
Liesel melambaikan tangannya. ia begitu manis duduk di kursi penumpang SUV berwarna biru metalik itu. Sementara kakek dan neneknya berwajah lebih sumringah dari sewaktu tadi mereka baru hadir di rumah sakit ini untuk menjenguk putrinya. Hanin pun juga nampak lebih ceria saat melepas kepergian 'keluarga' Jermannya itu. Terdengar celoteh si kecil Liesel yang sedikit menjerit, sepertinya gadis itu tidak rela ketika kaca mobil harus segera tertutup.
" Wir sehen uns bald wieder Liebes, sei wohlauf bei Opa und Oma, okay.. ". Begitulah Hanin berseru mengucapakan janji untuk segera bisa bertemun lagi dan juga meminta gadis kecil itu untuk bersikap baik dengan kakek dan neneknya.
Haidar tersenyum sambil ikut melamabaikan tangan, SUV itu pun meluncur, melaju membelah jalanan yang mulai gerimis lagi. Kemudian ia menatap Nania-nya yang masih saja melambai-lambaikan tangan hingga kendaraan itu tak lagi nampak karena kontur bumi yang melengkung dan juga tertutup oleh lalu-lalang kendaraan lain yang mulai melaju. Hingga akhirnya Nania-nya yang cantik itu menurunkan tangan, dan terdengarlah helaan nafasnya.
" Masih belum rela melepaskan malaikat lucu itu ? ", tanya Haidar berharap bisa mempertahankan kecerian Hanin.
" Siapa yang tidak jatuh cinta dengan gadis kecil itu ?. Aku merasa bersyukur bisa mengenal mereka ".
" Oh ya ... masukan aku sebagai fans berat Leisel juga ".
" He.. he.. he.. anda juga sudah terpana juga rupanya ya bapak ", Hanin terkekeh.
" Seperti katamu ... siapa yang tidak langsung jatuh cinta dengan si kecil itu ". Dan Haidar juga ikut terkekeh. Lalu dengan impulsif pria itu mengacak poni Hanin yang berdiri dekat di sampingnya.
" Eh .. ", Hanin sedikit terkejut. Tapi ia tidak bisa mengelak saat pria tinggi besar di sampingnya ini mengacaukan tatanan rambut yang sedikit menutupi keningnya itu.
" Mau pulang sekarang ? .. aku antar ".
" Eh ... tidak usah mas. Aku bisa pulang sendiri kok... nanti malah merepotkanmu ", Hanin berusaha menolak.
" Pria lajang sepertiku..... akan sangat bahagia ketika bisa mengantarkan dara cantik seperti mu ". Sungguh Na' ... aku tidak bohong kok. Haidar menatap dan berkata dengan jujur melalui pandangannya.
" Pffft... ", tapi Hanin menjadi menahan tawa. " Ayolah kalau begitu, tapi jangan kaget ya dengan flat ku ... oh ya, mau makan malam dulu ? ".
" Boleh ... tapi kau yang masak ".
Penawaran yang sangat menarik dan Haidar juga mempunyai ide tambahan yang sangat cemerlang . Ia tidak lagi melirik Nania-nya, tapi menatap langsung pada gadis yang sedikit mendongak saat membalas menatap. Menggemaskan sekali ... si cantik yang mungil ini pasti enak sekali untuk di peluk. Haidaaaar... stop it !!!, hentikan khayalan liarmu.
" Hei .... kenapa tidak beli saja yang matang. Aku 'kan capek ", lengking Hanin dengan sepasang matanya yang membulat.
" Nggak istimewa dong... ajari aku masak okay ?. Anggap sebagai ongkos kirim oleh-oleh Indo kemarin ".
Dari pada gadis ini menolak dengan berbagai alasan yang berbelit-belit, Haidar memutuskan untuk sedikit 'memaksa' dengan manis. Memberanikan diri sedikit merangkul pundak mungil yang pas banget dengan tinggi lengannya, mendorongnya perlahan agar tidak menolak untuk dibawa berjalan.
Dan Hanin yang sedikit kaget dengan respon cepat menoleh, mendongak menatap garis rahang indah yang tegas dengan ketampanan sempurna itu. Ia hanya mendapati sebuah senyuman tanpa terselip sesuatu yang janggal, dan sedikit kerlingan mata sekelam malam yang entah mengapa membuat seluruh neuron tubuhnya seperti terkomando untuk mengikuti gerakan lembut yang terarah itu. Membawa kakinya melangkah dengans edikit tergesa mengikuti langkah lebarvpemuda ini. Sementara lengan kekar yang mendukung bahunya itu seperti pagar pembatas para gembala yang menggiringnya untuk tidak bisa tidak menuruti kemauan pria ini.
" Kau membuatku berlari ", ia sedikit terengah.
" Maaf ... maaf ... ", Haidar buru-buru mensejajarkan langkahnya. Ia tersenyum kecil dan menyadari kesalahannya. Ya ... satu langkahnya adalah dua langkah gadis mungil ini. Tentu saja wajah cantik itu kini tampak bersungut-sungut.
" Ayo ... kubawa kau terbang ". Tapi toleransinya itu sepertinya tidak bisa dipertahankan terlalu lama, karena titik air hujan mulai berjatuhan. Haidar meraih jemari seputih mutiara itu, menenpatkan pada jalinan jemarinya yang panjang dan besar, mengeratkan dengan genggaman hangat... lalu membawanya berlari kecil menerobos hujan. Menyeberangi sore yang berpendar dalam sinar mentari kelabu karena warna mendung, tapi hatinya kini penuh dengan senandung.
" Huaah ... keterlaluan !!!... hah..hah..hah.. ". Nania-nya terengah-engah, setelah mereka akhirnya berhenti di depan sebuat toko swalayan di seberang jalan besar. Melintasi halaman parkir yang cukup luas dengan orang-orang yang juga berebut untuk berteduh. Wajah seputih mutiara itu kini memerah dengan ranum menjadi mutiara merah muda yang bersinar cantik. Haidar terpaku, terpesona dengan sepotong keindahan sore itu.
" Mas !!.. ih, malah bengong ". Satu pukulan kecil didaratkan pada lengan kekar yang tadi mendukung bahu dan membawanya lari itu.
" Ada bidadari turun saat hujan di sore hari .... tapi bidadadrinya nggak pernah olahraga.... tuh, ngos-ngosan ".
Hanin memilih melirik saja menunjukan sedikit rasa kesalnya, tapi ia ... merasa ada yang berdesir lembut mengikis rasa nyeri yang terlanjur memngkristal di hatinya.
*' Ku pikir ada dewi dapur.... Cantik sekali '. *kalimat familiar\, pujian senada yang rasanya sudah terlalu lama tidak lagi menyentuh gendang telinganya. *' Sorry ... bisa cubit aku ... auww!!!... kupikir tadi aku sedang bermimpi\, ternyata beneran ada bidadari turun ke dapur '.*Entah mengapa suasana seperti ini sangat familiar\, tapi saat ia kembali memperhatikan dengan benar siapa yang mengucapkannya ... berbeda\, mereka bukan orang yang sama. Sadarlah Hanin.... kau sudah memutuskan untuk melupakan semua itu bukan?.
__ADS_1
" Huh !!... kumat ngaconya .... ". Kata Hanin masih dengan kesibukannya mengatur nafas. Saat itu pula pria disampingnya ini terdengar terbahak-bahak. Beruntung tawa itu begitu lepas, hingga nada bergetar karena gugup dari suaranya nyaris tidak terdengar.
" Jual sayuran dan bumbu Indo nggak ya ? ". Haidar mulai berjalan mendahului Hanin. Tidak lagi bersikap seagresif sebelumnya, tapi pria itu memang sengaja melakukan hal tersebut. Sabar Dar'.... sabar .... tarik ulur lah dulu.
" Memang mau masak apa sih ? ". Tapi tiba-tiba saja gadis mungil itu melesat menuju jajaran troli kecil dan mulai mengambil kereta beroda itu. Mendorongnya perlahan, tapi semakin lincah dan akhirnya mendahului Haidar yang kini tersenyum-senyum sendiri. Yes !!! .... umpan telah dimakan, sorak pemuda itu dalam hati.
" Ayam goreng pake sambel bawang saja ya ... lalapan selada dan timun, Cukup ? ... cukuplah ... 'kan ini bukan pasar minggu, nggak ada pete bro' ". Jelas Hanin sedang begitu cermat menggiring Haidar untuk mengikuti pemikirannya.
" Boleeeeh ..... pasti sedap tuh. Eh' tapi ada nasinya nggak ? ".
" Masih ada beras di tempatku ... cukuplah untuk mas. Aku kentang saja ... he..he..he.. ". Sambil memasukan satu kantung kecil baby potato ke dalam troli. Sementara Haidar mengikutinya dengan memasukan buah pear yang terlihat ranum.
" Ayam nya ? ", tanya Haidar dengan heran saat Nania-nya melewati deretan ayam-ayam polos mulus tanpa bulu yang terlihat lucu dan menggemaskan.
" Aku punya stock ayam halal di rumah ... cukuplah untuk mua mas ".
Tapi Haidar tidak berpendapat demikian, apalagi saat ujung matanya menangkap label halal pada pojok kemasan yang berisi deretan potongan paha putih mulus si ayam. Ia langsung mengambil dua kotak, meletakannya dengan penuh percaya diri ke dalam troli. Membuat Hanin mendelik karena sedikit terkejut.
" Makan ku banyak ... ", kilah pemuda itu cepat. " Eits .... aku yang bayar ".
" Tapi kau tamu ku ". Seru Hanin sambil tergesa mengejar Haidar yang denagn cepat mengambil alih troli.
" Lain kali kau yang bayar. Kalau sederhana begini ... biar pegawai baru saja yang bayar. Kan' murah tuh... ntar' deh kalau mahal ... biar chef cantik yang bayar. He.. he.. ". Haidar terlihat menyeringai bahagia dengan penuh kemenangan tentu saja karena telah membuat Hanin tidak bisa menolak.
" Pegawai baru kelas borju' .... gajinya juga jauuuuh.... lebih tinggi levelnya dari juru masak ". Dan mendaratlah dua ikat sayuran berwarna hijau segar ke dalam troli, seiring wajah Hanin yang bersungut sebal.
" Tetep saja pegawai baru ... bisa minta tolong ambil jamur segede gambreng itu. Sepertinya akan jadi lebih lezat jika dia tinggal bersama mu. He..he.. he.. ".
" Ha.. ha.. ha.. kesempatan dong ... mumpung ada yang masakin ".
Jika dilihat dari seberang lain oleh orang yang tidak mengenal keduanya, pemandangan itu serupa dengan pemandangan yang lazim terlihat pada pasangan muda yang baru menikah. Berbelanja bersama di akhir pekan, sambil tak lepas dari canda dan tawa. Terlihat sangat natural dan penuh kemesraan.
Haidar terlihat sangat menikamti suasana menguntungkan itu, ia yang biasanya akan sangat tidak sabaran jika harus mengantri panjang menuju meja kasir, saat ini justru berharap sebaliknya. Satu, dua, ... ah lima antrian ini seharusnya bisa bertambah, begitu pikir pemuda itu. Karena akn semakin lama waktunya untuk terus bisa bersikap mesra dan hangat pada si canti ini. Menikmati peran sebagai pasangan yang menjaga wanita terkasihnya. Menyelipkan helaian rambut nakal yang keluar dari barisan kawan hitamnya, atau sedikit merengkuh bahunya agr ia tidak tersenggol orang lain. Aduh ..... halu tingkat dewa, tapi Haidar benar-benar menikmati.
Suara deringan dan getaran yang mengguncang dunia angan itu seperti sebuah genderang yang menyadarkan Haidar. Dengan wajah yang berubah menjadi masam, Ia meraih salah satu benda tercanggih abad ini. Melihat sebuah nama yang sangat familiar 'D Qran' begitu dia menuliskan dalam kontaknya. Sesaat seperti sedang menimbang-nimbang, akhirnya Haidar menerima panggilan itu. Sekelebat sudut matanya berhasil menangkap sosok Nania-nya yang berabalik arah kembali meninggalkannya.
" Halo .. ".
" Assalamu'alaikum kakak ganteng .... yeee ".
" Wa'alaikum salam .. ".
" Hwiidih galak bener... baru kali ini loh aku telpon, satu bulan terakhir ... eh' sambutannya nggak banget deh ", suara Kirana terdengar sedikit sewot juga.
" Timming mu nggak tepat ... kalau nggak penting, awas lo ".
" Ya Allah ... ini abang ku itu bukan sih?. Kesambet lo' kak ? ".
" Buruan ada apa ... ". Terlihat Haidar gusar, dengan lehernya yang panjang ia nampak sedang mencari-cari sosok Nania-nya yang menghilang.
Sementara itu Hanin berjalan perlahan menyusuri rak-rak panjang. Ia sangat mengerti jika kehadirannya pasti akan membuat Haidar tidak leluasa menerima sebuah panggilan. Wajah pria itu langsung terlihat gugup, pupil matanya yang kelam bergerak tak beraturan. Dan Hanin dengan begitu tahu diri, ia segera menghindar, berlallu, berpura-pura mengambil barang yang lupa belum terbeli. Hingga akhirnya ia tiba di sebuah rak yang memajang aneka dark cokelat, ia pun kemudian dengan sangat teliti mulai memilih. Dengan sengaja memberikan waktu selama mungkin untuk seorang pria yang sedang menerima panggilan telepon itu.
Pasti dari seseorang yang penting. Urusan pekerjaan mungkin ?. Tapi gusar dan gelisah wajah itu menunjukan ... tidak sesederhana yang ia pikirkan. Bisa jadi dari seorang gadis, yang mungkin juga adalah kekasih pria itu. Ya... tentu saja. Mana mungkin pria setampan Haidar, dengan latar belakang luar biasa, tidak mungkin jika dia tidak mempunyai seorang wanita. Teman wanita yang manja, kekasih yang diakui secara resmi, bisa juga .... friends with benefit. Ya ampun.... common Hanin... itu bukan urusan mu.
__ADS_1
Dan akhirnya dua batang dark chocolate, white chocolate serta satu kotak cream chese kini sudah dalam timangan jemarinya. Tapi gadis itu tetap masih terpaku sesaat, ia bimbang harus kembali sekarang atau nanti. Bagaimana jika pemuda itu belum selesai dengan panggilannya ?. Pasti akan sangat mengganggu bukan ?. Bisa jadi tibul kesalahpahaman..... bisa jadi dia akan dianggap wanita pengganggu hubungan. Haiiissh.....
" Sudah selesai ? ayo ... buruan ". Tiba-tiba suara itu mengagetkannya. Haidar tampak sedikit tergesa kini sudah berdiri tepat di belakangnya. " Kasir sudah mulai menghitung ".
" Oh ya.. ya.. ya.. ma-maaf ".
Lalu dua orang itupun bergegas kembali ke arah kasir. Benar saja, wanita muda berwajah latin itu nampak sedikit kesal karena harus menunggu. Sementara masih ada dua orang yang antri untuk dilayani.
" Vergib uns. Bitte füge das hinzu ". Hanin menyerahkan barang tambahan yang baru diambilnya. ' Maafkan kami. Tolong tambah ini ', begitu ucapnya penuh penyesalan.
Hanin membiarkan Haidar membayar semua yang telah mereka beli hai ini, termasuk tiga jenis barang tambahan dalih dari menberikan kesempatan pada pria itu. Tapi suasana yang terjadi selanjutnya, entah mengapa menjadi sedikit kaku. Haidar terlihat sedikit terbebani oleh sesuatu, sementara Hanin menjadi merasa sangat canggung.
Pasti seorang gadis yang menelpon tadi... marah, karena mengetahui Haidar sedang bersama seorang gadis lain dan berbelanja bersama. Tapi bagaimana cara membuka pembicaraan untuk meluruskun kesalahpahaman ini ?. Tapi jika dibiarkan saja... akan tidak baik tentunya. jangan sampai ia menjadi seorang perudsak hubungan. Begitu Hanin dengan kecamuk pikirannya.
Sementara Haidar terlihat juga sedang memikirkan hal yang cukup berat. Berjalan membawa satu kantong belanjaan cukup besar, namun seperti tak berbobot dalam jinjingannya. Mendahului Nania-nya yang cukup kerepotan mensejajarkan langkah. Hujan masih setia dengan rinainya yang tidak terlalu besar saat mereka sudah sampai di depan pintu masuk super market.
' Brugh !!'. Hanin yang tak sempat mengontrol langkahnya, dengan sukses merasakan wajahnya tersurug di punggung Haidar yang berhenti mendadak. Hidung nya terasa sedikit nyeri karena tumbukan dengan punggung yang padat dan keras itu.
" Maaf .. ". " Maaf .. ". Kata keduanya bersamaan. Dan Hanin masih mengelus-elus ujung hidungnya.
" Kau tunggu di sini saja, aku ambil mobil sebentar... diparkiran rumah sakit ".
Ketika Hanin hendak mengajukan usul yang menurutnya lebih praktis dan efisen, Haidar justru telah berlari menembus rinai-rinai hujan. Membuat Hanin menurukan tangannya yang hendak memanggil, mencegah laju pemuda itu.
' Ah... mungkin kau butuh waktu dan tempat lapang tanpa ada aku... untuk menelpon gadis mu '. Hanin berkata pada dirinya sendiri.
' Jika terjadi sesuatu hal dengan kalian dan itu karena kesalahpahaman ini... aku pasti akan meluruskannya, aku janji '. Dan Hanin pun tersenyum sambil terus menatap punggung pria yang kini nampak semakin jauh dan kabur karena tersaput rinai hujan serta senja yang mulai temaram.
...........
Kita masih berdiri dalam batasan yang pasti
Walaupun masih tetap bisa saling bercerita dan tertawa
Tapi kita pasti sama memahami nya
Batas ini terlalu jelas
Seperti lautan yang tak terterka seberapa dalammnya
Akupun tidak mengerti apa yang ada dalam hatimu
Karena akupun juga tak mengerti dengan hatiku sendiri
Tapi batas kita begitu jelas
..............
__ADS_1