PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Kita Harus Bicara (3)


__ADS_3

Hari Sabtu yang membuat Haidar terpaksa tetap berangkat ke kantor. Tapi ia jadi mengerti, jika ternyata banyak devisi yang penuh dedikasi tetap masuk walaupun setengah hari. Dan ia pun jadi paham, jika kantin juga ternyata tetap buka.


Kesempatan itu kadang begitu susah dicari atau diciptakan, tapi saat keberuntungan menghampiri.... kesempatan itu tiba-tiba tercipta didepan mata. Seperti siang ini, saat Haidar yang sengaja melewati kantin sebelum turun ke parking base, menemukan suatu hal yang sudah selalu menghantui pikirannya sebagai sebuah rencana yang sering tertunda.


" Mba Narila.... mba Araya... ".


" Hai......". Wanita yang disapanya itu menoleh dengan wajah sumringah.


" Laaah.... ini mas Haidar ya? ... aduuuh pak dokter ganteng lama nggak ketemu ya ... tambah ganteng aja. Berarti bener kata ibu... ".


" Loh ... emang bu Firman bilang apa ? ", tanya Haidar penuh semakin.


" Ibu bilang ... katanya beberapa kali sempat melihat mu. Tapi ragu... iya ... apa bukan.. nggak berani menyapa duluan ... katanya jadi ganteng banget... takut salah ".


" Ha... ha... ha... ", Haidar terbahak. " Mba Narila bisa aja.... Harusnya saya ya yang lebih muda yang nyapa duluan".


" Awas ya .... jangan pelesetan nama jadi Gorila... kayak hobinya siapa tuh ... si ... mas Raka .... enak aja, gara-gara dia aku jadi ganti nama panggilan ".


" Ha.. ha... ha.. iya mba .. itu Raka. Dia sudah banyak tobat kok sekarang .. sudah hampir selesai spesialis sekarang. Mungkin satu bulan lagi ".


" Ooh... syukurlah. Eh... ayo makan siang dulu. Masih ada Sop iga ... kebetulan ibu juga pas ada disini ... ayo duduk.. duduk ".


" Waaah... lagi mujur nih saya... nggak boleh nolak dong ".


" Kualat nanti kalau nolak. Ayo ... silahkan duduk dulu ".


Haidar dengan bersemangat segera mengikuti apa yang dipinta. Ia duduk dengan nyaman dan masih melanjutkan perbincangan menyenangkan dengan si mbak cantik yang sangat ramah itu.


" Pak Mandala dan Bu Orlin sehat ? ... kangen saya dengan beliau berdua ".


" Alhamdulillah ... sehat. Kapan ketemu terakhir dengan ya ? ... setahun yang lalu ? ".


" Sepertinya ... sekitar lima atau empat bulan yang lalu juga baru bertemu. Tapi.... kalau kita yang berkunjung ke rumah sih... kayaknya udah lama banget ... mungkin hampir dua lebaran kita nggak berkunjung. Ada banyak hal yang terjadi belakangan ini ... ".


Aroma sop Iga yang harum gurih menguar dari dalam sebuah mangkuk yang dibawa oleh seorang pegawai kantin. Narila menjeda ceritanya, lalu membantu Haidar membuka aneka pelengkap yang tersaji dalam mangkuk-mangkuk stainless kecil. Acar yang menggiurkan, seporsi tempe goreng hangat, bawang goreng dan juga sambal rawit yang menantang.


" Ini beneran nak Haidar ya... ".


Saat itulah hadir sosok wanita paruh baya dengan wajah cantik putihnya yang memancarkan kelembutan. Mengembangkan senyum yang begitu ramah.


" Bu Firman.... Alhamdulillah .... akhirnya saya bisa bertemu ibu ".


Haidar bangkit dari duduknya dan segera menyambut dengan jabat tangan dan ciuman penuh penghormatan pada punggung tangan sang ibu yang terlihat tersenyum bahagia. Seperti bertemu kembali dengan keluarga sendiri setelah sekian lama.


" Ibu takut keliru ... beberapa hari yang lalu juga melihat mu dengan mba Cinta... tapi kau terlihat sangat tampan. Apa iya... apa bukan?... ibu nggak berani menyapa. Ternyata itu benar kamu yang makan rawon ... ".


" Ah ... Bu Firman... berarti benar ya sudah terlalu lama saya tidak berkunjung ke kantin ".


" Ibu sih maklum nak.... jadi dokter, sekolah dokter spesialis... pasti nak Haidar sangat sibuk. Eh... malah jadi ngobrol ... ayo.. ayo dimakan dulu, nanti kalau udah dingin nggak seger lagi ".


Haidar tertawa lalu dengan gerakan cepat segera mengoplos aneka aksesoris sop Iga yang tersaji, tentu saja masih dengan ngobrol asyik dengan Bu Firman dan putri sulungnya, Narila Ken Arraya. Tiga orang itu tampak sangat menikmati perbincangan siang itu, terutama Haidar yang sudah berhari-hari menunggu kesempatan ini.


" Ngomong-ngomong ... gimana kabarnya Nania Bu? ". Akhirnya pertanyaan utama itu tersampaikan sesaat setelah suapan terakhir Haidar.


" Si eneng ..... ah, dia di Jerman sekarang .... sekolah koki ".


" Uhuk!! ", dan Haidar pun terbatuk mendengar jawaban dari Bu Firman.


" Dapat beasiswa ... karenanya ia 'keukeuh tetap berangkat ke sana ". Kali ini Narila yang menambahkan.


" Oh ya ? sejak kapan ? ", tanya Haidar lagi.


" Sudah ... satu setengah tahun... hampir dua tahun malah. Eh ... tambah ya... masih lumayan banyak kok ".


" Sudah .... sudah .... terimakasih banyak mba. Sudah kenyang ini... ". Haidar buru-buru menolak saat Narila bangkit untuk mengambilkan porsi tambahan.


" Bungkus saja beberapa porsi... buat keluarga pak Mandala. Lama kita tidak menyuguhkan hasil dapur kita ".


" Baik Bu ... ".


" Waaah .... malah jadi ngerepotin ibu dan Mba Narila nih... ".


" Eits !!!... nggak boleh nolak. Tunggu ya ... ". Dengan lincah dan gesture menyenangkan larangan dari Narila itu membuat Haidar tertawa-tawa. Tentu saja karena ia tidak bisa menolaknya.


" Sekarang sudah akan kerja terus ikut bapak ? ". Bu Firman bertanya dengan nada yang sangat halus.

__ADS_1


" Iya... tapi masih tetep bisa jadi dokter kok Bu. Papa juga nggak kaku-kaku amat ... ".


" Pak Mandala itu orang yang sangat tegas dan disiplin .... juga sangat baik. Rasanya baru kemarin melihat mu dengan seragam SMA menyangklong tas punggung dan setumpuk buku. Lalu melihat mu yang seperti tak punya waktu untuk sekedar tersenyum ... karena harus selalu berlari tergesa mengikuti papa mu ... padahal kamu masih harus kuliah. Rasanya .... jika itu anak orang lain, pasti tidak akan sanggup. Untung saja... kau dan Namu itu putra pak Mandala, jadi pasti sanggup ".


" Ha... ha... ha... begitu ya?. Ssstt... ayahku itu memang sedikit kejam ". Haidar berbisik dengan senyuman khas menggodanya.


" Karena untuk mendidik para pewaris seperti kalian .... memang harus sedikit kejam ".


" Yaah... ku pikir ibu ada dipihakku ".


Ekspresi Haidar yang menunjukkan kekecewaan itu membuat Rury atau yang akrab dipanggil Bu Firman menjadi ikut tertawa. Lalu ia menyentuh punggung tangan Haidar dan menepuk-nepuknya perlahan.


" Mas Namu, Mas Haidar dan mba Kirana... adalah orang-orang pilihan. Tentu saja akan menjalani pembelajaran yang luar biasa .... lebih dari orang biasa. Orang luar yang hanya melihat cangkang keberhasilan kalian ... tidak pernah tahu bagaimana jungkir-balik, peluh serta air mata yang tertumpah. Tapi apa yang diajarkan oleh papa-mama kalian itu.... sungguh luar biasa. Mampu membuat para pewaris tahta yang begitu santun dan rendah hati... itu adalah modal utama untuk menjadi pimpinan yang disayangi ".


" Ah ... ibu bisa saja. Saya jadi ge'er nih Bu ... ". Haidar merasakan wajahnya menghangat, dan ia bahkan sedikit tersipu.


" Nih buktinya. Putra boss besar tetep suka jajan di kantin... mau duduk ngobrol juga sama ibu kantinnya .... ha.. ha.. ha... ".


" Habiiis .... masakannya top markotop mantap surantap siiih.... ".


" Seru banget ngobrolnya ", Narila datang dengan sebuah totebag warna biru muda yang lumayan besar. " Sudah mulai ngobrolin si 'eneng ? ".


" Belum malah.... ini... ibu kagum sama nak Haidar dan keluarganya ".


" Iya nih... hidung saya jadi tambah gede nih, dipuji terus. Kalau Nania... sampai kapan rencananya di Jerman ? ", tanya Haidar kemudian.


" Kalau lancar .... akhir tahun ini dia selesai ", Narila menjawab mewakili ibunya.


" Kebetulan ... Minggu depan saya juga ke Jerman. Boleh minta alamat dan nomer teleponnya ? ".


...............................


Suara lengkingan peluit itu membahana memecah malam bersama gerimis yang mulai turun membesar. Mengantarkan seorang pria yang masih mengatur nafas sambil menyeka sisa-sisa air membasahi rambut dan wajahnya. Ketika kereta itu mulai bergerak perlahan-lahan meninggalkan deretan lampu-lampu stasiun yang seperti memilih berlari terlebih dahulu meninggalkannya, Raka pun mulai menyandarkan punggungnya perlahan.


" Kau terlalu terburu-buru mengartikan perasaanmu sendiri. Itu hanya sepihak ..... ini bukan cinta seperti sangkaan mu ".


Dan Raka pun memejamkan matanya, sementara bibirnya masih saja bergetar. Tidak hanya karena rasa yang tertinggal dari hasil penyatuannya dengan Ardelia sesaat tadi, tapi juga rasa terhempas yang melesakkannya ke dasar palung nan dingin.


Apa itu tadi?, padahal Ardelia sama sekali tidak sedikitpun menolak sentuhannya. Gadis itu menurut saja saat ia merengkuh dan menenggelamkan wajah cantik itu di dadanya. Raka sungguh-sungguh tidak menyangka jika dari bibir yang merekah dan sedikit bengkak karena perbuatan impulsif penuh perasaannya tadi, justru meluncur kata-kata seperti itu.


Dan kau pun tiba-tiba menjadi orang paling bodoh di dunia. Raka membeku, menatap segaris senyum tipis yang terlalu biasa, tanpa getaran apapun. Padahal ciuman panjang dan dalam yang baru saja dilakukannya .... ia sangat yakin, gadis ini memberikan balasan. Tapi apa selanjutnya.... maaf, gadis ini meminta maaf. Aaah .... apa yang salah ?


" Berangkatlah .... sebentar lagi keretamu berangkat. Sampai ketemu lagi ... ".


" Delia... ", dan Raka hanya mampu mendesiskan nama itu saja. Ia terlalu frustasi untuk bisa memikirkan langkah apa yang harus ditempuhnya. Hatinya tertohok terlalu keras, mengira sudah berada diatas angin. Tapi kenyataannya, ia terpelanting begitu telak.


Sangat telak hingga merajam rasa di dadanya. Raka memejamkan mata merasakan raga yang mulai terbawa menjauh dari sosok yang tertinggal di belakang sana. Hatinya benar-benar tercabik-cabik oleh dinginnya tatapan sesaat tadi. Bukan ... bukan ini yang diharapkannya. Dan ia sempat bermimpi indah tentang harapannya sepagi dan sesiang tadi, tapi malam ini ... ia terhempas pada kenyataan yang menyakitkan.


Benarkah ia harus menyerah kini ? ......


...And I'd give up forever to touch you ...


...'Cause I know that you feel me somehow ...


...You're the closest to heaven that I'll ever be...


...And I don't want to go home right now...


...And all I can taste is this moment ...


...And all I can breathe is your life ...


...And sooner or later, it's over ...


...I just don't wanna miss you tonight...


...And I don't want the world to see me ...


...'Cause I don't think that they'd understand ...


... ...


...When everything's made to be broken ...


...I just want you to know who I am...

__ADS_1


...And you can't fight the tears that ain't coming ...


...Or the moment of truth in your lies ...


...When everything feels like the movies ...


...Yeah, you bleed just to know, you're alive...


...And I don't want the world to see me ...


...'Cause I don't think that they'd understand ...


...When everything's made to be broken ...


...I just want you to know who I am...


...And I don't want the world to see me ...


...'Cause I don't think that they'd understand ...


...When everything's made to be broken ...


...I just want you to know who I am...


...And I don't want the world to see me ...


...'Cause I don't think that they'd understand ...


... ...


...When everything's made to be broken ...


...I just want you to know who I am...


...I just want you to know who I am ...


...I just want you to know who I am ...


...( IRIS - Goo Goo Dolls )...


Dan kesendirian itu seperti menghempaskannya pada satu kenyataan yang sangat menyakitkan. Meski ia sempat terlena sesaat tadi dengan keindahan ketika dibawa terbang ke langit tujuh oleh sang Phoenix yang perkasa. Tapi dengan sangat kejam, ia menikam sang burung api itu tepat di jantung ... dengan belati saljunya yang dingin membeku. Lalu membuat mereka berdua jatuh berdebam, dan terluka dengan sangat menyakitkan.


Ardelia menatap kosong pada deretan lampu yang membuat garis panjang, sementara suara lengkingan peluit kereta seperti lolongan panjang kesedihan. Ia tak mampu lagi membendung tetes demi tetes air mata yang meluncur deras. Tergugu dalam pilu, gadis itu meremas dadanya sendiri yang terasa sangat sakit. Menyesal ? .... entahlah, yang dia mengerti saat ini ... hanya rasa sakit, sedih dan perih terlalu dalam....dan ia sangat membenci dirinya sendiri.


Padahal tadi ia merasakan perasaan yang sangat hangat ketika tengkuknya tertahan dengan kelembutan yang begitu kuat dari telapak tangan Raka. Pria yang sengaja menyempurnakan posisinya agar mereka bisa saling melekat lebih erat. Wangi yang menenangkan dari tubuh yang juga menguarkan kehangatan, terlebih saat ia merasa dicecap dengan kehangatan yang memabukkan.


Bukankah ia sering memimpikan hal ini. Menyatu dalam kelembutan dan gelora yang menggelegak, merasakan betapa manis dan dominannya sang burung api ini menuntunnya dalam luapan hasrat. Tapi kini saat ia benar-benar merasakan apa yang selalu jadi impian sendunya, tiba-tiba saja rasa sedih itu seperti air bah yang memadamkan bara. Hatinya seperti diremas oleh tangan hantu salju tak kasat mata, ngilu, lara dan penuh rasa derita.


Ketika sepasang mata itu menatapnya dengan tatapan hangat teriring dengan senyuman yang mengembang, hatinya pun lebih tercabik oleh lara. Saat ujung jemari perkasa itu menyentuh dengan lembut bibirnya yang terasa kebas dan membengkak, sesungguhnya ia tak mampu menutupi gelanyar hangat yang kemudian menari bagai kepak ribuan sayap kupu-kupu di perutnya. Tapi kuntum salju yang tumbuh dari luka dihatinya membisikkan sesuatu yang amat pedih ..... 'sadarlah Ardelia'.


Hingga iapun segera memalingkan wajah saat pria itu kembali mendekat. Tak urung kehangatan dari bibir yang masih hangat dan lembab itu tetap saja mampu mendarat dengan sempurna di pipinya. Dan hembusan nafas yang terasa sedikit panas itupun kini membelai tengkuknya.


Ardelia masih mencengkeram dadanya sendiri dengan isak tangis yang mulai tak terbendung suaranya. Seperti mengiringi kepergian kereta malam yang menderakkan roda besinya dengan angkuh. Ini sakit sekali ..... kenapa seperti ini... aku sungguh-sungguh tidak menginginkan seperti ini ....aku benci ... aku rindu....aku takut kehilanganmu.... tapi aku tidak layak untuk mu. Dan Ardelia pun menangisi rasa sakit serta rasa rindu yang menggulung nuraninya.


..................


Disaat engkau tak ingin ia terluka, lalu kau menahan deraan itu dengan senyuman.


Sesungguhnya saat itu, hatimu telah menasbihkan sebuah perasaan tulus.


Jika engkau lebih memilih berlalu agar ia dapat melaju, mengejar mimpinya.


Saat itulah kau telah menobatkannya sebagai sang pemilik tahta di hatimu.


Cinta itu .......


Membuatnya bahagia, membuatnya tersenyum, membuatnya hidup, membuatnya berharga


Tanpa pernah menoleh pada hatimu sendiri yang merana


Cinta itu .......


Asalkan tahu dia ada disana, tertawa dalam naungan damai dan penuh asa


Tak perduli bagaimana remuknya hati

__ADS_1


Karena cinta itu .... membuat mu mengerti, hidup untuk mencintai.


__ADS_2