PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Merenda Romansa (8)


__ADS_3

Berlin Hauptbanhof Station : 20.20 waktu Jerman. Menjelang akhir Agustus di penghujung musim semi, hujan mengguyur cukup deras. Bahkan disertai oleh angin besar yang bergemuruh.


Haidar melangkah perlahan keluar dari stasiun kereta api itu. Ia sedikit menyesal karena tidak membawa Rain Coat. Hingga cuaca lebih bisa untuk ditembus, ia pun memutuskan untuk masuk ke sebuah cafe yang terlihat cukup cozy. Dengan pendaran cahaya lampunya yang tidak bisa dibilang temaram, tapi juga tak terlalu terang menyala, namun kesan hangat dan bersahabat langsung bisa ia rasakan.


Seorang pelayan wanita yang terlihat masih muda, mungkin dia masih seorang pelajar atau mahasiswa tingkat awal yang part time di sini, mendekatinya sambil tersenyum ramah. Tapi kemudian ia nampak sedikit ragu saat akan berbicara. Pasti karena melihat rambut dan bola mata hitam sekelam malam milik Haidar, juga kulit pemuda itu yang coklat sawo


matang.


" Selamat datang tuan ... apakah anda ingin memesan.... makanan atau ... minuman ..? " , sapa gadis itu dengan bahasa Inggris yang sedikit terbata-bata.


" Boleh lihat menunya ? ".


Si gadis tersenyum, lalu memberikan sebuah buku menu dengan sampul berwarna merah dan emas.


" Bisa membantu ku memilih .... ".


" Anda orang Asia tuan ? .... maaf, apakah seorang muslim ? ", santun gadis itu bertanya.


" Ya ... ada yang bisa kau rekomendasikan untuk ku ? ", kali ini Haidar bertanya dengan bahasa Jerman dan membuat gadis itu langsung terlihat sumringah.


" Oh ... senangnya, ternyata anda bisa berbahasa Jerman. Tentu saja, bagaimana kalau .... Flascher Hase atau Gulachuppe, kami menggunakan daging yang halal " . Gadis itu menjelaskan dengan bersemangat.


" Oh ... apa itu ? ".


" Flasher Hase ... adalah makanan khas Jerman yang berbahan dasar daging cincang, telur, tepung dan bawang... rasanya lezat tuan. Sedangkan Gulachuppe adalah sup. Sup ini memiliki kuah yang kental dan berwarna merah. Bahan dasar dari sup ini yaitu, daging sapi, kentang, tomat dan rempah-rempah khas Jerman.... sangat cocok untuk cuaca hari ini ". Senyum gadis itu mengembang lagi seselesainya memberikan penjelasan.


" Aku mau dua-duanya ", tanpa ragu Haidar memesan.


" Baiklah tuan. Maaf ... porsi besar atau medium ? ", tanya gadis itu lagi.


" Ada saran ? ".


" Mengingat ini sudah waktunya makan malam ... mungkin porsi besar saja. Ah ... tapi jika anda sudah di tunggu keluarga di rumah untuk makan malam ... mungkin yang medium saja ".


" Okay ... yang medium ".


" Bir ? ... oh ... maaf ... limun jahe ? ".


" Ya ... ya... tepat sekali ". Haidar tertawa dan gadis muda itu nampak tersenyum puas, kemudian segera berlalu untuk menyiapkan apa yang sudah di pesan.


Bukankah pembawaan gadis berambut coklat itu sangat mirip dengan dia ?


Haidar tersenyum sendiri dan duduk bersandar menikmati rinai-rinai hujan. Ia menatap keluar melalui jendela, jalanan dengan lampu terang nampak sedikit bias karena pantulan berulang dari titik-titik air. Sementara suara angin yang menderu-deru belumlah lagi mereda. Sepertinya malam ini akan berlalu dengan sangat basah.


Kemudian masuklah serombongan pria dan wanita muda. Satu, dua..... empat orang tepatnya. Berbicara dan bercanda dengan hangat. Lalu mengambil tempat duduk di tengah cafe, tak jauh dari tempat Haidar yang berada di tepi dekat jendela.


Tiba-tiba gendang telinga Haidar mendengar sesuatu yang tidak asing. Ya .... dia mendengar dua orang diantara mereka menyelipkan kosakata yang sangat familiar di telinganya. Ya..... bahasa Indonesia yang sudah hampir satu minggu ini hampir tidak dengarnya secara langsung. Ia pun sedikit menoleh untuk mencari tahu, siapa sang pengucap kata 'ngawur' dan ' terserah' yang tertangkap oleh gendang telinganya tadi.


" Haidar .... ".


Tapi pekikan tertahan itu sudah lebih dahulu menghampirinya. Seorang wanita muda yang mungkin seusia dengannya nampak berdiri dan memandangnya dengan senyuman penuh antusias.


" Audrey .... Rhein Audrey ? ". Sedikit tidak yakin, tapi Haidar memang benar mengenalnya.


" Iya ... ini aku ", gadis itu tertawa sumringah dan menghampirinya. Tapi sebelum itu sempat menoleh dan menepuk pundak seseorang disebelahnya dengan ekspresi penuh kemenangan. " Benar aku 'kan ... ".


" Dirga ... ", kali ini Haidar yang setengah terpekik begitu mengetahui siapa pria yang ditepuk pundaknya oleh Audrey.


Dengan langkahnya yang panjang, Haidar memutuskan melesat terlebih dahulu menghampiri meja mereka. Dua orang itu adalah temannya saat berkuliah di Fakultas Kedokteran dulu. Sungguh tidak menyangka akan bertemu kembali di tempat ini.


" Lihat... kau begini tampan ", Dirga nampak sungguh-sungguh dengan perkataannya. " Ngambil spesialis di sini ? ".


" Hua ... ha... ha.. bisa aja. Aku .... udah kerja kok ", sahut Haidar.

__ADS_1


" Oh ya, di rumah sakit mana ? ", tanya Audrey dengan binaran di kedua bola matanya yang besar.


" Sayangnya .... bukan Rumah Sakit ". Lalu Haidar bercerita sedikit tentang tugas yang sedang dilakukannya saat ini. Tugas dari sang bossmand ayahnya tercinta. Walaupun terlihat samar ada sedikit gurat kecewa, tapi gaya pria yang bersemangat ini langsung menghapus rasa itu begitu saja.


" Sampai lupa ... kenalkan, ini Greg dari Kanada dan juga Emily ". Seolah tersadar akan sesuatu yang sempat dilupakannya sesaat tadi, Audrey langsung mengenalkan dua orang yang juga tengah bersama mereka saat ini.


Lima orang itu kemudian berbincang dengan hangat. Mereka lalu tertawa lepas bersamaan manakala mengetahui apa yang mereka pesan adalah sama. Hanya porsinya saja yang berbeda.


" Wah ... sepertinya kalian pelanggan lama ya. Bagaimana bisa pesanan kalian bisa lebih dulu yang datang ". Kata Haidar menggoda.


" Dari di kereta tadi kami sudah memesannya. Nona ini ... sudah gemetaran hampir pingsan ". Dirga berkelakar yang disambut dengan pukulan kecil dari Audrey mendarat mulus di pundaknya.


" Kepala juru masak di sini orang Indonesia. Masih muda .... mungkin dua tiga -an. Dan sangat cantik ... ", Audrey menginfokan. " Dan dia...... salah satu pria yang masuk dibarisan patah hati ... ha.... ha.... ha.... ".


" Kalau aku tidak patah hati..... kau yang akan patah hati ". Seloroh Dirga penuh kemenangan sambil mengangkat jemari tangan kanan Audrey. Dengan jelas memperlihatkan sebentuk cincin emas berdesain minimalis yang melingkar di jari manis wanita itu.


" Woaaa..... selamat..... selamat ....... ", Haidar yang melihat hal tersebut langsung bertepuk tangan dengan gembira.


" Di sini dingin Dar' ..... mana tahaaaan kalo' harus bobo' sendiri terus ".


" Dasar ", dan Audrey memberengut kesal sambil mencubit pinggang Dirga suaminya.


Menyenangkan sekali melihat pasangan muda yang sedang hangat-hangatnya, mesra, penuh cinta dan saling bermanja. Dan satu hal yang lebih menyenangkan lagi adalah mengetahui jika sepasang teman itu juga menetap di Heidelberg, melanjutkan studi mereka di kota romantis itu. Dua orang cerdas dan berbakat yang mendapatkan beasiswa dari negara, untuk melanjutkan pendidikan di institut penelitian yang sangat terkenal, Pusat Penelitian Kanker Jerman (Deutsches Krebsforschungszentrum/DKFZ) yang didirikan pada tahun 1964 dan Pusat Biologi Molekul (Zentrum für Molekulare Biologie Heidelberg/ZMBH) yang didirikan pada tahun 1983. Dan Haidar kembali menunjukkan kekagumannya pada pasangan brilian ini.


" The next Habibie and Ainun ..... salut ".


" Semoga saja.... ya 'kan little boy ? ".


" Hei .... sudah mau dapat bonus rupanya ". Sepasang mata Haidar berbinar saat melihat Dirga membelai perut Audrey dengan sangat lembut dan mesra.


" Sudah jalan delapan Minggu nih. Dan hebatnya .... no hiperemesis. Iya 'kan sayang .... biar bunda lancar penelitiannya, biar bisa lulus bareng-bareng ayah ". Tanpa sungkan, Dirga yang brewokan dan terkesan sedikit sangar itu mencium perut istrinya.


" Waaah ..... kalian membuat ku iri... sangat iri ".


" Jomblo ..... ampuuuun ", Haidar tertawa.


Dan mereka berlima pun menikmati hidangan dengan perasaan sangat bahagia. Dari obrolan hangat itu pula Haidar juga mengetahui jika Greg dan Emily ternyata juga sepasang kekasih. Sebagai satu-satunya lajang di tempat itu, ia hanya tertawa-tawa saja karena digoda oleh teman-temannya ini.


" Seleramu yang bagaimana sih abang ..... yang Indo asli, atau gadis Jerman yang semampai ... ".


" Aku ..... ah .... itu ... ", Haidar menggaruk-garuk rambutnya sambil cengar-cengir kebingungan, bagaimana harus menjawab pertanyaan Dirga.


...Seorang wanita ........


...Yang aku pun tidak mengerti kenapa...


...Saat ia berjalan, seolah seluruh medan magnet menjadi bersumbu padanya...


...Seorang perempuan ........


...Yang saat dia tersenyum, kilau lembutnya mengalahkan pendaran aurora...


...Seorang gadis .......


...Yang gerak gemulainya serupa ranting bunga dengan kelopak putihnya yang besar mempesona...


...Seseorang .........


...Yang namanya menghiasi relung hatiku...


Haidar tercekat, terpaku di tempat duduknya. Jantungnya berpacu, berdegup dengan tak beraturan. Semua itu terpicu oleh langkah ringan dari sesosok jelita yang tengah tersenyum sambil menghampiri keberadaan mereka. Ia mengenal paras jelita seputih pualam, namun sehangat bunga tropis yang lembut itu.


" Terima kasih sudah selalu menyempatkan ke Fehlschlagen Cafe ", dia yang jelita menyapa dengan sangat akrab dan ramah.

__ADS_1


" Kak Audrey semoga sehat-sehat ya, dedek bayi juga. Eh ... ngidam masakan Indo ? bilang saja aku buatkan ", dia menawarkan dengan sangat ramah. Gadis cantik yang menyenangkan dan ..... mempesona.


Bukan sekedar basa-basi, sepertinya Dirga-Audrey dan gadis itu memang memiliki kedekatan khusus. Janji tentang Rawon dan Sambal Pecel itupun melilit mereka bertiga dalam suasana yang kekeluargaan yang hangat. Hingga akhirnya gadis menawan itu berpamitan, bergegas meninggalkan mereka dengan langkah tergesa. Karena ia sudah terlambat untuk sebuah janji.


" Aduuuh... lupa nggak ngenalin. Dia itu Head Chef disini, orang Indonesia asli ", sesal Audrey.


" Dek Hanin yang cantik .... ya 'kan bro? ", Dirga mengedipkan sebelah matanya pada Haidar bermaksud menggoda.


Haidar tertawa, tapi hatinya berseru .... aku tahu.


Saat malam sudah semakin beranjak melarut, sementara hujan pun sudah berhenti. Kelima orang itu saling berpamitan dan beranjak pulang pada tujuannya sendiri-sendiri. Haidar melambaikan tangan saat taksi yang sudah dipesannya mulai berjalan. Membawa dirinya dengan sebuah senyuman pada dua pasang manusia yang masih terlihat sangat bahagia itu. Tanpa mengetahui debaran perasaannya yang membuncah, rasa bahagia yang begitu besar hingga ia tak bisa menahannya dalam sebuah senyuman tipis.


..................


Menjelang pukul sebelas malam saat Haidar memasuki kediaman pribadi keluarga Mahardika. Sang kakak ipar sendiri yang membukakan pintu untuknya. Masih berkacamata walaupun mengenakan piyama tidur warna abu-abu yang terlihat nyaman dikenakan. Pria itu sepertinya masih berkutat dengan pekerjaan.


" Maaf mas ... membangunkan mu ", kata Haidar basa-basi.


" Aku belum tidur kok. Kau sudah makan ? ".


" Sudah, tadi di dekat stasiun. Bertemu teman-teman Indonesia, jadi kami makan malam bersama ".


" Oh ... eh, kamar mu yang paling ujung ya. Bersebelahan dengan kamar yang biasa kau pakai. Jangan salah masuk ".


Haidar mengernyitkan keningnya, ia menatap kakek iparnya itu.


" Hanin sudah datang... kamar itu ditempatinya. Tentu saja disusul si kembar ".


" Oh .... ". Haidar mengangguk-angguk. " Aku ke atas ya mas ".


" Kalau masih lapar, ada soto ayam, tinggal manasin aja ".


Haidar tertawa dan mengangguk. Ia paham benar, hal itu pasti pesan sang kakak pada suaminya. Di keluarga Arsenio ia memang yang paling terkenal doyan makan. Untung saja ia juga sangat tergila-gila dengan olahraga. Alhasil..... dialah yang paling tinggi dan besar, melampaui ayahnya sendiri yang sebenarnya sudah begitu menjulang.


Kamar itu ada di lantai dua rumah ini, terletak paling ujung. Tapi yang menarik perhatian Haidar adalah kamar yang terlihat masih benderang di sebelah kamarnya. Terdengar suara tiga orang dari dalam, sedang tertawa-tawa. Suasana yang sangat khas saat para gadis berkumpul.


Haidar terpaku, lidahnya kelu begitu pula dengan jemarinya yang bersiap mengetuk. Perlahan ia menarik jemarinya, mengepalkan dan meletakkan di saku celana. Seolah berusaha mengekang dari keinginan besarnya. Menarik nafas panjang, kemudian melangkah perlahan masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Beberapa saat kemudian nampak seorang pemuda tengah menikmati guyuran air hangat yang jatuh berkejaran menimpa seluruh tubuh kekarnya. Seperti membelai dan memijat dengan lembut seluruh syaraf tubuh yang penat, mulai dari ujung kepala. Haidar menunduk dan memejamkan matanya. Memberikan kesempatan pada guyuran air hangat itu menunaikan tugas.


Tapi benaknya penuh dengan kelebat keindahan yang tadi berhasil ditangkapnya. Bagaimana senyuman dari wajah putih bersih itu membuat jantungnya berpacu dengan cepat. Belum lagi gemulai tubuh mungil yang indah itu, seperti zat laten yang mengacaukan seluruh sistem hormannya. Ah ..... gadis itu terlalu cantik, atau dia yang terlalu rindu ?. Atau memang kedua-duanya ?.


Hingga akhirnya Haidar memutuskan untuk mencoba berbaring, tentu saja setelah menyelesaikan ritual mandi air hangat tadi. Dan pasa kenyataan ia memang sangat lelah. Ia pun langsung terlelap begitu menyentuh kasur yang hangat dan nyaman. Kantuk itu tak perlu menyergap dengan kekuatan penuh, karena pria ini sudah langsung menyerah kalah.


.......................


Terjaga di waktu dini hari, Haidar melihat cahaya sulfur dari jam meja sudah menunjukkan pukul dua. Ia merasakan tenggorokannya kering, rasa haus mencekik lehernya. Pasti karena hidangan makan malam yang penuh protein tadi. Dan ia pun ingat, menjelang tidur tadi ia sama sekali belum minum air putih.


Perlahan ia turun dari ranjangnya, lalu melangkah keluar menunju dapur rumah ini yang berada dibawah. Saat sudah berada diruang makan yang temaram karena lampu utama dimatikan, ia mengernyit keheranan. Lampu dapur terlihat menyala terang, dan ia mendengar suara aktivitas di sana.


Perlahan ia melangkah menuju tempat itu. Mendapati sebuah meja yang biasa digunakan oleh kakaknya untuk meracik aneka bahan, kali ini sudah penuh tertata dengan bahan-bahan yang familiar di matanya. Sayuran hijau berbatang panjang yang sedap sekali jika ditumis, tentu saja itu kangkung. Bawang merah dan bawang putih yang juga tersanding manis. Sepotong terasi yang terlihat imut bersebelahan dengan barisan cabai rawit dan cabai merah.


Tapi yang menyita perhatian Haidar adalah sosok mungil yang tengah berkutat dengan gemericik air dari wastafel. Itu bukanlah mba Sa' nya, ia lebih mungil. Dan Haidar tahu siapa wanita yang kini tengah memunggunginya itu.


Hatinya yang berbunga-bunga lebih mengenal sosok itu. Jantungnya yang berdegup lebih kencang, dengan lancang memberontak seolah hendak melompat keluar. Dengan tidak tahu malu, seorang Haidar bersorak dalam diam. Tapi senyuman bahagianya tak bisa tertahan.


Aku .... kembali menemukan mu


Semoga ini bukanlah sekedar kebetulan


Karena semesta, seperti berpihak padaku


Semoga ini adalah pertanda dari Yang Maha Kuasa......

__ADS_1


__ADS_2