PILAR HATI 3 KSATRIA

PILAR HATI 3 KSATRIA
Rentang Biru (6)


__ADS_3

Ini adalah hari yang seperti biasa walaupun ini adalah sabtu pagi. Tapi tetap menjadi pagi hari sibuk dengan anak-anak yang datang bersama orang tua mereka. Mengeluhkan sakit di tenggorokannya dengan gaya yang lucu, atau raut wajah khawatir sang bunda karena demam si kecilnya yang tak kunjung mereda. Ada juga yang baru pertamakali berkunjung, dengan sedikit takut-takut mengintip dari belakang punggung sang mama, tapi ada juga yang masih sibuk bernegosiasi dengan sang ayah, meminta untuk tetap ditemani. Hingga akhirnya mereka semua, para malaikat kecil itu tersenyum walaupun dengan sisa air mata yang terkadang masih menyertai saat mereka berpamitan pada ibu dokter cantik, yang lembut dan sangat ramah itu.


" Selamat pagi bu dokter Orlin ".


" Ya ... ". Wanita setengah baya itu menengadah menatap sosok yang kini berdiri dan tengah tersenyum manis menatapnya. " Maaf, detailer baru, dari mana ya ?, Nanti langsung saja dengan Novia saja ya ".


" Bukan bu ... ", gadis itu kembali tersenyum. " Saya Hanin bu, anak bungsunya bu Firman ".


" Masya Allah .... ". Orlin ternganga sejenak, lalu menutup mulutnya yang tak tertahan itu. " Hanin ??, ini benar-benar kau ?.... Hanin ".


Gadis berkulit putih bersih nyaris pucat seperti seorang putri dari kerajaan drakula itu terlihat begitu cantik. Berdiri sambil mengembangkan senyum, mengenakan celana jeans warna biru casual yang dipadukan dengan atasan manis berwarna burgundy yang membuatnya nampak semakin ranum.


Hanin mengulurkan tangan meraih jemari dokter cantik favoritnya, mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim, memberikan penghormatan dan mengumumkan kekagumannya. Tapi wanita itu justru menyambutnya dengan sangat luar biasa. Tubuh mungil yang tak jauh berbeda ukuran itu kini justru sangat erat memeluknya. Seperti seorang ibu yang menumpahkan kerinduan pada putrinya sendiri. Bahkan rasa pelukan ini pun sama hangatnya dengan pelukan sang ibu, saat mereka kembali bertemu beberapa hari yang lalu.


" Nania kecil yang manis itu, masya Allah cantiknya... sudah dewasa kau sekarang. Kenapa tidak panggil mama Rana seperti dulu ? ".


Hanin tertawa, terasa sedikit sungkan. Bagaimana mungkin ia akan memanggil wanita itu dengan panggilan seperti itu. Bu Orlin adalah ibu boss yang paling di hormati dan di kaguminya. Dulu Kirana meminta nya ikut memanggil mama pada wanita ini. Tapi pada akhirnya ia lebis suka memanggil dengan sebutan 'mamah nya Kirana' yang lama -kelamaan disingkat menjadi 'mama Rana'. Tapi itu dulu, dulu sekali saat mereka masih kecil-kecil.


Saat dirinya telah beranjak remaja dan menjadi bisa memahami banyak hal, ia pun mengerti dengan apa yang disampaikan oleh ibunya. Tentang wanita ini dan keluarganya yang kedudukannya begitu tinggi, dimana jarak yang terentang begitu panjang antara keluarganya dan keluarga wanita ini.


" Jangan pernah terlena dengan kebaikan dan keramahan yang kau terima. Karena pada dasarnya mereka memang orang-orang yang sangat baik, berhati mulia, dan penuh kasih-sayang. Tidak pernah membeda-bedakan siapapun. Jadi kita yang harus tetap mawas diri, jangan sampai terbawa hati, jangan sampai besar kepala ".


Tanpa menceritakan apapun tentang dirinya dan Haidar, sang ibu sepertinya telah memahami apa yang sedang dialami oleh putri kecil yang kini mendewasa. Membuat Hanin sedikit tertunduk sambil melanjutkan menyimpan aneka lauk-pauk pesanan mba Cinta pagi itu. Sesaat sebelum ia berangkat menuju rumah keluarga besar Mandala Arsenio untuk mengantarkan pesanan ibu hamil yang mulai doyan makan. Siapa lagi kalau bukan nyonya Namu alias mba Cinta yang tambah cantik dan ceria.


Sepulangnya dari rumah keluarga besar Mandala itu, Cinta mengajaknya untuk menyambangi ibu Orlin di sebuah klinik kecil yang letaknya lumayan jauh. Tepatnya di sebuah area permukiman pinggir kota. Berdiri sebuah klinik kesehatan yang tidak terlalu besar, namun cukup lengkap menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. Sebagai bentuk dari filantropi yang mengakomodir segala kepedulian dan kebaikan dan kasih sayang tidak hanya dari keluarga besar Arsenio, tapi bagi siapapun yang ingin ikut serta bergabung.


" Tante Orlin yang kini jadi mama ku, Raka adikku ... masih ingat'kan ?, dan juga kawan-kawan semua, bergantian untuk memberikan pelayan gratis di sana setiap hari sabtu. Minggu ini giliran mama di bantu beberapa dokter muda dan internsip bimbingannya. Makanya aku pesan nasi urapnya banyak  .... biar bisa dibuat rame-rame ".


Begitulah Cinta akhirnya dapat memaksanya untuk ikut serta. Dan membuatnya kini terperangkap dalam kebaikan dan kehangatan seorang bu dokter yang juga ibu ratu kerajaan bisnis Arsenio ini.


" Bagaimana kabarmu sayang ?. Waah .... nggak salah nih apa kata Haidar. Kau cantik sekali ". Orlin mengangkat dagu gadis mungil di hadapannya yang mulai tersipu malu, dan ia benar-benar mengagumi kecantikan paras gadis ini.


" Udah dong mah, kangen-kangenannya nanti dulu. Ayo pada sarapan pagi dulu ... Mba Nov, mana yang lain ajak semua sarapan bareng. Mumpung masih anget nih ".


Itu adalah Cinta, yang datang seolah menjadi penyelamat untuk seorang Hanin Hanania. Wanita muda yang cantik itu tampak semakin cantik dengan perutnya yang mulai membulat membuncit. Sementara itu si perawat bernama Novia buru-buru meminta dengan sopan dua tumpuk kotak sarapan pagi yang masing-masing dipegang oleh Hanin dan Cinta.


Tak selang berapa lama kemudian, dua orang dokter yang masih muda, Novia si perawat bersama dua kawannya terlihat asik menikmati sarapan pagi. Sementara Orlin, Cinta dan Hanin nampak duduk sedikit terpisah dari kelima orang itu.


" Mba Nov, nanti sisanya bagi buat pak Karlan dan keluarga ya ".


" Baik mba ", jawab Novia cepat sambil segera menyisihkan lima kota lagi yang belum tersentuh. Kemudian melanjutkan menikmati nasi urap berlauk ayam kampung goreng bumbu lengkuas, dengan kondimen tambahan lain seperti sambal bawang, tempe goreng serta ikan asin yang memecah konsentrasi.


" Kenapa nggak ikut sarapan sekalian ? ", tanya Orlin pada Hanin yang justru beralih sibuk membantu Novia.

__ADS_1


" Ah, saya sudah kok bu Orlin. Mana tahan dengan aroma cikur dan terasi bakarnya... jadi tadi pas ibu packing saya udah icip-icip satu piring ", Hanin terkekeh. " Biar saya saja mba ... ", pinta Hanin mengambil alih.


" Rumahnya tepat di belakang klinik sayang, tidak keberatan mengantarnya ? ".


" Tentu saja tidak bu. ", Hanin tersenyum senang sambil melangkah keluar dari ruang tamu klinik.


" Tidak menyangka dia bisa secantik itu ya ? ". Yang dimaksud Orlin tentu saja adalah Hanin yang kini sudah menghilang bersama kotak-kotak berisi sarapan pagi.


" Haidar hebat ya mah ... intuisinya tajam, nggak sia-sia dia indent bertahun-tahun. Mau juga punya yang kayak gitu, dua 'lah ".


" Loh ?, kembar tow ?. Hasil USG terakhir .... ". Orlin menghentikan suapannya, menatap Cinta yang tersenyum sumringah.


" He'eh ..... langsung dua, asyik 'kan mah ".


" Alhamdulilah, kok baru bilang sih ?, Namu juga diem-diem aja ".


" He..he..he.. abang sih malah bingung  ", Cinta terkekeh.


" Loh ? ".


" Katanya, satu aja baru tumben ... ini malah langsung dikasih dua ".


Dua wanita itu terlihat tertawa bersama, wajah mereka yang sumringah jelas menyiratkan rasa bahagia. Saat itulah Hanin kembali dari mengantar sarapan untuk keluarga penjaga klinik ini. Gadis itu lalu duduk di satu kursi yang paling dekat dengan Cinta, memilih sedikit berjarak dengan Orlin, sang ibu dari pria pencuri hatinya.


" Sepertinya begitu, saya dapat pekerjaan di 'Sa--t**' ", Hanin menyebutkan salah satu resto mewah  dari sebuah hotel bintang lima yang sangat terkenal dengan hidangan Asia dan Internasionalnya.


" Oh baguslah, biar bisa deket terus sama bu Firman ya. Kasihan loh dia kalau harus nahan rindu terus sama si neng cantik ini ".


" Betul itu, biar Haidar juga nggak lupa pulang ya. Kan' udah ada yang nunggu di sini ", seloroh Cinta dengan semangat, jujur dan tanpa maksud menggoda.


Tapi jika hal seperti itu disampaikan begitu terbuka apalagi di hadapan sang ibu dari pria tersayangnya, bagaimana mungkin pipi itu tidak akan bersemu merah. Hanin Hanania menunduk, menyembunyikan semburat malu yang menjalar dengan cepat.


" Bisa ketemu Haidar di mana kemarin ? ", kali ini Orlin yang bertanya.


" Di Zurich  bu ".


" Sekarang masih di sana apa sudah lanjut lagi kemana... gitu ? ", Cinta menyambar cepat.


" Maaf mba, aku nggak tahu... mas Haidar belum telpon dua hari ini. Katanya sih habis dari Zurich lanjut ke Heidelbergh ".


" Mungkin masih belum sempat. Kenapa nggak coba menghubungi duluan ? ". Tanya dan ide itu tersampaikan dengan sangat lembut oleh bu Orlin, tapi Hanin tiba-tiba saja merasa ritme jantungnya menjadi tak karuan.


" Jangan-jangan sudah ketularan abang ya dia. Mendadak lupa keluarga kalau' udah kerja ".

__ADS_1


" Kenapa mba Cinta jadi yang curcol sih ... ", Orlin tertawa. " Namu masih seperti itu ?, bukannya sudah lumayan berkurang ya ? ".


" Iya juga sih mah ... tapi rupanya karena ditularin ke Haidar ya ". Lalu Cinta pun ikut tertawa. " Nggak apa-apa ya Hanin, baru juga dua hari ini ya ..... tapi kalau' udah cinta tuh emang syusaaah ya .... rindu itu sangat menyiksa ... ".


" Halaaah !!!!!.... malah manas-manasin ". Orlin membelai lengan keponakan yang juga menantunya itu. " Memang dulu mba Cinta gitu sama Namu ? ".


" Ya iyalah mah. Malah lebih nyesek lagi, kita dekat tapi nggak bisa saling memperlihatkan sikap. Bertahun-tahun hanya harap-harap cemas terus, sibuk bertanya ini salah apa nggak ?, bagaimana malunya kalau dia nggak punya perasaan yang sama... waduuuuh ribet pokonya  ".


" Tapi jadi penantian yang manis ya sayang .. ", kali ini Orlin membelai perut Cinta yang sudah nampak membuncit besar. " Nih ... hasilnya, buah sabarnya mba Cinta dan kak Namu, yang unpredictable ... Nania juga harus nyonto mba Cinta ya sabarnya... apalagi ngadepin Haidar yang keras .. harus ekstra sabar ".


Hanin hanya bisa menjawab dengan senyuman saja, tapi hati kecilnya bertanya-bertanya... 'sekeras apa pembawaan si mas gagah itu?'. Karena selama ini yang terlihat sangat bersabar justru si mas gagah itu. Menghadapi dirinya yang plin-plan, menghadapi dirinya yang punya swing mood  begitu besar. Mas Haidar tak pernah mengendurkan sedikitpun senyumannya, pria gagah itu tak pernah memudarkan tatapannya yang hangat.


" Nin, tapi kamu beruntung. Diantara tiga bersaudara itu, Haidar yang paling manis, yang paling soft, yang paling bisa menunjukan perasaannya, juga paling tahu bagaimana harus bersikap. Dia sih mama Lin banget ... nggak kayak abang, yang ketiplek papah om Mandala. Apalagi Rana ... hwaduuuuh, itu dulu salah apa ya ?. Dia cewek 'kan ? ".


Yang membuat Hanin tertawa pertamakali justru sebutan mba Cinta untuk mertuanya ... 'papah om', baru kemudian ekspresi Cinta menepuk-nepuk perutnya sendiri sambil komat-kamit. Walaupun ia masih berfikir keras dan kembali membolak-balik memorinya. Yang mana ya ... yang harus di waspadai dari Haidar. Selain sikap mesranya yang terlalu sering nyerempet bahaya.


Bluuuushhh.... tiba-tiba wajah Hanin jadi memerah dan menghangat, Payah!!!, makinya pada diri sendiri. Kenapa yang berlompatan dari kotak memorimu justru semua moment kedekatan yang melenakan dan mendebarkan itu sih Nin?, ah ... keterlaluan kau ini.


" Nania sudah ketemu om Mandala ? ". Orlin mengalihkan pembicaraan, tapi sesungguhnya ia benar-benar sangat ingin mendengar komentar sang suami jika bertemu kembali dengan bayi kecil yang dulu sering mereka gendong bersama-sama si bungsu mereka, Kirana.


" Maaf bu, belum. Ini baru bisa keluar rumah... dari kemarin banyak saudaranya bunda yang berkunjung ".


" Oh, nggak apa-apa. Minggu depan ikut hadir 'kan di acara tujuh bulan mba Cinta ? ".


" Iya bu ", Hanin mengangguk. " Mumpung belum aktif di resto', masih bisa bantu-bantu bunda dulu ".


" Good ", Cinta mengacungkan kedua ibu jarinya. " Mah .. ", dan beralih menatap mertuanya. " Rana jadi pulang 'kan ? ".


" Iya. Kalau nggak pulang... nggak ada uang saku buat liburan ".


" Mau kemana dia ? ", tanya Cinta lagi.


" Katanya mau nyusul kakaknya, cari penginepan gratis di Europe ".


Oh, pasti yang dimaksud adalah Haidar, bukan Namu. Hanin tersenyum lagi, ia teringat si cantik yang sangat pintar, ceplas-ceplos dan juga sangat manis bersikap padanya. Kirana, teman sebaya yang putri sang tuan besar, tapi selalu membuat dirinya merasa menjadi adik kecil yang sangat disayang. Pasti sangat cantik dan pintar gadis itu sekarang.


" Kalau nempel terus sama Haidar... bakal susah tuh dapat pacarnya. Keburu pada takut sama si brewok itu ".


Dan meledaklah tawa Orlin yang disusul dengan tawa Cinta, Hanin pun ikut tertawa tapi dengan sedikit lebih pelan. Sementara ia memutar memorinya kembali ... 'brewok?'... ah ya, si mas itu selalu punya dagu yang keabu-abuan dan sedikit kasar jika tak sengaja menyentyuhnya. Oooh .... jadi si mas itu brewokan. Hi..hi..hi... Hanin terkikik geli dalam hati.


Hai mas brewok yang gagah


Kau sedang apa sekarang

__ADS_1


Bagaimana kabar Heidelberg ?


__ADS_2