
Haidar tak berhenti tersenyum sambil terus menyusuri trotoar, berjalan pulang ke rumah kakak sepupunya. Membawa kantong kertas berisi wafel hangat pesanan si kembar Celine dan Celia. Jumat malam yang terasa hangat dihati, walaupun semilir angin dingin menampar-nampar pipinya. Karena hatinya sedang menghangat oleh udara musim semi dan juga mewangi oleh keharuman bunga-bunga cinta yang bermekaran sempurna.
" Uncle, are you okay ? ". Sapa Celia diikuti tatapan penuh rasa heran Celin kembarannya.
Dua gadis remaja cantik itu rupanya telah mengamati sikap sang paman sejak dari masuk ke dalam rumah beberapa saat lalu. Haidar yang tak henti tersenyum, bagi mereka terlihat aneh sih. Maklum ya Neng. pada belum pernah jatuh cinta sih ya.
" Luar biasa, sangat okay, prima, fit ... kenapa ? ".
" Ah tidak, hanya aneh saja ... uncle seperti sedang sakit jiwa. Senyum-senyum sendiri ... ih... ", yang seterus terang ini tentu saja Celia.
Tapi Haidar merasa tak masalah dikomentari apapun. Ia malah tertawa cukup keras. Lalu meyodorkan wafel hangat pesanan kembar cantik itu pada keduanya. " Om sakit jiwa yang tak lupa pesanan keponakannya. Nih .".
" Bagimana menurutmu ?, ini atau ini ", munculah seorang wanita dengan rambut digelung ala kadarnya. Namun sangat cantik dengan warna keabu-abuan karena uban yang mulai mengausai mahkotanya. Dia adalah Hayu, putri tertua keluarga Arsenio yang saat ini sedang berada di Jerman.
" Buat apa itu tante ? ". Haidar balik bertanya. Ia memperhatikan dua syal dengan bahan rajut yang terlihat begitu lembut.
" Ini buat oleh-oleh mamahmu dan tante mu juga. Menurutmu yang mana yang pas buat Orlin, mana yang buat Hana ? ".
" Kalau mamah sih mana aja, tante Hana yang agak syusaaah .... mending suruh milih duluan aja tante Hana ".
" Iya juga ya. Sudah mau jadi nenek apa belum berubah juga keras kepalanya ? ".
" Kalau itu sih nggak akan berubah. He..he..he .. persis papah ", Haidar terkekeh.
Saat Haidar akan melangkah menuju kamarnya, saat itu pula telepon seluler miliknya meraung meminta perhatian.
" Halo ", sapanya begitu tahu siap yang berada di sambungan internasional dengannya. Teman baik yang beberapa hari ini tidak menghubunginya sama sekali, siapa lagi kalau bukan si Bang-Key yang sipit mempesona.
" Seminggu lebih nggak ketemu, nggak berbincang... ketus amat bang bro ".
" Ya' elo... ngilang. Ngapa' kangen ?. Dimana lo' sekarang ? ", masih dengan nada ketus.
" Dah di ibu kota negara republik Indonesia tercinta, Je'kardah .. beibeh. Dan empat hari lagi gue juga harus balik ke Jerman ".
" Katanya satu bulan... ".
" Iya, planing awal. Bapak dubes belum cerita tow' ?... proyek dipercepat. Segala perijinan di Berlin lancar, jadi bisa gassss!!!!!.... dan aku juga nggak perlu berlama-lama menahan rindu dengan dua peri cantikku ".
" Ya'elah .... tapi lo' belum sempat ketemu Hanin kan di Indo ? ".
" He..he..he..he ..iya. So sorry. Tapi lusa aku sudah janji ketemuan. Mau nitip apa ? ". Keanu terdengar terkekeh tanpa beban.
" Pastikan aja kalau dia baik-baik saja. Eh, mau ketemuan dimana lo' ? ".
" Hanin minta di resto hotel tempatnya kerja. Katanya sih karyawan baru, nggak berani pulang duluan. Kebetulan aku juga ada janji sama seorang kawan yang kantornya di deket-deket situ, sekalian aja ".
" Atur lah, eh .. bilang neng cantik ya. Ada yang rindu berat di Jerman ".
" Hwiiidiiih .... ngomong langsung aja kenapa ?, sok a'be'ge lo .. ".
Haidar tertawa saja, sementara di seberang sana Keanu masih saja nyerocos. Bercerita tentang rencana-rencana indahnya. Apa lagi kalau bukan segera menikahi Sellma dan menjadikan Leisel sebagai putri kecilnya.
" Gwa' sih nggak butuh restu apapun dari papi. Yang penting mami sudah merestui ... that's enough ".
" Paling tidak kasih tahu lah .... perbaiki hubungan keluarga. Bagaimanapun beliau ayah mu ".
" Cukup Dar', rasanya sudah terlalu banyak aku diam dan mengalah. Oh ya... kau ingat 'kan aku dulu pernah cerita kalau aku lari ke Jerman karena dijodohkan. Ternyata, gadis yang semula dijodohkan dengan ku itu, sekarang dijodohkan dengan kakakku yang sableng. Untung saja gadis itu menolak mentah-mentah ".
" Hem ... terus ".
" Kau tahu siapa dia ?. Dia teman SMA mu dulu. Namanya Ardelia ... kau kenal ".
" Oh ya ?. Dari mana kau tahu kalau itu Ardelia ? ". Haidar kaget, setengah tidak percaya dengan kebetulan yang manis ini.
__ADS_1
" Waaaah .... kau kenal rupanya ", Keanu pun terdengar lebih bersemangat lagi. " Dari beberapa sahabat baik ku, mereka ada yang satu kampus dulu dengan Ardelia ".
" Oh... kau mau ketemu Ardelia ? ".
" Halah buat apa ?! ".
" Key, kau harus ketemu Ardelia kalau begitu ", tegas Haidar.
" Nggak usahalah ... cari perkara aja ".
" Hey .... trust me. Kalian harus bertemu ".
" Hah ????!!!! ".
..........................
Astrid masih berusaha berlama-lama tetap berada di bagian dalam kediaman Mandala Arsenio. Ia sudah lumayan hafal apa isi bagian bawah rumah besar ini. Kalau tidak salah ia diseret mama nya sudah hampir tiga kali untuk bertamu dan bermanis-manis pada sang nyonya rumah. Dan sudah berkali-kali dikecewakan karena tidak bisa mendekati putra-putra keluarga ini, yang katanya berlevel ganteng paripurna.
Boro-boro deket, bertemu langsung saja belum pernah. Terutama dengan putra nomer dua yang adalah sang pangeran calon pewaris tahta. Kalau dengan si sulung sudah pernah bertemu, tapi yaah ... begitulah, dia dan ibunya salah perhitungan. Mereka berdua kurang waspada, hingga si sulung yang kalem dan setampan aktor Korea Selatan itu akhirnya dimiliki oleh saudara sepupunya sendiri. Ah tak mengapa, masih ada satu mangsa yang justru lebih besar lagi.
" Nggak apa-apa kalau kita tinggal duluan ", terdengar suara seorang wanita. Bersamaan dengan turunnya seorang gadis berkulit putih dan bermata kucing yang tajam.
Cantik, siapa dia ?. Apakah putri bungsu keluarga ini ?. Ah sepertinya bukan, wanita ini sedikit lebih dewasa dan nampak sangat berbeda dengan bayang foto keluarga Mandala yang diingatnya. Astrid memilih menunggu sambil sedikit menyembunyikan badannya pada sebuah tiang.
" Biar sedikit terbiasa dengan calon kamarnya ? ". Pemuda yang cukup tampan dengan rambut hitamnya yang bergelombang besar, nampak terkekeh bahagia,
Tunggu, apakah dia si pangeran itu ?.
" Ma- maaf... saya mencari toilet ... ". Dengan kecepatan dan taktik sempurna, Astrid berahsil menemukan cara untuk mendekati dua orang itu.
" Mau membersihkan kain ini ", sambungnya lagi.
" Oh ...mba yang tadi kena kuah gulai ya ? ", si gadis bermata kucing itu terlihat melongo.
" Namanya juga kecelakaan. Oh ya, toilet ya ?. Tuh ... dibelakangmu ". Ardelia menunjukan arag dengan gerakan kepalanya, sopan dan gemulai. " Tepat dari arah kamu datang ".
" Oh ... itu ?!. Ah ya.. ya..., terimakasih banyak ya ".
Waduh, ketahuan ya Astrid ngibulnya. Tapi bukan sang penggoda sejati namanya jika langsung menyerah, tanpa melakukan manuver liciknya.
" Apa mba ini putri bungsunya Om Mandala ? ", sambil kembali membalikab badan menghadap pada dua orang yang baru saja ditemuinya itu. " Tidak sopan rasanya kalau tidak memperkenalakan diri. Saya Astrid ... tetangga tak jauh, tapi maaf baru bisa kali ini menyapa ".
Sungguh sangat profesional, gadis ini, dari yang kikuk karena ketahuan bohongnya, bisa langsung menjadi anggun saat memperkenalkan diri. Membuat seorang Ardelia tersenyum kecil dan langsung menyambar uluran tangan gadis itu. Menjabatnya dengan erat membalas uluran perkenalan yang ditawarkan.
" Aku Ardelia, bukan anak kelluarga Mandala. Hanya berkawan saja dengan putra-putri keluarga ini ".
" Oh ... ", terlihat Astrid yang melongo.
" Tapi dia sebentar lagi juga kan menjadi bagian keluarga Arsenio kok. Senang bertemu dengan mu Astri. Oh ya, aku Raka ... keponakan terganteng dari Om Mandala dan tante Orlin ".
Demi topan badai yang menenggelamakan Rin Tin Tin dan Kapten Archibald Haddock........ Astrid semakin dibuat melongo.
..................................
Sebenarnya Hanin hanya membutuhkan ruang tertutup yang cukup saja untuknya bergerak mengganti pakaian. Toilet khus tamu di rumah ini, besarnya sangat memadai karena hampir dua kali lipat besar kamar mandi di rumahnya sendiri, Tapi paksaan Raka dan Ardelia membuatnya tak berkutik, dan sekarang disinilah dirinya. Di dalam sebuah kamar yang besarnya bersaing dengan ruang keluarga di rumahnya.
Dengan sedikit kikuk, meletakan tas jinjing berisi gamis yang sengaja di bawanya dari rumah. Berhati-hati ia meletakan tas berbahan katun dengan corak motiv batik khas Pekalongan yang ceria itu di atas karpet tebal berwarna seperti bulu panda. Lalu sepasang mata jelinya memutari suasana kamar yang dominan dengan warna monochroom ini.
Hanin tersenyum tipis saat hidungnya berhasil menemukan aroma maskulin yang hangat dan menenangkan itu. Wewangian khas yang akhir-akhir ini selalu menari-nari dalam benaknya. Rasanay seperti berada di dekat si mas gagah itu.
Ia tidak segera berganti baju tapi terlebih dahulu menyegarkan diri dengan membasuh muka di kamar mandi. Dan memutuskan untuk berganti baju di ruangan itu juga. Walaupun ia harus bolak-balik untuk mengambil pakian yang ia letakan di dekat ranjang besar tadi. Tapi begitulah pilhannya, karena ia merasa privacy nya lebih terjaga jika harus menanggalkan pakain di ruang ini. Setidaknya, ia merasa tidak dalam pengawasan si mas gagah itu. Glegh !!! ..... diawasi oleh aroma yang mulai dirindukannya.
Gadis itu berganti pakaian dengan cepat, lalu segera menyemprotkan aroma wangi lembut di belang telinga dan juga kedua pergelangan tangannya. Tepat saat ia selesai menutup kembali pintu kamar mandi, suara dering telepon selularrnya terdengar membahana.
__ADS_1
" Mas, acara pengajiannya sudah mau mulai ... ". Katanya tetap dalam mode panggilan dan tidak mengindahkan permintaan Haidar untuk beralih ke video panggilan. Sengaja memang ... dari pada wajahnya akan merona karena malu nggak karu-karuan.
" Kenapa nggak mau video call ?, di kamar ku 'kan ?. Masih ganti baju ?. Aku tunggu deh ... ".
" Iya, dan ini keburu banget. Kenapa lagi ?, bisa nanti-nanti lagi telponnya ? ".
" Kalau kamu kurang suka pilihan warnanya , boleh koq didekorasi ulang. Aku pasti suka apapun yang dibuat oleh mu. Jangan sampai kamu kurang nyaman dengan suasana kamar kita nanti ".
Ya ampun ....... ini yang halu tingkat Thanos benar-benar deh. Percuma saja nggak pake video call toh tetep saja Hanin menjadi semerona jambu air mateng di pohon. Benar-benar deh si mas itu .
" Hanin... ".
" Ya ".
" Koq jadi diem, pasti kamu sedang senyum-senyum ya. Sambil membayangkan kita berdua lagi diskusi ngatur interior kamar ? ".
" Apaan sih ", elah Hanin.
" Weleeh .... apa malah lagi membayangkan yang iya-iya ? ".
" Ihs !! . udah ah telponnya. Ditunggu yang lain nih ... ", tentu saja Hanin merespon galak, walaupun rona merah di pipinya belum memudar.
" He..he..he ... iya,iya. Mas tutup telponnya, I miss you ".
" Me too ".
" But .. I'm .. more ".
" Iya... kapan nutup telponnya ? ". sentak Hanin galak.
" Hua.. ha..ha... love you .. bye ". Dan akhirnya Haidar pun menyudahi telponnya.
Hanin buru-buru merapikan anak rambut yang menyintas sebelum ia mengenakan kerudung panjang di kepalanya. Kain berwarna crem senada dengan gamis yang dikenakannya itu semakin menonjolkan kecantikan alaminya. Tanpa riasan wajah berlabihan, gadis mungil itu hanya mengaplikasikan lipstik mate warna nude saja. Tapi sungguh membuat tampilannya segar dan menawan. Definisi kecantikan alami yang paripurna.
Masih dengan terburu-buru Hanin melangkah sekeluarnya dari kamar Haidar. Namun ia segera memperlambat langkahnya saat dari arah tangga nampak rombongan bu Orlin yang menggandeng wanita cantik, kelihtannya mereka sebaya. Sementara di belakangnya nampak seorang bapak dan juga seorang pria muda. Keduanya terlihat mirip, mungkin ayah dan anak. Yang pasti kedua pria itu juga sangat rupawan.
" Hei cantik, sudah selesai ganti bajunya . Buruan temenin mba Cinta ya ", Orlin menyapa Hanin yang terlihat kikuk dengan ramah.
" Oh iya ... kenalin nih, calonnya Haidar ".
Kalimat yang terakhir ini tentu saja membuat pipi Hanin merona. Tapi ia buru-buru mengangguk hormat pada tiga orang yang baru dilihatnya itu.
" Oooh ... pantesan cantik banget ", sahut wanita bermata kelabu yang sebenarnya juga sangat cantik itu. " Moga-moga mas Alend bisa segera nyusul juga ya ... ketemu yang sesuai impian juga ".
Hanin sungguh tidak memahami apa yang dibicarakan kedua wanita itu. Tapi ia hanya mampu tersenhyum saja sambil mengangguk hormat pada dua orang pria yang juga ikut mengamatinya.
" Maaf ... bisa pinjam Hanin nya sebentar ? ", tiba-tiba suara khas Kirana terdengar, seperti sebuah bell usai sekolah yang menyelamatkan.
" Ini loh pacarnya mas Haidar ... ini tante Nilam, Om Rey dan Mas Alend. Aku ambil Hanin dulu ya ... pinjem sebentar ya mah ".
Lalu Hanin seperti terseok mengikuti langkah Kirana yang menariknya dari pusat grafitasi. Tapi ia sangat bersyukur pada akhirnya dapat terhindar dari basa-basi yang membuatnya semakin tersipu itu.
" Siapa ? ", bisiknya pada Kirana.
" Temen-temen baik papah ".
" Yang muda itu .... dijodohkan dengan mu ? ", tanya Hanin lagi.
" Haiiis !!!! ... pikiran dari mana itu ? ".
" Lah .. kamu langsung begini, seperti melarikan diri ".
" Mba ratu hari ini, nyariin kamu ... minta foto bareng-bareng hari ini, sekarang. Kamu, dia dan mba Ardel ". kata Kirana masih dengan menarik tangan Hanin untuk bergegas. " Katanya mau buat caption .... menantu dan para calon menantu. Ayo buruan ... biar kita nggak disalahin kalau nanti anaknya ngiler terus ".
__ADS_1
Hanin yang pada awalnya mengerutkan kening penuh rasa heran, kini mulai bisa tertawa keci. Ia sungguh merasa geli dengan semua yang di hadapinya saat ini. Tapi, ya sudahlah .... ikuti saja alurnya. Sementara itu dari halaman luar yang sudah diubah menjadi tempat pesta kecil terdengar alunan shalawat nabi yang merdu dan menghangatkan kalbu, menemani para tetamu yang asyik menyantap hidangan. Sebelum melanjutkan mengikuti acara pengajian yang tak lama lagi akan segera dimulai itu.