PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Cinta Itu ....... (6)


__ADS_3

Melemparkan diri keatas kasur yang empuk dan nyaman, memandangi langit-langit kamar yang teduh temaram. Terdiam dengan tenang, menarik nafas dan menghembuskannya secara teratur, menjaga detak jantungnya tetap dalam irama paling tenang. Tapi hatinya bergemuruh dengan perasaan yang tidak dia mengerti sama sekali.


" Ini yang lain ... ta.. da... kali ini mawarnya juga berjumlah enam ". Celia menggoyangkan bouquet mawar merah itu sambil tersenyum-senyum.


Tidak seperti tiga  hari yang lalu, gadis itu nampak kebingungan saat ada kiriman bunga yang di tujukan untuk alamat ini tapi dengan nama penerima Nona Hanin Hanania. Bagaimana bisa tahu kalau kakak cantik itu menginap disini ?. Mana nggak ada asal pengirimnya, dari siapa sih sebenarnya. Tapi orang itu jelas sangat romantis.


" Om ku itu pasti sudah tergila-gila sama kakak  ". Akhirnya remaja itu pun paham dari mana asal semua bunga bunga cantik itu. Gara-gara video call paling romantis tadi pagi. Celia kini tahu jika om gantengnya sudah jatuh cinta dan sedang mengejar-ngejar kakak cantik ini.


" Om Haidar itu nggak nakal nggak playboy kayak om Raka, itu yang tadi video call. Tapi sekarang om Raka sudah insyaf kayaknya. Kakak cantik yang ngerekam Om Haidar itu, katanya sih calon istrinya Om Raka. Kakak mau 'kan jadian sama om Haidar ? ".


Baru saja pulang dengan tubuh yang penat karena berjibunnya pelanggan di malam minggu, langsung dihantam dengan sebuah pertanyaan yang tajam menguliti hati, tentu saja membuat Hanin menjadi terengah-engah. Belum lagi dua bouqquet mawar yang kini seolah bertindak sebagai pengeras suara hati Haidar, mengumumkan pada selurug dunia tentang perasaan pria itu padanya. Huufff..... apakah karena pria itu sudah sangat cukup umur, hingga begitu berterus terangnya, eh' maksudnya sebegitu ngebetnya.  Argggghhh ... pusing. Hanin pun memilih untuk mendiamkan saja. termasuk empat bouquet mawar yang sudah diterima di flat tempat tinggalnya selama empat hari berturut-turut.


Pria itu sama sekali tidak menghubungi Hanin setelah semua kejadian mendebarkan di depan Berlin Train Station, padahal segala moment penuh kelmbutan itu masih berlanjut hingga pria itu melambaikan tangan dari dalam bis. Hanin pada akhirnya dengan sangat terpaksa mengantarkan Haidar ke terminal bus antar negara bagian, bahkan ia pun ikut menemani hingga pria itu sudah benar-benar pergi di bawa oleh kendaraan besar lintas negara bagian.


" Aku bisa menciumu sekali lagi, sekarang, ditempat ini ... jika kamu menolak mengantar ku ". Ancaman itu jelas tidak main-main, karena sepasang mata elang pemuda itu menikam jantung pertahanannnya.


Malam harinya, Hanin tidak bisa tidur dengan nyenyak, Ia diliputi perasaan berdebar, bahkan hidungnya dengan tidak tahu diri terus saja meminta seluruh neuoron mengirim citra wangi yang lembut namun sangat maskulin itu ke otaknya. Sepasang lengannya pun seolah mempunyai pikiran sendiri, mereka meremang, seolah sedang tersiksa karena kecanduan rasa hangat yang tadi sempat membuat mabuk itu. Memalukan !!!!!!! dan Hanin pun mengumpat pada dirinya sendiri.


Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, ia berbaring dengan gelisah. Meraih telepon genggamnya, membuka ulasan chat dengan pria itu. Masih seperti malam-malam sebelumnya .....pria itu seperti membisu, tidak berkirim pesan sedikit pun. Huuufff.... dan ia menjadi semakin gelisah.


" Satu bulan Na', kau akan tahu betapa aku sangat mencintai mu. Satu bulan ... ".


Saat itu ia kembali terdiam seperti sebelumnya. Tidak bisa berpaling dari tatapan terlembut yang membelenggu nalarnya. Ketika Haidar menggenggam dengan mesra jemari-jemarinya yang mulai berkeringat gelisah.  Apakah karena ia diam saja saat itu, hingga Haidar kini berbalik mendiamkannya,


Eh, tunggu 'Na .... mendiamkanmu, dia mendiamkanmu ?. Lalu bunga-bunga mawar yang cantik, indah, segar dan pastinya mahal itu kau anggap apa ?. 


Haidar tidak sedang mendiamkanmu, tidak !!!!. Ia bahkan sudah mengambil langkah yang sangat jelas dan tegas. Kau ... sudah pasti telah diperkenalkan pada seluruh anggota keluarganya. Eh .. maksudnya, dia sudah bercerita banyak tentangmu pada keluarganya yang sudah sejak lama mengenalmu. Dan lihat, mereka semua sangat wellcome. Padahal mereka tahu kau ini siapa .


" Sekolah yang pinter ya sayang ... buat ayah dan ibumu bangga ". Bu Orlin yang selalu membelai kepalanya dengan lembut, bahkan tak segan mencium keningnya.


" Ayah mu itu ... orang yang sangat bertanggung jawab dan setia. Beliau salah satu orang yang paling ku hormati. Dan bisa ikut serta mebesarkanmu, tentu saja membuat kami sangat tersanjung. Ingat ya Hanin ... jangan pernah merasa rendah diri, kau putri seseorang yang sangat baik ". Pak Mandala yang terkenal dingin dan sangat serius itu bahkan begitu sering memberi semangat padanya.


Mereka memang orang-orang baik yang juga berbudi luhur, tentu saja menurun pada putra-putrinya. Tapi seorang Hanin Hanania ........ apakah akan pantas bersanding dengan sang putra mahkota ?. Com'on Hanin ... realistislah.


" Kau yakin dengan pilihan mu Dave ?. Tidakkah kau harus lebih membuka mata lebih lebar lagi ?. Ingat yang sudah terjadi pada papa mu ini ". 


" Aku mengenal Hanin, aku yakin dia tidak seperti yang kau khawatirkan 'Dad. Beri aku kesempatan  "


" Dave, dia hanya gadis sederhana yang butuh materi dan semua nama besar mu ".


Begitulah tuan Bharata sang cheff maestro meragukannya. Kau belum lupa dengan semua itu 'kan, Hanin ? .


Walaupun saat David membelanya, tapi semua berubah begitu pria itu kembali lagi ke Jerman. Entah karena khilaf atau karena telah keracunan oleh tipu daya setan yang paling menyesatkan. Yang jelas, ia teah kehilangan David-nya yang dulu begitu lembut dan perhatian itu.


Hanin telah mendengar tentang slentingan dan juga desas-desus keanehan hubungan David dengan Garret. Tapi ia tetap abai, karena ia begitu yakin dengan pria yang sudah hampir empat tahun ini bersikukuh mempertahankan hubungan hati, bahkan memperjuangkannya. Tapi Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang itu tak pernah rela dia tersakiti lebih dalam. Jika kemudian dia melihat sendiri kenyataan yang pahit itu, pasti karena ada rencana indah yang terhampar di hadapannya.


" Wanita itu ... mereka hanya mencintai diri mereka sendiri. Jangan pernah tertipu dengan kelembutan semu mereka honey ... ".


" Tapi aku menyayanginya, dia juga menyayangiku sepenuh hati, Garret ".

__ADS_1


" Tidak ada cinta sejati yang lebih tulus dari cintaku padamu "


*.*Lalu Hanin menyaksikan pemandangan paling menjijikan yang kemudian meruntuhkan dunianya. Perbuatan dua orang insan sesama jenis yang membuat ia menahan air mata dan  di dera juga rasa mual tak tertahan. Seorang Dave pada akhirnya mampu membuat luka yang menganga dan sangat dalam. Dengan segala kelembutan\, serta kasih sayang yang sebelumnya tak pernah beralih dari pria itu. Apakah itu sebuah khilaf ?\, atau memang karena seorang Dave telah sangat disakiti oleh sesuatu. Atau mungkin …. Karena tipu daya Garret yang sangat sempurna. Tapi sekarang ia mengerti\, justru saat itu adalah saat dimana tuhan sedang menunjukan sebuah kenyataan. tuhan sedang menyelamatkan hidupnya.


Lalu bagaimana dengan Haidar ?. Pria itu sangat sempurna dengan postur tinggi besaryang selaras dengan sikap hangatnya. Bukankan ia seorang yang sangat tampan dan luar biasa cerdas, dari keluarga kaya dan terpandang pula. Sangat aneh ketika seorang pria dengan sembilan puluh delapan persen kesempurnaan itu  justru mengakui jika hanya mencintainnya selama ini.


“ Aku suka melihatmu yang tertawa ceria saat mengunjungi ibumu , tepatnya menganggunya “. Haidar menerawang dan akhirnya tertawa kecil. “ Kau manis sekali saat tertawa dan aku selalu jatuh hati setiap melihatnya. Aku sangat iri dengan tawamu pada awalnya. Tapi, entah sejak kapan? tawa itu berubah menjadi penyemangatku yang saat itu sedang dalam perjuangan untuk tetap .... waras. Setidaknya untuk tidak menjadi gila dengan semua beban yang kusandang ".


Benarkah ?, betapa inginnya Nania untuk ingkar pada rasa bahagia yang riba-tiba saja meletik seperti pijar kembang api. Namun kenyataaanya, ia justru semakin memasang telinga, bahkan menunggu dengan dada berdebar kelanjutan dari setiap kalimat itu. Haidar yang berjalan perlahan di sampingnya nampak berkali-kali menoleh padanya untuk sekedar tersenyum. Walaupun dengan sengaja tidak menoleh, tetap berjalan dengan wajah menatap lurus ke depan. Walaupun sebenarnya saat itu  diri begitu ingin membalas tatapan pria ini.


Memilih berjalan kaki ke Bus Station siang itu, menjadi pilihan tepat. Karena memang tidak berjarak teralu jauh, dan cuaca yang mendukung saat itu. Pertengahan musim gugur yang mulai mengahantarkan dingin, Dengan berjalan kaki beberapa belas menit, lumayan untuk mengahangatkan tubuh dan juga membuat cukup waktu untuk mengurai sebuah cerita.


“ Bahkan aku sudah menyukaimu sejak kau masih bayi. Kata mama ku sih .. ha..ha..ha.. tapi sepertinya memang begitu “. Tawa renyah itu terasa menyenangkan didengar. Haidar begitu bersemangat membuka semua tabir masa lalu, dan ia hanya terdiam serta menunduk saja, tidak tahu harus menanggapi bagaimana.


“ Aku … sempat kehilangan harapan dan memilih untuk menyerah saja, karena tahu kau sudah berasama pilihan hatimu. Bahkan bu Firman, memintaku menyampaikan pesan bahwa beliau telah merestui mu. Kau pasti mengerti maksudnya ‘kan ? “.


‘’Mas … “, Ia pun menghentikan langkah yang juga memaksa Haidar juga berhenti. “….itu pesan dari ibuku ?, dan kau baru mengatakannya sekarang ? “. Tapi wajah tampan yang menatapnya penuh penyesalan itu pada akhirnya membuat kesadarn dihatinya meretas nalar. “ Tapi mungkin .. memang seharusnya mas tidak menyampaikan pesan itu. Terima kasih .. “.


“ Satu bulan Nania…. Satu bulan saja, kau akan bisa menerima cintaku “.


Dan untuk kedua kalinya ia kembali merasakan pelukan hangat itu, meningkahi angin musim gugur yang membelai dingin. Dan dengan tidak tahu malaunya, ia berharap kembali mencecap rasa manis yang sampai saat itu masih tertinggal di kedua belah bibirnya. Untung saja seluruh ototnya seperti dibekukan oleh susu saat itu. Jika tidak, pasti ia sudah dengan tidak tahu membelai si pemilik bibir penuh yang akan sangat mempesona jika menggariskan senyuman itu.


Hanin Hanania, ia menutup wajahnya dengan bantal. Tiba-tiba saja ia merasa sangat malu dengan ingatan terakhirnya. Kenapa seluruh perdebatan panjang di hatinya tadi justru di akhiri dengan ingatan tentang sebuah keinginan memalukan itu.


“Arggghhhhh … “, dan Hanin pun berteriak sambil tetap membekap dirinya sendiri dengan bantal.


Malam merayap perlahan dengan mendesaukan angin dingin di luar sana. Kamar ini begitu nyaman dan hangat, tapi ia tetap bergerak dengan sangat gelisah. Dan jauh di lorong-lorong hatinya, sama seperti di luar sana .... terasa dingin.


Lalu ia meraih telepon genggamnya kembali, membelai sebuah nama yang tertera pada daftar kontak. Hanin tersenyum kecil, saat menyentuh deretan huruf itu perlahan. Mas Haid .... ia menamai seperti itu. Seperti yang selalu di sebutkan bu Arya. Ah ... kenapa ia sekarang merasa tiba-tiba ... rindu.


Ya Tuhan .... apa ini ? rindu ?. Yang benar saja Nania ..... kau pasti terlalu lelah.


" Halo ... halo ... ".


Apa ini ?, kau menelponnya?.  Ah tidak, pasti tidak sengaja ia menekan 'dial'. Tapi harus bagaimana ini ?.


" Halo Nania ? ". Suara yang berat namun nyaman di indra dengarnya itu terdengar kembali.


" Ha -halo mas... maaf kepencet. Maaf ya .. ". Dan dengan gugup ia pun segera menutup kembali panggilan itu.


Kepencet, apa itu tadi Hanin ?. Memalukan !!!, dan ia pun melayangkan sumaph serapah pada dirinya sendiri.


Aku hanya sangat takut,


Jika nanti kembali terluka dan terperosok begitu dalam


Karena aku tidak tahu,


Apakah aku mampu untuk bangkit kembali

__ADS_1


Jika semua itu terjadi padaku lagi


Rasa sakit ini,


Aku bisa menahannya


Luka yang menganga itu,


Masih bisa tersembuhkan …. Perlahan


Tapi untuk bangkit lagi,


Aku tidak yakin dengan kekuatanku


Untuk kembali tegar berdiri,


Apakah kedua kaki ini mampu kokoh berpijak


Aku hanya sangat takut,


Jika kau …..hanya singgah saja


............................................


Dan di belahan dunia sana, seorang pria muda yang kini telah sepenuhnya terjaga, sedang terduduk dengan raut wajah yang sangat bahagia. Walaupun di sepertiga malam terakhir ini ia harus terbangun, terjaga dengan paksa karena sebuah deringan panggilan. Walaupun yang ia dengar hanya sebuah permintaan maaf atas ketidaksengajaan 'dial' itu. Tapi itu sudah sangat membahagiakannya.


' Ini belum satu minggu Na', tapi jari-jemarimu sudah mulai menuntun hatimu'. Sorak Haidar penuh gempita dari dalam hatinya.


Ia memang bukan sang perayu ulung, juga bukan pemain lama. Jika berurusan denganseorang wanita.... nol besar, tentu saja demikian skornya. Tapi ia sangat yakin dengan metode yang ditempuhnya kini. Tidak menelpon atau pun berkirim pesan sama sekali, hanya mengirimkan bouquet mawar cantik saja.


Haidar kembali tersenyum, menatap langit-langit kamar yang kini menampakan seraut wajah jelita. Nania-nya tersenyum begitu manis seperti biasanya.


' Hai ..Nania, apakah kau sudah mulai merindukan ku ?. Aku sebenarnya sangat berat melakukan ini. Demi satu bulan perjuangan cintaku padamu. Semoga engaku segera menemukan keyakinan  mu padaku. Keyakinan akan tulusnya perasaan cinta ini. Jerman pasti sedang dingin ya Nania ?. kau pulang dengan selamat dan sehatkan ?.  Jangan sampai sakit ya cantik .... aku akan segaera kembali menemuimu, dengan sebuah hadiah yang pasti akan membuatmu tertawa lebar. Tunggu aku putri anggrek bulan tercantik ku '


 


Pria itupun memeluk rindu dengan lembutnya


Menitipkan salam cinta pada rotasi bumi


Melayang diantara lapiasan atmosfer yang menyelimuti


Mencari celah agar bisa melihat pencuri hatinya


Pria itupun melawan putaran waktu


Berputar beralik arah dan menyentuh perlahan


Mengingat kembali seluruh wangi yang dicurinya 

__ADS_1


Memeluk kembali kelembutan yang melenakannya


Pria ... yang sedang jatuh cinta 


__ADS_2