
Jangan sekali-kali kau belanja tanpa rencana, jangan pula mengajak seorang kawan yang justru akan menambah runnyam, Setidaknya begitukah pelajaran berharga yang dapat dipetik Haidar hari ini. Tidak ada satupun usulan dari Keanu yang membuatnya sedikit terinspirasi untuk sebuh ide kado yang pernikahan yang cantik dan mengesankan. Justru membuatnya jadi geram,
" Perhiasan jade' itu cukup cantik, tapi katamu sangat mahal. Atau seperti usulan bu dubes aja ... trip bulan madu ke Heidelberg. Atau bantal dan kasur itu saja deh ".
" Kau malah membuatku tambah bingung ... ini yang nikah kakak lo' dapat sepupu lo' ... itu bukannya incest ya ? ".
" Kakak angkat ... tidak ada hubungan darah sama sekali dengan ku ", ketus Haidar menjawabnya.
" Oh... itu kakak mu, anak pertama keluarga Arsenio yang terkenal itu ... yang kayak opa-opa Korea ? ".
" Iya .. yang kayak Ji Shang Wok ? .... ".
" Iya dodol... buruan deh. Ada ide nggak ? ".
" Keluarga elo' sih kayaknya udah nggak butuh apa-apa lagi ... butuh sesuatu yang sederhana, unik, syarat makna dan limited edition. Sayangnya benda seperti itu .... tidak bisa dicari dalam waktu semepet ini ". Kali ini tampak Keanu terlihat sedikit lebih serius.
" Tunggu ... kayaknya di Heidelberg... kau akan lebih mudah untuk menemukan benda-benda unik, artistik dan syarat makna deh. Yang berbau-bau eropa abad pertengahan gitu ... ".
" Asyaaahhh.... kau ini, percuma dong .... mengajakmu kemari ".
" Hei .... awas lo' ya. Setidaknya aku memberimu inspirasi dan juga petunjuk ". Keanu menghindar dari ketrampilan tangan Haidar yang melesat hendak menjitaknya. Pemuda itu terkekeh-kekeh, sementara Haidar masih bersungut-sungut sambil terus berjalan menyusuri etalase di sebuah toko perhiasan dengan branded ternama itu.
" Fix nih nggak jadi beli ?. Pindah ke tempat lain atau kau mau menuruti saran ku ? ", desak Keanu.
" Menurutmu ? ".
" Ya'elah bang Haiiiiid ....... ", dan Keanu menepuk jidatnya sendiri. " Cari makan yuk... atau sesuatu yang seger ... biar terbuka pikiran lo' ".
................................................
Sudah terlambat jika dikatakan sebagai sarapan sebenarnya, dan ini adalah makan siang yang terlalu dini juga. Hanin memilih memesan secangkir capucino begitu juga dengan David. Mereka duduk dengan gesture yang sama sekali jauh dari kesan santai, atau bahkan terlihat sedang menikmati suasana akhir pekan. Tidak seperti kebanyakan pasangan yang dating di café sebuah restoran itu.
“ Kau tahu bukan aku tidak punya banyak waktu ? “.
“ Rupanya masih tetap mengambil jatah di akhir pekan ya “.
“ Bisa kau langsung bicara pada intinya ? “. Hanin mendesak dengan rasa jengah yang sama sekali tidak disembunyikan lagi.
David terkekeh dengan ekspresi dan persaam yang miris. Ia mengangkat bahu perlahan, mencoba berdamai dengan hatinya yang menginginkan satu hal kecil.
“ Baiklah …. Aku akan menepati janjiku. Kau tahu Hanin… bagaimanapun aku harus tetap meminta maaf padamu “.
“ Bukankah sudah kau lakukan berkali-kali sejak kemarin … dan kau juga sudah mendengar jawaban ku. Aku sudah memaafkanmu “.
“ Ah … Hanin.. maksudku. Ya … baiklah … “. David terlihat frustasi, tapi kemudian pemuda itu terlihat menerima kekalahannya. “ Hanin… aku … rindu … “.
Hanin menatap kosong pada hamparan kenyataan menyakitkan di hadapannya. Pria itu adalah padang gersang yang terik dan tak menawarkan kedamaian. Lalu Hanin pun hendak berdiri dan berlalu, dan semua itu terhenti saat tangan Dave meraih pergelangan tangganya. Menahan langkah gadis berkulit seputih mutiara yang kini nampak memucat itu.
“ Please … listesn to me! “, Dave memohon. Tapi Hanin berusaha mengibaskan tangannya agar terlepas dari pria itu. “ Aku rindu … kau memanggilku … abang “.
Dan Hanin tak bergeming, hanya sudut bibirnya yang bergetar. Tapi akal sehatnya membuat ia memilih untuk kembali duduk. Dan benar seperti dugaannya, saat ia kembali duduk David pun melepaskan cekalan itu.
“ Aku hanya bisa memenuhi satu permintaanmu. Apakah kau akan menyia-nyiakannya ? “, Hanin pun bertanya dengan tegas.
“ Baiklah .. “, David yang sudah kemabli duduk tersenyum kecil, akhirnya ia benar-benar menyerah pada sikap Hanin. “ Aku akan meminta tolong padamu …. Kau bersedia ? “,
“ Tergantung … aku mampu atau tidak “.
“ Dua hal … hanya dua hal .. dan kau pasti … sangat mampu “. Sepasang mata David menatap dengan penuh permohonan. Namun terlihat seperti tetesan air yang tengah membelai karang.
…………………………
Perburuan sepagi hingga menjelang siang ini, sama sekali tidak membuahkan hasil alias … nihil. Haidar akhirnya menuruti apa yang disarankan Keanu, mencari sesuatu yang antik, unik, dan penuh makna.
“ Sesuatu yang penuh makna … kalua bisa yang artinya cinta sejati, atau cintaabadi. Dan itu adalah sesuatu yang berasal dari masa lalu … atau setidaknya …sesuatu yang diciptakan dengan rasa seni tingkat tinggi … ‘. Jelas Keanu dengan Panjang lebar, menyaingi seorang kurator
“Halaaah …. susah amat ya… apa mending perhiasan tadi aja ya “.
“Bilang mau balik lagi ke toko tadi … gua tabok lo’ !!. Kaki ku sudah pegal nih “.
“ Hwa..ha..ha..ha… emang belanja bukan bidang kita ya. Nyesel gwa nggak ngajak Nania-ku “.
Haidar masih tertawa-tawa saat tiba-tiba saja tarikan tangan Keanu pada lengan bajunya, memaksanya untuk menghentikan langkah dengan segera .
__ADS_1
“ Ada apa ? “.
Tapi Keanu menunjuk dengan gerakan dagunya. Haidar mengikuti arah tatapan Keanu. Sepasang mata tajamnya menangkap pemandangan yang membuat hatinya beerdesir. Ia menatap Keanu yang berdiri di sampingnya, meminta penjelasan.
“ Dia David … Dave Santoso … lengkapnya David Bharata Santoso “.
Haidar terpaku, sementara sepasang matanya memindai dengan seksama dua sosok yang nampak jelas di balik jendela kaca sebuah café, di sebuah restorant yang kebetulan juga berada di pusat perbelanjaan ini.
“ Apa mereka sudah berbaikan lagi ? “.
Pada seperti ini, seharusnya Keanu tidak perlu menanyakan hal seperti itu. Kini wajah Haidar terlihat menegang. Ia masih kaku berdiri ditempatnya, dan Keanu pun akhirnya menyadari kekeliruannya.
“ Mungkin… mereka hanya perlu membicarakan satu hal… hal … yang harus diselesaikan … tuh… lihat ekspresi Hanin… “.
Keanu berharap apa yang dicerna oleh otaknya, bisa satu persepsi dengan pria yang kini mengeras bagai batu kali di sebelahnya ini. Tapi sepertinya tidak demikan, Haidar justru terlihat semakin gusar dengan emosi yang nyaris tak tertahan.
“ Dar…Dar… are you okay ? “. Keanu menyentuh lengan Haidar.
“ Ya .. “.
Terdengar sangat dingin, seperti tatapan Haidar yang dingin melesat seperti anak panah es. Seolah menembus jendela kaca itu dan mengoyak atmosfer hangat di antara Hanin dan pria yang kini sedang menatap dalam wajah seputih Mutiara gadis itu.
Hatinya tiba-tiba saja seperti dipenuhi oleh kabut tebal yang jenuh dengan kandungan uap air, menyesakan dan membuat alveoli di paru-parunya menjadi penat. Dan darah yang dalam aliran nadi serta vena -nya perlahan mulai memanas. Haidar mengetatkan rahangnya, mengepalkan kedua genggaman tangannya. Menahan pandangan dengan berpaling, lalu dengan langkah cepat pergi meninggalkan tempat dimana ia merasa terbakar itu.
“ Kita ke Berlin Station sekarang “.
Keanu tergeragap, tapi ia tak bisa menemukan kalimat penghiburan yang tepat. Pemuda itu hanya mampu berjalan mengikuti langkah kawannya. Seorang pria yang kini tengah dibakar oleh percikan bara kecemburuan.
Haidar masih tak mengucapkan sepatah kata apaun, bahkan hingga mobil yang dikendarai Keanu hampir mencapai stasiun kereta api Berlin. Keanu yang semula hanya diam, akhirnya memberanikan diri untuk mulai bicara.
“ Ini kalau menurut pandanganku ‘Dar. Mereka tidak akan balikan lagi. Aku bisa melihat sorot mata Hanin yang dingin, Ya….. walaupun si Dave itu menatapnya dengan pandangan …lembut. Kau seharusnya tadi menunggu… aku takut, Dave melakukan tipu daya pada Hanin “.
Haidar tersentak, ia menatap Keanu. “ Tipu daya ? … apa maksudmu ? “.
“ Sebaiknya kau telpon Hanin saja “.
Menuruti saran Keanu, Haidar pun segera men-dial nomor Nania -nya. Menunggu dengan gelisah beberapa saat, lalu mengulanginya kembali saat tidak ada respon.
Keanu pun demikian, ia memutar balik kendaran yang dibawanya begitu mendaptakan tempat berbalik arah yang seharusnya. Mencengkeram kemudi dengan wajah tak kalah tegang. Ia teringat bagaimana cerita Beny dan Febiola tentang tipu daya yang dilakukan pasangan Garret dan Dave pada Hanin.
“ Si Dave busuk itu meminta maaf pada Hanin, memohon dengan mulut manisnya. Lalu entah bagaimana … saking lugunya Hanin atau liciknya dua anak turun lucifer itu… Hanin masuk dalam perangkap mereka “. Kata Feby malam itu saat memulai ceritanya pada Keanu.
" Yang jelas gadis itu dibius dan dibawa ke sebuah klinik reproduksi untuk inseminasi buatan “. Beny sang bartender pun ikut menimpali perkataan istrinya
“ Rapi dan terorganisir …. Lihat bagaimana para iblis pecinta dubur’ itu bisa memalsukan hamper seluruh dokumen … membuat pihak klinik tidak curiga sama sekali “.
“ Tapi banyak yang berpendapat … jika klinik itu juga … masuk di jaringan mereka “.
“ Bisa jadi. Dan yang paling mengherankan …. Si Garret hanya butuh tiga belas bulan di penjara dan potong masa tahanan. Dan si David busuk itu …. Bebas melenggang “.
" Untung saja Sellma datang tepat waktu ya…. Jika tidak … aku tidak membayangkan bagaimana beratnya beban yang akan ditanggung oleh Hanin “. Demikian Beny mengakhiri cerita yang cukup membuat Keanu bergidig ngeri.
Keanu menarik nafas yang terasa begitu berat. Ia melirik sekilas pada Haidar yang masih mempertahankan ekspresinya. Dalam hatinya sedikit merasa bersyukur, karena ia belum sempat menceritakan hal detail yang didengarnya dari pasangan suami-istri Beny dan Feby tentang insiden di klinik inseminasi itu. Seandainya
ia sudah sempat cerita pada Haidar, tentu pemuda ini akan menjadi sangat kesetanan dan memintanya melesat lebih cepat lagi.
...........................................
Hanin masih diam membeku, ia menatap pria didepannya dengan berjuta rasa yang saling berhimpit. Terhampar dihadapannya dua lembar kertas yang menggamabarkan bagaimana masa depan itu terlihat begitu kelam. Sisi lembut hatinya tersentuh, tapi luka lama yang belum mengering itu berdenyut nyeri.
" Sungguh ... ini adalah langkah terakhir yang bisa kulakukan. Aku sama sekali tidak sedang memanfaatkan kondisiku ini untuk meminta belas kasihan darimu, tapi setidaknya .... kau bisa mempertimbangkannya ... untuk bisa menolongku ".
" Kau ... ah ... ", Hanin mendesah dengan rasa gamang yang membayang. Ia menyandarkan dirinya pada kursi, membuang muka ke arah jalanan yang terlihat dari jendela ruangan ini. Lalu kembali menatap david yang masih setia menunggunya dengan tatapan sendu.
" Berarti ... Garret yang menularkan penyakit itu padamu, .... Bang ? ".
Tiba-tiba saja David tersenyum, ia merasa ada semilir angin sejuk yang membelai hatinya perlahan. Ia mengangguk, mengiyakan kenyataan pahit tentang penyakitnya. Tapi ia justru bahagia karena ia mendengar sesuatu yang sangat dirindukannya akhir-akhir ini .... Bang.. Abang ..., Hanin memanggilnya demikian, sama seperti dulu saat mereka masih merenda indah bersama.
" Sepertinya begitu ... tapi dia belum melakukan pemeriksaan. Aku ... hanya berhubungan... dengan dia .. ", Dave menunduk.
" Lantas bagaimana dengan Sellma dan Leisel ? ", suara Hanin meninggi dan terdengar penuh dengan kekhawatiran. " Jika itu pasti tertular dari Garret ... kemungkinan besar mereka juga pasti tertular ".
__ADS_1
" Karenanya aku meminta pertolonganmu ..... tolong ya, periksakan mereka berdua .... ". David memohon.
" Tunggu ... saat kecelakaan itu terjadi, Sellma mendapatkan tranfusi ... jika ia positif HIV ... pasti dokter sudah mengatakannya dan pasti ... penanganannya juga khusus ".
Secercah harapan timbul dan membuat binaran terang di kelabu mendung tatapan David. Ia tersenyum, sedikit rasa lega seiiring berkurangnya beban yang disandang. Harapan itu terasa begitu manis.
" Tapi aku tetap pada pendirianku .... biarkan aku bertanggungjawab atas kehidupan mereka. Jangan kau tolak ... itu permohonanku yang pertama Hanin ".
" Lalu yang kedua ? ". Hanin menatap pada David, tapi tetap tak bergeming dari sikapnya yang sangat berhati-hati.
..............................................................................
Haidar melompat dengan sigap saat Keanu baru saja melambatkan laju mobilnya. Ia seakan tidak bisa menunggu lebih lama lagi, bergegas berlari masuk kedalam pusat perbelanjaan. Menuju sebuah restoran dan terus melesat dengan lari kecilnya menuju bagian café. Membuat beberapa pelayan menatapnya dengan sangat keheranan.
Ia yakin dua orang tadi duduk di kursi sebelah jendela ini, karena ia bisa melihatnya dengan jelas dari luar tadi. Tapi kedua orang yang dicarinya itu sudah tidak ada lagi sekarang, menyisakan pelayan yang sedang membersihkan meja. Haidar berdiri dan menatap berkeliling dengan frustasi. Kemudian ia meraih telepon gengganggamnya, mendial nomer Keanu dengan cepat.
“ Halo … mereka sudah tidak disini. Tidak usah parkir …. Aku keluar sekarang “. Ia berkata dengan tergesa setergesa langkahnya yang bergegas keluar.
Din…din... din… suara klakson itu membuat Haidar segera menemukan apa yang dicarinya.Ia segera melompat masuk kedalam mobil dengan Keanu bersiaga di dalamnya.
“ Kau hubungi Hanin… “, perintah Keanu yang melihat Haidar kebingungan dan kalap.
“Ahhrggh…. Tidak diangkat “, Haidar berteriak frustasi. “ Kira-kira kemana dia ? “.
“ Bisa kemana saja…. Hotel…. Klinik yang serupa untuk inseminasi… rumah sakit… atau tempat persembunyian “.
“ Kau tidak membantuku !!!!! “. Haidar menatap dengan sangat kesal pada Keanu .
“ Heiii… jangan melotot … cepat telepon lagi … kirim pesan … lacak GPS nya Hanin “, Keanu pun jadi ikut bertambah panik.
Tuuuut…tuuut…tuuut… nada denga ritme Panjang itu kembali terdengar. Haidar menggerakan alis matanya
dengan gelisah.
“ Nyambung … tapi tidak diangkat “.
“ Kau kirim pesan … tanyakan dia ada dimana. Sebelum dia dibius lagi oleh Dave “. Keanu tetap berkonsentrasi pada jalan raya dan berusaha sebisa mungkin menyalip semua kendaraan, semampunya.
“ Kau !!!! …. Ish, kau membuatku lebih panik “, Haidar menggeram
“ Kita berpacu dengan waktu ‘ Dar … pikirkan Hanin “.
“ Kau pikir ?!!!...aku tidak sedang memikirkannya “, Haidar pun balas berteriak merefleksikan perasaannya yang kacau balau dan tumpang tindih.
Tring … sebuah notifikasi masuk, membuat Haidar terbelalak dan nafasnya semakin memburu. Hanin membalas seluruh panggilan itu dengan sebuah pesan. Hanya sesaat setelah ia berkirim pesan.
‘ Kau ada dimana?, Kau baik-baik saja?’, Haidar
‘ Aku baik-baik saja, maaf sedang Bersama teman, tidak bisa mengangkat teleponmu ‘, Hanin.
‘ Kau dimana sekarang ? ‘, Haidar
‘ Aku di perjalanan ke tempat kerja. Oh ya, mas jadi berangkat siang ini ? ‘. Hanin
‘ Ya, sampai bertemu lagi minggu depan ‘, Haidar
“ Dia baik-baik saja … sekarang sedang dalam perjalanan ke café. Dia bilang sedang bersama … temannya “. Akhirnya suara Haidar terdengar sedikit lebih santai
“ Kau yakin, Dar ? “. Keanu menatap Haidar yang kini nampak membelalakan matanya. Kedua pria itu kembali saling berpandangan dengan panik.
" Ahh... shiiiit.... tancap Key .... ", dan mode kalut yang kalap itu kembali mencengkeram dua orang pria yang baru saja terbebas dari rasa tegang. Keanu dan Haidar kembali tercekam oleh suasana yang kental dengan semua pikiran buruk.
Lindungi dia Tuhan... jangan biarkan kejahatan dan keburukan apapun menyentuhnya. Jika dapat, gantikan tempatnya dengan ku saja ... andai dia dalam bahaya ...................
__ADS_1