PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
In Your Eyes I See The Missing Piece Of Peace (11)


__ADS_3

" Apakah aku mengganggu kalian ? ". Sapa itu membuat Ardelia membatu.


Dia berdiri di seberang sana, tak jauh dari jangkauan dua langkah kakinya saja. Senyuman yang ... ah, entah kenapa terlihat lebih rupawan dari beberapa waktu lalu dalam ingatannya. Apakah karena barisan jambang dan kumis halus yang membuat pria itu terlihat lebih tampan ?, atau ... karena dia sudah rindu ?. Ardelia ... akhirnya kau mengakui jika sebenarnya kau sudah benar-benar jatuh hati.


" Nah ini dia si biang kerok ".


" Ma ... ". Raka mendekati Hana, ibunya. Meraih tangan wanita itu, lalu menciumnya dengan takzim.


" Raka salah ma' .... mohon maaf ya ...".


Tak !.... sebuah sentilan mendarat dengan telak di pelipis Raka, tapi tidak membuat pemuda itu bereaksi apapun. Ia hanya semakin menunduk dalam sambil terus menggenggam jemari wanita tersayangnya. Sementara Hana menghela nafas sambil menggeleng perlahan. Namun kemudian sebuah senyuman mengembang, bersamaan dengan sebuah pelukan hangat yang diberikannya dengan tulus pada Raka.


" Kau ini, dari dulu ... selalu punya cara aneh dan sangat menyebalkan ". Dug!!, satu pukulan diberikan dengan penuh kasih sayang oleh Hana, mendarat dengan hangat di punggung Raka.


" Apa kau sudah mendapatkan maaf dari calon ibu mertua mu ? ".


" Alhamdulillah sudah, Ma " .


" Bagus ..... kau tahu harus melakukan apa selanjutnya ? ".


" Ya Ma.....".


" Kenapa tidak buru-buru kau kerjakan ? ", kali ini terdengar suara Hana sedikit meninggi.


" Karena aku masih menikmati pelukanmu, Ma ". Manis sekali Raka mengucapkannya.


Dasar!!!... pasti begitu arti dari cubitan Hana di pipi pemuda yang dulu pasti juga seorang bocah lucu. Jika sudah begini, apakah seorang ibu bisa merasa marah lagi pada anak lelakinya yang datang dengan binaran mata secemerlang kejora, seperti saat mereka masih lugu dahulu.


" Ayo sana ". Hana melepaskan pelukannya lalu mendorong perlahan anak lelakinya itu. Tentu saja kearah dimana ada seorang gadis cantik yang terdiam melihat semua hal itu.


Ardelia, tiba-tiba saja menjadi salah tingkah. Senyuman pria itu.... ah, pasti dia menargetkan dirinya kini. Nah, iya kan .... dia melangkah dengan penuh percaya diri kearahnya..


" Raka... ", tapi penggilingan itu menghentikan sesaat. " Jangan disini ... kau mau buat baper semua orang?. Bicarakan baik-baik .... nih.... ". Hana melempar kunci mobilnya, yang langsung ditangkap dengan sigap oleh putranya.


" Thanks mom... luv you so much ".


Entah kenapa adegan selanjutnya yang begitu cepat terjadi, membuat Ardelia menjadi semakin salah tingkah. Lantai yang dipijaknya seakan berubah menjadi spons yang sangat labil. Membuatnya harus sangat berhati-hati, bahkan untuk sekedar menarik dan menghembuskan nafas.


" Hai ... ayo ". Tak memberi kesempatan untuk Ardelia berfikir bahkan bertanya kenapa, Raka langsung meraih tangan gadis itu. Lalu membawanya ke luar dengan berlari kecil.


" Ah ... ta-tante ... ", pekik Ardelia sambil menyempatkan diri menoleh pada Hana. Tapi wanita itu hanya tertawa sambil mengibaskan tangan memberi isyarat untuknya agar segera bergegas.


" Raka.... ", Ardelia berusaha melepaskan diri dengan menyentakkan tangan yang masih digenggam oleh Raka.


Tapi Raka sama sekali tak bergeming, tetap membawanya bergegas setengah berlari, meyusuri trotoar rindang yang penuh dengan aroma kenanga. Membawanya melintasi helaian waktu yang seolah terhenti. Bahkan atom dan partikel pun sepertinya menyingkir, memberi ruang untuk kedepannya.


" Abang ... ".


Raka yang menangkap sebuah kata pada gendang telinganya itu, tiba-tiba menghentikan langkah. Ia tersenyum, lalu menoleh menatap wajah cantik yang menatap protes padanya. Tapi satu kata pangilan tadi, telah begitu menyenangkan hatinya. Tidak akan mempengaruhi tatapan kesal penuh komplain itu.


" Say It again... please ".


" Apa ? ... ", sepasang mata kucing itu kini melebar dan menyorot tajam. " Bagaimana dengan tante ? .... kau keterlaluan ! ". Tapi Ardelia tidak memperdulikan permintaan Raka.


" Please ... ", Raka memohon bahkan juga dengan sinar matanya.


" Tante Hana bagaimana pulangnya ... kita tidak perlu ... ".


" Please .. ". Dan kali ini Raka menarik Ardelia mendekat, memerangkap wajah cantik itu dalam tatapan mesra penuh rindu.


" Mama .... ada banyak sopir yang bisa menjemputnya setiap saat. Bukankah beliau sendiri yang menginginkan kita untuk pergi berdua ? ". Kata Raka sambil memainkan kunci mobil yang tadi ditangkapnya. " Call me like that, again... please ... ".


Ardelia yang semula mencengkeram hatinya dengan rasa kesal, tiba-tiba saja sudah menjadi terpuruk dengan rasa malu yang kental. Ia hanya mencoba sedikit berfikir cerdas tadi. Setelah semua protes dan hentakannya tidak mendapatkan respon sedikit pun dari Raka. Tapi permintaan pemuda ini...., entah kenapa tiba-tiba saja membuatnya tak bisa mengendalikan rasa malu yang merayap dan membungkus hatinya perlahan.


" Delia..... ". Raka merasa terlalu lama untuk Ardelia memenuhi permintaannya, padahal hanya sebuah permintaan kecil. Dengan sedikit frustasi, ia mendekat hingga bisa membaui wangi yang sangat dirindukannya ini.


Ardelia semakin tersipu, tapi hembusan Raka kini terasa hangat menerpa wajahnya. Karena pria itu mendekat perlahan. Refleks ia menjauh, namun kemudian sebuah telapak tangan lebar menahan pinggangnya. Please Raka... ini masih di trotoar dengan beberapa orang yang juga berlalu lalang.


" Abang .... ".


Raka tersenyum bahagia, dan semakin lebar. Akhirnya Ardelia memenuhi permintaannya. Dan sungguh ia benar-benar tidak mampu lagi untuk menahan diri. Untuk menyatukan wajahnya dengan wajah cantik itu. Seandainya saja telapak tangan Ardelia tidak menahan wajahnya. Tapi apa yang keluar dari bibir mungil yang lembut terlihat itu, sungguh diluar dugaan Raka.


" Abang .... kenapa jadi brewok begini ? ".


.......................


Tidak ada bedanya hari Senin, Selasa, Rabu .... sampai Sabtu dan Minggu. Haidar hanya menjalaninya dengan datar, tanpa sparkle-sparkle aneh yang memantik hatinya. Tapi kini, setiap hari Jumat pagi mulai menjelang, seluruh dunia seolah berwarna pelangi. Warna semarak namun lembut. Membuat hatinya menjadi merekah penuh kebahagiaan.

__ADS_1


Hanya saja, terkadang ada hal tak terduga yang semula datang seperti biasa, tapi kemudian berhasil memicu sebuah ledakan yang akhirnya mampu mengubah atmosfer hari mu. Ya... seperti telepon rutin Keanu siang ini. Sebenarnya sih Haidar yang terlebih dahulu meneleponnya, dan ini menjadi sesuatu yang kemudian sangat disesali oleh si jangkung itu.


" Oh .... kupikir itu anaknya Hanin.But .... is he still virgin ? ".


" Otak mu itu Key .... tentu saja aku tidak tahu. Kau pikir hal begitu bisa langsung terlihat.... aku tidak berpikiran sampai kesana ".


" Waah... sudah cinta mati rupanya ini. Okelah .. aku doakan semoga lancar dan pak CEO kita tetep dapet yang pure.... orisinil..... ".


" Daripada elo' ... nggak dapat apa-apa ", balas Haidar yang disambut oleh tawa meriah Keanu diseberang sana.


' Iya deh.... lagian high quality man macam elo' masa iya sih belom ngerasain buka segel ya .... pasti pada ngantri 'kan tuh para cewek cantik ".


" Sak karep mu lah ......".


Seandainya kamu tau Key, bagaimana perjuangan Haidar yang harus menjungkirbalikkan hatinya sendiri demi bisa mendekat pada Nania-nya, kau pasti akan berpikir ulang untuk mengungkapkan hal semacam itu.


" Mas ... ", Hanin masih saja rnenatap Haidar dengan sepasang mata bulatnya yang berpagar bulu panjang halus dan lentik. Yang selalu membuat Haidar betah berlama-lama mamaku pandangannya.


" Apa.... apa maksudmu, mas ? ".


" Nania, kau merahasiakan semua ini ... hal buruk yang terjadi padamu.... seorang diri. Kau tegar, kau kuat, kau tidak lemah .... tapi, aku ingin sedikit meringankan beban itu. Tentang Leisel dan ibunya.... tentang Dave dan keluarganya. Pasti ada saat kau sedikit lelah ... bersandarlah padaku .... saat itu ".


" Lalu .... apa yang kau harapkan dariku ? ".


" Aku .... ". Haidar yang saat itu membagi konsentrasinya dengan kemudi dan navigasi, terdiam cukup lama.


" Niatmu sangat baik, dan aku sangat menghargainya. Tapi ini .... tidak ada hubungannya dengan mu ".


" Tentu saja ada ", Haidar menyentak dengan cepat. " Maaf .... tentu saja ada ... karena kau adalah putrinya Bu Firman. Kau bukan orang lain bagi keluarga kami. Kau .... adik ... kecilku ... yang satunya lagi ".


Bodoh ...., saat itu Haidar mengumpat pada dirinya sendiri.


" Begitu ya mas ". Tapi wajah yang penuh kelembutan itu kemudian sedikit tertunduk beberapa saat. " Maaf ..... aku telah salah mengira. Maaf .... aku terlalu... ge'er ....ah, aku... aku... pasti akan datang untuk meminta bantuan mu.... suatu saat ".


" Aku menunggu .... saat itu. Datanglah padaku, jangan ragu ya. Gratis kok... tidak ada bayaran sepeserpun ".


" Tentu saja... kalau kau minta imbalan, dengan apa aku akan membayarnya ?. Kau pasti hampir sudah memiliki semua hal ya .... ha..ha..ha.. ".


Aku hanya .... belum memiliki mu .


Nania-nya terlihat lebih cantik saat tertawa begitu. Dan Haidar berjanji dalam hati, dia akan selalu membuat Hanin Hanania tertawa bahagia. Tidak ada lagi air mata yang menggenang. Tidak ada lagi wajah penuh luka yang disembunyikan hatinya.


' Malam ini atau besok siang sampai di Berlin ? ' .


' Malam ini. Kau mau'kan menunggu ku di cafe ? ', balas Haidar.


' Mau ku siapkan makan malam sekalian ?'. Jawaban Hanin itu lebih dari sekedar sebuah ya' bagi Haidar.


' Tentu saja, bisa request yang spesial ?'.


' 😁😁.... ma..aaf... tinggal kalkun panggang saus lemon dan apel Strudel. Masih mau ? '.


' Okay .... tunggu aku, satu jam lagi '.


' Kau bilang baru malam ini sampai di Berlin .... kenapa satu jam lagi sudah sampai ? kau naik apa mas? ... jangan menggodaku ah '.


' Hei.... kau yang lupa waktu ya adik cantik. Tentu saja aku naik kereta. Ini sudah hampir jam delapan malam loh '.


' Oh ... ya ampun. Udah dulu ya. Sampai ketemu nanti '. Begitulah Hanin mengakhiri pesannya.


Meninggalkan Haidar yang termenung sendiri dengan hanya berteman deru lembut dari kereta cepat antar negara bagian ini. Ia memikirkan si cantik mungil yang pasti sangat sibuk bekerja hari ini, hingga melupakan guliran waktu. Gadis itu, pasti sangat menikmati pekerjaannya. Tapi apakah tidak lelah?, badannya yang tidak sama seratus enam puluh sentimeter itu.... bagaimana ia menyembunyikan kekuatan besarnya?.


Bukankah bekerja di dapur itu membutuhkan tenaga yang luar biasa, manajemen waktu yang presisi serta konsentrasi tinggi. Serupa dengan dirinya beberapa waktu yang lalu. Yang harus bekerja bersaing dengan waktu, mengambil keputusan yang tepat dan cepat agar bisa menyelamatkan, dan juga memprediksi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dan menjadi sebuah ancaman.


Terkadang Haidar merasa sangat kelelahan, sangat ingin untuk bersandar. Tapi dia harus tetap terjaga dan waspada. Lalu bagaimana dengan Nania-nya ?. Sepekat apakah konsentrasinya, hingga ia mengalami disorientasi waktu. Pasti gadis cantik itu ... sebenarnya.... sudah sangat lelah. Dan dirinya .... aaah, kenapa malah minta dibuatkan menu spesial. Keterlaluan kau Haidar !!.


Haidar kembali mengumpat dan menyalahkan dirinya sendiri, terlalu tidak tahu diri dan semena-mena. Sementara kereta cepat melaju dengan kecepatan tak berubah, membawanya semakin dekat dengan Nania- nya.


Sudah mulai memasuki musim gugur, walaupun sisa musim semi belum sepenuhnya berlalu.. Dan udara sudah mulai menjadi dingin, walaupun belum mengigit. Haidar merapatkan kerah mantelnya, saat itu ia baru keluar dari stasiun kereta terbesar di kota ini. Berjalan perlahan, berusaha memberikan waktu lebih lama untuk seseorang yang sudah menjanjikan seporsi makan malam untuknya.


Ia kemudian tersenyum kecil, mengingat hal menyenangkan yang akan menyambutnya.


" Mau kusiapkan makan malam ? ". Pertanyaan itu, rasanya seperti telah memiliki seorang pendamping hidup.


Seandainya Nania menambahkan dengan satu kata lagi ..... 'sayang'.... pasti Haidar tidak akan mampu lagi menahan hati dan jantungnya yang berloncatan bahagia. Kau ini !! .... dikasih hati minta ampela.


Langkah perlahan itu pada akhirnya telah membawanya sampai di depan pintu cafe yang temaram menenangkan. Seorang pria bertubuh sedikit kurus, dengan hidung yang tinggi menjulang menyambutnya dengan tatapan terkesan sedikit mengancam. Tapi saat Haidar menyapanya ramah

__ADS_1


" Selamat malam... aku ada janji dengan chef Hanin. Apakah dia masih disini ? ".


" Ah .... ya.. ya.. anda tuan Indonesia itu ya. Silahkan duduk, chef kami baru berbenah ", pemuda keturunan Turki itu menjawab dengan lebih ramah lagi.


" Terimakasih banyak ya ", membuat Haidar merasa begitu diterima ditempat ini.


Tak berapa lama setelah ia diberi segelas limun jahe, terdengar suara khas yang akhir-akhir ini mampu menjungkirbalikkan dunianya. Suara lembut yang manis, seringan bulu dan renyah menggetarkan gendang telinganya. Membuat ia tak bisa memalingkan wajah dari arah pintu. Menunggu wajah secerah mutiara terkemilau di lautan itu menyeruak, menyatakan jika harinya benar-benar sempurna.


" Hai mas.... ".


Dia tersenyum dengan sangat manis, kerlingan matanya serupa kejora.


" Kalkun lemon special.. untukmu, menu baru untuk Thanksgiving nanti ".


Dan dunia seperti mengalihkan sumbu putarannya. Gadis itu, seolah telah menggabungkan dua kutub untuk seirama menari dalam langkah nya. Semua berputar dan bersenyawa dengan kerlingan bintang benderang di mata yang indah.


Dan Haidar .... ia tersesat diantara keindahan penuh damai itu.


........................


Belasan tahun yang lalu, bahkan mungkin mundur dua dasawarsa dari masa sekarang. Dimana dunia masih penuh keceriaan, setidaknya demikian di mata seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain dengan bonekanya. Ia bermain seorang diri, tapi tidak peduli, karena ia sibuk bercerita dengan Rabitania si nona kelinci berbaju pink. Yang sepertinya sedang menunggu Rebota si tuan kelinci yang tampan. Ketika kemudian terdengar suara derap langkah kaki berlarian dengan semangat, dua bocah lelaki berwajah tampan datang menghampiri si gadis kecil yang cantik itu .


" Mba ... ayo main dokter-dokteran ", pinta seorang bocah.


" Raka.... ini mba baru ada tamu. Bukan begitu Rabitania ? ... kita sedang menunggu tuan Rebota... kita mau pesta minum teh ".


" Tapi mba Cinta sudah mau... kemarin. Kok jadi ingkar janji ".


" Aku nggak ingkar janji ya Haidar .... aku kemarin cuma bilang ... boleh, main kapan-kapan dan itu bukan sekarang ".


" Ah... mba Cinta curang ... ayo Dar, kita ambil peralatan dokternya ".


Dan dua bocah tampan itu pun kemudian saling bergandengan, berlari kecil menaiki tangga bertengger memutar. Suara ceria mereka masih tetap terdengar dari ruang bawah. Gadis kecil itu tidak lagi peduli, ia kembali asyik dengan pasangan kelinci nya.


" Kak Namu ... ", serunya pada bocah laki-laki yang lebih besar, dan sedang asyik membaca buku sambil duduk nyaman di atas sofa. " Mau menemani mister Rebota sebentar ? ...aku mau ambil kotak musik dulu dengan miss Rabitania ".


" Oh ...ya, aku temani dia ". Bocah ini tak menolak sama sekali . Ia bahkan langsung turun dari tempatnya duduk dan mendekat pada boneka kelinci bertuxedo, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari buku yang sedang ia baca.


Sementara itu di gadis kecil sambil bersenandung riang bersama boneka gadis kelincinya, meloncat-loncat gembira sambil menaiki tangga. Semua terlihat biasa saja, tak terdengar kegaduhan apapun, membuat bocah yang menemani kelinci bertuxedo itu semakin tenggelam dengan buku tebal yang dibacanya.


Tapi kemudian dia menjadi sedikit tersentak ketika mulai terdengar suara pekikan diantara tawa cekikikan . Belum lagi ia bisa memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tiba-tiba saja terdengar jeritan yang memecah kedamaian hari itu.


" Waaaaa..... aaaah.....". Jelas itu suara gadis kecil bernama Cinta, yang langsung membuatnya berdiri, lalu melesat secepat yang ia bisa.


" Cinta... kenapa ? ".


" Hwaa ..huaaa ", dan tangis itu pecah tak tertahankan, tubuh Cinta kecil begitu gemetaran sementara air mata mengucur dengan deras.


" Kalian apakan, Cinta ?", bentak Namu pada duo usil yang kini menunduk dengan wajah pucat dan saling berdiri merapat.


" Maaf ... bukan maksud kami begitu. Iya kan' Raka ...".


" Cuma mau suntik boneka ... tapi, nggak boleh ... terus mba Cinta ngalangin.... jadi kena suntik... maaf ... ".


" Ya ampun ... ", Namu kecil membelalakkan matanya tak percaya. Jarum suntik itu masih tertancap di tangan Cinta, tepatnya beberapa senti di bawah siku.


" Hwaaa.... kakak .....tolong ". Cinta menangis, dengan Isak yang mengguncang bahunya cukup kuat.


" Dari mana dapat suntikan ?. Siap yang melakukan ? ", Namu justru berteriak marah pada Raka dan Haidar.


" Haidar yang ambil dari tas Tante Orlin ", Raka melaporkan.


" Tapi kamu yang meyuntik kak Cinta ", Haidar tak mau jadi satu-satunya yang bersalah.


" Cari mama ... Tante Hana juga bisa ... buruan !!!! ".


Dan dua bocah itupun segera berlari, menuruti permintaan kakaknya yang kini sudah berwajah merah padam penuh amarah.


" Kak Namu .... sakit ". Cinta masih gemetaran.


" Iya.... jangan dilihat ... lihat kakak saja ".


" Aku ... takut ...".


" Ada kakak di sini.... liat Kakak ya.... tunggu mama .... sebentar lagi datang. Cinta ..... ".


Dan genggaman erat itupun menguatkan. Tatapan lembut itupun menenangkan.

__ADS_1


...Rupanya .... sudah sejak dahulu kau menjadi kedamaian untuk hatiku ...


__ADS_2