
Insiden di dapur tadi membuat kedua gadis kembar ini menatapnya dengan rasa khawatir. Padahal ia sudah berkali-kali mengatakan tidak apa-apa. Tapi tetap saja Celine dan Celia begitu berlebihan memberi perhatian .
" Hanya luka kecil saja kok ... masih bisa buat masak-masak ".
" Nggak usah kak Hanin, istirahat dulu saja. Bikin coklat praline -nya bisa kapan-kapan kok ", kata Celia.
" Iya .... dan lagi besok Om Haidar sudah harus berangkat pagi-pagi ", imbuh Celine.
" Loh ? ... kemana ? ", bahkan kini ia tidak dapat menahan rasa penasarannya.
" Heidelberg ... ", Celine.
" Ke kantornya ... pake kereta jam tujuh ", Celia.
Oh ... ternyata, padahal tadi siang mereka sempat berjanji dengan tautan kelingking untuk bisa bicara sebentar malam ini. Tapi sepertinya sudah tidak mungkin. Ia terlalu malu untuk bertemu dengan pria itu.
Tentu saja sangat malu, bagaimana bisa hanya luka seperti itu saja membuatnya tidak bisa menahan tangis. Hingga Haidar terlihat begitu khawatir dan membantunya juga menyusut air mata. Ish .... memalukan sekali. Andai saja dia tidak bertemu dengan dua kakak cantik yang ternyata juga temannya David itu .... pasti tidak akan ada kejadian seperti ini.
" Ku dengar dia sudah jadi menikah ya ? ".
" Waah... benar-benar ya si Dave' itu ".
Apa maksud kalian ?, mengolok-olok ku ?.
" Tapi dia memang populer sih ... cuma nggak nyangka aja ... ".
" Iya ... kamu yang sabar ya Hanin. Emang Dave' nya aja yang .... ".
" Aku .... aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia ". Akhirnya iapun mampu menjawab dengan tegas.
Dua wanita ini, rasa simpati yang tak jauh beda dengan mengolok-olok. Cih ... sepertinya mereka memang utusan iblis yang ditugasi untuk merusak suasana hatinya.
" Terimakasih atas perhatiannya .... tapi itu membuat ku sungguh tidak nyaman "
" Maaf Hanin ... kami tidak bermaksud ...".
" Kami ada di pihak mu, karena kami juga seorang wanita jadi ... ".
" Jika memang demikian... kita bisa akhiri obrolan ini, aku juga masih harus bekerja ". Dan ia pun berlalu dengan hati yang mendongkol. Simpati apaan ... yang ada bikin orang jengkel saja.
Parahnya lagi, semua itu berimbas pada ketidakstabilan perasaannya. Bodoh !!.. harusnya kau bisa mengatasinya, bukankah fase terberat sudah kau lalui ? dan dalam hal ini ... kau tidak bersalah apapun. Hanya ....
" Ah... aduuuh ", dan Hanin pun mengaduh, menghentikan omelan panjang pada dirinya sendiri.
Darah menetes-netes dari luka yang dibuat dengan tidak sengaja oleh tepi gelas retak itu. Segera ia mengguyurnya dengan air dari kran. wastafel. Dia meringis kecil merasakan pedihnya... sepertinya luka itu sedikit dalam. Panas menyengat pada kulitnya sesaat tadi, kini berganti menjadi perih yang panjang.
" Ya ampun kak Hanin ... kau bahkan tadi sudah memperingatkan ku untuk berhati-hati. Tapi kau sendiri yang kena.... ya ampun darahnya banyak sekali... ke dokter ya ".
" Tidak apa-apa Lily... kutekan begini sebentar nanti juga mampet ".
Dirinya justru sibuk menenangkan Lyli yang menjadi sedikit tidak terkendali karena rasa khawatirnya Tapi pria itu keburu datang, meraih dirinya dengan cepat dan mendudukkannya di kursi. Ah ... iya, Haidar adalah seorang dokter, ini pasti hal biasa untuknya. Untung saja pria ini datang tepat waktu, jika tidak ... pasti Lily sudah membuat keributan besar karena sebuah luka kecil ini.
Kini sepasang mata ber-irus kelam itu menatapnya dengan lembut. Ah ... kapan ya terakhir kalinya ia mendapatkan tatapan sep ini. Bertahun-tahun lalu... lalu sekali, ada seorang pria yang juga melakukan hal seperti ini padanya.
Bukankah sekarang harusnya dirinya merasa bahagia !... tapi hatinya terasa tercengkeram sakit. Ah tidak .... marah, dia marah... pada dirinya sendiri. Keterlaluan !!!!, makinya. Tapi air mata itu sangat jujur, mereka sungguh tidak mau untuk diajak bekerjasama.
Bodohnya kau .... memalukan
" Ya ... cukup dalam, dan pasti sangat sakti ... sakit .... ". Tapi pria itu bertutur begitu lembut, dan ia tahu jika pria ini sedang memposisikan diri disamping hatinya. Bahkan ia seolah bisa mengerti kenapa luka sekecil ini bisa membuat seorang gadis dewasa seperti dirinya berurai air mata.
" Iya ... sakit.... sakit sekali ... ". Tentu yang dimaksud adalah hatinya. Buliran bening itu mulai keluar, berlompatan tak beraturan.
" Aku akan mengobatinya .... ya ".
" Iya ... mas.. ini... sakit sekali ... maaf ... maaf ... ". Ia tertunduk masih tetap dengan air mata yang berloncatan.
Pria ini, ia seolah tak terpengaruh dengan porak-porandanya dia. Tetap dengan lembut dan tangkas membersihkan cairan merah lengket yang mulai mengental karena perlahan mengering. Menekan luka itu perlahan, lalu mengolesinya dengan salep atau mungkin crem untuk luka. Setelahnya, jari tangannya yang di tutup dengan dua wound plaster itupun masih terlihat manis, tentu karena seorang ahli yang mengerjakannya. Tapi dirinya masih begitu memalukan dengan tangisnya.
__ADS_1
Hanin Hanania yang bodoh .... dasar!!!!
" Sudah ... ", pria itu menengadah dan tersenyum, ia nampak lega. " Satu Minggu ini jangan kena air ya. Besok Senin datanglah ke klinik terdekat... biar diganti perbannya. Atau .... kau bisa menggantinya sendiri. Banyak-banyak makan protein ya... biar cepat sembuh ".
Ia hanya bisa mengangguk dengan cepat, secepat ia berusaha menyusut air matanya. Tapi dia mengaku... terpaku, tatkala jari jemari yang sempat dibilang sangat bongsor olehnya tadi ... kini telah bergerak menyudut sudut-sudut matanya. Belumlah lagi sisa tangis yang membuat dadanya sesak itu menghilang, kini berganti dengan sesuatu yang bergetar menyusup dengan paksa. Saat pria itu membelai lembut pipinya.
Pria itu tersenyum .... Haidar Mandala Wirayudha tersenyum padanya. Dengan setengah berlutut dihadapannya, menatap dengan sangat lembut.
Dug-dug... dug-dug... dug-dug... hening sesaat itu mampu membuat dirinya mendengar degup jantungnya sendiri. Tapi mulutnya terkunci, lidahnya menjadi kelu. Walaupun hatinya menghangat oleh rasa nyaman yang tiba-tiba membuainya.
" Jangan menangis lagi .... ya ", suara berat yang entah kenapa seperti kidung indah di pendengarannya ini ... sepertnya sudah masuk dalam kategori suara favoritnya.
Ia mengangguk lemah, tapi sama sekali tidak keberatan. Kalau dipikir-pikir ... sejak pertama bertemu kemarin malam, pria ini selalu mendapatinya berurai air mata. Gadis cengeng, pasti begitu pikirnya. Tapi mau bagaimana lagi, dan tidak ada kepentingan apapun juga jika ia harus menjaga imejnya dihadapan pria ini.
Oh ya ... kalau tidak salah pria ini juga memiliki seorang adik yang usianya sebaya dengannya. Namanya Kirana, ia sedikit ingat dulu mereka sering bermain bersama. Terutama jika keluarga besar mereka sedang menggelar acara, karena ibunya lah yang meng-handle seluruh urusan jamuan makan. Dia dan kakaknya selalu ikut serta, lalu ia yang sebaya dengan Kirana akan bermain bersama.
Seharian di kamar mewah dengan banyak mainan cantik. Tentu saja membuatnya sangat betah. Apalagi Kirana itu sangat baik dan tidak sombong. Hanya saja suasana akan berubah sedikit kacau jika .... ya.. jika kakak Kirana itu datang. Pria itu ... dia adalah kakaknya Kirana, yang selalu usil mengganggu adiknya, membuat putri kecil itu berteriak dengan kesal.
Tapi adakalanya kakak Kirana itu juga menjadi sangat baik, lembut dan penyayang. Mau memetikan kuntum bunga sepatu di dahan yang tinggi. Mengangkatkan meja yang untuk anak kecil seperti dirinya dan Kirana tentu tentu tergolong berat. Bahkan saat kelinci Kirana terlepas, kakak laki-laki itu dengan sigap segera mengejarnya. Ya ... kakak lelaki yang usil tapi juga penyayang, dia adalah pria yang kini sedang menatapnya dengan lembut. Pria itu adalah Haidar.
Dengan semua kehangatan dan kebaikan ini, tentu saja ia harus membalasnya. Sedikit bingkisan kecil yang hangat dan manis mungkin. Dia akan berangkat besok pagi, dengan kereta jam tujuh. Sepertinya masih sempat membuat tanda terimakasih untuk pria itu. Semoga semua berjalan lancar, dan pria itu menyukainya. Setidaknya ia tidak terlihat terlalu cengeng lagi.
...............
Haidar mengerang dengan frustasi, sambil berkali-kali menggaruk kepalanya. Kemudian berjalan mondar-mandir dari tepi ranjang menuju pintu kamar.
Common ... waktu mu hanya sekarang dan kalian bukankah sudah membuat janji, tidak mengapa menemuinya sekarang.
Beri dia waktu untuk beristirahat.... kau lihat sendiri 'kan bagaimana dia menangis. Pasti luka dihatinya begitu dalam. Kenapa kau tidak mencari tahu tentang si David itu saja.
Tiba-tiba sepasang mata Haidar membelalak penuh semangat. Ia bergegas keluar dari kamar, membuka dan menutup pintu depan perlahan. Ia tersenyum saat mendengar suara tawa dan celoteh penuh semangat dari kamar di samping kamarnya ini.
Syukurlah kau sudah ceria lagi. Jangan genangi wajah ayumu dengan air mata luka itu lagi. Kau sangat cantik jika tersenyum.
Haidar menuruni tangga, meninggalkan kecerian di belakang sana. Dengan langkah pasti menuju ruang tengah dan mendapati kedua kakaknya. Mas Arya yang nampak masih menikmati secangkir teh hangat dan mba Sabrina yang asyik dengan kertas dan pensil, sepertinya tengah membuat sketsa.
" Halaaah ... gaya mu. Pasti ada maunya nih ".
Haidar tertawa, karena niatan-nya langsung tertebak oleh mba Sabrina.
" Sama aku apa mas Arya ? ", tanya Sabina lagi.
" Dua-duanya ". Cepat Haidar menjawab secepat ia mengambil tempat duduk menyebelahi Sabrina.
" Penting jali nih kayaknya ", Sabrina jelas menggoda adik sepupunya. " Menyangkut perusahaan ? ".
" No ''. Jawaban singkatnya membuat Sabrina terlihat mengerutkan kening, sibuk menerka-nerka. " Tapi janji tidak histeris dan membuat keributan ? "
" Hei ... kau yang butuh ... kenapa juga kami yang harus berjanji .. ", salak Sabrina dengan bibir mencibir.
" He know you so well beib.... ", Arya menengahi dengan tepat dan tentu saja sambil mengulum senyuman. Pak Dubes itu sepertinya bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini. " Sepertinya.... ".
" Yups ! ", Haidar memotong cepat, menyunggingkan senyum sambil mengacungkan dua jempol pada kakak lelakinya itu.
" Wes lah Iki... bisnis boy mesthi. Masih butuh aku disini ? ", tukas Sabrina yang merasa tersisih secara gender.
" Ya masih dong mba Sa... sebagai salah satu korban. Tentu aku sangat butuh saran dan testimoni mu ". Tentu saja Haidar mengucapkan dengan gaya kocaknya.
" Yang mana ? .... siapa ? ", Arya yang semula terlihat tidak begitu antusias, tapi langsung tepat sasaran bertanya.
" Yang bening.... di atas ... ".
Tik tok... tik tok... tik tok .... suara detik yang berdetak itu tiba-tiba saja berubah menjadi penguasa hening.
Sabrina dan Arya suaminya ternganga, saling pandang. Mereka sepertinya sangat terkejut dan sungguh tidak menyangka sama sekali.
" Kok bengong .... ", tanya Haidar memecahkan kesunyian.
__ADS_1
" Wow ... ", hanya itu yang bisa keluar dari bibir Arya. Sementara istrinya masih ternganga tak percaya.
" Hanin 'kan maksud mu ? ", akhirnya Sabrina menegaskan.
" Iya .... Hanin Hanania .... siapa lagi ? ".
" Kalau begitu .... sainganmu adalah rasa sakitnya ".
" Dan juga .... mungkin dia juga trauma .... untuk jatuh cinta lagi ", Sabrina pun menimpali ucapan suaminya.
" Apa yang sebenarnya terjadi pada Nania ?... Hanin maksud ku ".
" Dia .... dikhianati oleh kekasihnya ".
" Padahal kabarnya ... Hanin sampai berusaha keras untuk bisa menyusul kekasih itu ", kali ini Arya yang menyambung cerita istrinya.
" Tunggu .... ini si David itu ? dan ... Hanin ditinggalkan karena dia sudah menikah ? ".
" Iya ... dengan pasangan gay -nya ".
" Apa ?!!!!! ".
Dan kini Haidar yang terpekik kencang, menatap tak percaya pada dua orang di sebelahnya.
" Ka- kalian harus menceritakan semuanya .... kumohon ".
Detik-detik berikutnya seorang Haidar hanya bisa terdiam mendengarkan. Mulutnya terkunci rapat, sementara kedua tangannya mengepal erat. Ia menyesali .... sangat menyesal, kenapa datang terlambat. Seandainya setahun yang lalu ia sudah menyanggupi tugas ini, pastilah ia akan bisa berada di sisi Nania-nya.... saat dia terluka.
" Sejak saat itu Dave' sudah tidak pernah muncul lagi diacara ramah-tamah KBRI.... tapi itu lebih baik untuk Hanin ", Sabrina mengakhiri cerita dengan raut kesedihan yang terbayang.
" Jerman secara resmi memang telah melegalkan perkawinan sejenis, termasuk mengatur segala prosedur untuk proses adopsi. Tapi untuk kita .... adat istiadat serta agama kita melarang hal tersebut. Hanin.... ah, untung saja ia seorang gadis yang taat dan kuat. Tapi ... tetap saja ia pasti sangat terpukul ".
" Apakah tidak bisa dilaporkan saja kasusnya ? ". Nampak Haidar sangat geram.
" Hanin sendiri yang mencabut laporan itu... ia memutuskan untuk memaafkan Dave'. Tapi aku sangat tahu, dia pasti belum bisa memaafkan dirinya sendiri ". Sabrina menepuk-nepuk pundak adik sepupunya. Sementara itu Haidar tertunduk, ia tak mampu lagi berkata-kata.
" Kau .... tertarik padanya ? ", kali ini Arya yang bertanya.
" Lebih .... aku sudah menandai dia sejak ... dia masuk Sekolah Kejuruan dulu. Tapi .... ah, sudahlah ... ".
" Yakinkan dulu hatimu... apa kau masih suka padanya. Atau hanya sekedar simpati. Karena yang pasti, Hanin pasti trauma ... ".
Haidar menggangguk-angguk, membenarkan apa yang disampaikan Sabrina.
" Gadis secantik Hanin.... banyak pria yang mendekat secara terang-terangan, tapi tentu saja dia menolak langsung. Walaupun mereka menawarkan penawar luka .... apa namanya kalau bukan trauma ", lanjut Sabrina.
" Kau ...jika serius, jika memang benar tulus padanya. Mendekatlah perlahan, jangan terlalu kentara apalagi memaksa. Jangan tawarkan apapun .... ketulusan itu bisa dirasakan. Mulailah dengan perhatian kecil yang menghangatkan sanubari ", kali ini Arya yang berpendapat.
" Tuh .... dengerin ahlinya ", Sabrina menukas tak kalah bersemangat. " Kasih contoh dong mas ".
" Ehmmm.... kalau dulu sih ... aku bikinin cilok, terus pas sore-sore hujan-hujanan lagi ... aku antar ke rumahnya ".
Haidar yang tadinya terlihat begitu kusut, kini mulai bisa sedikit tertawa. Tentu saja karena melihat kerlingan menggoda dari mas Arya pada mba Sa' nya.
" Idiiih... barang cilok aja bangganya ... ", cibir Sabrina.
" Eits ... bukan cilok nya yang dirasa, tapi cintanya dong. Terus pas di Canberra itu ... yang nangis-nangis minta disuapin pake tempe goreng sama sambel bawang itu siapa coba? ... kalau bukan cinta setengah mati ".
" Ih mas' ... ", Sabrina mencubit pinggang Arya. " Itu kan udah jadi istri mu ... pas ngidam, hamil Rama dulu ".
" Iya sayang... tapi semua itu tetep berawal dari
cilok cinta 'kan ... ".
" Sesukamu lah mas ... ".
Usia perkawinan mereka memang belum lagi memasuki dua dasawarsa. Dengan kemesraan yang seperti ini, pastilah sudah begitu banyak hal yang dilalui. Haidar tersenyum, dalam hatinya pun terselip doa. Semoga ia akan mempunyai pernikahan semanis dua orang ini. Semoga ia memang telah menemukan jodohnya, dan semoga yang Maha Kuasa senantiasa memberikan petunjuk serta kemudahan dalam mencapai asa cintanya.
__ADS_1