
Jika sebelumnya Haidar melangkah dengan ringan dan kecepatan yang terasa hampir menyamai kecepatan cahaya, kini ia kembali dengan membawa beban yang terasa begitu menyendat langkah. Bahkan bibirnya tarkatup, terkunci rapat, sebaris senyuman yang biasanya tidak lepas tersungging.... kini seperti lenyap tertelan kabut kelam yang menggelayuti wajahnya.
" Tidak ada ibu yang tidak menginginkan kebahagiaan anak-anaknya. Tapi terkadang seorang ibu punya instingnya tersendiri... yang ternyata justru melukai sang anak. Nania .... dia berubah menjadi seorang gadis berwatak keras, terutama di akhir masa Sekolah Kejuruan menengahnya.... bahkan mulai menjauh dariku dan juga kakaknya. Lalu memutuskan untuk mengikuti program magang. Dia cerdas dan berbakat, hingga bisa mendapatkan beasiswa. Tapi ibu baru mengerti .... ada hal lain yang dikejarnya. Seorang pemuda .... ".
Padahal sebelumnya ia telah mulai merenda mimpi, yang penuh dengan pesona seorang Hanin Hanania. Tapi rentang pintalan mimpi serupa jaring laba-laba sutra itu tiba-tiba terkoyak, lantak tak berbentuk. Saat sang ibu dari gadis itu menuturkan sebuah kenyataan.... pahit.
" Ibu ... sedikit mengenalnya, tapi entah mengapa .... hati ini tak pernah memihak. Pemuda itu terlihat sopan dan bersikap sangat baik. Tapi .... aahh... ibu tidak mengerti. Namun sekarang .... mau bagaimana lagi.... ibu berusaha mendapatkan putri ibu kembali. Dengan merestui mereka ".
Saat itu Haidar hanya mampu menatap lurus tanpa bisa berbalas kata. Dadanya sendiripun terlalu sesak.
" Mereka ... ? ".
" Tidak ... mereka tidak tinggal bersama atau kawin lari. Yang ibu tahu.... dua tahun yang lalu, keduanya sudah bekerja di tempat yang sama. Ibu hanya berharap Hanin ... masih tetap memegang teguh harga diri, cinta dan kehormatannya. Ma .. maaf ... maksud ibu
.... mereka berdua bertahun-tahun hidup di negara bebas yang .... ah ... kau tahu sendirilah nak ".
Tidak berlebihan apa yang menjadi kekhawatiran seorang ibu seperti Bu Firman pada anak gadisnya. Haidar sangat bisa memahami hal itu. Sinar mata penuh kerinduan, cinta yang dalam namun berbalut sesal dan kesedihan itu sudah lebih menceritakan segalanya.
" Kali ini ibu ... memutuskan untuk menerima semua hal itu. Asal Hanin kembali .... ".
Dan dirinya hanyalah sang pendamba di luar arena, dan ia memang sama sekali belumlah mengajukan permintaan secara resmi. Tapi dia sudah sangat penuh percaya diri, bahkan begitu congkaknya berani merenda mimpi.
Haidar yang masih melangkah tanpa ruh semangat, kini sedikit tersenyum. Namun sebuah senyum miris, menertawakan dirinya sendiri.
' Percaya diri mu serupa dengan orang-orang yang baru saja kau tinggalkan itu. Apa bedanya kau dengan mereka? bukankah sama-sama menurutkan impian sendiri dan mengabaikan bagaimana orang lain punya karsa dan rasa. Haidar...... bersyukurlah, Tuhan menyayangimu. Memberi teguran dari awal.... kau lebih beruntung, jika terjatuh tidak terperosok begitu dalam dalam angan semu mu. Kau benar-benar harus lebih bersyukur '.
Bukan Haidar Mandala Wirayuda namanya jika tak bisa langsung kembali memenangkan hatinya sendiri. Ia hanya butuh sedikit udara segar yang bersirkulasi baik, ditambah keheningan yang membantunya untuk berkonsentrasi kembali menggugah semangat, lalu ia akan kembali tersenyum seperti saat ini. Bukan lagi senyum penuh ironi.... tapi senyuman yang membelai dengan harapan... yang terjadi padamu selalu yang terbaik.
Hingga tak terasa langkah telah membawa pemuda itu tepat di depan ruang kerja sang kakak. Ia pun memutuskan membuka pintu itu perlahan, sambil masih menghirup nafas dalam-dalam. Jangan sampai wajahnya yang seperti tadi itu langsung terbaca oleh sang kakak. Jangan sampai rekornya sebagai sang pembully dan pengolok-olok direbut oleh sang kakak, cukup Raka saja yang jadi rival terberatnya.
Tapi pemandangan yang terhampar di hadapannya kini, justru membuatnya berubah menjadi arca batu.
Beberapa saat yang lalu, Namu menerima kehadiran Cinta di ruangannya, bertepatan dengan berlalunya seorang tamu wanita yang sangat membuatnya kerepotan. Ya... siapa lagi bukan Miss Yiona Oong. Hadeeeeh.... malapetaka.
Jika sebelumnya Cinta membuka pintu ruang kerjanya dengan suara ... ' brakk!!', yang cukup membuat seekor singa akan terlonjak dan menjadi mengeong. Kali ini adik tengilnya yang membuka pintu dengan sangat halus, bahkan seekor nyamuk seolah tak akan terganggu oleh suara pelannya.
Sayangnya hal itu menjadi begitu sangat menganggu. Tentu saja !!, karena ia baru saja bisa menenangkan Cinta dengan rasa cemburunya yang meledak-ledak saat mendapati Yiona tengah merangsek menggodanya. Walaupun pada akhirnya Cinta berhasil menjadi penyelamat untuk keagresifan ratu lebah itu, tapi ia dihadapkan pada amukan Cinta.
" Kau tidak bisa menolaknya dengan tegas??.. Haidar saja bisa. Atau memang sengaja ya cari keuntungan dari nona binal itu ".
Bagaimanapun amukan Cinta, seperti apapun membabi butanya wanita itu memukuli dadanya, pada akhirnya akan tenang oleh sebuah pelukan yang erat. Walaupun pada awalnya selalu penuh penolakan, tapi saat ritme detak jantung mereka telah seirama..... wanita cantik ini akan segera meleleh seperti es krim yang manis. Kedua tangan lembutnya akan menjadi sibuk mencari tempat bertumpu dan bergelayut untuk menahan tubuhnya sendiri.
Dan saat itulah ia yang akan bangkit menggelora. Namu Baskara Perkasa, akan semakin menjadi perkasa ketika Cinta telah menyentuh inti magma di dasar hatinya. Seandainya Haidar tidak muncul saat itu dengan wajah tanpa dosa yang menyorotkan sinar mata polosnya..... niscaya Namu sudah kembali mengayun Cinta dalam pagutan mesta melenakan untuk ketiga kalinya.
Haidar masih membatu dan mengerjakan kedua bola matanya dengan 'bodoh dan polos, serupa anak kucing menggemaskan. Ia bahkan masih bisa mendengarkan suara de-sahan dan cecapan lirih, yang kemudian membuatnya tersenyum dengan kikuk.
He..he..he... kena kau 'kak .
Mungkin begitu yang dipikirkan Namu, saat melihat akhirnya tersenyum salah tingkah. Tapi tidak ada tanda-tanda adik tengil itu akan segera berlalu.
Akhirnya Cinta yang menyadari kehadiran orang lain di tempat itupun segera melepaskan diri dari pelukan Namu. Menunduk dalam sambil sekilas menyeka bibirnya yang terasa panas dan menebal.
" Maaaaaa-aaaafffff..... ".
Dan Namu menggeram pelan, sementara Haidar pada akhirnya menarik dirinya kembali
" Lanjut deh..... amaaaaan bersamaku ".
Masih sempat didengar umpatan khas kakaknya.
" Sontoloyo !!!!".
Haidar terkekeh-kekeh, sambil segera berlalu menuju ke ruang kerjanya sendiri.
Romansa yang sempurna .... tapi dulu mereka berdarah-darah memperjuangkannya. Lihatlah sekarang, seisi dunia sudah menjadi tempat keduanya bercinta. Perjuangan belasan tahun dan ribuan luka serta rindu itu, kini mulai terbayar.
Jadi, untuk dirinya yang memulai saja belum..... akan sangat memalukan jika ia sudah berputus asa. Dunia ini punya berjuta kemungkinan, teori kekekalan energi ternyata bisa tertandingi oleh teori paradoks. Tapi sesungguhnya .... tak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa tersurat di Arsy sang Khalik.
Haidar tersenyum semakin lebar, dan mendekap kotak berbungkus bubble wrap itu.
__ADS_1
' Ayo .... kita awali lagi dengan senyuman ', bisiknya pada hati yang tadi sempat meringkuk resah.
..............
Memutuskan untuk menjemput sendiri istri tercintanya. Menunggu dengan sedikit berdebar, memindai satu persatu mahluk hawa yang keluar melalui pintu kedatangan. Saat sosok dan wajah yang begitu familiar itu tampak melangkah dengan anggun, mengenakan celana casual navy berpadu atasan kuning lembut.... ia tersenyum.
Masah sama seperti beberapa dasawarsa yang lalu, ketika wajah remaja cantik berkulit kuning Langsat itu menoleh kebelakang. Memberikan senyuman terindah yang kemudian menjadi poros rotasi hidupnya. Ia tetap sangat cantik dan mempesona. Wanita yang telah melahirkan dua orang anak untuknya, yang setiap hari selalu membuatnya jatuh cinta.
Arjuna tersenyum, tapi hatinya terbahak melihat kenyataan bagaimana dia begitu masih menggelegak saat menatap gemulai sosok Hana.
" Miss me ? ".
" Badly.. ".
Dan Hana pun tertawa lebar mendengar jawaban suaminya ini. Lalu kedua orang itu saling menjalin jemari mereka, melangkah dengan ringan menuju tempat parkir.
" Sudah lama ya tidak kencan berdua seperti ini ".
" Mau lanjut ? ".
" Kau tidak sibuk ? ", kali ini Hana yang setengah memekik tidak percaya.
" Ada anak-anak yang sudah mulai bisa diandalkan .... waktunya kita pacaran lagi ".
Tentu saja Hana menjadi tak bisa menahan tawanya. Tapi ia sangat senang mendengar kata-kata suaminya ini.
" Kemana ? ", tanya Hana kemudian.
" Tempat legendaris penuh romansa ".
" Heeemm... 'düşkün anılar.... masih adakah tempat itu ? ".
" Mungkin ... kita coba saja lihat kesana ".
" Apa itu tidak sedikit jauh ? ".
Dan Hana pun tertawa, tak bisa beradu bantah dengan pria tampan ini. Pria tertampan dan tersabar dalam hidupnya. Satu-satunya pria yang hanya dengan menatap kedua matanya saja, ia akan tak berdaya. Pria yang telah menjadi satu-satunya manusia tercinta tempat ia bersandar.
Sebuah cafe di kawasan kota lama, yang menawarkan suasana romantis dan syahdu. Dulu dua orang ini datang ke tempat yang mempunyai arti 'Kenangan Indah' ini saat hubungan mereka sedang menegang. Biasanya karena kesalahpahaman yang memercikkan api cemburu.
Mereka yang saat itu masih muda, baru saja punya seorang bayi cantik, datang ke tempat ini untuk bicara empat mata. Berharap dengan suasana yang berbeda, akan bisa meredam gejolak jiwa. Dan benar saja, semua kesalahpahaman itu bisa terselesaikan di sini. Sambil mendengarkan alunan lembut lagu romantis yang menyenangkan.
Sepasang mata Hana membelalak gembira saat mendapati sebuah bangunan yang kini diapit bangunan-bangunan lain dengan gaya lebih modern, tapi masih tetap terlihat anggun dan cantik.
" Hebat .... tiga puluh tahun .... tidak mengubahnya. Pastinya sudah berganti generasi kepemilikan ya ".
" Nanti kita tanya ya strategi bisnisnya ".
" Abang sayang .... kau bilang mau mengajakku pacaran loh .... ", Hana mengingatkan dan Arjuna pun tertawa.
Lalu keduanya duduk dan mulai memesan menu. Ada beberapa menu baru yang up to date mengikuti perubahan jaman. Tapi Hana dan Arjuna juga masih menemukan bermacam menu Mediterania yang legendaris. Keduanya tampak begitu bersemangat.
Pilihan kedua orang itu masih seperti dulu, Sharma, Baklava dan Kofte. Ketiganya adalah hidangan yang sangat populer di Turki dan sudah mulai menyebar ke seluruh dunia. Hana terlihat bahagia sekali, terlebih saat mendapati ada foto mereka berdua terpajang di salah satu dinding.
Deretan foto-foto yang mewakili tahun demi tahun kafe ini bertahan dari gerusan jaman. Sungguh menyenangkan sekali melihatnya. Pelayanannya juga sangat ramah, apalagi saat mengetahui bahwa pasangan yang datang kali ini adalah pelanggan mereka di dua puluh tahun yang lalu.
Manajer tempat ini secara pribadi langsung datang menghampiri begitu mendapat laporan dari anak buahnya. Dengan sangat ramah dan bersahabat menjabat tangan Hana dan Arjuna seperti saat berjumpa kembali dengan saudara jauh.
" Bapak Ibu Arjuna ... dengan segala kerendahan hati, saya minta untuk bisa foto bersama bapak dan ibu ".
Tentu saja hal itu langsung disambut penuh suka cita oleh pasangan Hana-Arjuna.
" Kita harus lebih sering kemari nih.... ajak Orlin dan Mandala juga ", kata Hana penuh semangat.
" Tentu ... anak-anak juga ".
Hana mengacungkan ibu jarinya, lalu memasukkan Sharma yang legit itu kedalam mulutnya. Mengunyah perlahan, benar-benar menikmati daging cincang yang dibungkus dengan daun anggur itu. Tapi sepasang matanya mendapati sesuatu yang berbeda dari suaminya kali ini.
" Ada yang menganggu pikiran mu sayang ? ", selidiknya.
__ADS_1
" Kau langsung tahu ya ", Arjuna terkekeh.
" Hampir tiga puluh tahun sayang, aku hidup dengan menghirup wangimu juga kentutmu ... ".
Arjuna tidak dapat menahan tawanya. Hal seperti inilah yang sangat dirindukannya dari seorang Hana.
" Saat kau menatapku penuh hasrat, saat marah ... saat gelisah .... aku memahami... setidaknya delapan puluh persen ".
" This is my wife ... luv you ", dan Arjuna pun seperti lupa dengan usianya, ia mulai menggila dengan gombalannya.
" Sudah ah ... ada apa? katakan saja. Asal jangan minta ijin kawin lagi ".
" Maaf .... tapi sepertinya begitu ".
Blaaar!!!! .... dan petir itu menyambar telak di hati Hana. Wajah nya memucat, pundak dan lengannya menegang. Ia menatap langsung kedalam jendela jiwa Arjuna. Berusaha mencari setitik saja kebohongan di mata pria ini. Tapi dia tidak menemukannya.
" Si - siapa .... wanita itu ? ", suara Hana bergetar. Terlihat sekali ia sedang berusaha menahan jatuhnya air mata.
" Hana ... ", Arjuna berusaha meraih jemari istrinya. Tapi wanita ini menghindar dan menegakkan duduknya.
" Wanita itu anak kita... Cinta yang meminta ijin untuk menikah ".
" Ouch... ". Tapi kalo ini benar-benar tidak dapat menahan tangisnya. Ia menunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
" Kau ... ternyata Raka itu benar-benar menuruni watakmu yang seperti ini ". Walaupun terdengar lega, tapi nada kesal itu begitu terasa.
" Sekarang sudah tambah lega ? ... dua orang anak kita akan segera menikah ". Arjuna tersenyum lembut.
" Kau membuat ku jantungan. Tapi ... aku ... bahagia sekali " Hana pun balas tersenyum dan menyusut air matanya.
" Cinta akan menikah.... dengan orang yang selama ini sangat dicintainya. Dan juga sangat mencintainya ".
" Ooh... dari awal aku sudah yakin ... mereka berdua... memang ada sesuatu diantara mereka berdua. Syukurlah kalau demikian ... ", Hana terlihat berbinar-binar bahagia.
" Ternyata ... sudah sejak lama Cinta memendam perasaannya yang seperti ini. Seperti kisah cinta kita dulu ... " .
" Benarkah ? ", Hana semakin terlihat bersemangat. " Aaah.... iya, tapi Alend itu sempat menikahya. Pasti Cinta saat sedih kala itu. Tapi kini dia sudah singgel ... untunglah Cinta tetap bertahan dengan cintanya pada Alend ya ".
" Bukan Syailendra .... bukan pria itu yang sangat dicintai putri kita, Hana ".
Hana kembali membeku, ia menatap Arjuna dengan tajam. Tapi bibirnya kelu.... ia tak mampu berkata-kata.
" Pemuda itu dan Cinta .... seperti perjalanan cinta kita dulu. Menahan rasa dalam diam, berusaha memusnahkannya.... tak hentinya lari dan menghindar. Tapi seruan hati yang saling mencintai dengan tulus, tak pernah kehilangan jalan untuk saling mempertemukan kembali. Hingga akhirnya .... kedua insan yang saling mencintai dengan tulus itu menyerah ...... seperti kita dulu ".
" Seperti kita dulu ". Hana membeo, karena ia tak mampu lagi berfikir.
" Ya Hana. Kau masih ingat perasaanmu .... bertahun-tahun itu ? ".
Hana mengangguk, namun air matanya kembali meleleh perlahan.
" Kau masih ingat bagaimana rindu itu mencabik hati kita ? ".
Dan Hana pun kembali mengangguk.
" Lalu .... kau ingat betapa bahagianya kita saat di Swedia dulu... saat kita pertama kali menyatakan saling cinta ? ".
" Iya... aku tidak akan pernah melupakannya ", dan Hana pun terisak dalam.
" Putri kita.... memendam hal yang sama. Putri kita... dan pria muda itu. Dia ... telah datang dan meminta dengan ksatria.... ".
" Siapa dia ? ", kali ini Hana terlihat tak sabar.
" Pemuda ... lembut, baik hati, dewasa dan bertanggung jawab .... keponakan angkat terbaik yang pernah kita miliki .... Baskara Namu Perkasa " .
.................
Author Corner....
Bagi Dear Reader yang belum tahu kisah cinta papa Juna dan Mama Hana.... langsung intip di BIDADARI BIRU ....
__ADS_1