
" Halo, tumben nelpon ", sahut suara diseberang sana. " Baru pulang lo'? ".
Raka mengkacau rambut tebalnya, tak segera menjawab rentetan pertanyaan Haidar di seberang benua sana.
" Hei !, ngapain nelpon kalo cuma nyuruh gue buat dengerin elo' bernafas dodol..... ".
" He he he ", Raka terkekeh. " Galak amat si boss, nyaingin yang lagi hectic mau kawin ".
" Buruan ada apa'an?. Banyak PR nih... ".
" Idiiiih... sok 'abe'ge . Elo pulang 'kan kawinan gue? ", akhirnya Raka bertanya serius.
" Insyaallah, makanya kerja keras bagai kuda nih. Demi apa coba?, demi dikau saudara dodol... ".
" Halaaaah.... paling juga demi rindumu pada adinda tow? ".
" Itu ngerti, trus? nelpon ini ngapain? beneran cuma mau tanya itu? ", cecar Haidar lagi.
" Nggak boleh ya telpon sodara tercinta ", terdengar memelas semu khas tengilnya Raka.
" Masalahnya, elo telpon pass banget gue mau' meeting.... nego harga, proyek gede ".
" Oh... ", Raka terlongo sesaat. " Ya maap sodara boss. Lanjut deh.... ntar-ntar lah gantian ya yang nelpon ".
" Yakin nih?, nggak ada yang urgent? ", tegas Haidar dari seberang sana.
" Ehm.... ada siiih ".
" Apaan?, buruan ngomong ".
" Jangan lupa kado buat kawinan gue.... ha.. ha... ha... ".
Dan dengan sepihak, Raka pun segera menutup telponnya. Masih dengan sisa tawa yang terkekeh perlahan. Tapi kemudian berubah menjadi helaan nafas panjang.
" Andai kau tahu yang sedang terjadi dengan mama mu. Aku sebenernya ingin bilang, telpon dia... ", gumam Raka seraya masuk ke dalam rumah.
Sore itu baru mulai beranjak senja ketika ia masuk ke dalam kamar. Melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan yang empuk dan nyaman. Berharap bisa menghilangkan rasa penat yang melekat sedari siang tadi.
" Hal seperti ini, dulu sering terjadi. Yang terakhir saat hamil Rana ". Raka terngiang apa yang disampaikan tante Orlin saat mereka menuju tempat parkir tadi.
" Tapi semua nya memang tidak terbukti. Mereka hanya pernah dekat, namun sepihak. Karena Om mu .... bahkan sudah benar-benar lupa dengan mereka. Kebanyakan mantan model, artis yang mulai meredup, tapi ada juga yang putri pengusaha terkenal ".
" Begitu ya, terus tante bagaimana menghadapi nya? ", tanya Raka saat itu dengan raut muka yang benar-benar bingung.
__ADS_1
" Ya.... biarin aja, lah wong Om mu aja juga cuek. Lagian, mereka semua mainnya di Medsos. Tidak seperti yang sekarang... ".
Saat itulah Raka dengan jelas melihat guratan kesedihan dan kekhawatiran. Jelas ini bukan sesuatu yang dapat diabaikan begitu saja.
" Dia baru datang setelah tiga puluh tahun berlalu. Seandainya dia sama dengan semua perempuan yang selalu mengejar-ngejar mas Mandala.... ", tante Orlin menjeda begitu lama, namun Raka sama sekali tidak berani menuturkan tanya. Ia hanya diam menunggu.
" Sinar mata itu jelas penuh rasa bersalah, rasa sedih yang jujur. Dengan sangat berat hati dan penuh penyesalan menceritakan sebuah kesalahan, yang akibatnya di rasakan sendiri. Padahal semestinya. om mu itu juga harus ikut menanggungnya ". Tante Orlin nya yang selalu penuh dengan aura kecantikan menawan, kini terlihat sedikit muram. Seperti berusaha sekuat tenaga mengumpulkan kosa kata dan merangkainya, seolah sedang menciptakan kunci untuk membuka rasa sesak yang mampat di hatinya.
" Gadis kecil itu, cucu tersayangnya, aku melihat senyuman dan garis wajah Kirana kecil disana. Dan hati nuraniku mengatakan tidak ada lagi yang perlu diragukan. Tapi kita harus realistis dengan semua bukti yang yang harus teryakini. Kau pasti paham bagaiman om mu ..... walaupun ini sedikit menyiksaku ".
Namun tidak demikian dengan apa yang dilihat oleh Raka. Tante Orlin itu tidak hanya sedikit tersiksa, tapi sangat tersiksa.
" Tante, bagaiman kalau mama .... kuberitahu, atau tante sedikit membaginya dengan mama ", Raka menyampaikan dengan perlahan dan sangat hati-hati.
" Raka... kau pasti tahu akan meledak seperti apa mama itu ?. Biarkan saja, tante masih sanggup kok menahannya ". Wanita itu tersenyum tipis.
" Kalau tante Hayu ? ", Raka masih mencoba memberi saran. "Ma-maaf tante .... bukannya Raka nggak mau membantu menyimpannya untuk tante. Tapi .... Raka masih sangat cetek'pengalaman hati..... jadi .... ".
" Tante paham kok apa maksudmu ", Orlin menyela cepat. " Karena Raka sayang sama tante, karena Raka nggak mau lihat tante menderita menangungnya seorang sendiri 'kan ? ".
Raka mengangguk cepat, sama persis sepertu dua puluh tahun yang lalu. Setiap kali ia terpergok sedang menangis sedih karena bertengkar dengan kakaknya, atau ketika kalah berebut mainan dengan saudara-saudara sepupunya, atau sehabis kena marah sang mama. Tatapan lembut wanita itu selaliu bisa membuatnya menurut.
" Raka harus tahu juga, bahwa ada saat dimana seorang wanita lebih memilih diam dan menahan segala sesuatunya sendiri. Bukan karena dia kuat, bukan karena dia takut, tapi karena ia sedang menunggu saat yang tepat. Dan ini pelajaran berharga buat Raka, besok saat istrimu mengatakan bahwa dia baik-baik saja, sejujurnya saat itu dia sedang sangat butuh pelukanmu ".
" Halo, kak Namu ... kau sudah pulang ? ".
" Belum, mau lembur rencananya. Kenapa ".
" Beri aku private time ... tiga puluh menit saja. Penting ".
" Kapan ? "
" Satu jam dari sekarang ". Dan Raka menutup telepon itu tanpa menunggu reaksi atau apapun dari Namu.
'Maaf tante... kau sedang sangat tidak baik-baik saja sekarang'. Bisiknya hatinya sebagia pembenaran atas ingkar janji yang dibuat seorang Raka.
.................................................
Dua orang pria itu saling diam membisu, saling menahan tatapan untuk beberapa saat. Kejadian ini bermula saat Raka menyampaikan sekelumit cerita, yang pada awalnya hanya membuat Namu sedikit mengangkat kepala untuk kemudian kembali menenggelamkannya pada aliran data di layar laptopnya.
" Basi !!... trik lama itu ", kilahnya beberapa saat lalu.
" Kak... wanita itu... datang jauh-jauh dari Sinjepur. Dan sekarang ada di rumah sakit kita. Atas inisiatif mama mu ".
__ADS_1
Hingga akhirnya Namu kembali mengangkat wajahnya, menatap lekat pada adik sepupu yang menusuk menatapnya. Seolah berseru, serius bang... gue gak boóng.
" Tante Orlin, saat ini .... sedang tidak baik-baik saja ". Raka sengaja membuat penekanan pada kata 'tidak sedang baik-baik saja'. Cukup jitu untuk menyita seluruh perhatian Namu, yang kini menegakan duduknya dan menatap tajam padanya.
" Berapa lama lagi hasilnya akan keluar ? ", yang dimaksud Namu tentu adalah hasil Test DNA.
" Untuk hasil test ayah dan anak paling lama lima hari, tapi ini sudah melompat satu generasi lagi...... bisa sepuluh hari atau dua minggu ... itu paling cepat, pake koneksi sultan dan biaya tinggi".
Namu menautkan jari jemarinya di depan dada, mengernyitkan kening, menandakan dia sedang berfikir keras.
"Tidak biasakah kau percepat tugasnya Haidar ? ", tanya Raka lagi. Namun Namu hanya kembali menghela nafas panjang.
"Please ..... tante Orlin, saat ini .... sangat sedang tidak baik-baik saja. Beliau butuh keberadaan kalian ... ".
" Oke ... oke ... wait !!! . Siapa saja yang sudah tahu ? ", sergah Namu cepat.
" Baru kau dan aku. Tapi kakak harus ingat ... sebenarnya aku sudah ingkar janji sama tante Lin. Harusnya aku merahasiakan ini dari siapapun, hingga ..... ".
"Hasil testnya keluar, begitu. Sekarang sudah tidak penting lagi ". Tanpa menunggu sahutan Raka, Namu segera mendial sebuah nomor dan bisa dipastikan itu nomor Haidar.
" Assalamuálaikum .... hemm, to the point aja. Progres sampai dimana ? ", terdengar sangat dingin. Bahkan Raka saja bergidik mendengarnya. Sangat mirip dengan om Mandala ketika sedang bekerja dan menghadapi masalah yang cukup pelik. Bahkan gaya Namu mengangkat alis dan menarik sudut bibirnya pun nyaris sama dengan Mandala sang papa.
Raka tidak tahu apa yang disampaikan Haidar dari seberang sana, ia hanya dapat melihat Namu mengerutkan kening beberapa kali. Ha'.. hem.. ha..hem... sambil manggut-manggut beberapa kali. Tapi ia yakin, di seberang sana pasti Haidar bicara panjang lebar namun dengan bahasan yang terstruktur rapi, seperti biasanya.
" Fix nih, nikahan Raka bisa pulang ?. Jangan mepet-mepet.... satu minggu lagi ? ..... oke deal ... satu minggu lagi ".
Raka masih terpana dengan negosiasi yang hanya terdengar sepihak serasa memaksa, tapi tetap membuahkan hasil sempurna. Terbukti dengan senyuman puas yang terukir di bibir Namu.
" Sudah beres ?. Sekarang .... bagaiamana harus mengatakannya pada Haidar ? ".
" Jelas itu bagianmu Rakadipa ".
" Wah, nggak bisa dong. Nggak bisa kalau aku yang harus ngomong sendirian ..... makin banyak dosa aku ".
Namu mengernyitkan kening, mendekat pada Raka meski keberadaan mereka terhalang oleh sebuah meja.
" Ya dosa ... karena mengkhianati kepercayaan tante Lin dong ".
" Oke ... aku yang ngomong, tapi saksi kunci dan pelaku tetep élo ".
"Ya elaaah .... serasa jadi kriminil gini malahan ".
*****************
__ADS_1