
" Belum terjadi dalam sejarah, seorang Arsenio kalah bertarung .... kau bisa bonyok begitu, setangguh apa lawanmu ? ".
Mandala kembali mencecar putranya yang nampak masih senyum-senyum dengan santai. Akhirnya ketiga orang itupun duduk mengelilingi meja di sudut dapur. Sambil menyesap coklat panas yang dibuatkan Orlin.
" Sparing partner ku ... tadi kita sempat mampir di Dojo. Aku sedikit lengah ... ingat tugas dari papa ", Haidar dengan santai mengurai kebohongannya.
" Ooh.. tapi sudah selesai ? materi meeting besok ? ", tanya Mandala lagi
" Beres Mr.boss.... sudah ku email juga . Hardcopy ada di meja om Juna .... aku besok tidak ikut ya pa'. Ujian ku jam sebelas sampai jam tiga sore ".
" Mas, kamu keterlaluan ... anaknya mau ujian masih kau kasih tugas ", Orlin terlihat tidak suka dan menatap suaminya dengan pandangan menyalahkan.
" Laaah .... 'kan itu konsekuensi yang harus ditanggungnya. Masih sempat berantem juga.... apanya yang keterlaluan ??? ", Mandala memprotes istrinya.
" Dasar!!!!!! bapak anak sama saja ", dengus Orlin sedikit kesal.
Mandala buru-buru meraih pundak istrinya, mendekapnya erat sambil menghujani pipi itu dengan ciuman. Haidar yang terbiasa melihat pemandangan seperti itu sama sekali tidak merasa risih, malu atau bahkan terganggu. Kedua orangtuanya ini memang tidak pernah menutupi sikap mesra mereka. Seorang Mandala pimpinan Arsenio Group yang terkenal dingin dan sangat tegas, jika sedang bersama istrinya akan berubah menjadi seekor anak kucing yang manja dan menggemaskan.
Sedangkan mamanya dokter Meisya Adonia Orlin yang masih jelita diusianya yang menjelang paruh baya, memang selalu penuh kelembutan. Pribadi yang sangat ramah dan bersahaja. Nyonya boss yang tidak segan melakukan pekerjaan rumah sendiri, bahkan bergaul ramah dan penuh kekeluargaan dengan para staff dan karyawan suaminya. Sosok yang sepertinya lebih dicintai oleh seluruh pegawai di Ars.Group. Tapi wanita mungil itu akan berubah menjadi singa betina yang waspada dengan mode berburu level tinggi saat ada wanita lain yang mencoba bermain mata dengan suaminya.
Haidar sangat mengagumi bagaimana kedua orangtuanya itu saling dukung, saling melindungi dan saling menyempurnakan. Riak-riak rumah tangga itu paling sering terpicu karena kondisi dan posisi sang ayah yang nyaris sempurna sebagai seorang pria. Para perempuan tak tahu diri, atau orang-orang yang mencoba membangun hubungan dengan jalan pintas menyodorkan wanita adalah hal yang sudah sangat biasa terjadi menghampiri ayahnya. Dengan serta merta mereka akan dilibas tanpa ampun oleh seorang Mandala Runako Arsenio yang begitu tergila-gila dan sangat mencintai istrinya.
Segala apa yang diucapkan oleh Wisya tadi, bagi Haidar adalah suatu kemustahilan besar. Bahkan itu tergolong fitnah yang keji. Bagaimana mungkin orang seperti mama nya menjadi penganggu hubungan orang ?. Tapi Haidar merasa perlu untuk mencari tahu lebih dalam lagi.
" Pa' ... yang bikin bonyok ini ternyata anak temennya mama. Dokter Pradipta dan dokter Frasiska ".
" Ooh.... si brewok itu ", Mandala sekilas menatap putranya.
" Loh papa kenal juga to' ? ".
" Iya..... dokter Siska itu dulu ayah termasuk salah satu pendiri Ars' Internasional Hospital. Dan dokter Dipta itu juga cukup lama bekerja di Ars' ... sebelum mereka akhirnya punya rumah sakit sendiri. Oh ya.... itu dulu cinta pertama mama mu loh ... he..he..he.. ".
" Walah... begitu ya. Kok mama tadi nggak bilang sih ".
" Ngarang! ngawur! .... nggak usah didengerin papa mu itu. Satu-satunya pacar mama ya tuan muda Mandala, yang sukses menjebakku seumur hidup bersamanya "
" Sayang ... cinta pertama itu tidak harus jadi pacar. Semua orang berhak punya cinta pertama.... ", Mandala mencubit pipi istrinya dengan lembut.
" Bukannya kita cinta pertama sejak dulu... bagaimana bisa kau bawa nama-nama Dipta ?.. .. terus 'Silent Night' kau kemanakan ? ".
" Iya juga ya..... tapi kau pernah naksir dokter brewok itu ' kan ? ", Mandala tetap tidak mau menyerah.
" Halaaaah... kagum dikit apa salahnya. Toh stok cinta ku sudah kau kuasai semua ".
Haidar tersenyum kecil melihat tingkah kedua orangtuanya. Ia sedikit merasa lega karena keyakinannya berdasar. Kisah cinta ayah dan ibunya ini memang dahsyat tak terkalahkan.
" Tapi si Siska selalu terlihat sangat cemburu padamu ya.... ", kata Mandala lagi.
" Itu ..... mba Siska nya saja yang wataknya memang begitu dari dulu. Tidak mau kesaing, harus yang paliiiiiiing segalanya ".
" Heeeeem..... iya juga ya, sampai memaksa suaminya begitu rupa untuk terjun ke dunia politik ya.. ".
" Ooh.... jadi om Dipta itu sebenarnya tidak suka ya jadi anggota dewan ? ". Pertanyaan Haidar ini dijawab dengan anggukan dari kedua orangtuanya.
" Apakah anaknya seperti ibunya atau ayahnya ? ", Mandala kembali bertanya sambil menatap sang putra.
" Wisya ..... dia..... selengekan, semaunya sendiri walaupun sebenarnya sangat bertanggungjawab. Seperti siapa itu ? ".
" Ayahnya ", jawaban itu kompak meluncur dari mulut Mandala dan Orlin.
" Ooooooh... ". Dan Haidar pun menyeruput kembali coklat hangat miliknya
" Masih ada sup iga, mau mama panaskan ? ".
" Nggak Mah, makasih. Buat sarapan besok pagi aja .... masih bisa'kan ?. Habis ini mau langsung mandi terus tidur ".
" Okay son..... mama duluan tidur ya kalo gitu. Eh'... bapak ganteng yang mulai ubanan.... ingat!!!!! aku tunggu di kamar, jangan balik ke ruang kerja lagi ". Orlin beralih melototi suaminya yang juga masih asyik dengan coklat hangatnya.
" Baik nyonya boss..... ", seringai Mandala.
Haidar terkikik melihat kelakuan konyol ayah dan ibunya. Kebiasaan saling bersikap mesra dan saling menggoda seperti itu, menjadi catatan penting untuk Haidar. Pemuda itupun telah memutuskan untuk bersikap sama, kelak jika dia sudah berumahtangga.
" Kau bohong bukan ? ".
__ADS_1
" Hah ?! ". Haidar menghentikan senyuman kecil yang mengiringi pandangannya pada punggung sang ibu. Kini ia menatap wajah serius ayah nya yang tengah menelisik dengan tatapan tajam.
" Walaupun sifatmu dominan mama mu, tapi tetep ada sisi diriku yang juga menurun padamu. Percuma kau bohong..... ".
" He he he ... kalau papa begitu mengenalku, pasti tahu alasan aku harus berbohong ".
" Wanita cantik barusan ... ". Mandala kembali tersenyum kecil, tentu yang dimaksudnya adalah Orlin.
" Ya... yang membikinkan cokelat hangat ini ". Haidar kembali menyeruput minumannya kali ini hingga habis tidak bersisa.
" Pa.... apa memang sebelum denganmu, mama pernah menjalin hubungan cinta dengan dokter Dipta ? ". Haidar bertanya serius dengan nada yang pelan sambil mencondongkan badannya kearah Mandala.
" Tidak .... sama sekali tidak. Bahkan dia membungkus rasa tertariknya pada Dipta dengan sangat rapi. Hanya saja..... ", Mandala terlihat sedik ragu. " Kecemburuan seorang wanita itu ..... sangat mengerikan. Apalagi jika berpadu dengan sifat licik serta watak ambisius .... benar-benar sesuatu yang sangat menakutkan ".
" Maksudnya pah ? ", Haidar mengerutkan kening dengan ekspresi tak mengerti.
" Mama mu itu mahasiswi termuda dan tercerdas diangkatannya. Sama seperti kamu dan Rana penyintas program akselerasi. Dia yang masih remaja terpesona dan tertarik pada seorang Pradipta yang baik dan ya.... lumayan tampan. Sayangnya pria itu tidak mempunyai perasaan yang sama, bahkan Dipta sudah sangat mencintai Siska saat itu. Hingga akhirnya mereka menikah.... tapi Siska yang juga teman satu kelas ... ia tahu kalau mama' mu pernah tertarik dengan suaminya ".
" Terus .... ", pinta Haidar.
" Terus .... luka memar itu dari anak mereka atau orang-orang suruhan Siska ? ", Mandala justru menyudutkan Haidar dengan pertanyaan telaknya.
" Dari anak mereka .... tapi.... ".
" Kalian berebut seorang gadis ? ".
" Iya ... ah tidak .. ".
" Iya atau tidak nih ... ", suara Mandala pelan namun tegas.
" Tidak ... tapi tepatnya terpicu dengan seorang gadis. Dia pasti sudah salah paham dengan ku. Aku yang memukul duluan .... karena dia bilang, aku ini anak wanita pengganggu hubungan ".
" Oh... rupanya masih belum terima juga Siska itu ".
" Ada apa sebenarnya Pa? ... boleh aku tahu ?".
" Siska itu ..... mungkin dulu ia berharap ketika menikahi Dipta yang juga pandai dan berbakat, hidupnya akan sempurna. Begitu banyak tuntutan pada suaminya .... materi dan juga popularitasnya. Pada dasarnya Dipta seorang yang sederhana dan sangat baik..... tentu saja menjadi sangat tertekan dengan semua tuntutan itu. Ia mulai datang pada kami untuk sekedar bercerita melepaskan beban ".
" Awalnya pada mamamu saja. Tapi mama mu yang peka situasi kemudian menyeretku untuk ikut mendengarkan... dan itu sangat menguntungkan Dipta sebenarnya. Karena aku bisa langsung membantunya dan juga ikut jadi investor di rumah sakit yang didirikan ".
" Terus..... Tante Siska ? ... ngapain kok tetep nuduh mama yang bukan-bukan ".
" Itulah iri hati dan dengki berbalut cemburu yang menggerus akal sehat ..... dan Siska sebenarnya justru sedang menyakiti hatinya sendiri ".
" Lalu sikap mama bagaimana ? "
" Mama mu ... ", Mandala tersenyum dengan kelembutan yang tiba-tiba saja beralih menguasai wajah dan suaranya. " Kau kan' tahu kalau yang kunikahi itu bidadari .... tentu saja dia hanya tersenyum dan memintaku untuk menahan diri. Kalau dia sudah merayuku .... aku bisa apa ".
Pria paruh baya dengan mahkota yang mulai nampak keabu-abuan karena helain rambut putih yang mulai merajalela itu memancarkan aura penuh cinta bak seorang remaja. Haidar yang melihat bagaimana bertekuk lututnya sang ayah pada wanita tercintanya, tak mampu mengukir senyum geli. Pemuda itu terkekeh, tapi hatinya diliputi kebahagiaan.
" Jadi bagaimana ? ... perlukah papa mu ini turun tangan ? . Geregetan juga nih sama ibu dan anak itu.... ", Mandala berbisik dengan mimik serius.
" Ssttt..... urusan receh begini, kurang kerjaan amat pak Presdir ya ?.... nggak usahlah ... cukup aku saja ", Haidar pun ikut berbisik. " Masih ada orang baik seperti Om Dipta yang harus kita pertimbangkan .... ku rasa, akan ada saatnya Wisya tahu yang sebelumnya ".
" Wisya ? .... oh anak mereka ".
Haidar mengangguk dan Mandala pun ikut mengangguk-angguk juga.
" Tapi..... kau yakin tidak menyukai gadis itu ? ", Mandala menatap putranya. " Gadis yang jadi pemicu itu tadi .... ".
" Dia .... cantik, kalau tersenyum sangat manis, dan juga sangat pintar. Tapi..... tidak ada sisi hatiku yang tergetar karenanya. Kata mama .... yang seperti itu bukan cinta ".
" Oooh.... terus kapan kau akan jatuh cinta ? ", tanya Mandala dengan sungguh-sungguh.
" Ehmmm.... saat ada seorang gadis .... yang menghampiri ku dengan senyuman kecilnya lalu hatiku mulai berdebar kencang. Dia yang memandang ku hanya sebagai pria.... dan kerlingan matanya sudah cukup untuk mencuri separuh nalarku ..... ".
" Ya.... ". Mandala tersenyum menatap putranya yang menerawang.
Dan suasana di sudut dapur terasa lebih hangat malam itu. Seorang pria yang telah menemukan cintanya sedang mendengarkan angan sang putra tentang bagaimana cinta nya nanti.
Kelak akan ada seorang gadis yang datang menghampiri ku .
Langkahnya ringan, senyumannya indah dipandang.
__ADS_1
Ia berjalan, dan kulihat ribuan kelopak bunga berwarna kuning keemasan menghujani langkahnya.
Ia serupa angin musim semi yang membelai dengan hangat dan harum.
Seperti pohon kenanga yang menggugurkan kelopaknya saat tersenyum
Saat itulah dunia ku akan berporos padanya
Dan aku mengerti, dialah sang pencuri hati
.................
Melintasi dimensi waktu dan kenangan, disebuah dataran kecil yang hangat. Seorang wanita tengah menatap sebuah halaman di layar komputernya. Yulia dewasa termenung panjang, ia berkali-kali membacanya. Seperti tengah berharap akan ada keajaiban yang terjadi.
Pesan itu dikrim melalui alamat elektronik mail kantor kecilnya. Sebuah pesan berisi surat pemberitahuan. Dugaannya semula bahwa itu adalah sebuah surat peringatan atau yang sejenisnya. Bahkan hingga butuh waktu puluhan menit untuk dokter cantik itu membacanya berulang-ulang, seolah tidak yakin dengan yang terpampang dihadapannya.
" Bagaimana bisa jadi seperti ini .... ", ia bergumam dengan perasaan yang kacau.
' Tok.. tok.. tok.. '.
Suara ketukan dipintu seperti sengatan listrik yang membuatnya meremang. Setelah berhasil menguasai keadaan, Yulia membetulkan duduknya. Dan menarik nafas panjang untuk membuat dirinya menjadi lebih rileks.
" Masuk ", titahnya kemudian.
" Ibu .... ada dokter Wisya, ijin untuk bertemu ibu ".
Deg !!!!.... baru saja ia bisa menguasai keadaan hatinya sendiri, tiba-tiba harus kembali terkena serangan panik. Yulia menatap seorang staffnya dengan tatapan tak percaya.
" Bu .... ", gadis itu kembali menyapa dengan tatapan bingung.
" Ya.. ya.. persilahkan masuk ".
Dan ia pun memasuki ruangan itu bagai sebuah zat dengan daya racun yang tinggi bagi Yulia. Walaupun kehadirannya dengan mengulas sebuah senyuman ramah, namun terasa menguras udara disekitar wanita ini. Yulia merasakan pengap dan tangannya yang terkepal erat itu gemetar.
" Selamat pagi Bu Yulia ", sapa itu terdengar begitu ramah. Tanpa menunggu dipersilahkan, Wisya telah masuk terlebih dahulu seolah dengan sengaja memberikan hantaman bertubi-tubi untuk Yulia.
Staff Yulia yang mengantarkan Wisya mengundurkan diri dari ruangan itu. Meninggalkan dua orang yang terbelit oleh sebuah masa lalu yang masih harus dituntaskan. Keduanya terdiam sesaat saling tatap. Aliran waktu seolah-olah berhenti disekitar mereka.
" Kau tidak mempersilahkan ku untuk duduk ? ", tanya Wisya mencairkan hening.
" Silahkan ... duduk ... ", Yulia sedikit terbata-bata. Ia mempersiapkan pria itu untuk duduk di kursi tamu, tidak dihadapannya.
Beberapa saat kemudian keduanya tampak sudah mulai duduk berseberangan di kursi tamu dengan ukiran khas kota Kartini itu. Wisya tetap tidak memudarkan senyumannya. Sementara Yulia terlihat sangat waspada dan berhati-hati.
" Jadi Bu ... saya memutuskan untuk datang lebih cepat satu hari. Tentunya ibu sudah baca email itu bukan ? ", Wisya memulai pembicaraan.
" Ya ... lalu ... ".
" Maksud saya .... untuk cari tempat tinggal dulu. Tiga hari dalam seminggu disini ... tentu tidak mungkin kalau saya harus tinggal di ruang istirahat terus 'kan... ? ".
" Bapak bisa tinggal bersama dokter Haidar.... ada satu rumah dinas yang sebenarnya adalah pos kesehatan desa. Kira-kira dua puluh menit dari sini. Rumah dinas yang disini ... maaf sudah saya tempati. Tapi kalau ingin cari yang lebih dekat .... nanti biar dibantu pak Lurah .... ".
" Cukup Bu... cukup poskesdes bersama dokter Haidar itu. Oh ya... ngomong-ngomong dimana dokter Haidar ? ". Wisya menyela cepat dan mengalihkan pembicaraan.
" Ehm...baru ada sunatan masal di balai desa ". Jawab Yulia cepat.
Lalu terjadi jeda yang cukup lama diantara keduanya. Kemudian Wisya mengeluarkan sebuah map file dan menyerahkannya pada Yulia.
" Ini surat penugasan ku .... ".
Yulia menerimanya perlahan dan membuka benda tipis berisi selembar kertas yang sebenarnya tadi sudah dibacanya juga melalui email. Tapi ia memutuskan untuk kembali membaca lembaran itu. Setidaknya memberikan waktu gemuruh perasaannya agar sedikit mereda.
" Wisya.... ", akhirnya kata itu terlontar dengan nada yang dingin, tapi begitulah adanya tanpa basa-basi penuh formalitas seperti tadi.
" Ya ... aku mendengarkan mu Yulia ".
" Apakah belum cukup kau menganggu hidupku ? ".
Percikan rasa itu tak terbendung, Yulia masih terselimuti oleh sakitnya masa lalu. Dan Wisya menatap tepat pada sepasang mata berkerudung lara itu.
" Aku .... tidak pernah bermaksud begitu. Aku masih tetap mencintaimu ... seperti dulu ".
Dan Wisya tetap tak bergeming menatap wanita yang telah menjadi ratu dihatinya. Ia berdoa dalam hening, meminta kesempatan untuk merengkuh hati sang ratu ini.
__ADS_1