putus asa dan marah, dengan sangat perlahan namun pasti, membuka kain tebal yang lembut berwarna putih, tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah membeku. Bahkan sepasang mata itu terlihat tak memercikkan bara sedikit pun, tidak seperti yang dibayangkannya.


Dan hal ini membuat Ardelia semakin tak terkendali, seolah amarah dan rasa benci itu sudah menguasai hingga ke setiap inti selnya. Membuat bahu yang mulus sewarna madu itu bergetar ketika kain yang menutupi terenggut cepat.


Glegh !.... Raka yang telah membatu semakin tak mampu bergerak. Tapi pemandangan indah dihadapannya, mampu mencairkan sisi terliar yang tadi telah berhasil dibekukannya. Apa yang terpampang dihadapannya begitu mempesona. Lekuk tersempurna yang pernah disaksikannya. Seperti bidadari yang datang menghampiri.


" Ar.. de.. lia.... ".


Lihatlah sang pemain cinta yang tak berdaya itu. Untuk mengucapkan sebuah nama saja dia harus menghirup oksigen sekuat paru-parunya. Namun tetap saja, satu kata itu begitu tersendat.


Sungguh ..... Raka terlalu mencintai wanita muda ini. Tiba-tiba saja hatinya begitu terremas sakit menyaksikan perbuatan impulsif yang sangat berbahaya ini.


Benarkah ?... tapi sesuatu dibawah sana tetap saja menggeliat bangun dengan liarnya. Tentu saja ! bagaimanpun ... sang Raka tetaplah seorang pria, dengan syahwat kini mulai meletup seperti lava di kepundan sang berapi.


" Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri .... apakah kau mencintaiku ? ... atau tidak ... ".


Dan Raka menarik tubuh polos itu dengan lembut dalam pelukannya, sembari tetap memegang erat tali jiwa pria perkasanya. Menahan diri untuk tidak berbuat lebih jauh lagi. Memelukku tubuh yang kini mulai bergetar itu. Hanya memeluknya .... sungguh-sungguh hanya memeluknya.


" Aku sangat mencintaimu Ardelia.... kau tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Aku akan menjaganya hingga kau mempersembahkan semua ini dalam ikatan cinta yang suci. Aku ini pria brengsek pemain wanita.... kau tahu itu. Tapi aku menghormati mu ... aku menyanjung mu... karena kau adalah bidadari yang ku impikan. Kau.... ".


Dan Raka tak mampu melanjutkannya ucapan nya, karena sosok polos dalam rengkuhannya ini telah bergetar hebat dalam tangisan yang menyayat.


" Aku tidak akan merenggutnya dengan cara seperti ini ..... aku sangat mencintaimu Ardelia ".


Perlahan, Raka sedikit mengendurkan pelukannya hingga ia bisa sedikit menunduk untuk meraih jubah handuk putih yang teronggok mengelilingi tubuh gadis ini. Mengambilnya, dan mengenakannya pada tubuh polos Ardelia, sebelum kemudian ia kembali merengkuh dengan dekapan hangat.

__ADS_1


" Kita akan segera menikah.... dan tidak akan ada lagi yang bisa mengusikmu. Mereka !!! .... jika berani ..... akan berhadapan dengan ku ".


Ardelia, gadis yang sangat santun, lembut dan sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Tidak mungkin membuang begitu saja semua benteng norma yang sudah dipegang teguh selama ini, lalu dengan sadar menyerahkan diri tanpa ada rasa sungkan bahkan terkesan begitu memaksa. Pasti ada sesuatu yang membuat gadis ini begitu putus asa, hingga ia terlihat seperti orang yang berniat bunuh diri.


Dan Raka, ia menyadari semua hal ini. Hati kecilnya bisa menuntut otaknya bekerja dengan cepat dan berpikir logis. Tapi tidak demikian dengan inti tubuhnya. Tanpa rasa sungkan, seolah tidak memahami isi hati sang tuan, senjata pamungkas itu terbangun dan tegak menantang malam. Seperti menyerukan keberadaan dan keperkasaannya.


Raka yang masih memeluk tubuh rapuh berbalut jubah mandi yang lembut itupun mengetatkan rahangnya. Damn !! ... tidak tau' diri !!! ... jangan disaat seperti ini, please '. Ia pun mengumpat dan memohon secara bersamaan pada sisi kelam dirinya. Namun wangi gadis ini benar-benar memabukkan.


" Sudahlah .... kita istirahat saja ya ", bisiknya perlahan.


Sebuah gerakan yang lembut namun penuh keperkasaan, membuat tubuh Ardelia terayun pasti dan kini berada dalam pondongan Raka. Pria yang kemudian membaringkannya perlahan, menyelimuti, lalu menunduk mengecup keningnya ... begitu lama.


" Aku akan tidur di sofa .... ", dan Raka pun berbalik, melangkah meninggalkan Ardelia.


" Tetaplah bersamaku ... aku mohon ", terdengar seperti rintihan yang menyedihkan. " Raka.... ".


Genggaman jemari itu begitu erat dipergelangan tangannya. Gadis rapuh yang putus asa, dengan kesedihannya .... tidak tahukah engkau, jika kau saat ini sedang mendorong dirimu sendiri ke mulut bahaya yang begitu besar ?.


" Kau keberatan ? ".


Raka terdiam sesaat, menghela nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia memberikan senyum terlembutya sambil kembali berbalik arah. Kembali menyentuh wajah ayu gadis itu, yang perlahan menggeser badannya dan memberikan ruang cukup untuk dirinya berbaring. Raka kembali tersenyum, rapi hatinya terasa teriris oleh ironis.


" Disini ? ".


" Aku yang memohon padamu ... ".


Seperti anak kucing yang mengharapkan bulu-bulunya dielus, begitulah sosok Ardelia tercitrakan di benak Raka. Tak menunggu gadis itu meminta ulang, Raka pun lalu ikut berbaring perlahan.


Ini adalah pertama kalinya mereka berada di satu ranjang. Saling memiringkan badan berhadapan dan menatap dalam gemuruh perasaan masing-masing.


Raka kembali menyusuri garis lembut landscape yang menawan, pahatan tercantik dihadapannya. Jemarinya membelai kening, hidung, dagu dan kemudian bibir Ardelia. Begitu alami tanpa sapuan apapun, tapi sangat memabukkan ketika mencecapnya. Rasa manis dan lembut yang membuat Raka sangat ketagihan.


" Kenapa kau tidak mau melakukannya dengan ku ? ".


" Ardelia ....kau..kau sangat menginginkannya ? ". Raka seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.


Bodoh !!!!!. Pada akhirnya, Raka kembali mengumpat pada dirinya sendiri.


" Setidaknya ... ", dan wajah Ardelia pun seperti lembayung senja tersapu mendung. " ... biarkan aku melakukanya.... yang pertama.... dengan orang yang ... ku cinta ".


Raka terpaku dan mengeras, tubuhnya tiba-tiba membeku. Jemarinya terhenti di pipi yang lembut itu.


' Kenapa pernyataan cinta mu harus seperti ini ?, seperti tidak akan ada hari esok untuk mu '. Tapi Raka memilih tak menyuarakannya.


Ia bergeser mendekat, menyelipkan lengan kekarnya dan menarik tubuh Ardelia merapat. Kembali lava dalam dirinya bergelora dan menggelegak, separuh jiwanya bergelut hebat. Dan dibawah sana, inti tubuhnya yang tadi belum sepenuhnya terlelap, kini kembali menerima tantangan dengan begitu jumawa.


" Kau pasti bisa merasakannya..... ", Raka merapatkan sisi bawahnya pada gadis yang terdiri meringkuk ini. " Aku juga sangat menginginkan mu ....".


Raka menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Kemudian mencium ubun-ubun Ardelia dengan luapan kasih sayang. Menutupi semua gejolak prianya dengan sebuah janji dalam hati, aku akan selalu menjagamu sampai akhir.


" Tidurlah ... cerita kan semuanya besok ". Dan sekali lagi Raka menciumi helaian rambut itu dengan sangat lembut. " Terimakasih ... telah mau mencintai ku ..... Love you so much ".


Inilah pertama kalinya Raka mampu menahan diri, dengan sebuah iming-iming yang luar biasa. Ia pun tak yakin dengan yang baru saja terjadi. Di hadapan Ardelia, ia bisa berubah menjadi pria baik dan bermoral luhur. Raka tersenyum sendiri sambil tetap menatap gadis yang baru saja terlelap berbantal lengannya itu. Bukankah ini wajah tercantik yang pernah dilihatnya?. Bukankah hanya wanita ini satu-satunya yang diijinkan terlelap berbantal lengannya ?. Karena Ardelia itu istimewa, karena gadis ini adalah calon ratu di hatinya.


' Apa yang sedang kau alami ?. Hingga senekat ini ?. Jika itu karena keluarga brengsekmu itu.... tidak akan kumaafkan mereka. Ya... pasti... pasti karena mereka ... '.


Perlahan Raka menarik lengannya dan memposisikan kepala Ardelia dengan nyaman. Tapi gadis itu bergerak, terlihat sedikit resah dalam tidurnya. Raka segera menciumi helaian rambut hitam itu sambil membetulkan selimut ditubuh gadis itu. Ia hanya akan duduk bersandar dan mengambil telepon selularnya saja. Ternyata gerakan sedikit menjauhnya itu bisa membuat Ardelia merasa seperti kehilangan kenyamanan.


Wuaaaah.... tiba-tiba saja Raka merasa begitu tersanjung, ia merasa menjadi seseorang yang paling dibutuhkan saat ini. Tak urung hal ini membuatnya menjadi tersenyum simpul dan sedikit tersipu malu. Seperti seorang remaja yang baru saja mengenal cinta. Tapi kalau dipikir-pikir, ini memang cinta terindah yang baru dikenalnya.

__ADS_1


Tetap dengan melingkarkan satu lengannya melingkupi kepala dan bahu Ardelia, iapun mulai membuka layar ponselnya dengan satu tangan. Dengan kerepotan mulai mengetikkan huruf demi huruf. Meminta pertolongan satu orang diseberang sana. Dengan harap-harap cemas, karena malam yang telah sangat larut bahkan telah melewatkan dini hari.


.


Wajah tampannya menjadi semakin mengeras dan terayun oleh rasa cemas, hingga akhirnya dua notifikasi pesan masuk yang kemudian segera dibaca mampu mengubah keadaan. Raka tersenyum, kelegaan jelas terpancar di wajahnya. Seiring dengan kantuk yang kini beralih menguasai dirinya.


Raka berbaring perlahan dan menarik kembali Ardelia dalam dekapannya. Senyuman tipis membayangi wajahnya, nyaman dan lega. Hembusan nafas Raja kini mulai teratur dan selaras seirama dengan hembusan nafas Ardelia. Terlelap damai dalam senyap, melepaskan segala penat itu sesaat. Setidaknya memulihkan lagi kekuatan untuk berjuang menggapai asa.


.....................


" Calon adik ipar mau pulang .... dia sekarang dalam masalah besar ".


Namu mengerjapkan mata dan mendapati seraut wajah yang kini tak jauh berada diatasnya. Masih dengn kebingungan yang bergelayut dan separuh nyawa yang belum genap kembali karena kantuk, Namu terlihat kebingungan.


" Apa sih... ini jam berapa ? ", ia bersungut-sungut dan mendorong wajah Haidar. " Nggak bisa besok aja apa ngeganggunya ..... ".


" Hei... ini sepupu kita yang juga calon adik iparmu butuh bantuan ... urgent !!!!. Aku udah nyariin tiket buat dua orang besok. Gantian kakak yang nyari informasi ini.... kalau perlu mba Cinta bangunin juga ... minta untuk membantu ".


" Haduuuuh.....apaan sih bocah itu? ".


" Hamilin anak orang !!!! ".


" Hah ?!!!! ". Namu terlonjak dari tidurnya, tergesa bangun hingga nyaris menubruk kepala Haidar yang tepat dihadapannya.


" Akhirnya .... terjadi juga. Terus ? ... harus bagaimana ?.... ya harus bertanggung jawablah dia ".


" Sudah melek .... nih baca ", Haidar menyodorkan layar ponselnya. " Yang terakhir aja ... ".


" Hih !!! ... apaan sih ". Tapi merebut benda persegi dan pipih itu.


Kening pemuda berkulit seputih lobak itupun berkerut-kerut. Mengusap layar itu dan membuatnya bisa membaca seluruh isi percakapan Haidar dengan Raka.


" Haaaiiiisss !!!! .....nggak ada yang dihamili kok. Cuma butuh informasi orang-orang ini saja. Ganggu tidur orang saja ... ".


Namu melempar ponsel itu ke dada Haidar dan bermaksud segera berbaring kembali. Tapi tangan kekar Haidar menarik dan menahan lengan Namu, hingga ia kembali terduduk. Wajah serius adiknya menegaskan kalau yang sedang dihadapi Raka adalah hal yang sangat serius.


" Ini hanya soal waktu. Kelak akan tiba giliran kita yang membutuhkan bantuan seperti ini. Ayo !!!!.... siapa tahu ini juga jalan untuk mu dan mba Cinta ".


" Baiklaaaah..... kita mulai darimana ??? ". Dan Namu pun benar-benar segera terbangun dan berkonsentrasi penuh.


Pemandangan yang indah bukan ?. Dua orang pria yang berdiskusi dengan serius untuk membantu memecahkan permasalahan-permasalahan saudaranya. Bukankah sudah seharusnya seperti itu ?. Karena tidak ada manusia yang bisa berdiri sendiri, dan dukungan saudara mu pasti sangat berarti.


...💜💜💜💜💜💜...


Author Corner .....


Sebel ya sama othor yang satu ini ?? 🙏🙏🙏😂😂😂 maafin ya.


Semoga kita semua senantiasa sehat dan terlindungi dari segala marabahaya.


Bagi yg sedang isolasi mandiri di rumah... tetep semangat ya.


Bagi yang sedang isolasi dengan rawat inap .... Jangan menyerah dan tetap berdoa.


Buat temen-temen seperjuangan ..... optimis!!!! & selalu niatkan jihad. Allah Tuhan Yang Maha Esa.... insyaallah bersama kita.


Dear Readers ..... terimakasih banyaaaaak atas cinta dan support nya. Jangan bosen ya.....


Mohon maaf juga, nggak bisa rutin upload.

__ADS_1


__ADS_2