
Di atas pelaminan yang tidak terlalu megah untuk ballroom seukuran ini, tapi sangat elegan dengan aneka mawar, serta tlip yang bermekaran menawan, pasangan kekasih yang telah saling mengikat janji suci nampak tertawa lebar berkali-kali setiap menerima ucapan selamat dari para tamu undangan. Di sayap kiri alias VVIP spot, meja dan kursi yang di tata berkelompok nampak hangat oleh canda dan tawa orang-orang yang saling berbincang.
Kelima sahabat yang kembali berkumpul penuh suka cita, saling bercerita dan mengenang indahnya masa muda mereka. Ardanu, Bramastya, Teddy nampak berkali-kali melempar pandangan pada orang tua mempelai pria dan wanita yang notebene keduanya adalah sahabat mereka. Tawa mereka lepas, sepertinya sangat kompak menggunjing hal-hal baik tentang pasangan besan ter-amazing tahun ini.
" Dulu kita yang terkaget-kaget dengan kisah cinta bapaknya ... eh... sekarang menurun sempurna, identik ... pada anaknya. Nggak nyangka sama sekali ya ", komentar Adrdanu yang langsung diiyakan oleh dua orang sahabtnya ini.
" Andai kau tahu bagaimana syoknya Arjuna ... dilapangan tenis dulu ", Bramastya membumbui.
" Waaah ... banyak sekali yang ku lewatkan ya ", Teddy mencondongkan badannya penuh rasa ingin tahu. " Apa Juna' sempat menolak ? ".
" Tidak ... semua berjalan mulus. Hanya saja ... malam-malam ia menelpon ku. Bilang : tolong bangunkan aku ... aku pasti mimpi. Masa' iya aku harus jadi besan si bossmand... ".
Kembali tawa bersahut-sahutan begitu Bramastya selesai bercerita. Wajah -wajah yang tidak muda lagi itu nampak bersinar dengan bahagia. Mengulas kembali untaian kisah yang mendewasakan pribadi mereka, mengingat kembali bagaimana luka membuat mereka semakin erat berpegangan tangan, mengenang lagi setiap tangis yang membuat mereka pada akhirnya dapat tertawa lebih lebar. Masa muda yang telah terlewati penuh dengan kenangan berharga.
" Kalau kita nikah, sejujrnya aku nggak mau yang pake' ribet-ribet kayak gini ".
Ardelia menoleh dengan pandangan menyipit, seolah hendak mempertajam apa yang menjadi fokusnya. Aneh '.... demikian batinnya pada Raka. Tapi ia memilih menunggu, karena tarikan alis pria ini serta senyuman isengnya menunjukan kalau ada hal amazing yang akan diungkapkan lagi.
" Tapi ... kalau kau menginginkan yang seperti ini ... it's okay. Siapa takut .... aku akan berdandan dengan dengan feminin ..ichhh... kayak pangeran tanah Jawa itu ".
Ardelia jelas menahan tawanya melihat bagaimana menunjuk Namu dengan dagunya dan dengan gaya genit luar biasa. Tapi binaran di matanya masih menunggu, akan ada apa lagi selanjutnya.
" Tersenyum seharian ... bersalaman seharian, sambil berdebar-debar seraya mencuri-curi pandang pada wanita tercantik yang berdiri disampingnya. Aaah ... pasti sangat tersiksa ya ".
" Bagaimana bisa?. Tuh ... kak Namu kelihatan bahagia banget. Kok tersiksa sih ".
" Kau tidak tahu ... pasti hatinya sedang mengumpat-umpat tidak karuan. Buruuuann !!!! kalian pulang sana ...., begitu ". Lalu Raka sedikit merapatkan tubuhnya pada Ardelia, kemudian berbisik dengan gesture yang sangat mesra. " . " Karena yang sangat dibutuhkan.... hanya satu ranjang kosong dan high prifacy saja... you know what I mean ? ".
" ....... ", Ardelia menjadi blingsatan tapi tak mampu berkata-kata. Wajahnya memerah karena malu, tapi juga kesal dengan sikap Raka yang .... nakal. Ia tahu pasti apa yang dimaksud pemuda ini. Hadeeeeeh .....
" Aku yakin, tadi malam pasti belum gol ".
Ya ampun Raka ............
" Bisa tidak kita bahas yang lain ? ", Ardelia menggeram dengan bisikan. Membulatkan bola matanya yang meruncing tajam, sambil mengetatkan bibirnya tanda ia kesal. " Jangan rusak suasana bahagia dengan humor jorok mu ".
" He.. he.. he.. ", Raka terkekeh tak berdosa. " Kalau kita besok, habis ijab ... langsung kabur, honeymoon ya...".
Ardelia memutuskan untuk mencubit lengan raka dengan keras, hingga membuat sepasang mata pria itu berkaca-kaca dengan bibir bergetar. Menahan rasa nyeri yang menyerang tanpa permisi.
" Aaaduuuuh ... ", Raka mengaduh lirih. " Please .... lepasin dong ...ampun ".
" Janji nggak mesum lagi ... ".
" Kok mesum sih ... nggak ah ...auw...adaaw.. iya deh janji ".
Akhirnya pria itupun terlepas dari jurus cubitan maut. Bersamaan dengan datangnya Haidar menghampiri.
" Ngapa' lo ? .... eh minta tolong dong ". Sepertinya Haidar memilih mengabaiak bagaiman memerahnya wajah raka dan juga sepasang mata yang berkaca-kaca itu.
" Ngapain ? ", tanya Raka kemudian.
" Aku mau main musik nih ... tolong video 'in ya ",kata Haidar sambil menyerahkan telepon genggammnya.
" Yee... nggak mau kalah nih ceritanya.. mau ikutan biar viral ", ledek Raka
" 100 % ... No !!!!. Ini adalah bentuk perjuangan cinta ".
" Lah ?! elo pikir .... yang kemarin itu bukan perjuangan cinta", Raka terkejut tapi tidak bisa melakukan apapun, ia hanya menggerutu.
" Wiiih kereeeen... aku dukung itu ", Ardelia terlihat lebih bersemangat. " Biar aku saja yang ambil video... abang sih suka ngawur. Nanti malah nggak bagus hasilnya ". Ardelia dengan cepat merebot telepon genggam Haidar dari tangan Raka.
" Thanks Ardel .... calon kakak iparku yang baik ". Haidar terkekeh samnil mengedipkan sebelah matanya pada Ardelia.
" Lah ?! ", Raka terkejut tapi tidak bisa melakukan apapun.
" Thanks Ardel .... calon kakak iparku yang baik ". Haidar tertawa lebar.
“ Oke deh, elo mau main musik tapi konsepnya apa ?. Harus punya cerita ‘Dar. Masa depan elo’ loh ini “. Raka
nyengir menyiratkan kemenangan, seolah ia tak mau kalah dengan ide hebatnya. “ Karena elo… best brother gue’… pasti dapat bantuan tulus .. dariku .. he..he..he.. tanpa kau minta “.
“ Abang ih .. “, Ardelia mencubit lengan Raka kembali dengan gemas. “ Haidar pasti sudah punya khas’nya sendiri … kita support aja “.
“ Lah iya, tapi kalau lihat wajah culunnya yang bengong gitu … aku yakin, pasti rencananya receh .. hi..hi..hi.. “
“ Oke.. oke.. gini, gwa mau main piano disana … lu rekam, terus nanti mau ku kirim ke Nania “.
“ Nah .. ‘kan .. receh “. Raka terlihat puas dengan ketepatannya menebak.
“ Lo’ bilang mau bantu “, Haidar mendelik pada sepupunya. “ Buruan … apa ide mu ? “.
“ Video call .. “. Sahut Raka dengan sangat yakin
…………………………………………………………
Hanin baru saja menyelesaikan sarapan bersama Celia dan juga Rama, lalu ketiganya mulai membereskan meja
__ADS_1
makan dan nampak bersiap untuk memulai aktifitas di pagi itu. Tidak tergesa-gesa, karena ini akhir pekan. Walaupun dua remaja itu tidak mengambil libur karena kebetulan keduanya sedang
terlibat dengan proyek sains dan budaya di tempat mereka bersekolah. Hal ini jugalah yang membuat Hanin dimintai tolong secara langsung oleh bapak dan ibu dubes untuk menemani keduanya selama satu minggu ini. Menunjukan betapa dekat hubungan seorang Hanin dengan keluarga ini.
Saat Celia baru saja akan membantu Hanin menyusun egg roll sushi yang akan jadi bekalnya hari ini, telepon
genggamnya menggelepar. Gadis remaja itu meraihnya dan tersenyum melihat siapa yang melakukan panggilan di pagi itu.
“ Om Raka … tumben. Halo Om … “.
“ Hai cantik ….. busyet dah’ tambah manis aja nih keponakan Om yang satu ini “.
Celia tertawa, “ Itu acaranya ya Om? …. Wuiiih ramai ya. Mana pengantinnya ?. Kasih lihat dong “.
Lalu layar datar itu pun menampilkan pergerakan. Raka mengarahkan kameranya pada pelaminan. Menampakan
sepasang insan yang beraura bahagia dan tak hentinya menebarkan tersenyum.
“ Ya ampun … Om Namu cakep abis, tante Cinta juga cantik banget ya “, wajah Celia pun ikut berbinar. “ Mas … mas Rama …lihat deh “.
Rama mulai mendekati adiknya dan ikut melihat .
“ River Flow In You …. Siapa tuh yang main? . Eh om Haidar ya “.
“ Mas pofesor ….. hebat, tepat tebakanmu “. Raka terlihat mengacungkan jempolnya pada Rama, lalu gambar pun kembali beralih. Kali ini menampakan sososk Haidar yang sedang duduk dan memainkan melodi dengan grand piano.
“ Wuuuiiih …. Gantengnya.. Om Haidar “. Kali ini yang bersorak takjub jelas Celia. “ Mba Hanin… lihat nih Om
Haidar … “, gadis itu berseru. “ Mba Haniiiin …. “.
“ Apa ?.. oh … ini ya resepsinya “. Hanin tergopoh mendekat dan ikut melihat.
Tapi kemudin yang terdengar adalah suara Raka, menyapa Hanin. Membuat gadis itu nampak sedikit kebingungan.
“ Hai Nania…. Pantengin terus ya. Noh’ babang ganteng tuh …. “.
Pada awalnya Nania terbengong-bengong. Tapi sebuah sikutan kecil memaksanya ikut mengamati layar datar itu. ia melihat keramaian pesta dan layar yang nampak mendekat serta fokus pada seorang pria yang sedang duduk di belakang sebuah piano besar.
" Halo Nania .... lihat baik-baik ya, sampai selesai ". Sebuah suara yang pastinya adalah si pemegang telepon seluler kembali menyapanya.
" Siapa ? ", tanya Hanin pelan pada Celia. " yang video call ".
" Om Raka ... atas request Om Haidar. Tuh .... keran 'kan om aku ". Celi nyengir dengan bangga.
" Halo mas ganteng ". Nampak seorang gadis cantik mendatangi Haidar yang baru saja menyelesaikan chords terakhir dari lagu River Flow In You yang sangat terkenal itu. Karya bergaya New Classical dari salah seorang lulusan terbaik Purcell Specialist Music School - London, Yiruma.
Hanin terdiam menunggu apa yang akan dilakukan pria yang beberapa hari ini membuatnya menjadai kelimpungan tak karuan. kadang bengong sendiri, kadang marah-marah tak jelas, yang pada akhirnya nangis juga. Sekarang wajah itu seperti tengah menatapnya, mengulas senyuman, tanpa menghentikan jeri-jemarinya yang menari lincah datas tuts hitam putih itu.
" Yang jelas buat sepasang pengantin dong .... tapi paling spesial buat yang tercantik, yang kini ada di jauh sana ".
" Yeeee,, calon kakak ipar nih rupanya. Boleh tahu siapa namanya ?".
" Ah ... gue nyanyi aja deh Del ", Haidar terlihat tersipu malu.
Gadis itu tertawa . " Si cantik baru liat tuh di hape' abang ..... ayo lambaikan tangan dong ".
" Itu calon istrku 'Na, cantik juga 'kan . Besok kalian harus kenalan ", terdengar suara Raka si pelaku panggilan video. " Nania.... pantengin sampai akhir ya........ ".
Oh, I will love you more than that
I won't say the words then take them back
Don't give loneliness a chance
Baby, listen to me when I say
I will love you more than that
Baby, you deserve much better
What's the use in holding on?
Don't you see, it's now or never
'Cause I just can't be friends
Baby, knowing in the end that
I will love you more than that
I won't say the words then take them back
Don't give loneliness a chance
Baby, listen to me when I say
__ADS_1
I will love you more than that
There's not a day that passes by
I don't wonder why we haven't tried
It's not too late to change your mind
So take my hand, don't say goodbye .................. Back Street Boys : More Than That
Hingga musik itu selesai dimainkan dan lagu pun juga telah selesai dinyanyikan, Nania masih terpaku. Entah karena begitu menikmati atau karena ada hal lain yang tak bisa dipahaminya.
" Satu lagu nanti untukmu putri ... ".
Tentu saja yang dimaksud Haidar adalah dirinya. Sepasang mata itu mentap begitu lembut, tapi entah mengapa hatinya seperti teriris perih. Hanin Hanania menarik nafas panjang namun tetap saja semakin terbelenggu dengan kebingungannya sendiri. Bahkan ketika lagu kedua mulai dimainkan, ia belum lagi bisa berajak dari rasa yang tak dipahaminya.
My life is brilliant
My life is brilliant
My love is pure
I saw an angel
Of that I'm sure
She smiled at me on the subway
She was with another man
But I won't lose no sleep on that
'Cause I've got a plan
You're beautiful
You're beautiful
You're beautiful, it's true
I saw your face in a crowded place
And I don't know what to do
'Cause I'll never be with you
Yes, she caught my eye
As we walked on by
She could see from my face that I was
Fucking high
And I don't think that I'll see her again
But we shared a moment that will last 'til the end
You're beautiful
You're beautiful
You're beautiful, it's true
I saw your face in a crowded place
And I don't know what to do
'Cause I'll never be with you
........................................ James Blunt : You're Beautifull
" Besok aku akan berangkat. Kau ingin kubawakan apa dari tanah kelahiranmu, yang sudah hampir tiga tahun tidak kau jenguk. Pasti dia sudah rindu padamu ".
Telepon dari Haidar dua hari yang lalu, dan ia hanya tertawa saja. Tidak menjawabnya, lebih tepatnya karena ia tidak tahu harus menjawab apa.
" Setiap hari Jumat aku selalu bersemangat. Tapi sampai dua Jumat ini aku tidak bisa bertemu denganmu. Pasti .... aku akan sangat rindu. Apakah kau merasakan hal yang sama ".
" Entahlah, aku belum tahu ". Hanya begitu jawabannya.
" Semoga kau juga akan merasakan rindu sepertiku ya. Eh ... kau mau ku bawakan apa dari indonesia ? ".
Saat itu ia hanya bisa kembali tertawa. Karena masih tetap tidak mengerti dengan apa sebenarnya yang ia inginkan. Pria yang datang menawarkan begitu banyak kehangatan pada dirinya yang porak-poranda. Yang membuat janji, akan meluluhkan hatinya untuk bisa kembali jatuh cinta hanya dalam waktu satu bulan.
__ADS_1
Yang tidak ia mengerti adalah dirinya sendiri. Mungkin karena ia terlalu takut. Hingga beberapa saat lalu, Nania pun masih berenang di pekatnya rasa sakit dan khawatir. Hingga kemudian, beberapa saat lalu ada sesuatu yang berbisik di telinganya.
' Bukankah kau rindu saat berada dalam lingkaran lengannya ?. Kau tidak bisa lupa dengan rasa damai yang di berikan bukan ?. Kenapa tidak memintanya kembali dengan selamat saja ?, agar ia bisa segera memelukmu... lagi ".