
Sudah lewat tengah malam ketika ibu itu datang membawakan dua cangkir teh dengan aroma yang harum serta kepulan asapnya yang tipis. Kirana tersenyum saat menerima cangkir itu.
" Terimakasih Bu ... ".
" Sama-sama bu dokter ".
" Panggil saja Rana Bu ....lebih nyaman terdengar. Dan lagi.... saya juga belum wisuda dokter kok.... 'ntar kualat ". Kirana terkekeh mencairkan suasana
" Ah ... nggak berani saya... belum wisuda aja udah joss. Mba dokter aja 'nggih ? sudah pantes banget ".
Dan Kirana pun pada akhirnya menyerah kalah pada pendirian wanita paruh baya ini. Ya ... biarlah, toh setelah ini mereka juga tidak akan bertemu lagi. Begitu pikir Kirana.
Nyaris dua jam, bahkan mungkin lebih, dirinya terperangkap di tempat ini bersama si pria boss yang kini nampak mulai bernafas dengan teratur. Tunggu saja beberapa menit lagi.... Kirana menyeringai tipis.
" Ada apa Mba ? ".
Tanya itu terlontar dari Yudi yang diketahui Kirana sebagai asisten pribadi, orang kepercayaan si pria boss.
" Ah tidak ... ", Kirana kali ini tersenyum dan tidak keberatan menampakkan nya dengan jelas. " Tunggu saja sebentar lagi .... seharusnya lima sampai sepuluh menit lagi ".
Yudi yang baru saja menyesap kembali cairan hangat beraroma melati dan khasnya wangi Camellia sinensis teh asli Nusantara, tak urung mengernyitkan keningnya. Karena ia benar-benar tak memahami apa yang dimaksud oleh dokter muda ini. Senyuman penuh misteri di wajah ayu itu, membuat rasa penasarannya bertumpuk. Hingga asumsi waktu yang disebutkan tadi terasa begitu lama.
" Aargh... ", suara erangan itu terdengar dari atas tempat tidur. Si pria boss itu, yang tadi nampak mulai tenang dan hampir jatuh terlelap, kini membuka mata lebar-lebar.
" Pak Yudi ... kau harus membantunya, lihat saja ", Kirana berbisik pelan.
" Hah?!". Yudi terbengong-bengong.
" Yud... aku mau ke kamar mandi ".
Benar'kan ...., Kirana mengerling pada Yudi yang kini mulai paham apa yang dimaksud gadis ini. Segera pria muda itu membantu sang boss untuk ke kamar mandi. Memapah tubuh yang tinggi besar itu serta memegangi botol infus agar tetap pada posisi yang lebih tinggi.
Kirana merasakan penat dan juga kantuk yang mulai menyerang. Benar saja, sudah pukul dua dini hari dan dia sama sekali belum istirahat sejak siang tadi. Bergegas ia merapikan tas yang dibawanya. Ketika itulah ibu paruh baya itu kembali masuk kedalam ruangan dengan wajah yang terlihat juga sudah mengantuk.
" Mba dokter Rana .... ", kali ini sebutan itu begitu lengkap. " Kamar untuk mba sudah siap.. ada di bawah. Mari saya antar, biar bisa langsung istirahat ... pasti capek sekali ya ".
" Terimakasih Bu, saya langsung pulang saja ".
" Waduh mba .... jangan, ini sudah malam banget. Berbahaya .... nggak baik juga dilihat orang. Kamarnya di sebelah kamar saya kok .... aman ".
" Saya pulang saja... nggak apa-apa .... terimakasih ".
" Namu akan membunuh ku .... Haidar pasti juga akan menghajar ku kalau tau' kau kubiarkan pulang sendiri selarut ini ". Suara berat itu menyela tanpa permisi . " Dan lagi.... siapa yang akan mengurus infus ini ... tidak ada orang lain yang bisa, selain kamu bu dokter ... ".
" Baiklah ... ". Kirana mendekat. " Berbaringlah pak ... ".
Pria boss itu tersenyum dan berbaring menuruti perintah Kirana.
" Kalau begitu ... bapak resmi menjadi pasien saya ... pasien pertama praktek mandiri saya. Boleh tahu nama nya ? ".
" Hua ... ha... ha... ternyata kau benar-benar lupa pada ku ya ... ".
Kirana mendengus kesal, baru kali ini ia benar-benar 'blank' dengan sosok seseorang. Tapi sepertinya ia memang belum pernah bertemu dengan pria boss ini kok. Atau mungkin ... ia terlalu berkonsentrasi dengan koas nya, sehingga tidak ada cadangan memori yang memadai untuk menyimpan informasi tentang pria ini, biarpun cuma secuil.
" Huff ", Kirana meniup rambut di keningnya sendiri, tanda ia mulai tidak sabaran dan salah tingkah. " Okay ... terserah anda pak ".
" Bu Sri, Yud... kalian bisa keluar sebentar. Aku mau bicara empat mata dengan nona ini ".
Sepasang mata Kirana melebar, bibirnya pun ikut meruncing. Selaksa nada protes terpampang melalui seluruh gesturnya. Tapi tidak ada satupun yang mampu keluar dari mulut nya. Sementara itu, dua orang tadi segera keluar menuruti permintaan si pria boss ini.
" Anda tau' pak? seharian ini saya belum beristirahat. Bisa dipercepat ? " . Kirana mendekat pada ranjang dan memperlambat tempo jatuhan cairan infus itu. " Dan anda pak.. malam ini juga telah membuat ku melakukan tindakan ilegal ".
" Ilegal ?! " .
" Tentu saja... ini semua ilegal. Ijin praktek ku sebagai dokter belum ada .... "
" Tapi ini tindakan penyelamatan, darurat .... tidak ada yang ilegal. Jangan khawatir ... aku bisa jaga rahasia kok ".
" Huuuuf.... model pasien seperti ini yang bikin susah ".
Melihat Kirana yang bersedekap dengan raut wajah kesal bersungut-sungut, tak urung membuat pria boss itu tersenyum dan terkekeh. Sepertinya laki-laki ini menemukan hal yang menyenangkan.
" Kau sama sekali tidak mengingatku ? ".
" Kau pikir, begitu istimewa apa? hingga aku terus bisa mengingatmu ". Balasan Kirana itu tak terlalu keras terdengar, tapi cukup jelas terdengar.
" He... he.. he... iya juga ya. Tapi aku memang punya kemampuan diatas rata-rata untuk bisa mengingat seseorang. Walaupun baru sekali bertemu ".
" So ?? ", Kirana mulai tidak sabaran.
" Ehmm.... kau datang setengah berlari menghampiri kakakmu, dokter Haidar. Waktu itu... kau pake rok hitam panjang berpotongan 'A', dengan atasan ungu pastel yang lembut. Berbicara sebentar dengan kakak tampan mu itu... memeluknya erat untuk beberapa saat, lalu mencium pipinya juga. Ha... ha... ha... kau tahu ? saat itu kupikir kau kekasih dokter Haidar. Dan ternyata ..... bukan hanya aku yang salah sangka. Para karyawan wanita yang melihat hal itu, tentu saja mereka sangat patah hati ".
Sedetail itu ? ... tapi kapan ?. Bertemu dengan kak Haidar.... terakhir kali.... ah ya.... kedokteran jiwa yang melelahkan itu. Dia ?? ... orang ini ? benarkah ?.
Kirana tiba-tiba saja menjadi gugup, ia mulai mengingat sesuatu. Hari dimana ia terakhir kali bertemu kakaknya di kota lumpia ini. Di lobby sebuah perusahaan besar yang menyediakan kebutuhan peralatan medis. Hari di mana ia sangat tergesa-gesa dan juga takut dengan salah seorang pasien yang menjadi begitu terobsesi padanya.
__ADS_1
Berlari dan kemudian memeluk kakaknya membuat hati merasa sedikit lebih tenang. Satu janji yang benar-benar ditepati oleh kakaknya, yaitu menjaganya. Membuatnya menghadiahkan kecupan sayang di pipi dokter tampan pujaan para gadis. Pertemuan sesaat yang lumayan bermakna, ia mendapatkan pengawalan penuh dari pria-pria bertubuh tegap yang pastinya adalah orang-orang sang kakak. Walaupun semuanya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tapi Kirana sangat memahami hal itu.
Tapi pria ini ? ... ah siapa dia. Apakah benar ia pernah bertemu sebelum?. Sepasang mata abu-abu yang temaram seperti senja kala hujan ini ... seharusnya menjadi sesuatu yang istimewa. Tapi ia benar-benar tidak mengingatnya.
Atau jangan-jangan .....
" Maaf pak... saya tidak ingat, benar-benar tidak ingat. Tapi sepertinya ... bapak ini pak Syailendra Thoriq Zachary. Mohon maaf jika salah ... ".
" Well ... adik cantik yang cerdas. Tidak heran, dua kakaknya juga sangat brilian. Kau benar bu dokter ". Dan tawa renyah itu terdengar mengalun tanpa sungkan.
" Kau menabrak ku saat bergegas pulang ... tak mengapa jika tidak ingat .. ".
" Maaf ... saya benar-benar tidak ingat. Tapi... berarti anda ... pak Syailendra yang .... di jodohkan dengan sepupu saya .... maaf ... ", Kirana terlihat begitu berhati-hati mengulas kalimatnya .
" Ha... ha... ha... begitu ya ... mungkin ? . Apakah sepupu mu itu menyukai ku ? ".
Kirana mengangkat bahunya, dengan sedikit senyum kaku yang juga tersungging. Sesungguhnya ia juga merasa yang terlalu bersemangat justru paman dan bibinya. Bukan mba Cinta.
" Bukankah dia sangat mencintai pria lain ? ".
" Benarkah ? ... aku .. aku tidak tahu. Mba Cinta sangat tertutup dan .... tidak pernah terlihat dekat dengan pria manapun ".
Kirana mulai terlihat antusias, ia bahkan membalikkan badannya untuk mengambil sebuah kursi. Saat itulah ia baru menyadari kalau Yudi sang asisten dan Bu Sri sudah tidak lagi berada di kamar itu. Namun sepenggal informasi dari pria ini telah memadamkan rasa sungkannya. Ia sudah terlalu penasaran, dan tak lagi merasa tak nyaman berada di dalam kamar yang sama dengan pria yang baru dikenalnya.
" Bisa kau ceritakan padaku pak ? ... bagaimana kau mengetahuinya ? ".
Dengan langkah taktis yang manis, Kirana kini sudah duduk dengan nyaman di samping pria boss ini. Tentu saja membuat tawa pria itu kembali pecah.
" Aku suka gaya terus terang mu 'bu dokter ... ha..ha..ha.. ".
" Maaf pak, tapi... bisa panggil saja ... Kirana ?, seperti tadi .... ".
" Okay... tapi jangan panggil aku pak. Umurku memang lebih tua dari Namu kakakmu. Tapi... lebih nyaman jika kau panggil aku ... Mas atau Abang ... rasanya seperti mempunyai seorang adik perempuan sendiri ".
" Mba Cinta... bagaimana dia memanggil mu?".
....................
" Ranaaaa...... ", lengkingan tujuh setengah oktav itu berbanding lurus dengan besarnya energi impuls dari pelukan yang nyaris seperti tubrukan meteor dari si pemilik suara cempreng, Triana.
" Kau baik-baik saja kan ? .... apa yang terjadi ?, kau menginap dimana ? ", berondong Tria dengan pertanyaan tak berujung.
" Aku minta maaf... ", akhirnya Tria menyerah.
" Okaaaay..... nothing to loose ". Kirana melepaskan pelukan Tria. Lalu dengan cepat melesat meninggalkan teman satu kostnya yang kini berteriak semakin melengking.
" Ngantuk .... mau tidur. Jangan berisik !!!! ".
Blamm !!! pintu itu tertutup dengan mantap begitu si empunya kamar masuk kedalamnya. Kirana melempar tas cangklong andalannya, jas warna putih kebanggaan berikut dirinya sendiri keatas kasur yang empuk dan nyaman.
Hoooaaamm....., dan gadis itupun menguap dan meregangkan seluruh tubuhnya dengan perasaan sangat nyaman. Sangat apa adanya, tak ada yang ditutupi. Inilah sosok Kirana yang sedang sangat mengantuk dan kelelahan.
Tapi ternyata, ia tak mampu segera terpejam. Kejadian yang baru saja dialaminya malah berputar seperti sangat dramatis di otaknya. Issh...., Kirana mendesis sebal mengingat semuanya.
" Cinta ... dia gadis yang cantik dan cerdas ya. Tapi bodoh untuk urusan cinta, tidak seperti namanya... ha... ha... ha.. ".
" Aku bertanya bagaimana dia memanggil mu ... bukan menanyakan bagaimana pendapat mu ".
" Widiiiih .... segalak ini dengan pasien mu Bu ? '.
" Heeeergggh !!!! ".
" Okay ... okay... Mas Alend, begitu Cinta memanggil ku ".
" Kalau begitu aku juga akan memanggil mu ... mas Alend ..... ".
" Deal .... Rana ".
" Lalu siapa pria yang sangat dicintai kakak cantik ku itu ? ".
" Apakah kau selalu tidak sabaran seperti ini ? ". Dan pria itu seperti sengaja menggodanya.
" Ya !!!... karena aku paling muda dan terbiasa ditindas kakak-kakak ku .... ".
" Woooo... sekejam itu'kah dua kakak tampan mu itu ?. Mungkin karena kamu sangat cantik dan menggemaskan Rana.... ".
" Oh ... terimakasih atas pujiannya. Bisa kita kembali ke topik pembahasan ? ".
" Ya ", dan bola mata yang indah itu mengerling dengan samar, setipis senyuman yang tersungging.
" Siapa pria itu? yang sangat dicintai mba Cinta ? dan darimana bapak .... ehm... maaf ... mas Alend tahu' ? ".
" Boleh aku menarik nafas dulu ?..... kau bertanya menyaingi wartawan infotainment ".
" Anggap ini bayaran atas jasa ku.... deal ?! ".
__ADS_1
" Tergantung ..... karena aku juga sudah punya janji dengan kakak Cinta mu itu ".
" Jawab dulu pertanyaan ku ".
Pria itu kembali tertawa, tapi kemudian dia beranjak bangun kembali. Sungguh licik, persis kak Haidar begitu dalam benak Kirana.
" Aku mau pipis dulu ..... ". Dengan ekspresi sangat datar. " Bisa bantu aku ? ".
"..???!!! ".
Dan Kirana pun memukul udara dengan dua tinju beruntun, kesal sekali mengingat kejadian itu. Baru kali ini dia bertemu dengan pria yang sifatnya 11-12 dengan Haidar kakaknya. Sangat usil dan sepertinya terlahir dengan takdir sebagai penguji kesabarannya.
" Sudah... ". Kirana yang bangkit berdiri tapi tidak untuk membantu Syailendra.
Dia mematikan atau menutup katup pada infus set, melepas selangnya dari gantungan darurat yang di buat Yudi tadi. Lalu dengan berjinjit, dia melilitkan selang infus itu di leher Syailendra, dua kali.
" Hei.... ", nada protes itu terdengar bercampur kaget, tapi tertahan. Tentu saja, karena Kirana buru-buru menjejalkan ujung tabunh infus yang terbuat dari plastik tebal itu ke mulut Syailendra.
" Naah .... kedua tangan mas Alend bebas, kamar mandi juga dekat. Monggo ..... ".
" Huughh... awaghh.. high hyaa... ", gumaman tak jelas itu keluar berurutan dari mulut Syailendra yang berjalan gontai masuk ke kamar mandi. Sementara Kirana terkikik puas dengan kemenangan pertamanya.
Sepuluh menit berlalu, pria boss itu telah kembali dari kamar mandi. Kirana menyambutnya dengan seringai puas.
" Kau' memang pantas jadi adiknya Haidar ".
" Memang aku adiknya.... ", tukas Kirana cepat. " Ayo ... ceritakan sekarang ".
" Sabar non... aku cari posisi nyaman dulu. Dan.... bisa'kah kau sedikit mendekat ? ".
" Pak... mas Syailendra ... kau yakin pengaruh obat perangsang itu sudah bisa kau kendalikan ? ".
" Kenapa ? .... kau pesimis dengan langkah yang kau ambil. See... I'm okay now. Mendekatlah, aku juga akan duduk bersandar saja ".
Tanpa menunggu lagi Kirana segera menarik kursinya mendekat ke arah Syailendra. Rasa penasaran ini benar-benar membuat dia setengah gila.
" Aku heran... kalian sampai tidak mengetahui sparkle-sparkle di mata Cinta ".
" Aku belum pernah jatuh cinta ", sergah Kirana cepat.
" Ooh.... repot kalau begini ".
" Looh!!!! apa hubungannya denganku yang belum pernah jatuh cinta ?. Buruan dong katakan... susah amat siiih ". Kirana semakin kesal.
" Sabaaar.... pria... siapa pun ... tidak terkecuali... siapa yang bisa mendekat ke kakak Cinta mu. Dan tidak ada penolakan .... ".
" Om Juna ... itu papa nya mba Cinta. Ehm... kak Namu, kak Haidar .... kak Raka... papa ku. Ishhhh.... tapi nggak mungkin ... mereka semua 'kan keluarga ".
" Oh .... okay .... lalu, ada teman dekat atau sebuah nama yang pernah di ucapkan Cinta atau mungkin pernah disinggung karena kedekatannya dengan Cinta ? ".
" Ehmmm.... ", berpikir sejenak, menggugah memori nya. " Ada... tapi itu dari Tante Hana ... dan itu kamu, mas Alend ... ".
" Heeeiii... memang apa yang kau dengar tentang aku dan Cinta ".
" Mama cerita .... katanya mba Cinta tidak menolakmu yang mendekat, dan kalian berdua .... bahkan saling bertemu di Seoul ".
" Heeem... kau pikir, kenapa aku jadi satu-satunya pria yang tidak dihindari oleh Cinta, padahal jelas-jelas ia tahu kalau ada rencana kami akan dijodohkan ... ".
Kirana menggeleng, dia benar-benar tidak memahami. Beruntung pemandangan dihadapannya lumayan indah, sehingga ia tak begitu tercekik oleh rasa penasaran yang akut. Pria dengan pahatan wajah yang sempurna.
" Tentu saja karena aku tahu siapa yang sangat dicintai oleh Cinta .... dan tentu saja karena aku adalah sahabat mereka .... ".
" Apa ???? ... jadi kau juga bersahabat dengan pria itu... yang dicintai kan Cinta ... ".
Syailendra mengangguk memberikan jawaban. Entah mengapa Kirana merasa kalau senyuman pria ini begitu menawan, dan mampu mengalihkan rasa penat serta kantuknya.
" Pria itu... dia tampan? baik ? ".
" Tentu saja. Semua kriteria pria idaman ada padanya ".
" Aku mengenalnya ? ", sergah Kirana bersemangat.
" Tunggu .... seperti yang sudah ku katakan tadi. Aku juga punya janji dengan Cinta. Tapi aku juga ingin membantu nya .... lewat kau adik cantik. Ada dua pertanyaan ..... jawabannya ya dan tidak .... pergunakan sebaik mungkin ".
" Hwiidiih..... ", Kirana mencibir. " Empat ... ".
" No ".
" Please .... katanya niat mbantu ".
" Okay ..... tiga .... fix ".
" Deal !!!! ". Dan dengan cepat Kirana menyambar telapak tangan Syailendra.
Jabat tangan yang erat tanda persetujuan. Namun telapak tangan yang besar itu, entah kenapa terasa sangat hangat. Seperti ada bentuk energi baru yang mengalir dan menembus hati Kirana. Belum lagi kerjapan kelopak mata yang membiasakan indah bola mata kelabu itu. Entah mengapa Kirana merasa ada hawa panas yang menjalar di pipinya tiba-tiba.
__ADS_1
Dan sekarang ia berbaring dengan sangat gelisah diatas peraduannya. Memikirkan tiga pertanyaan yang akan diajukan sore ini ?..... tentu saja. Tapi sepasang bola mata itu begitu indah, dan sangat mengganggu konsentrasinya.